My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
MSG Dari Neraka



Malam itu berlalu dengan tenang. Lauri bersembunyi dalam kegelapan sedangkan para wanita tidur dengan tidak nyenyak. Mungkin diantara semua tawanan, hanya Nara yang bisa tidur dengan sangat nyenyak malam itu. Para penjahat tentu saja tak punya masalah dengan tidur. Mereka mengatur giliran jaga bergantian, dan saat temannya berjaga, yang lainnya tidur dengan mendengkur keras, menakuti binatang-binatang kecil hingga tidak berani mendekat. Rainy berharap bahwa suara dengkur mereka akan membuat serigala atau harimau yang tinggal di sekitar situ merasa murka dan memutuskan untuk menyerang mereka. Namun sayangnya malam itu berlalu dengan sangat tenang.


Saat subuh tiba, prajurit iban yang bertugas patroli membangunkan para tawanan wanita dan memerintahkan kepada mereka untuk membuatkan sarapan. Salah seorang dari prajurit iban menyerahkan sebuah keranjang anyaman yang dipenuhi dengan Katuyung, Jamur, bawang daun, labu merah dan keladi, serta sebuah kelapa tua. Di dalam keranjang tersebut juga terdapat sejumlah umbi-umbian seperti jahe, kunyit dan lengkuas, serta jeruk sambal dan daunnya. Bahkan di bagian dasar keranjang, si wanita menemukan setumpuk cabe rawit liar. Rupanya salah satu dari prajurit itu adalah pecinta makanan yang sudah bosan dengan nasi dan daging atau ikan bakar yang biasanya dihidangkan oleh para tawanan sehingga bukannya patroli, ia malah menghabiskan sepanjang waktu patroli malamnya untuk mencari bahan makanan.


Saat melihat bahan makanan tersebut, mata si wanita bergetar sesaat sebelum ia kembali mengendalikan emosinya. Dengan tenang ia menerima keranjang tersebut dan mengangguk mengiyakan permintaan si prajurit. Ia lalu mengangkat keranjang tersebut dan berjalan menuju ke tempat mereka menyiapkan peralatan untuk memasak.


Untuk memasak makanan selama di perjalanan, para prajurit itu membawa sebuah panci besar yang biasanya digunakan untuk memasak nasi dan merebus air minum. Namun kali ini, selain melakukan hal tersebut, panci itu juga akan digunakan untuk membuat sayur santan berisi Katuyung, labu merah, keladi, dan jamur yang bisa dimakan, dengan mengunakan bawang daun, jahe, kunyit dan garam sebagai bumbu. Biasanya mereka hanya bisa menikmati makanan ini bila sedang berada di desa. Bagi mereka yang sedang dalam perjalanan, itu adalah makanan yang sangat mewah karena sulit untuk dibuat dan memerlukan banyak bahan. Sayurnya sendiri memiliki rasa yang manis dari labu merah, rasa gurih yang kuat dari ketuyung serta santan dan tekstur yang menyenangkan dari keladi dan jamur. Hanya saja untuk sayur Katuyung kali ini memiliki 1 tambahan yang istimewa; yaitu sekantong penuh jamur beracun yang digerus halus sebagai penyedap rasa!


Meracuni penjahat-penjahat ini bukanlah hal yang sulit karena mereka sendiri yang dengan sengaja memisahkan jenis makanan yang mereka makan dan jenis makanan para tawanan. Para penjahat bisa makan makanan enak yang telah dimasak oleh para tawanan sedangkan tawanan hanya boleh memakan ubi jalar yang banyak mereka kumpulkan di sepanjang perjalanan. Namun untuk pertama kalinya selama menjadi Sandera, wanita yang dipanggil angah oleh Lauri itu merasa bersyukur bahwa ia tidak akan makan makanan yang sama dengan mereka.


Ketika kemudian semua makanan telah siap, wanita-wanita itu mengangkat pancinya ke dekat lokasi para prajurit Iban makan, lengkap dengan sendok besar untuk mengambil sayuran. Melihat menu sarapan mereka yang mewah, para prajurit itu langsung berseru dengan gembira. Tanpa rasa curiga, mereka mengambil sarapan mereka bergantian. Mungkin setelah selama beberapa hari wanita-wanita tersebut memasak untuk mereka tanpa menyebabkan masalah, mereka percaya bahwa kali ini pun makanan mereka akan baik-baik saja.


Para prajurit itu kemudian makan dengan lahap. Bahkan setelah makanan di dalam mangkok batok kelapa mereka habis, mereka kembali ke panci dan mengisi mangkok mereka untuk yang kedua, bahkan ketiga kalinya, dengan ekspresi bahagia. Tak sampai 30 menit, sayur di panci telah ludes tak bersisa. Wanita itu merasakan bibirnya berkedut. Untuk pertamakalinya semenjak menjadi tawanan, ia ingin tertawa sekeras-keras. Namun wanita itu menahannya. Tanpa bicara sepatah katapun, ia mengangkat pancinya dan membawanya ke sungai untuk dibersihkan, di temani, atau lebih tepatnya diawasi, oleh seorang prajurit Iban yang telah selesai makan.


Ketika ia kembali ke pusat perkemahan, para prajurit Iban dan wanita-wanita tawanan mereka telah sibuk merapikan barang-barang agar mereka segera dapat melanjutkan perjalanan. Sampai saat itu, belum tampak masalah dengan kesehatan para prajurit iban. Mereka masih bergerak dengan gesit dan berlagak jagoan di hadapan para tawanan. Beberapa prajurit malah dengan kurang ajarnya melecehkan beberapa wanita dengan cara mencolek daerah sensitif mereka dan mengucapkan kata-kata rayuan yang kotor, membuat Rainy yang melihatnya dengan jelas, menyemburkan apinya pada prajurit-prajurit tersebut dengan geram, membuat Datuk Sanja menggelengkan kepalanya. Tentu saja semburan api tersebut tidak membawa dampak apapun bagi prajurit-prajurit tersebut karena Rainy tak benar-benar ada di antara mereka ketika peristiwa itu terjadi. Hal itu membuat Rainy makin merasa murka.


"Hei! Yang kau cari ada disini!"


Di atas tebing, tak jauh dari mereka, Lauri berdiri dengan kedua kaki terbuka. Tangan kirinya memegang mandau yang masih berada di dalan bilahnya, dengan ujung bilahnya di letakkan di atas bahunya. Sementara tangan kanannya berkacak pinggang dengan angkuhnya. Ekspresinya dingin dan penuh hawa membunuh.


Awalnya para prajurit Iban merasa khawatir bahwa mereka telah dikepung dari segala sisi. Namun setelah sekian lama tak terdengar gerakan dari sisi manapun, mereka menyadari bahwa Lauri hanya sendirian. Menyadari hal ini, salah satu diantara mereka mulai tertawa.


"Lauri, kau anak kemarin sore! Berani sekali kau mengambil Jukung-Jukung kami!" geramnya dengan kesal.


"Tapi kau sudah mengambil seluruh keluargaku. Apa kau pikir jukung-jukung tersebut cukup nilainya untuk menggantikan keluargaku yang telah kau habisi?" tanya Lauri dengan suara getir.


"Ah, Lauri yang malang! Jangan khawatir, aku akan segera mengantarkanmu untuk bertemu lagi dengan mereka!" ucap salah satu prajurit. Segera setelah ia mengatakan hal tersebut, ia melompat dari tempatnya langsung ke tebing tempat Lauri berada dengan sangat lincah. Tinggi tebing itu mungkin hanya mencapai sekitar 2 Meter. Namun seharusnya 2 meter bukan jarak yang normal untuk seseorang melompat dari bawah ke atas tanpa menggunakan alat apapun. Sayangnya, belum sempat ia mencapai tebing tempat Lauri berada, rasa sakit yang sangat hebat menyerangnya dan membuatnya kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh ke tanah dengan suara keras.