
“Bisa tidak kalau kau jangan bersikap terlalu kejam? Dia sangat menyayangimu.” Protes Lilian dengan wajah merajuk.
“Aku tidak butuh rasa sayangnya. Kau simpan saja untukmu sendiri. Lilith adalah mamamu. Aku tidak ingin berebut denganmu.” Sahut Rainy dingin.
Rainy mengikat rambutnya dalam kuncir kuda longgar dan setelah itu meletakkan kembali sisirnya ke dalam lemari. Ia kemudian berdiri di hadapan Lilian sambil melipat kedua tangannya di dada dan berkata,
“Cepat katakan, apa yang kau inginkan?”
“Aku mengatakan yang sesungguhnya, Mama sangat merindukanmu. Kau pindah kemari dan meninggalkan dirinya disana sendirian, itu sungguh membuatnya sangat terluka. bagaimana.kalau kau menyiapkan sebuah kamar untuknya disini agar ia bisa selalu berada di dekatmu?” Pinta Lilian dengan suara manis. Mendengar ini Rainy mendengus jijik.
“Bermimpilah terus!” Sahut Rainy ketus.
“Jangan lupa, Rainy, leluhurmu selalu melakukan itu untuk Lilith. Itu sebuah tradisi dalam keluargamu lho!” Ucap Lilian mengingatkan.
“Well, itu adalah keputusan mereka. Tapi jangan harap aku akan melakukan hal yang sama!” Rainy menjawab tegas. “Kau harus menunggu Neraka membeku terlebih dahulu sebelum aku bersedia menyiapkan sebuah kamar khusus untuknya di tempat ini.”
“Mengapa begitu?” Tanya Lilian dengan wajah penuh senyum.
”Karena tidak perduli apapun yang telah dilakukan oleh leluhurku untuk Lilith, Aku tidak tertarik untuk mengikuti jejak mereka!” Ucap Rainy dengan penuh keyakinan. Mendengar ini, Lilian tertawa geli.
“Rainy, Rainy... Oh Rainy! Apa kau pikir kau bisa mengabaikan tanggung jawabmu terhadap Lilith begitu saja?” Tanya Lilian lagi.
“Tanggung jawab?” Rainy mendengus geli. “Tanggung jawab yang mana? Lilith bukan orangtuaku, bukan.anggota keluargaku, bukan pimpinan perusahaanku, juga bukan fakir miskin atau yatim piatu yang harus dirawat dan disantuni. Di sebelah mana aku berhutang tanggung jawab padanya?” Tanya Rainy dengan sinis.
“Iblis, jangan lupa, kalian membuat perjanjian dengan Lauri. Perjanjian tersebut harusnya hanya mengikat Lauri saja. Apa hubungannya denganku?” Tolak Rainy.
“Lauri menjanjikan bahwa dia dan seluruh keturunannya akan patuh pada Lilith. Kau adalah keturunan Lauri. Tentu saja kau termasuk ke dalam perjanjian tersebut! Siapa suruh kau terlahir dalam keluarga Lauri. Kau harus turut memenuhi janji yang dibuat oleh Lauri. janji adalah hutang, Rain. Apa kau rela melihat leluhurmu dihukum karena kau enggan melunasi hutang mereka?” Tanya Lilian ingin tahu.
“Manusia lahir sendiri, mati sendiri dan memikul dosanya sendiri. Hutang mereka adalah hasil karya mereka sendiri. Tidak ada hubungannya denganku.” Bantah Rainy.
“Kau begini, Lilith tidak akan pernah menyetujuinya!” beritahu Lilian.
“Well, sejak awal aku tidak pernah berpikir bahwa kalian akan setuju dengan keinginanku jadi persetujuan kalian sama sekali tidak berarti bagiku.” sahut Rainy tegas.
“Mau mengingkari janji? Tidak akan sebegitu mudahnya!” Geram Lilian.
Aura membunuh tiba-tiba memancar keluar dari tubuh Lilian, membuat Rainy tiba-tiba mengalami kesulitan untuk bernafas. Ia merasa tercekik dan sesuatu yang tidak terlihat terasa sedang menekan tubuhnya dan menyebabkan kakinya terasa lemah, tampak hendak memaksanya untuk terjatuh.
“Katakan padaku, Rain. Apakah kau akan patuh pada keinginan Lilith atau haruskan aku melakukan sesuatu yang nantinya akan kau sesali pada dirimu?” Tanya Lilian Geram. Bukannya menjawab, Rainy malah mendengus jijik, membuat Lilian merasa terhina. Lalu tiba-tiba percikan api muncul dari salah sudut kamar, yang langsung membesar dan menyebar ke seluruh dinding kamar Rainy. Api yang membara langsung memenuhi kamar dengan udara panas dan asap yang menyesakkan. Rainy yang sedang bersimpuh tepat di tengah-tengah kamar, mau tidak mau merasakan rasa terancam yang kuat dari api tersebut. Berbeda dengan api neraka milik Rainy, Api Lilian adalah api yang berasal dari dunia manusia. Khusus di desain untuk membunuh dan menghancurkan isi Bumi. Bila terkena api itu, Rainy bisa terluka seperti manusia lainnya. Tapi Rainy tidak mau menunduk. Ia tidak bersedia diancam dan dipaksa, apalagi dimanipulasi. Menduga bahwa Lilian sedang menunggu ia bersimpuh di kakinya dan memohon ampunan Lilith, Rainy menutup mulutnya rapat-rapat. Lalu sebuah tendangan keras di pintu kamar membuat pintu kamar tersebut terpentang lebar. Di depan pintu, Arka berdiri dengan wajah panik.
Arka baru keluar dari kolam renang dan sedang memasuki paviliun melalui pintu belakang sambil mengeringkan kepalanya dengan handuk besar berwarna putih yang lembut dan nyaman dipakai. Tubuhnya dibalut oleh baju mandi khas hotel berwarna putih yang dibuat dari bahan yang sama dengan handuknya, dan kakinya juga dialasi oleh sandal kamar berwarna putih. Warna yang sangat berbeda dengan warna yang biasa dikenakannya, namun karena ini adalah barang-barang pinjaman yang disediakan oleh Resort, Arka tidak merasa keberatan mengenakannya. arka sedang kelaparan, namun karena Rainy sedang tidur dikamarnya, Arka memutuskan untuk memesan makanan dari Room service sehingga ia tidak harus meninggalkan paviliun. Ketika Arka melewati kamar yang ditempati oleh Rainy, ia merasakan bahwa suhu udara tiba-tiba melonjak naik. Arka menunduk dan melihat asap keluar dari bahwa pintu kamar Rainy. Tanpa banyak berpikir, Arka langsung mencoba membuka pintu kamar Rainy.
Saat pintu kamar Rainy terbuka, Arka dihantam oleh hawa panas yang berkobar dengan hebat di dalamnya. Ia melihat Rainy sedang terkapar tak sadarkan diri di tengah ruangan, sementara di sekitarnya, api berkobar-kobar. Anehnya api tersebut hanya membakar dinding-dinding kamar saja, sementara bagian tengah ruangan dimana Rainy berada, sama sekali tidak tersentuh. Meskipun begitu, hawa panas dan asap pasti membuat Rainy sangat menderita.
“Rainy!” Panggil Arka. Tapi gadis itu tidak menjawabnya. Arka menoleh ke atas meja. Ia melihat sebuah teko kaca berukuran 1,5 liter yang penuh terisi dengan air. Arka bergegas berlari ke arah meja dan meraup teko tersebut, lalu menuangkan isinya ke atas kepalanya. Air langsung menetes membasahi kepala dan baju mandi yang dikenakannya. Tidak memadai, tapi Arka tidak memiliki pilihan lain. Ia harus menyelamatkan Rainy. Arka kemudian membasahi handuknya di wastafel lalu menggunakannya untuk menutupi kepalanya. Setelahnya Arka langsung berlari menuju ke kamar dan tanpa keraguan, langsung melompat dan menerjang api yang menyala. Setelah berhasil melewati api, Arka langsung berlari mendekati Rainy. Saat menyentuh Rainy, Arka bisa merasakan tubuh gadis itu gemetar dan dingin. Matanya tertutup rapat dan tampaknya tidak sadarkan diri. Arka langsung mengangkatnya dan setelah menutupi Rainy dengan handuk basah, Arka membawa Rainy menerjang api dan keluar dari kamar.