My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Jocasta



"Stop!" hardik Rainy keras. Ajaibnya, lampu kristal yang telah melayang jatuh dengan kekuatan penuh itu berhenti tepat sekitar 1 meter di atas kepala Kartini. Lampu kristal itu mengambang tak bergerak tanpa sesuatu pun terlihat memegang atau menahannya. Ornamen-ornamen kristalnya tampak bergantungan dan bergoyang pelan, namun tubuh utamanya sama sekali tidak bergerak. Di bawahnya, Kartini terlihat pucat dan menggigil karena shock dalam pelukan putranya yang terlihat tak kalah pucatnya. Ananda tidak dapat memahami apa yang sedang dilihatnya. Bagaimana bisa lampu kristal itu berhenti jatuh saat Rainy menyuruhnya untuk berhenti? Apakah gadis itu menguasai kemampuan untuk menggerakkan benda dengan pikirannya?


Melihat lampu itu berhenti bergerak, Rainy menarik nafas lega. Ia perlahan berjalan mendekati Nayla dengan Arka yang menempel ketat di belakangnya. Sebelum mencapai Nayla, Rainy berhenti berjalan. Ia memandang Nayla dan berkata lembut,


"Tenanglah. Kendalikan amarahmu." Ekspresi wajah Nayla telah terdistorsi menjadi sulit dikenali akibat dikuasai emosi. Roh adalah entitas yang jujur. Emosi mereka tergambar jelas di wajah mereka dan mampu mempengaruhi penampilan mereka. Nayla tidak bergeming oleh bujukan Rainy. Ia masih membiarkan lampu itu tergantung di atas kepala Kartini.


"Biarkan mereka pergi. Sekali kau melampaui batas dan menggunakan tanganmu untuk membunuh maka dirimu akan berubah menjadi roh jahat dan akan langsung diseret masuk ke dalam neraka jahanam. Jangan biarkan dirimu jatuh sama rendahnya dengan orang yang kau benci, Nayla. Dirimu jauh lebih mulia daripada itu."


Nayla tidak menjawab. Namun pelan-pelan wajahnya kembali seperti semula, yaitu wajah pucat pasi yang dinodai oleh aliran air mata darah, namun tetap secantik wajah yang terekam dalam fotonya. Rainy menoleh pada Raka dan mengangguk pelan. Raka kemudian berjalan menuju Ananda dan menarik tangan Ananda untuk bergerak menjauh. Kartini yang masih terlindung dalam pelukan Ananda secara otomatis ikut tertarik bersamanya. Melihat ini, Nayla mencibir. Dengan gerakan matanya ia membuat lampu kristal yang masih mengambang di tempat tersebut bergerak. Lampu tersebut perlahan bergerak naik sekitar 2 meter, lalu berhenti sesaat, untuk kemudian jatuh terbanting ke lantai dengan kecepatan tinggi. Membuat pecahannya terlempar ke segala penjuru ruangan.


Untungnya Raka dan Ivan sangat cerdas. Saat melihat lampu tersebut perlahan naik, keduanya langsung menarik Natasha dan melompat ke belakang sofa terdekat, sehingga ketika lampu kristal tersebut jatuh, mereka telah terlindung dengan aman di balik sofa. Rainy sendiri terlindung aman dalam pelukan Arka yang dengan gesit menyeretnya ke balik dinding yang memisahkan ruang tamu dengan lobi. Tinggal Ananda dan Kartini yang baru saja menarik nafas lega karena terlepas dari ancaman pembunuhan, tak berdaya untuk menghindar. Nyawa mereka terselamatkan, namun bukan berarti Nayla bersedia melepaskan mereka begitu saja. Sejumlah luka-luka tampak menodai wajah dan tubuh mereka. Membuat keduanya tampak menyedihkan.


Ananda merasa jantungnya berdetak kencang dan dadanya dipenuhi rasa tidak nyaman yang membuatnya gelisah. Apa yang terjadi barusan adalah hal sulit untuk di terima oleh logikanya. Namun bukan semua teror dan luka-luka ini yang mengganggunya. Walau mereka berdiri agak berjauhan, Ananda masih bisa mendengar dengan jelas saat Rainy menyebut nama Nayla. Nayla... Naylanya. Tapi bagaimana mungkin... Ananda merasakan seseorang telah datang dan berdiri di dekatnya. Ketika Ananda mengangkat wajahnya, ia bertatap-tatapan dengan Rainy.


"Sekali lagi, saya telah menyelamatkan nyawa ibumu." Ucap Rainy dingin. "Saya tidak akan meminta bayaran untuk itu. Anggap saja saya bersedekah pada kalian. Kalian hanya perlu membayar uang konsultasi sejumlah yang telah di sepakati. Laporan tentang hasil investigasi ini akan dikirim secara tertulis. Selamat sore." Tanpa basa-basi Rainy kemudian berbalik dan melangkah keluar dari rumah itu, diikuti oleh seluruh anggota timnya, meninggalkan Ananda yang tak mampu berkata-kata.


***


Rainy hampir melangkah memasuki mobil ketika tiba-tiba Nayla muncul di hadapannya, berdiri di antara dia dan pintu mobil yang terbuka, membuat jantung Rainy terasa hendak melompat keluar karena terkejut. Rainy mengutuk dalam hati dan bertanya mengapa mahluk tak kasat mata sangat suka mengejutkan orang? Dan mengapa walaupun sudah melihat mahluk tak kasat mata seumur hidupnya, Rainy tetap saja terkejut bila mereka muncul dengan cara mendadak seperti itu? Rainy menutup matanya sesaat dan menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Ketika ia membuka matanya kembali, ia menatap Nayla dengan perasaan iba.


"Kau tinggallah disini sedikit lebih lama lagi. Aku akan mencari cara untuk membantumu. Jadi bersabarlah sedikit." ucap Rainy. Nayla mengangguk pelan. Rainy menoleh ke arah rumah putih tempat semua kekacauan barusan terjadi. Ia terkenang wajah sedih Ananda ketika pria itu menceritakan tentang Nayla padanya.


"Laki-laki itu," Ia kembali menatap Nayla dan bertanya, "Bisakah kau merelakannya saja?" Tapi Nayla hanya diam, enggan menjawab. Tak lama kemudian sosoknya memudar, lalu menghilang dari hadapan Rainy. Melihat ini, Rainy kembali menarik nafas panjang. Cinta surely beautiful, but is it worth the pain? Rainy memandang ke arah Raka yang sudah duduk di dalam mobil dan sedang memandang ke arahnya dengan tatapannya yang selalu berhasil meluluhkan hati Rainy. Well, setidaknya aku sangat mengenal pria yang kucintai. Mencintai orang yang masih asing dalam hidupku sungguh sangat menakutkan. Begitu pikiran yang terlintas di benak Rainy saat ia melangkah memasuki mobil dan duduk di samping Raka.


***


Malamnya mereka semua berkumpul di kantor. Raka memesan makan malam untuk dibagi bersama sambil membahas kasus yang baru mereka tinggalkan.


"Rain, bisakah kau menjelaskan tentang kasus ini?" pinta Ivan.


"Bukankah kau sudah menyaksikannya sendiri?" tanya Rainy.


"Baiklah." Rainy menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Apakah ada yang pernah mendengar tentang Jocasta Complex?" Tanya Rainy. Keempat pria dalam ruangan tersebut menggeleng. Hanya Natasha yang mengangguk.


"Saya pernah membaca tentang itu." ucap Natasha.


"Kalau begitu, bisakah kau jelaskan kepada mereka, Nat?" suruh Rainy. Natasha mengangguk.


"Apakah saya cukup menjelaskannya secara langsung atau saya perlu menceritakan sejarahnya juga?" Tanya Natasha. Melihat mata Natasha yang berkilat penuh semangat, Rainy mengangguk.


"Do what you like."


Setelah mendapatkan persetujuan dari Rainy, Natasha tersenyum lebar dan mulai bercerita dengan semangat.


"Nama Jocasta diambil dari mitologi yunani kuno. Jocasta adalah seorang wanita yang dinikahi Raja Thebes, Laius saat ia masih berusia sekitar 14 tahun, sementara sang Raja sudah cukup tua. Raja ini sungguh keterlaluan. Ia menculik, memperkosa dan membunuh seorang anak laki-laki. Perilakunya ini membuat para dewa marah dan memutuskan untuk menurunkan hukuman bagi Laius dan seluruh anggota keluarganya."


"Saat Jocasta sedang hamil, Laius menerima ramalan dari peramal Delphi yang mengatakan bahwa anak yang ia miliki dengan istrinya, saat dewasa kelak akan membunuhnya dan kemudian menikahi istrinya. Laius dan Jocasta yang takut pada ramalan ini, saat bayinya lahir, mengikat tangan bayi tersebut, lalu menyerahkannya pada seorang gembala dan memerintahkan kepada gembala tersebut untuk meninggalkan bayi itu agar mati di pegunungan. Namun si gembala malah menyerahkan bayi tersebut ke gembala yang lain, dan gembala yang lain ini menyerahkan lagi bayi tersebut pada Raja dan Ratu Corinth."


"Bertahun-tahun kemudian, Raja Laius mati terbunuh dalam sebuah pertempuran. Ratu Jocasta yang masih muda, sekarang menjadi seorang janda. Pada suatu hari Sphinx Raksasa meneror kota tempat Jocasta tinggal. Saudara laki-laki Jocasta lalu membuat sayembara yang mengatakan bahwa laki-laki manapun yang bisa mengalahkan si Sphinx akan dinikahkan dengan Jocasta dan menjadi Raja Thebes yang baru."


"Lalu seorang pria muda yang tampan dan gagah perkasa bernama Oedipus, muncul dan memenangkan sayembara tersebut. Ia menikahi Jocasta dan menjadi Raja Thebes yang baru. Jocasta yang sejak melahirkan putra pertamanya, tidak pernah disentuh oleh Laius karena Laius takut pada ramalan Delphi, untuk pertama kalinya merasakan kebahagiaan dalam pernikahannya. Selama 4 tahun menikah, ia melahirkan 4 orang anak untuk Oedipus."


"Kemudian sebuah wabah terjadi di kota itu. Oedipus mengirim saudara laki-laki Jocasta untuk menemui peramal delphi. Sang peramal mengatakan bahwa untuk mengatasi wabah, mereka harus menghukum pembunuh Laius. Jocasta berkata pada Oedipus agar tak perlu mengkhawatirkan ramalan tersebut. Ia lalu menceritakan pada Oedipus mengenai ramalan yang dibuat Peramal Delphi tentang anak pertama Jocasta dan bagaimana mereka berhasil menghentikan terjadinya ramalan tersebut. Namun mendengar ini, Oedipus mengatakan pada Jocasta bahwa seseorang pernah mengatakan padanya bahwa ia akan membunuh ayahnya sendiri dan menikahi ibu kandungnya, dan bahwa kedua orangtuanya saat ini bukanlah orang tua kandungnya."


"Saat Jocasta mendengar ini, ia langsung memahami siapa Oedipus yang sebenarnya sehingga membuat Jocasta memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri dengan gantung diri."


"So, long story short," ucap Natasha, di akhir dongengnya, "Jocasta Complex adalah hasrat seksual terpendam yang dimiliki seorang ibu untuk putra kandungnya."


"WHAT?"


Copyright @FreyaCesare