
1 jam kemudian telepon genggam Rainy berdering saat ia sedang asyik bermain Sudoku di telepon genggamnya sambil berbaring di sofa dengan kedua kaki melintang di atas pangkuan Arka yang sedang membaca sebuah buku. Melihat nama Raka yang tertera pada displaynya, keningnya Rainy langsung berkerut. Dengan segera Rainy menggeser tombol terima.
“Raka?” panggilnya. Yang terdengar sebagai jawaban adalah tawa berderai Raka, membuat kedua alis Rainy terangkat.
“Kenapa tertawa?” Tanya Rainy heran.
“Biasanya orang akan mulai dengan kata: hallo atau assalammu alaikum. Kenapa kau selalu mulai dengan memanggil namaku sih?” Tanya Raka dengan suara yang masih kental dengan tawa.
“Why bother? Karena aku tahu kau yang menelepon, ya namamu yang kusebut.” Sahut Rainy.
“Kau dimana? Mengapa belum sampai disini?” Tanya Rainy tanpa basa-basi.
“Keluarlah. Aku ada diluar.” Beritahu Raka.
“Hm?” Rainy langsung menurunkan kaki dari pangkuan Arka dan bangkit dari duduknya. “Mengapa aku harus keluar?” Tanya Rainy dengan heran. Namun tak urung langkahnya tetap berjalan menuju pintu keluar dengan patuh.
“Menurutlah dan keluarlah, Baby.” Sahut Raka dengan misterius.
“Baiklah.” Ucap Rainy.
Rainy kemudian terus melangkah menuju pintu keluar tanpa mematikan sambungan teleponnya. Begitu ia sampai di depan pintu, Rainy mengulurkan sebelah tangannya yang bebas dan memutar gagang pintu hingga pintunya terbuka. Saat pintu itu terbuka, ia bertatapan dengan Raka yang sedang berdiri bersandar di jendela, tepat di depan pintu menuju ke kamar yang ditempati Ardi tersebut. Pria itu terlihat segar dan telah berganti pakaian dengan sebuah sweater berwarna putih dan celana jeans denim lurus yang membuat penampilannya tampak sangat kasual. Rambutnya yang hitam pekat masih terlihat lembab, sementara itu sembab yang tadi terlihat di wajahnya telah menghilang tanpa jejak. Begitu pula matanya yang tadi memerah, sekarang terlihat sangat jernih. Alih-alih terlihat lelah dan berantakan karena habis menangis, wajah Raka malah terlihat sangat segar dan bersih sehingga membuat ketampanannya menjadi semakin menonjol. Lalu seolah itu belum cukup, Raka tersenyum dalam senyum yang membuat jantung Rainy tiba-tiba berdebar dengan kencang. Penampilan Raka yang dilihatnya sore itu, adalah penampilan Raka yang akan terus Rainy ingat sampai berpuluh-puluh tahun kemudian. Penampilan yang membuat Rainy merasa jatuh cinta lagi kepada Raka untuk yang kesekian kalinya.
Melihat Rainy yang tampak terpana dan hanya berdiri diam di depan pintu, Raka melebarkan senyumnya dan bertanya,
“Mengapa hanya berdiri disitu? Kemarilah, Baby.” Panggil Raka sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Rainy dengan telapak tangan yang terbuka ke langit-langit.
Panggilannya membuat Rainy, yang sepenuhnya masih berada di bawah pesona Raka, melangkah meninggalkan pintu yang tertutup secara otomatis di belakangnya dan melangkah pelan untuk mendekati Raka. Secara otomatis tangan kirinya terangkat untuk meraih tangan kanan Raka. Dalam sekejap ia sudah berada di hadapan Raka, berdiri sangat dekat dengan pria itu, dalam keadaan yang masih sepenuhnya berada dibawah mantera pesona Raka. Tangan Kanan Raka menggenggam tangan kiri Rainy, sementara tangan kirinya diletakkan di pinggang gadis itu. Raka menunduk ke arah Rainy, sementara gadis itu mendongak ke arahnya dengan wajah terpukau. Melihat ekspresi gadis itu kedua alis Raka naik sesaat, sebelum kemudian senyumnya kembali dalam kekuatan penuh.
“Kenapa memandangku begitu? Apakah aku tampan?” Seloroh Raka geli. Tapi Rainy malah mengangguk.
“Emm. Sangat tampan.” Jawab gadis itu. Mantera pesonanya tampaknya telah patah, namun Rainy yang tak suka menutup-nutupi perasaannya, menjawab pertanyaan Raka dengan jujur. Mata gadis itu berbinar penuh penghargaan yang tiba-tiba membuat Raka merasa sedikit malu-malu. Namun bukan Raka namanya kalau membiarkan dirinya kalah dalam bertukar kata dengan Rainy.
“Apa kau suka?” Tanya Raka, dalam suara yang hampir menyerupai bisikan.
Rainy bukan gadis yang tahu caranya bersikap romantis. Ia tidak memiliki masalah dalam menunjukan kedekatan secara fisik seperti memegang tangan, memeluk atau mengusap kepala orang yang disayanginya. Namun ia dingin, minim ekspresi wajah dan cenderung bernada datar saat membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan emosi. Hanya saja bila Rainy sudah memutuskan untuk mencintai, maka ia akan bersikap sangat jujur pada perasaannya. Dalam diri Rainy hanya akan ada hitam dan putih. Tidak pernah abu-abu. Ketika ia tidak suka, ia akan dengan kejam bilang tidak suka. Lalu bila ia suka, maka ia tidak akan pernah sungkan mengungkapkannya. Itu membuat pernyataan cinta dan ungkapan kekagumannya selalu terlihat polos dan sangat apa adanya, namun justru mampu membuat wajah Raka memerah karena malu bak anak remaja.
Raka mengulurkan tangannya dan menjepit hidung Rainy dengan geli.
“Such a mouth. Selalu berhasil membuat aku tersenyum seperti orang bodoh.” Keluh Raka.
“Kau tidak pernah terlihat seperti orang bodoh. Orang jahat mungkin, tapi tidak pernah bodoh.” Sahut Rainy dengan suara yang ringan. Kata-katanya membuyarkan rasa malu Raka dan membuatnya merasa diserang.
“Itu tadi maksudnya pujian kan, Rain?” Tanyanya dengan geli. Rainy mengangguk dengan serius.
“Tentu saja!” Sahutnya tegas.
Raka tidak tahu harus menangis atau tertawa mendengar dirinya dikatai mirip orang jahat oleh tunangannya sendiri.
“Waaaah, kau sangat kejam.” Komentar Raka dengan memasang ekspresi sedih yang dilebih-lebihkan.
“Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya.” Sahut Rainy dengan tanpa ekspresi. “Sekarang beritahu aku, mengapa kau tadi menangis?” Tanya Rainy. Lagi-lagi Raka mengangkat kedua alisnya dengan lagak terkejut.
“Siapa bilang aku menangis?” Tanya Raka pura-pura tidak tahu, membuat Rainy menyipitkan matanya.
“Tadi saat video call, aku melihat wajahmu sembab dan matamu memerah.” Ucap Rainy.
“Really?” Raka menoleh pada kaca jendela di belakang punggungnya dan berlagak seolah-olah sedang memeriksa
apakah benar wajahnya sembab dan matanya memerah. “Sepertinya tidak. Auch!” Raka terpekik ketika pinggangnya dicubit dengan keras oleh Rainy.
“Jangan bohong padaku!” Kecam Rainy dengan nada tegas, membuat Raka tertawa geli diantara rasa sakitnya. Ia mengusap-usap bekas jepitan jari-jari tangan Rainy yang terasa nyeri dan panas. Mungkin merasa bersalah karena sudah menyebabkan rasa sakit, Rainy membantu untuk mengusap-usap area itu untuk Raka. Membuat pria itu tersenyum karena dalam pandangan matanya, perilaku Rainy sangat menggemaskan. Raka merasakan hatinya dipenuhi oleh rasa cinta yang besar pada gadis itu. Tak bisa menahan perasaannya, Raka menarik tubuh Rainy mendekat dan memeluknya dengan erat.
“Aku mencintaimu.” Bisik Raka di telinga Rainy, dengan penuh perasaan.