
Rainy berdiri di balkon tempat dimana ia tadi melihat Nayla. Balkon itu cukup luas. Lantainya ditutup oleh lampit rotan berwarna khaki. Di sudut terjauh dari pintu, terdapat serumpun pohon bambu hias di dalam sebuah pot lebar, yang tingginya mungkin telah mencapai 120 cm. Di sebelah pohon-pohon tersebut terdapat sebuah kursi rotan besar berbentuk huruf L berwarna abu-abu gelap, yang ditutupi oleh banyak bantal-bantal besar yang terlihat sangat empuk dalam berbagai variasi warna putih kebiruan. Di sebelahnya terdapat sebuah meja rotan mungil berwarna abu-abu gelap dengan 3 buah pot tanaman sukulen mungil menghiasi bagian atasnya. Di sudut yang lain terdapat sebuah meja kayu kecil berwarna putih dengan sepasang kursi berwarna putih mengapit sisi kiri dan kanannya, diletakkan sejajar dan agak menempel dengan pagar. Di seberangnya, menempel dengan dinding bangunan, terdapat sebuah rak tanaman susun berwarna putih yang berisi penuh dengan berbagai tanaman sukulen. 5 buah hanging planter lamp tergantung tepat di atas pagar balkon dalam tinggi yang asimetris. Tanaman gantung menjulur keluar dari pot yang berada di bagian bawah lampu. Ini adalah balkon yang sangat cantik dan mengingatkan Rainy pada Balkon kantornya yang tampak membosankan. Hmmm... Setelah ini, mungkin Rainy akan mendesain ulang balkon di kantor agar bisa memiliki vibe yang nyaman seperti balkon ini.
Dari sudut matanya, Rainy melihat sesuatu bergerak di udara yang kosong. Tak lama kemudian sosok seorang wanita menampakkan diri di depan kursi rotan yang besar tersebut. Ini adalah wanita tak kasat mata yang mendatangi Rainy di mobil tadi. Rambut yang hitam dan panjang tergerai. Tubuh yang langsing dan feminin. Wajah yang cantik, walaupun saat ini terlihat seputih kertas dan ternoda darah. Tak ada keraguan dalam diri Rainy bahwa wanita ini adalah Nayla. Wajah ini adalah wajah wanita yang ada dalam foto itu. Wajah Nayla, tunangan Ananda yang dinyatakan hilang 2 bulan yang lalu.
Rainy dan Nayla berdiri berhadap-hadapan dan saling memandang. Mereka tidak perlu berbicara. Rainy sudah menyelam ke dalam ingatan Nayla sehingga ia memahami apa yang ingin disampaikan oleh wanita itu. Namun Rainy membutuhkan waktu untuk mewujudkan harapannya. Rainy berharap agar Nayla bisa menunggu.
Nayla kemudian menoleh ke samping. Tangannya terangkat dan jarinya menunjuk ke arah pot tanaman bambu hias yang tersembunyi di balik kursi rotan. Namun belum sempat Rainy berjalan menuju ke arah yang ditunjuk Nayla, Ananda menjulurkan kepala dari balik pintu yang terbuka.
"Rainy? Ah, kau menemukan tempat favoritku di rumah ini." ucap Ananda sambil tersenyum ramah. Di hadapan Rainy, sosok Nayla langsung menghilang.
Ananda berjalan mendekat dan memandang ke sekeliling teras.
"Apakah kau suka terasnya?"
"Dekorasi teras yang sangat bagus." komentar Rainy datar.
"Emm. Teras ini adalah hadiah ulang tahun untuk saya dari Nayla." cerita Ananda. Senyum sedih menghiasi wajah tampannya. Tangan Ananda terulur dan menyentuh lembut salah satu daun dari tanaman hias yang tergantung di lampu gantung.
"Nayla adalah seorang desainer interior." Ananda merentangkan kedua tangannya. "Coba lihat balkon ini! Bukankah balkon ini adalah bukti bahwa ia sangat berbakat?" tanya Ananda. Rainy mengangguk membenarkan.
"Nayla baru saja menyelesaikan kuliahnya dan sangat bersemangat untuk memulai karirnya di bidang interior design Karena itu adalah impiannya sejak kecil. Sayangnya saat impian itu baru saja terwujud, peristiwa itu terjadi." ucap Ananda lagi. Ananda kemudian menoleh pada Rainy dan memandang wajah gadis itu dengan tatapan penuh harap.
"Rainy, Apakah kau bisa melihat roh orang mati?" tanyanya.
"Why? Apakah anda berpikir bahwa Nayla sudah mati?" tanya Rainy.
"Nayla sudah menghilang selama 2 bulan. Apakah menurutmu ada kemungkinan bahwa dia masih hidup?"
"Banyak kasus orang yang diculik dan telah menghilang selama bertahun-tahun, ditemukan kembali dalam keadaan hidup."
"Jadi menurutmu Nayla diculik?"
"Anda yang berkata bahwa Nayla mungkin diculik. Saya hanya menjelaskan berdasarkan pemikiran tersebut."
"Oh."
"Tapi saya tidak di sini karena kasus Nayla. Saya berada disini karena anda mengalami serangan poltergeist. Karena itu mari berhenti bicara tentang Nayla. Bisakah anda menceritakan tentang diri Anda?"
"Menceritakan? Saya tidak tahu apa yang harus saya ceritakan. Bagaimana kalau begini, Rainy bisa bertanya dan saya akan menjawab pertanyaan tersebut."
"Apakah anda pernah membunuh orang?"
"Apa?" Ananda hampir tersedak oleh ludahnya sendiri karena terkejut. "Waaaah, pertanyaan ini sangat mengejutkan." komentar Ananda terpana. Ia lalu tersenyum geli.
"Ini adalah pertanyaan standar yang ditanyakan kepada setiap Klien saya." Ucap Rainy datar.
"Baiklah." Ananda memandang lurus ke mata Rainy tanpa berkedip dan berkata,
"Jawabannya adalah tidak."
Rainy menatap Ananda selama beberapa saat. Tatapannya yang dingin tampak sama sekali tidak mengganggu Ananda. Ia balas menatap Rainy dengan tenang, masih dengan seulas senyum yang nyaris tak pernah meninggalkan wajahnya. Beberapa saat kemudian Rainy mengangguk. Lalu tanpa berbicara, Rainy berbalik dan berjalan memasuki kamar. Di depan pintu Rainy berpapasan dengan Arka yang berdiri sambil menyandarkan sebelah bahunya pada dinding di sebelah pintu yang terbuka, mengawasi setiap gerak-gerik Rainy dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Ananda yang ditinggal sendirian di teras, langsung menyusul di belakang Rainy. Langkahnya sempat terhenti ketika berhadap-hadapan dengan Arka yang menatapnya dengan dingin. Tatapan Arka membuatnya merasa seolah sedang berhadapan dengan seseorang yang lebih superior, yang mampu melihat jauh ke dalam dirinya. Membuat Ananda waspada. Ananda mengalihkan pandangannya ke punggung Rainy yang tahu-tahu telah menghilang ke balik pintu keluar menuju hallway. Ananda mempercepat langkahnya untuk menyusul gadis tersebut. Ia menemukan Rainy sedang berdiri di halloway dan berbicara dengan salah seorang anggota timnya, seorang pria tampan yang memakai sarung tangan sutera sewarna kulit. Melihatnya mendekat, Rainy menoleh.
"Apakah Tidak ada pertanyaan yang lain?" tanya Ananda. Rainy menatapnya sesaat sebelum berkata,
"Akan saya tanyakan ketika saya menemukan sesuatu untuk ditanyakan."
Ananda mengangguk dan tersenyum ramah.
"Baiklah kalau begitu. Lalu apakah masih ada ruangan yang ingin dikunjungi?"
"Tidak perlu. Untuk sementara observasi kami sudah selesai." Jawab Raka.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita kembali ke ruang tamu?" Tanya Ananda. Mereka kemudian berjalan kembali ke ruang tamu yang berada di lantai dasar.
Saat itu Kartini masih duduk menunggu di atas sofa ruang tamu sambil bermain game di handphonenya. Melihat Ananda dan Rainy cs memasuki ruang tamu, Kartini mematikan gamenya dan menyambut mereka dengan senyum.
Ananda kembali duduk di sofa yang diduduki Kartini, sementara Rainy cs kembali ke kursi yang mereka duduki sebelumnya.
"Bagaimana?" tanya Kartini tak sabar. "Apakah kalian menemukan hantu yang mengganggu putraku?"
"Saya bertemu beberapa orang wanita." ucap Rainy tenang.
"Hah? Beberapa orang wanita?" tanya Kartini terkejut. "Beneran ada? Lebih dari 1?"
"Benar." Rainy mengangguk.
"Apa kamu benar-benar bertemu hantu? Bukan mengada-ada kan?" kejar Kartini lagi. Rainy memandang Kartini dingin.
"Sejujurnya, saya melihat satu sedang berada di ruangan ini sekarang." ucap Rainy dengan ritme suara yang lambat sehingga menimbulkan suspense di hati yang mendengarnya.
"Hah? Dimana?" tanya Kartini, sedikit panik. Rainy menggeser pandangan matanya melewati wajah Kartini, ke arah dinding di balik punggung Kartini.
"Di belakang ibu." ucap Rainy tanpa ekpresi. Mendengar ini Kartini langsung menjerit histeris dan berlari meninggalkan sofa, untuk pindah dan berdiri di samping sofa yang diduduki oleh Rainy. Dengan waspada ia menoleh ke arah sofa yang tadi ia duduki, dimana saat ini, Ananda masih duduk di atasnya. Matanya terbelalak dengan ngeri melihat lukisan canvas berukuran cukup besar yang terletak tepat di atas kepala Ananda tiba-tiba Bergoyang. Kartini menjerit dan menunjuk ke arah lukisan tersebut, membuat Ananda menoleh ke arah yang ditunjuk ibunya. Saat ia mengangkat wajah dan memandang ke atas, dengan tak berdaya, Ananda melihat lukisan tersebut terlepas dari tempatnya dan langsung jatuh menghantam wajahnya, tanpa pria itu bisa menghindar.
Copyright @ FreyaCesare