My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Devil's Dream Array



"Ilmu susunan mimpi milik iblis?" ulang Rainy. "Apa itu?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Rainy, kau ingat bahwa beberapa hari yang lalu, kau pernah diteror oleh Lilian di dalam mimpimu kan?" tanya Guru Gilang. Rainy mengangguk.


"Yang kau alami itu adalah hasil dari ilmu susunan mimpi. Pada dasarnya susunan mimpi adalah cara iblis meneror manusia agar jatuh ke dalam keputus asaan sehingga akhirnya mematuhi apapun permintaan iblis demi agar terbebas dari teror ini." ucap Guru Gilang menjelaskan.


Penjelasan ini membuat Rainy memucat. Ia masih bisa mengingat dengan jelas rasa takut dan rasa sakit yang dirasakannya dalam mimpi tersebut. Selama Rainy berurusan dengan iblis, teror mimpi tersebut adalah hal yang paling mengerikan yang pernah dialaminya, dimana bila ia harus memberi rating antara 1 hingga 10 dalam hal kengerian, Rainy tanpa pikir panjang akan memberinya angka 20 hanya agar orang lain tahu betapa mengerikannya teror tersebut baginya. Apalagi teror mimpi tersebut hampir saja merengut nyawa ayahnya sehingga membuat Rainy mengembangkan kebencian yang sangat luar biasa pada trik iblis yang satu ini. Sungguh Rainy tidak pernah menyangka bahwa kali ini, setelah ia berhasil melindungi Ayahnya dari teror tersebut, iblis malah menculik Arka dan memberinya teror yang sama. Membuat Rainy merasa lututnya lemas karena rasa takut. Ia menatap wajah tidur Arka yang tanpa ekspresi dengan iba. Ia mengulurkan tangan dan mengusap bagian depan kepala Arka dengan penuh kasih sayang. Air mata nyaris tertumpah dari matanya.


"Tidak adakah... cara untuk menyelamatkannya?" tanya Rainy dengan suara gemetar. Rainy lalu teringat pada perisai spiritual yang dipasang Lara di otak ayahnya untuk melindungi Ardi dari melihat mimpi buruk Rainy. "Bagaimana dengan memasang shield pada otaknya, untuk melindunginya dari serangan iblis?" usul Rainy. Namun Guru Gilang menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa semudah itu." ucap Guru Gilang. "Kasus yang kau dan ayahmu alami dengan yang Arka alami sangat berbeda."


"Dimana perbedaannya?" tanya Rainy tak mengerti.


"Dalam kasusmu, Lilian hanya menyerangmu sesekali dengan ilmu susunan mimpi. Itu sebabnya kau masih bisa bangun setelahnya. Hanya ketika kau tertidur kembali, Lilian akan menyerangmu kembali. Serangan yang ia lakukan bersifat sementara saja." ucap Guru Gilang, menjelaskan. "Namun melihat keadaan Arka saat ini, yang terus tertidur tanpa ada tanda-tanda bergerak sama sekali, itu artinya bahwa iblis telah memasang susunan mimpi tersebut dalam dirinya dan belum melepaskannya sama sekali. Sekali susunan mimpi itu terpasang, hanya pemasangnya saja yang bisa melepaskannya, kecuali bila Arka berhasil menghadapi teror yang dialaminya dan menemukan cara untuk memecahkan susunan mimpi tersebut dan secara otomatis menghancurkannya."


Kepala Rainy serasa berputar mendengar penjelasan Guru Gilang. Kalau begitu selama ini Lilian masih penuh belas kasih padanya karena hanya menyerangnya sesekali saja?


"Lalu... Lalu bagaimana?" tanya Rainy dengan suara serak. Ia bisa merasakan ancaman isak tangis dalam tenggorokannya. Tidak boleh menangis! Ini bukan saatnya untuk menangis! Rainy mengigit bibirnya kuat-kuat dan menahan airmatanya, tak menyadari bahwa gigitan yang dilakukannya telah merobek bibir bawahnya dan darah tampak menodai bibirnya.


Melihat ini, Arai menghela nafas panjang sebelum berkata,


Untuk kedua kalinya hari ini, lutut Rainy terasa lemah. Guru Gilang segera menangkapnya dan mengarahkannya untuk duduk di sebuah kursi yang dibawakan oleh Nuri untuknya. Di sebelahnya, keadaan Datuk Sanja jauh lebih baik, namun ekspresi wajahnya tak kalah suramnya. Ia telah melintasi ruang dan waktu untuk datang ke tempat itu hanya dengan 1 tujuan, yaitu untuk melindungi kedua cicitnya. Namun mengapa setelah menunggu selama beratus-ratus tahun, sebelum ia memiliki kesempatan untuk mengakui mereka berdua, ia akan kehilangan salah satunya lagi? Tidak mungkin! Tuhan tidak akan sebegitu kejamnya pada dirinya!


"Apakah benar-benar sudah tidak ada cara untuk mengeluarkannya dari susunan mimpi iblis itu?" tanya Datuk Sanja pada Arai dengan suara muram. Arai mengedipkan matanya sesaat. Ia membuka mulutnya untuk berbicara, namun sesaat kemudian menutupnya kembali, tampak ragu-ragu untuk menjawab.


"Arai, cepat katakan! Apa yang membuatmu komat-kamit tak jelas seperti itu?" Tuntut Datuk Sanja dengan suara yang penuh dengan nada otoritas. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu merasakan lutut mereka menjadi lemas. Rainy terpana. Bahkan dalam keterpukulannya, ia masih mampu merasakan efek suara Datuk Sanja yang memiliki kekuatan spiritual di dalamnya. Suara itu mampu membuat pendengarnya merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang sangat berwibawa sehingga secara naluriah membuat tubuh mereka gemetar ketakutan. Ini... Kekuatan macam apa ini? Apakah ini masih kekuatan manusia? Tanya Rainy dalam hati. Ia sendiri mengalami dorongan perasaan yang kuat untuk berlutut dan menunduk dengan penuh hormat pada Datuk Sanja begitu ia mendengar suara tersebut. Untungnya Rainy mampu menahannya. Namun tidak demikian halnya dengan Arai yang menjadi sasaran dari suara penuh otoritas ini. Tubuhnya secara otomatis langsung berlutut hingga tubuhnya menghilang ke balik tempat tidur yang Arka tempati.


Menyadari bahwa dirinya telah tanpa sengaja melepaskan kekuatan otoritasnya, Datuk Sanja langsung menarik kekuatannya tersebut dan menarik nafas panjang untuk mengendalikan emosinya.


"Bangunlah, Arai." perintahnya. Pelan-pelan Arai memanjat naik dengan menggunakan tempat tidur Arka sebagai penyangga karena lututnya masih belum berhenti gemetar. Nuri yang melihat ini langsung membungkuk dan menarik Arai berdiri, lalu dengan baik hati, menyandarkan tubuh Arai ke tubuhnya sendiri agar pria itu dapat berdiri dengan tegak. Melihat betapa mudahnya Nuri mengangkat seorang pria yang memiliki tubuh nyaris 2 kali lebih besar dari tubuhnya sendiri memberi Rainy kesempatan untuk menilai seberapa besar kekuatan fisik Nuri.


"Sekarang katakan, apakah ada cara untuk melepaskan cicitku dari cengkeraman iblis-iblis terkutuk tersebut?" tanya Datuk Sanja dalam suara yang bernada lebih tenang dan tanpa diimbuhi oleh kekuatan spiritual.


"Ia mungkin... Ia mungkin akan lebih memiliki kekuatan untuk... Melindungi diri... Bila rohnya yang terpecah... Kembali padanya." ucap Arai. Matanya sesekali melirik ke arah Rainy dengan ekspresi tidak enak, seolah ia baru menyampaikan sebuah vonis yang sangat buruk. Namun mendengar kata-katanya, mata Rainy langsung bersinar dan wajahnya menjadi penuh harapan.


"Kalau begitu kembalikan saja! Mengapa meninggalkan pecahan roh ini untuk menetap di tubuhku bila ia lebih bermanfaat bila berada bersama pemiliknya?" tanya Rainy dengan hati lega. Ia tidak mengetahui alasan mengapa sebagian roh Arka bisa berada bersamanya, namun apapun alasannya, ia tidak mau Arka sampai celaka karena terpisah dari roh kecil ini. Apabila mengembalikan roh kecil ini pada Arka akan membuat Arka memiliki kemampuan untuk melindungi diri dari jeratan iblis, bukankah lebih baik untuk mengembalikannya? Namun di dalam benaknya, Rainy melihat Arka kecil menggelengkan kepalanya.


"Gadis bodoh, kau memang gadis paling bodoh yang pernah aku temui!" makinya dengan kening berkerut dan bibir membentuk seringai kesal.