My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kekuatan Laksana Dewa



Rainy membungkukkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di atas pangkuannya sementara kedua tangannya memegang belakang kepalanya. Melihatnya seperti ini membuat Datuk Sanja mengangkat kedua alisnya.


"Kau sedang apa?" tanya Datuk Sanja.


"Processing." sahut Rainy dengan nada muram.


"Too much?" goda Datuk Sanja.


"Haha! Saya lahir di bumi yang mayoritas manusianya menganggap kemampuan supernatural hanyalah dongeng dan reinkarnasi adalah sebuah kebohongan. Saya bahkan tergoda untuk berpikir bahwa saya tiba-tiba mengidap skizofrenia dan ini semua hanyalah halusinasi dan delusi belaka." protes Rainy dengan suara yang agak teredam karena kepalanya masih menempel di pangkuannya.


"Kalian cuma sekelompok manusia yang merasa paling tahu padahal tidak memiliki kemampuan untuk melihat gajah yang berdiri di depan mata. Mitos dan Legenda adalah seperti asap yang tidak mungkin ada tanpa api." ucap Datuk Sanja dengan serius. "Kau terlalu banyak berpikir. Mengapa sibuk menerka-nerka apakah aku adalah halusinasimu atau bukan? Apa salahnya menerima saja semuanya sebagai kebenaran dan lanjutkan hidupmu. Memangnya sebegitu pentingnya ya merasa bahwa diri adalah waras? Tidak ada salahnya menjadi gila bila itu bisa membuat hidupmu menjadi lebih mudah."


Rainy mengangkat kepalanya dan menatap Datuk Sanja dengan kesal.


"Saya tidak gila!" protesnya keras. Datuk Sanja tersenyum geli.


"Bukankah kau yang telah menuduh dirimu sendiri menderita skizofrenia? Jangan lupa, halusinasi dan delusi adalah atribut penderita gangguan jiwa." ejek Datuk Sanja. Rainy menyipitkan matanya ke arah Datuk Sanja dengan kesal.


"Skizofrenia adalah gangguan jiwa. Bukan kegilaan! Gila adalah ketika kau mencelakakan orang lain tanpa merasa bersalah, membunuh orang lain tanpa rasa sesal dan menghamba pada iblis tanpa rasa takut pada Allah." Rainy lalu menegakkan tubuhnya dan menarik nafas panjang.


"Lalu apakah masih ada lagi yang perlu saya ketahui, Datuk?" tanya Rainy kemudian.


"Kurasa itu sudah semuanya." Sahut Datuk Sanja.


"Kalau begitu biar kusimpulkan. Jadi karena percobaan pembunuhan terhadap si kembar, untuk menyelamatkan nyawa mereka, Datuk mengatur untuk mengirim si kembar ke Blue Earth. Untuk memastikan bahwa si kembar bisa hidup dengan baik, Datuk lalu menyusul kemari dan sambil menunggu kemunculan si kembar, Datuk menculik keturunan Lauri yang menolak iblis untuk pindah ke tempat ini. Mereka kemudian dilatih sebagai kultivator sehingga suatu saat bisa menjadi anggota pasukan pembunuh iblis." ucap Rainy, mencoqba membuat resensi akan kisah panjang lebar yang telah didengarnya sejauh ini.


"Benar." Datuk Sanja mengangguk.


"Kapan Datuk bermaksud memulai peperangan terbuka dengan iblis?" tanya Rainy.


"Kapanpun kau siap." sahut Datuk Sanja dengan nada pasti. "Karena kaulah yang akan menjadi panglima perangnya."


"Panglima Perang? Dengan kemampuanku bukankah gelar itu agak berlebihan?" tanya Rainy dengan muram.


"Kau harus berkultivasi. Dengan bakat yang kau miliki, waktu yang kau butuhkan untuk mencapai level tertinggi akan 10 kali lebih cepat dari orang lain." jelas Datuk.


"Baiklah." Rainy menganggukkan kepalanya dengan pasrah. "Jadi apa yang harus saya lakukan pertama kali, Datuk?"


"Apakah kau sudah memutuskan untuk berkultivasi?." tanya Datuk Sanja.


"Bukankah saya tidak punya pilihan lain?" Tanya Rainy balik bertanya.


"Benar sih. Lagipula hanya dengan berkultivasi kau baru dapat memperkuat rohmu sehingga roh Arka bisa kembali ke tubuhnya dan membantu tubuhnya untuk mengobati diri-sendiri." ucap Datuk Sanja.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Bisakah kita mulai sëkarang?" tanya Rainy.


"Kita lakukan mulai lusa saja. 2 hari adalah waktu yang cukup untukmu melepas rindu. Sebab setelah kau mulai berkultivasi, kau tidak akan melihat mereka lagi selama 100 tahun." ucap Datuk Sanja.


"Hah?" Rainy terpana. 100 tahun? Apa Datuk sudah gila? Jangankan 100 tahun, Arka belum tentu bisa bertahan selama sebulan! Lalu melepas rindu apanya?


Membaca pikiran Rainy, Datuk Sanja sadar bahwa Rainy telah salah paham.


Rainy ingin menyumpah. Bagaimana bisa ada cheat seperti itu?


"Apakah kekuatan pengendali ruang dan waktu termasuk mengatur jalannya waktu sesuka hati?" tanya Rainy penasaran.


"Tentu saja tidak."


"Lalu bagaimana bisa Datuk mengendalikan waktu seenak perut Datuk?"


"Itu karena di dunia kecil ini, aku adalah dewa. Segala sesuatu yang ada di dunia kecil patuh terhadapku. Bila aku ingin gempa terjadi, maka gempa akan segera terjadi. Bila aku ingin sebuah gunung muncul, maka gunung akan benar-benar muncul dari dalam tanah. Bila aku ingin waktu berhenti berputar, maka waktu akan berhenti berputar. Begitu pula bila aku ingin waktu berlari lebih cepat dari dunia luar, maka itulah yang akan terjadi."


"Awesome!" puji Rainy.


"Tentu saja!"


"Bila Datuk sudah bosan, bolehkah Datuk wariskan dunia kecil ini untukku?" tanya Rainy penuh harap. Matanya yang indah berbinar penuh antisipasi. Datuk Sanja tersenyum.


"Itu tergantung."


"Tergantung apa?" kejar Rainy.


"Tergantung bagaimana performancemu. Bila aku menyukainya, mungkin aku akan mewariskan dunia ini padamu." Sahut Datuk Sanja dengan jumawa.


"Apakah termasuk dengan Ungu?" kejar Rainy lagi.


"Ungu adalah mahluk hidup. Ia tidak bisa diserah terimakan layaknya benda." sahut Datuk.


"Aku tidak keberatan." tiba-tiba suara Ungu terdengar dari belakang mereka. Rainy dan Datuk Sanja menoleh dan menemukan wanita itu sedang tersenyum dengan sangat manis. "Tempat ini sangat tenang. Aku sangat menyukainya. Walaupun kelak dunia ini diwariskan pada Rainy, aku masih ingin tinggal disini."


"Terimakasih, Ungu." ucap Rainy penuh syukur.


"Mengapa berterimakasih padanya? Aku belum mewariskan dunia ini padamu!" tukan Datuk Sanja dengan ketus.


"Hmmm... Datuk pasti tidak rela berpisah dengan Ungu kan?" goda Rainy.


"Diam! Gadis kecil kurang ajar! Bisa tidak kalau tidak menggoda seniormu sesuka hatimu?" protes Datuk Sanja kesal. Rainy menganggukkan kepalanya. Ekspresinya datar, namun sinar matanya bersinar jahil. Membuat Datuk Sanja tak tahan ingin memukulnya.


"Kau ini!" Datuk Sanja sudah mengangkat sebelah tangannya untuk memukul Rainy, namun kali ini dengan gesit Rainy menjauh. Gadis itu menjulurkan lidahnya pada Datuk Sanja dan memasang ekspresi kesal. Datuk Sanja menggelengkan kepalanya dengan maklum. Bahkan walaupun tidak bisa mengingat kehidupan sebelumnya, Rainy masih melakukan apa yang biasa ia lakukan di masa lalu. Kepribadiannya tidak banyak mengalami perubahan.


"Kemarilah." Datuk Sanja mengulurkan tangannya. Rainy menggelengkan kepalanya. Memangnya ia bodoh mau menyerahkan diri untuk dipukul?!


"Aku tidak akan memukulmu! Ayo sini. Aku akan membawamu menemui keluargamu." beritahu Datuk Sanja.


"Keluarga saya? Apakah keluarga saya ada disini?" tanya Rainy dengan wajah cerah.


"Emm. Tidakkah kau merindukan mereka? 2 hari lagi kau akan terkurung dalam pagoda selama 100 hari. Gunakan 2 hari ini untuk melepas rindu pada mereka." ucap Datuk Sanja.


Mendengar ini Rainy langsung mengulurkan tangannya pada Datuk Sanja. Setelah Datuk Sanja menyambut tangannya, Rainy melambaikan tangannya pada Ungu yang direspon oleh jin tersebut dengan balas melambai sambil tersenyum manis. Dengan segera dunia di sekitar Rainy bergerak. Rainy menutup matanya rapat-rapat dan mengerutkan keningnya sambil menahan rasa mual yang mengganggu. Rainy sangat benci teknik melipat ruang andalan Datuk Sanja ini.