
Ketika Rainy membuka matanya kembali, ia telah berada di klinik tempat Arka dirawat. Matanya berbinar senang ketika melihat sepasang suami istri yang sedang berdiri di samping Arka dan memandangi kakaknya tersebut dengan prihatin. Si wanita bahkan tampak mengusap matanya yang basah.
"Mama! Papa!" panggil Rainy nyaring. Kedua pasangan tersebut menoleh dan langsung tersenyum ketika melihat putri tunggal mereka muncul. Rainy langsung berlari memasuki pelukan mamanya. Lalu setelah ia puas, ia ganti memeluk papanya dengan hangat.
Ardi dan Ratna memeluk putrinya dengan erat. Hati mereka dipenuhi rasa syukur karena Rainy tampak baik-baik saja.
"Papa dengar kau yang pergi langsung ke dunia iblis untuk menolong Arka. Apa kau baik-baik saja?" tanya Ardi dengan khawatir. Rainy mengglanggukkan kepalanya.
"Rainy baik-baik saja, pa. Jangan khawatir." sahut Rainy, mencoba menenangkan.
"Syukurlah! Kau sudah membuat papa dan mama takut sekali!" ucap Ratna sambil tersenyum.
"Tapi mengapa Mama dan Papa ada disini?" tanya Rainy heran.
"Kau telah menghilang begitu lama sehingga membuat Lilith panik. Dia menemui kami untuk menanyakan keberadaanmu. Tapi sebelum dia sempat melakukan apapun, Guru Gilang membawa kami kemari." cerita Papa.
"Apakah iblis tua itu menangkap basah dirimu?" tanya Datuk Sanja. Rainy menoleh dan menemukan bahwa Guru Gilang juga sedang berada di ruangan tersebut, duduk di sebelah Nuri dan Arai di depan sebuah meja periksa.
"Saya tidak yakin bahwa ia mengenali siapa saya, tapi kami menghilang tepat di depan matanya. Dia sudah pasti akan mencurigai sesuatu." jawab Guru Gilang.
"Yah, toh itu pasti akan terjadi. Tidak apa-apa. Lagipula Rainy dan Arka sudah ada disini." sahut Datuk Sanja tenang.
"Guru." Rainy memanggil Guru Gilang dengan ragu-ragu. "Er... Atau seharusnya saya memanggil dengan sebutan Datuk?"
Mendengar ini Guru Gilang tersenyum maklum.
"Panggil saja aku dengan sebutan Guru Gilang, Rain. Lagipula semua yang ada disini adalah leluhurmu. Kalau semua orang dipanggil Datuk, gelar itu tidak akan banyak maknanya lagi. Biar Gelar itu dikhususkan untuk Datuk Sanja saja." sahut Guru Gilang.
"Lagipula aku masih berpenampilan seperti saat aku berusia 24 tahun. Rasanya memalukan bila dipanggil datuk." cetus Nuri sambil menggelengkan kepalanya dan mengerutkan wajahnya dengan ekspresi jijik. "Panggil aku kakak. Oke, Rain?" suruhnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Rainy mengangguk dengan patuh.
"Baiklah, kak Nuri." sahutnya. "Eh, lalu bagaimana dengan Raka? Kalau Lilith tidak berhasil menanyai Mama dan Papa, ia pasti akan mencari Raka! Apakah Guru Gilang tidak membawa Raka kemari juga?" tanya Rainy, yang semakin ia berbicara, nada suaranya menjadi semakin panik karena imajinasinya langsung membuatnya membayangkan berbagai kemungkinan yang tidak menyenangkan.
"Rain, aku disini." Panggil sebuah suara bariton yang membuat Rainy langsung berbalik ke arah suara tersebut. Rainy merasa matanya memanas ketika ia melihat sosok Raka yang sedang tersenyum, berdiri di depan pintu masuk klinik. Rainy langsung berlari ke arah Raka dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan pria itu. Raka menyambutnya dengan hangat. Mereka berpelukan erat di bawah pandangan mata para senior yang menunjukan berbagai ekspresi yang berbeda-beda karenanya.
"Begitu ia melihat kekasihnya, ia langsung melupakan orang lain." gerutu Datuk Sanja.
"Ah, aku juga ingin jatuh cinta." des4h Nuri sambil menopangkan sebelah keningnya ke atas tangan kanannya yang sedang bersandar di meja.
"Kau harus belajar bertingkah layaknya perempuan terlebih dahulu bila ingin ada pria yang jatuh cinta padamu." Ejek Arai dengan serius.
"Tak ada yang bertanya padamu!" sahut Nuri dengan ketus. Semua kejadian itu tak terlihat oleh Rainy karena saat itu ia sedang menikmati saat-saat berada dalam pelukan tunangannya.
"Apa kau baik-baik saja?" bisik Arka. Rainy menganggukkan kepalanya. Ujung kepalanya yang berada di bawah dagu Arka, mengelitik dagu pria itu. Raka mendorong Rainy menjauh dengan perlahan. "Biarkan aku melihat wajahmu." pintanya. Rainy merenggangkan pelukannya dan mendongak untuk menatap Arka. Matanya basah dan hidungnya memerah karena sangat emosional. Begitu melihat pria itu, Rainy tiba-tiba merasa sangat merindukannya sampai hatinya terasa begitu sakit. Raka menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya.
"Akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Hatiku terasa lega sekali." beritahu Raka sambil tersenyum.
"Berapa lama aku pergi?" tanya Rainy.
"25 hari." sahut Raka, membuat Rainy membelalakan matanya.
"Begitu lama?" seru Rainy kaget.
"Ah! Pernikahan!" Rainy langsung menoleh pada Datuk Sanja. "Datuk, saya ingin menikah 20 hari lagi. Bisakah pada hari itu Datuk memberi saya libur selama beberapa hari?" tanya Rainy pada Datuk Sanja dengan kening berkerut.
"Tidak bisa!" sahut Datuk Sanja tegas.
"Ah? Kenapa?" tanya Rainy dengan mata terbelalak heran.
"Tidak baik memotong waktu kultivasi saat kau baru mulai. Itu akan mengganggu fokusmu!" ucap Datuk Sanja beralasan. Kata-katanya membuat Rainy menyipitkan matanya ke arah Datuk Sanja dengan kesal.
"Apa Datuk pikir saya akan bisa berkonsentrasi untuk berkultivasi ketika hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan saya tiba?" tanya Rainy beralasan.
"Ada apa?" tanya Raka dengan heran. Mendengar percakan Rainy dengan Datuk Sanja membuat Raka terkejut. Apakah Datuk Sanja menolak pernikahan mereka?
"Aku harus melakukan latihan tertutup selama 100 hari untuk memperkuat roh dan kemampuan spiritualku agar bisa membantu Arka untuk segera bangun. Aku lupa bahwa pernikahan kita akan segera tiba. Nah, sekarang Datuk tua itu melarangku menghadiri pernikahanku sendiri!" Rainy menunjuk ke arah Datuk Sanja dengan kesal.
"Yang mana yang lebih penting, nyawa saudaramu atau pernikahanmu?" tanya Datuk Sanja dengan kesal. Beraninya gadis kecil ini menyebutnya Datuk tua! Bukankah ia tidak bisa mengingat kehidupannya yang lalu? Mengapa saat marah, ia juga memanggil Datuk Sanja dengan sebutan yang sama seperti di masa lalunya?
"Dua-duanya sama pentingnya!" sahut Rainy tak kalah kesal.
"Kapan latihannya akan dimulai?" tanya Raka.
"2 hari lagi." sahut Rainy.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menikah sekarang saja?" tanya Raka yang membuat Rainy memandangnya dengan terpana.
"Aaaah?"
"Coba kau pikir, aku dan kau ada disini, kedua orangtuamu dan para leluhurmu juga ada disini. Aku tak mau kita menunda pernikahan kita. Karena itu, daripada menunggu 100 hari lagi, bagaimana kalau kita menikah sekarang saja?" tanya Raka.
"Setuju!" ucap Nuri sambil bertepuk tangan dengan girang. "Itu ide yang bagus. Akhirnya kita punya alasan untuk berpesta." wanita itu langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar klinik.
"Kau mau kemana?" tanya Arai.
"Menyiapkan pesta pernikahan!" sahut Nuri sambil terus berjalan.
"Tapi mereka belum memastikan." sahut Arai. Mendengar ini, Nuri berbalik dan memandang ke arah Rainy.
"Gadis kecil, ayo bilang iya!" suruhnya dengan ekspresi penuh pengharapan. Melihat tingkah Nuri, Rainy mengedipkan matanya dengan bingung. Ia lalu kembali menoleh pada Raka.
"Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka sudah mempersiapkan semuanya." tanyanya kemudian.
"Aku akan meminta mama untuk memundurkan acaranya hingga sekitar 5 bulan lagi. Saat itu kita akan tetap melakukannya. Tapi yang penting saat ini kita menikah dulu sekarang. Dengan begitu saat kau mengurung diri untuk berlatih selama 100 hari, kau akan bisa berkonsentrasi dengan tenang tanpa mengkhawatirkan mengenai hari pernikahanmu." ucap Raka berargumentasi. Rainy menoleh pada Ardi dan Ratna untuk meminta pertimbangan. Melihat ekspresi bingung putri mereka, Ardi dan Ratna tersenyum.
"Papa setuju." ucap Ardi sambil mengangguk.
"Mama juga." sambung Ratna.
"Hurray!" terdengar Nuri memekik dari pintu. "Kalau begitu akan aku urus sekarang! Asyik! Akan ada pesta pernikahan hari ini!" pekik Nuri dengan girang sambil berjalan cepat keluar dari klinik, membuat Guru Gilang dan Arai menggelengkan kepalanya.