
Rainy menoleh pada Bram yang masih memegang sebuah pistol berperedam di tangan kanannya dengan shock. Ia tidak menyangka bahwa Bram akan melakukan hal itu di hadapannya. Di sebelah Rainy, Arka dengan sigap telah berdiri dihadapan Rainy dan siap untuk melindungi Rainy dari Bram, dengan tubuhnya.
Rainy yang sejak tadi masih duduk di kursinya dengan mata terbelalak lebar karena sangat terkejut, mencoba mengatur kembali nafasnya dan merapikan ekspresinya. Ia menjulurkan kepalanya ke sisi tubuh Arka agar bisa melihat ke arah Bram.
"Kenapa kau membunuhnya?" Ucap Rainy terdengar tenang. Tak terlihat lagi riak keterkejutan pada ekspresi wajah dan gerak tubuhnya.
"Khilaf." ucap Bram dengan tenang. "Mulut kotornya membuatku tidak mampu mengendalikan diri lagi." Hilang sudah tutur katanya yang sopan dan sikapnya yang menyenangkan. Berganti dengan sosok pria setengah baya angkuh, yang memandang dunia sebagai mainan di bawah kakinya. Hawa membunuh yang dingin memancar dari tubuhnya. Rainy bisa merasakan ketegangan meningkat di tubuh Arka.
Rainy menarik tangan Arka dan mencoba mendorongnya ke samping agar tidak menghalangi pandangannya. Namun Arka tidak bergeming. Rainy bangkit dari duduknya, namun tangan Arka menahan tubuhnya agar tetap berada di belakang Arka, membuat Rainy berdecak kesal. Ia kembali menjulurkan kepalanya dari sisi tubuh Arka.
"Kupikir dia pundi-pundi uangmu." komentar Rainy.
"Aku masih punya Ananda. Sebagai cucu tunggal dalam keluarga kartini, Ananda akan lebih bernilai daripada ibunya. Kartini memberikan lebih banyak masalah daripada keuntungan. Aku sudah bosan menjadi tukang sampahnya." Sahut Bram ringan.
"Apa yang akan kau katakan pada Ananda tentang kematian istrimu?" Tanya Rainy ingin tahu.
"Dia tidak perlu tahu." Ucap Bram sambil tersenyum. Senyum yang membuatnya kembali terlihat seperti bapak yang baik hati. Seandainya mereka tidak menyaksikan pembunuhan yang dilakukannya, melihat senyum itu pasti sangat mudah untuk percaya bahwa ia pria yang baik hati.
Rainy menarik tangan Arka dan memaksa keluar dari perlindungan punggung Arka. Rainy bukan gadis lemah yang harus selalu dilindungi. Tapi Arka bersikeras. Saat Rainy melangkah keluar dari perlindungan punggungnya, sebelah tangan Arka langsung melingkari lengannya, siap menarik Rainy kapan saja diperlukan.
"Apakah kau akan membunuhku juga?" tanya Rainy dengan berani.
"Menurutmu?" Bram balas bertanya. Bibirnya menyeringai dalam senyum kejam yang mendirikan bulu roma.
"Kalau pada akhirnya kau akan membunuhku, mengapa repot-repot mengirimkan uang kompensasi tersebut kepadaku?"
"Alibi." jawab Bram.
"Alibi?" Ulang Rainy.
"Benar. Mengajakmu berbicara panjang dan lebar hanyalah untuk mencari alibi bagiku. Kau sungguh membuatku memutar otak dengan keras, kau tahu? Untungnya kau memunculkan ide untuk memberikan kompensasi itu. Kalau tidak, kita berdua pasti masih akan terus ngobrol sampai aku memperoleh inspirasi yang tepat." Renung Bram.
"Tapi siapa sangka kau sangat menarik. Aku tidak pernah melihat orang yang merespon penculikan dan pembunuhan seperti caramu." Bram menatapnya dengan seksama. "Apa kau tidak takut? Sepupumu menunjukan respon yang pada tempatnya walaupun harus kuakui, dia juga sangat pemberani. Tapi kau," Bram berjalan mendekat. Melihat ini, Arka kembali menarik Rainy ke balik punggungnya dan mendorong Rainy untuk mundur bersamanya. Cih, bersembunyi begini sungguh tidak bermartabat! Pikir Rainy kesal. Namun Bram tampak maklum. "Kau menunjukan respon yang tidak wajar." lanjutnya. "Apa kau tidak takut?"
"Rasa takut sangat penting. Ini memberikan kita kewaspadaan terhadap bencana. Namun rasa takut bisa menghentikan manusia dari mencapai kemajuan, karena itu sebaiknya digunakan secukupnya saja." sahut Rainy dengan serius. Mendengar ini, Bram tergelak nyaring. Rasa takut sebaiknya digunakan secukupnya saja? Itu terdengar seperti kata yang biasa diucapkan oleh para motivator. Bram menjadi yakin bahwa Rainy memiliki kemampuan berpikir yang unik dan berbeda dari orang kebanyakan, membuatnya merasa sedikit sayang untuk membunuhnya. Bram menarik nafas panjang.
"Aku merasa sangat tidak rela untuk membunuhmu. Seandainya saja kau tidak memiliki pengetahuan apapun tentang kejahatan Kartini, aku akan sangat senang memiliki dirimu sebagai menantuku." ucap Bram, membuat Rainy mendengus penuh ejekan.
"Aku dan Ananda tidak memiliki hubungan apapun. Itu semua hanya terjadi dalam kepala Kartini." ucap Rainy. Kami hanya sedikit mengomporinya saja. Tambah Rainy dalam hati sambil menjulurkan lidah imajinernya.
"Putraku memang tidak berguna." komentar Bram sambil menggelengkan kepalanya, tampak menyesali kebodohan Ananda yang tidak berhasil merebut hati Rainy.
"Katakan padaku, dongeng seperti apa yang akan kau sampaikan untuk menjelaskan kematian kami?" tanya Rainy ingin tahu.
"Hmmm... Aku akan mengatakan bahwa Kartini membunuhmu dan mencoba membunuh sepupumu, lalu aku datang dan saat menyaksikan itu semua, aku membunuhnya untuk menghentikannya, namun sudah terlambat. Sepupumu mati menyusul dirimu."
"Bagaimana caranya Kartini membunuhku dan sepupuku? Ia hanya seorang wanita. Tak akan mampu melakukannya sendiri."
"Lalu dimana alibimu memainkan perannya?"
"Ah, itu?" Bram tertawa. "Aku akan mengatakan bahwa konsultasi kami denganmu berhasil mengungkapkan kejahatan Kartini. Aku yang mengetahuinya tentu sangat terkejut. Lalu aku memintamu untuk membantuku mengirimkan uang kompensasi pada keluarga korban, sebelum aku melaporkan Kartini ke Polisi. Tepat setelah aku mengirimkan uang tersebut, aku memperoleh kabar bahwa Kartini menculikmu dan langsung menuju kemari untuk menyelamatkanmu. Bagaimana? Apakah dongeng yang kubuat cukup layak?" tanya Bram. Rainy mencibir dan menggelengkan kepala.
"Ada banyak lubang dalam ceritamu." Rainy mengangkat sebelah tangannya dan mulai menghitung dengan jarinya.
"Pertama, forensik akan bisa menentukan, di antara kami bertiga, siapa yang mati terlebih dahulu. Kedua, Polisi akan dengan mudah menemukan darimana perintah transfermu berasal dan jam berapa perintah tersebut dibuat. Hanya dari situ saja kebohonganmu dengan mudah akan terungkap."
"Kau memang cerdas." ungkap Bram dengan ekspresi kagum mewarnai wajahnya. "Tapi kau sepertinya sudah lupa siapa aku." ucapnya jumawa. "Aku adalah Jenderal dengan banyak koneksi menghiasi namaku. Kartini juga mempunyai banyak uang yang bisa digunakan untuk membeli pihak-pihak yang perlu dibeli. Jadi tenang saja, semuanya akan berjalan dengan lancar."
"Emm. Kau sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Bravo!" Rainy menepukkan tangannya dengan tanpa ekspresi, menghasilkan efek yang merendahkan.
"Ah, kau tidak rela?" tanya Bram yang merasa senang pada ekspresi kekesalan Rainy.
"Kau akan membunuhku. Kalau aku rela berarti aku sudah kehilangan kewarasanku." Sahut Rainy sambil mengangkat bahu dan mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap ke langit-langit, lagi-lagi membuat Bram tersenyum. Bram memandang ke Arah Arka yang menatapnya dingin.
"Sepupumu sungguh sebuah karya seni yang indah. Hawa membunuhnya sangat kuat. Sayang aku tidak bisa menyelamatkannya." puji Bram mengagumi Arka.
"Sayangnya aku tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang dirimu." balas Rainy. Ia memandang Bram dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas. "Aku hanya melihat lintah tua yang gendut karena kekenyangan setelah menghisap darah anjing gila. Sungguh pemandangan yang menjijikan." Anjing gila adalah sinonim yang dirasa Rainy paling tepat untuk menggambarkan Kartini. Tiba-tiba Bram mengangkat pistolnya dsn mengarahkan pada Rainy.
"Mengapa gadis-gadis dari keluarga kaya raya selalu bermulut kotor? Sungguh tak enak di dengar." desisnya geram. Arka meresponnya dengan menarik Rainy kembali ke belakangnya, namun Rainy tak bergeming.
"Wow. Apakah itu cukup untuk membuatmu marah? So weak!" ejek Rainy tanpa rasa takut. Kata-katanya disambut oleh dengusan tawa Bram. Ia menurunkan moncong pistolnya dan mulai memutar-mutarnya seolah itu hanya sebuah mainan.
"Apa kau mau tahu sebuah rahasia?" tanya Bram santai.
"Apa? Apakah kau seorang pedofil?" ejek Rainy.
"Ah. Sayang sekali rahasiaku tidak seburuk itu."
"Kalau begitu coba katakan, apa rahasiamu?" suruh Rainy.
"Hantu korban-korban itu, apa mereka semua masih ada disini?" tanya Bram.
"Masih." Rainy mengangguk. Sosok-sosok penjelmaan korban-korban pembunuhan di bangunan tersebut semuanya sedang berdiri mengelilingi mereka bertiga.
"Kartini memang memukuli mereka sampai hampir kehilangan nyawa. Namun ia selalu berhenti pada saat-saat terakhir dan melemparkan mereka padaku untuk dibereskan." Walau Rainy tidak melihat hal ini dalam ingatan yang tertinggal pada mahluk-mahluk tak kasat mata yang sedang mengelilingi mereka, Rainy sudah mencurigainya.
"Lalu?"
"Aku bukan pria berdarah dingin yang suka menyakiti orang lain. Jadi aku tidak membunuh mereka. Aku hanya memerintahkan pada anak buahku untuk langsung memasukkan mereka ke dalam liang kubur dan menutupi mereka dengan tanah."
Copyright @FreyaCesare