My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Terbakar



Berkat bujukan Ivan, Herdianti setuju untuk berbaring di atas tempat tidur. Rainy menyuruhnya untuk berganti pakaian dengan oversized training set yang memang disiapkan Rainy untuk dikenakan setiap tamu yang memerlukan, lengkap dengan perlengkapan mandi seperti handuk, jubah mandi, sandal kamar dan amenities dari Cattleya Resort. Setelah berganti pakaian, Herdianti duduk di atas tempat tidur dengan canggung. Rainy kemudian berjalan mendekatinya.


“Ibu, maaf, tapi saya lupa memberitahu sesuatu pada Ibu.” Rainy mengulurkan tangannya dan sebuah nyala api kecil muncul di telapak tangannya. Melihat ini Herdianti langsung membelalakkan matanya dengan kaget.


“Bagaimana bisa api keluar dari tangan Kak Rainy? Apakah ini sulap?” Tanya Herdianti dengan heran. Rainy menggeleng.


“Ini bukan sulap, tapi api ini datang dari dalam diri saya. Ia merupakan kemampuan yang saya bawa dari lahir.” Cerita Rainy. “Tapi jangan takut, ibu. Api ini tidak panas bila kita yang menyentuhnya. Kalau ibu tidak percaya, coba Ibu sentuh.” Rainy mengulurkan tangannya dan mendekatkan api tersebut pada Herdianti. “Ulurkan jari ibu dan coba sentuhlah.”


Herdianti memandang Rainy dengan setengah tidak percaya. Ia sulit percaya api bisa menyala di telapak tangan seseorang tanpa menyebabkan terbakar, namun faktanya ada di depan mata. Tapi bisakah ia mempercayai bahwa api tersebut tidak terasa panas? Herdianti memandang nyala api di telapak tangan Rainy yang berpijar dalam warna merah oranye, terlihat luar biasa panas. Namun tidak terlihat ada bekas terbakar sedikitpun di kulit yang berada di sekitarnya. Wanita cantik ini bisa memegang api tanpa terbakar, apakah ia masih manusia? Pikir Herdianti.


Herdianti kembali menatap Rainy dengan ragu-ragu. Rainy mengangguk dan menyodorkan telapak tangannya sehingga berada semakin dekat dengan wajah Herdianti, membuat Herdianti mundur karena takut. Tapi kemudian pelan-pelan ia menjulurkan jarinya ke arah api tersebut. Gerakannya lambat dan takut-takut. Saat jarinya sudah berada sangat dekat dengan nyala api, alis Herdianti terangkat naik. Jarinya sudah berada sangat dekat dengan api, tapi mengapa tidak terasa panas sama sekali? Karena penasaran, Herdianti memberanikan diri dan memasukkan ujung jarinya ke dalam api. Dengan terpana ia menyadari bahwa jarinya bukan saja tidak terbakar, namun ia tidak merasakan adanya rasa panas sama sekali. Herdianti kemudian mengulurkan beberapa jarinya sekaligus untuk merasakan api tersebut, lalu membuka mulutnya lebar-lebar ketika tiba-tiba nyala api tersebut membesar dan membakar seluruh telapak tangannya. Ia melihat tangannya terpanggang di atas api, namun Herdianti tidak merasakan apapun. Setelahnya Rainy mematikan nyala apinya dan Herdianti mengamati tangannya dengan seksama untuk mencari luka bakar, namun ia tidak berhasil menemukannya.


“Kak Rainy, apimu aneh sekali.” Komentarnya dengan takjub.


“Api ini memang tidak terasa panas bagi manusia, tapi ia sangat mematikan bagi jin dan iblis.” Ucap Rainy, menjelaskan. “Ibu, sebentar lagi saya akan menggunakan api ini untuk membakar mahluk yang ada dalam perut ibu. Karena itu bila ibu melihat tubuh ibu terbakar, ibu jangan panik ya. Saya pastikan bahwa api itu hanya akan melukai mahluk dalam tubuh ibu, tapi tidak akan menyakiti ibu sama sekali.” Herdianti mengangguk. “Kalau begitu, silahkan ibu berbaring.”


Herdianti lalu berbaring di atas tempat tidur dengan rikuh, tak tahu harus bersikap seperti apa. Melihat ini, Rainy mencoba menenangkannya.


“Tenangkan diri Ibu. Bagaimana kalau sambil berbaring, ibu mencoba untuk mengatur nafas ibu kembali, seperti yang saya ajarkan tadi?” Mendengar ini Herdianti mengangguk dan langsung menutup matanya. Herdianti mulai melakukan rileksasi pernafasan dengan tenang, sementara Rainy duduk menunggu di atas kursi yang dipindahkan oleh Ivan ke samping tempat tidur.


5 menit kemudian suara Adzan mulai terdengar dari Musholla yang ada di Resort. Herdianti langsung membuka mata dan mengaduh kesakitan. Ia reflek memegang perutnya dan hendak membungkuk sambil terus mengaduh, tapi Rainy dan Ivan langsung menahan tubuhnya. Herdianti menjerit keras dengan wajahnya berkerut-kerut. Air mata mengaliri wajahnya, bercampur dengan keringat dingin yang mulai membasahi seluruh tubuhnya. Herdianti  menggelinjang keras karena menahan sakit. Ivan terpaksa naik dan duduk di atas ranjang untuk menahan bahu Herdianti agar mereka bisa melihat perutnya tanpa halangan, sementara Rainy menyingkap sweatshirt yang menutupi bagian perut Herdianti.


Dengan ngeri mereka melihat perut Herdianti yang tadinya rata, kini membesar dan semakin membesar, hanya dalam hitungan detik. Bukan hanya sekedar membesar, perut tersebut bergerak dalam gerakan bergelombang, seolah-olah ada sesuatu yang sedang bergerak dengan liar di dalamnya dan mencoba mencari jalan keluar di sela-sela isi perut yang menghalanginya. Sebentar saja perut Herdianti sudah sebesar perut wanita yang sedang hamil 9 bulan. Rainy terpaku. Ia dipenuhi oleh rasa ngeri yang membekukan otaknya. Ini terlalu menakutkan!


“Rainy! Rainy, dengarkan aku! Rainy!” Suara Guru Gilang terdengar memanggil keras dari earpiecenya. “Rainy! Rainy, bangun! Rainy!” Suara Guru Gilang akhirnya berhasil menembus kesadaran Rainy yang sempat terkunci dalam perasaan panik yang menyebabkannya tidak bisa berpikir. Rainy memang sudah melihat rekaman videonya. Namun melihat dari rekaman video sangat berbeda dengan melihat secara langsung. Audio dan visual dari rekaman video sungguh tidak memiliki kemampuan untuk menangkap teror yang dihasilkan oleh kejadian yang sesungguhnya. Rainy menggelengkan kepala untuk membangunkan dirinya.


“Guru.” Panggil Rainy.


“Tidak apa-apa, Guru. Cuma terkejut saja.” Jawab Rainy sambil mengatur nafas. Ia membiarkan Ivan terus menahan tubuh Herdianti.


“Apa yang kau lihat?” Tanya Guru Gilang.


Rainy memandang perut Herdianti dengan lebih seksama. Perut itu sekarang menjadi begitu keras. Kulitnya tertarik kencang dan semakin kencang, layaknya sebuah balon yang diisi dengan udara secara berlebihan. Lalu tiba-tiba sesuatu yang terlihat seperti lengkungan yang memiliki pola tertentu muncul dan bergerak menyusuri dinding perut. Rainy membelalakkan matanya. Pola pada lengkungan yang terus berputar-putar di dalam perut Herdianti itu mirip dengan sisik ular.


“Sepertinya ada seekor ular yang hidup di dalam perutnya.” Ucap Rainy yang nyaris tidak terdengar diantara suara jeritan Herdianti.


Bagaimana kesadarannya?” Rainy memandang Herdianti untuk memeriksa kesadarannya, namun tiba-tiba Herdianti berhenti berteriak. Tubuhnya terkulai lemah dan tidak lagi bergerak, walaupun perutnya masih bergerak gerak dengan hebat.


“Dia pingsan karena terlalu sakit, Guru.” Beritahu Rainy.


“Lakukan sekarang selagi ia tidak bisa merasakan.” Suruh Guru Gilang.


“Baik, Guru.” Jawab Rainy. Rainy lalu memandang Ivan.


“Ivan, bisakah kau melindungi jantungnya sementara aku bertindak?” Tanya Rainy pada Ivan. Ivan mengangguk.


“Emm.” Ivan kemudian memejamkan mata dan mengimajinasikan keberadaan jantung Herdianti dalam benaknya. Ia lalu mengangkat sebelah tangannya dan mengarahkan telapaknya ke arah jantung Herdianti berada. Dalam benaknya, Ivan melihat sinar putih mengalir dari dalam bumi, melewati tubuhnya, kemudian terpancar keluar dari telapak tangannya menuju jantung Herdiati. Sinar putih tersebut sekarang mengurung jantung Herdianti dan melindunginya dari gangguan mahluk gaib. Setelah selesai, Ivan membuka mata dan mengangguk pada Rainy. Ia tetap mempertahankan posisi telapak tangannya yang terus mengantarkan sinar putih, namun matanya tetap dibiarkan terbuka.


Adzan di Musholla hampir mencapai ayat terakhir. Rainy menutup matanya sejenak. Ketika Muadzin mengumandangkan ayat terakhir, Rainy membuka matanya dan meletakkan telapak tangannya ke perut Herdianti. 2 detik kemudian api mengalir dari urat nadi Rainy dan menjalar keluar lewat telapak tangannya, langsung membakar tubuh Herdianti. Sebentar saja api tersebut menyebar keseluruh tubuh Herdianti, menyisakan bagian kaki dan kepalanya saja. Anehnya, walaupun terbakar, kulit herdianti tidak terlihat melepuh seolah-olah tubuhnya kebal terhadap panasnya api yang membara tersebut.


Rainy menarik tangannya dari perut Herdianti dan memperhatikan dengan ngeri ketika mahluk dalam perut Herdianti bergerak semakin kuat. Seolah-olah mahluk tersebut sedang meronta-ronta dengan sekuat tenaga. Sesekali, sesuatu yang mirip sebuah kepala ular, tercetak jelas di kulit perut Herdianti, seolah-olah ular tersebut hendak mencoba keluar dengan memecahkan dinding perut wanita tersebut.


Copyright @FreyaCesare