
Rainy menatap sang penata rambut dari cermin besar di hadapannya. Ia bisa melihat ekspresi terkejut di wajahnya.
"Ada apa?" tanya Rainy.
"Ini aneeeeeh!" sahut sang penata rambut dengan sedikit panik. Tingkah lakunya membuat Rainy waspada.
"Apanya yang aneh?" tanya Rainy lagi.
"Se... Sepertinya.... Pewarna rambutnya gagal." kata sang penata rambut dengan terbata. "Warna rambut kakak tidak mengalami perubahan sama sekali."
"Hah?"
"Sekarang sih tidak terlalu terlihat karena basah, namun kalau kering, rambut kakak akan tetap berkilau kebiruan." jelas si Penata Rambut, membuat kening Rainy berkerut kencang.
"Kok bisa?"
"Eh, saya juga tidak tahu. Mungkin catnya sudah tidak efektif lagi." ucap sang penata rambut.
"Lalu bagaimana?" tanya Rainy.
"Kalau kakak tidak keberatan, saya akan mewarnai ulang rambut kakak. Free of charge! Hanya saja akan makan waktu. Saya mohon maaf!" kata sang penata rambut dengan penuh penyesalan. Rainy memandang wajah sang penata Rambut yang tampak jujur dan sedikit bingung. Dalam hati, Rainy merasa ada sesuatu yang tidak benar, namun tidak bisa menentukan apa yang salah. Akhirnya Rainy mengangguk pada sang penata rambut, setuju untuk mengulang pewarnaan rambutnya kembali. Sang penata rambut langsung pergi untuk menyiapkan pewarna rambut yang baru setelah ia membuang sisa pewarna rambut lama yang tidak berguna itu. Saat memandang sang penata rambut yang melenggang pergi, suara tawa Lilith bergema di kepala Rainy. Tahulah Rainy bahwa firasatnya berkata benar. Bahwa bukannya pewarna rambut tersebut tidak berguna, namun Lilith telah memastikan bahwa ia tidak akan bisa merubah kembali warna rambutnya. Dengan marah Rainy mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Liliiiiith!" geram Rainy dengan gigi terkatup.
Semua yang terjadi dan semua tingkah laku Rainy, dilihat dengan jelas oleh Arka. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia tidak mengerti mengapa Rainy tiba-tiba ingin mewarnai rambutnya yang indah. Namun mendengar Rainy mengeramkan nama Lilith dengan ekspresi marah dan mengingat apa yang dikatakannya pada Natasha, ketika Natasha menghalanginya untuk membakar pakaian-pakaiannya, Arka memahami bahwa semua itu ada hubungannya dengan iblis Lilith. Saat ini yang bisa dilakukan oleh Arka hanyalah menunggu dan memastikan bahwa apapun yang ingin dilakukan Rainy tidak akan merugikan dirinya sendiri. Kalau sampai indikasi itu terjadi maka bagaimanapun caranya, Arka tidak akan segan menghentikannya.
Lalu begitulah, sang penata rambut mengulang kembali untuk mewarnai Rambut Rainy. Kali ini ia melakukannya dengan sangat hati-hati dan menggunakan pewarna rambut terbaik yang mereka miliki. 30 menit kemudian, ia kembali mengantarkan Rainy ke hair washing station untuk mencuci rambutnya. Lalu setelah itu, Rainy kembali ke kursinya dengan kepala tertutup handuk. The moment of truth is come!
Ketika sang penata rambut membuka handuknya, ekspresi wajahnya langsung berubah jelek. Keningnya berkerut dan mulutnya terbuka lebar, membuat Rainy yang mengamati ekspresi sang penata rambut dari cermin di hadapannya, langsung bisa menebak apa yang telah dilihat sang penata rambut.
"Bagaimana?" tanya Rainy dengan dingin.
"Er, ini...."
"Gagal lagi?"
"Iya..."
"Ulangi!"
"Eh?"
"Warnai kembali!"
Jadi begitulah; mereka mengulang kembali mewarnai rambut Rainy untuk ketiga kalinya. 30 menit kemudian, hal yang sama terulang lagi. Dalam kepalanya, Rainy bisa mendengar tawa mengejek Lilith, membuat ia mengertakkan giginya dengan murka.
"Apakah kakak ingin mengulanginya lagi?" tanya si penata rambut dengan takut-takut. Rainy yang saat itu sedang memejamkan mata dalam salah satu upayanya yang terasa mustahil untuk menenangkan diri, membuka matanya perlahan-lahan. Auranya penuh dengan aura kemarahan yang dingin. Walaupun sang penata rambut bukan seseorang yang sensitif sehingga bisa merasakan aura yang terpancar dari tubuh gadis itu, namun gelombang otak yang Rainy pancarkan mampu menyerang siapapun yang berada di dekatnya sehingga membuat lutut mereka terasa lemah tanpa alasan yang jelas.
"Potong saja!"
"Eh? Po... Potong?" Sang penata rambut bertanya dengan kaget, diam-diam merasa bersyukur bahwa ia tidak harus kembali mengulangi mewarnai rambut Rainy. Sang penata rambut merasa curiga bahwa tak perduli berapa kalipun diulangi, warna rambut Rainy tidak akan mengalami perubahan. Oleh karena itu lebih baik berhenti saja. Kalau tidak mungkin ia tidak akan mampu menahan diri untuk tidak menangis.
"Kakak ingin model rambutnya dipotong bagaimana?" tanya sang penata rambut.
"Singkirkan semua warna biru pada rambutku."
"Sing... Singkirkan semuanya?" tanya sang penata rambut dengan terkejut.
"Tapi kak, warna biru ini sudah di mulai sejak dari akar rambut. Kalau mau menyingkirkan seluruhnya, makan kakak harus digunduli." jelas sang penata rambut.
"Gunduli saja kalau memang diperlukan!" sahut Rainy, membuat sang penata rambut kembali tercengang.
"Eh?" gun... Gunduli?
'Kamu sudah gila.' suara celaan Lilith terdengar dalam kepalanya. 'Tapi kau boleh mencoba. Hanya saja yakinilah, bahwa untuk setiap 1 helai yang kau potong, 2 helai akan langsung tumbuh panjang untuk menggantikannya. Coba kita lihat apakah penata rambutmu yang melambai itu akan masih berani memegang gunting setelah melihatnya! Hahaha!' Mendengar ini, Rainy mengerutkan bibirnya dengan kesal.
Tiba-tiba telepon genggam Rainy berbunyi. Saat mengangkat telepon genggamnya Rainy melihat bahwa ia menerima video call dari Raka. Rainy buru-buru menerimanya, bermaksud mengadukan kesialannya pada Raka. Namun begitu wajah tampan pria itu muncul di layar, hal pertama yang dilakukan Raka adalah berkata tegas dan dengan wajah yang sangat serius,
"Jangan berani-berani memendekkan rambutmu, apalagi menggunduli kepalamu! Kalau kau melakukannya, tunggu saja hukuman dariku!" wajah tampan Raka terlihat marah.
Eh, bagaimana bisa Raka bisa tahu bahwa Rainy ingin menggunduli kepalanya? Tanya Rainy dalam hati. Namun beberapa detik kemudian, jawaban pertanyaan tersebut langsung muncul di otaknya. Rainy menoleh pada Arka yang sedang duduk di sofa ruang tunggu sambil memegang handphone. Saat melihat Rainy menoleh padanya dengan mata penuh tuduhan, Arka melambai-lambaikan handphonenya. Senyum tipis di bibirnya menjawab semuanya. Pria itu yang telah mengadu pada Raka!
"Mereka tidak berhasil mewarnai rambutku kembali menjadi hitam." adu Rainy dengan kesal.
'Tentu saja mereka tidak bisa, Rainy sayang! Apa kau pikir aku akan membiarkan karya masterpieceku dirusak begitu saja?' tanya Lilith dengan jumawa. Rainy mengabaikannya.
"Tidak apa-apa, sayang. Rambutmu begitu indah, tolong jangan menganiayanya!" bujuk Raka lagi.
"Tapi ini pemberiannya! Aku tidak suka!" Tolak Rainy.
'Cih, dasar gadis tak tahu berterima kasih!' ejek Lilith.
"Memangnya kenapa kalau dia yang mewarnai rambutmu? Tetap saja itu milikmu dan bukan milik Lilith! Lalu mengapa kau harus merusak sesuatu yang merupakan milikmu hanya karena kamu tidak suka ada orang yang berani menyentuhnya tanpa seijinmu? Bukankah ini terlalu berlebihan?"
Copyright @FreyaCesare