My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Godaan Iblis II



"Tentu saja kau benar! Karena ini semua adalah rencanamu!" Sahut Lauri keras dengan berurai airmata. Kebenciannya pada Lilith tampak mengisi seluruh tulang dan darahnya, sehingga membuat auranya membentuk api yang menyala di sekitar tubuhnya, yang berkobar hingga setinggi 2 meter di atas kepalanya. Rainy menatapnya dengan terpukau. Datuk Sanja mengatakan bahwa Lauri adalah yang terlemah dari 3 bersaudara. Namun melihat bagaimana api berkobar dengan aura mengancam di tubuhnya, Rainy jadi bertanya-tanya; sekuat apa kedua saudari Lauri?


"Kau salah. Apa kau lupa bahwa bukan aku yang membuat Mamut begitu membenci kalian, tapi penolakan Maharati lah yang menjadi penyebabnya?" Bantah Lilith. "Seandainya kalian tidak menolak pinangan Mamut, ia tidak akan mengarahkan kebenciannya pada Ayahmu dan menjadikannya alasan untuk mengayau seluruh prajurit dalam sukumu."


"Tapi kaulah yang memberinya ide kan? Kau adalah iblis yang diceritakan oleh Uma pada kami! Kaulah penyebabnya!" tolak Lauri dengan keras kepala.


"Lauri, sudah kukatakan bahwa kau salah. Aku bukan musuhmu. Tapi aku adalah tuhan yang Apamu abaikan saat ia memilih untuk menjadi seorang muslim karena ingin menikahi Umamu." bantah Lilith lagi. "Tapi bahkan walaupun ia sudah menukarku dengan tuhan yang lain, aku tidak pernah meninggalkan kalian. Bukankah aku selalu memperingatkanmu bila ada bahaya yang akan datang? Bukankah aku selalu menawarkan pertolonganku untuk mengatasinya? Tapi mengapa? Mengapa kau selalu menolakku?" keluh Lilith dengan ekspresi terluka yang membuat Rainy merasa ingin muntah.


Rainy bisa melihat dengan jelas rahasia permainan yang sedang Lilith mainkan dan itu benar-benar membuat Rainy merasa bahwa kecerdasannya telah sangat direndahkan. Ternyata bagi Lilith mereka hanyalah pion-pion dalam permainan catur yang sedang dinikmatinya. Ia berlagak menjadi tuhan mereka, lalu menyemangati mereka untuk saling membunuh atas dasar penyembahan untuk dirinya dan mendorong pengikutnya untuk menghancurkan mantan pengikutnya yang telah bertobat guna memancing sang pengikut kembali kepadanya. Begitu sederhana! Begitu mudah ditebak! Namun dengan karakter masyarakat suku terpencil pada saat itu yang pola pikirnya masih sangat sederhana dan mudah dihasut serta ditakuti; permainan kecil Lilith menjadi begitu mematikan.


"Pergilah, Iblis! Aku mengutukmu semoga Allah menempatkanmu ke dalam neraka Jahanam dan membuatmu kekal di dalamnya!" jerit Lauri dengan marah. Lauri kemudian bangkit dan berlari meninggalkan desa. Di belakangnya Lilith berdecak sambil menggelengkan kepalanya.


"Ckckck... Sungguh keras kepala!" keluh Lilith sambil tersenyum. Ia kemudian langsung menghilang dari tempatnya berdiri tanpa jejak sedikitpun, seolah-olah ia benar-benar tidak pernah ada di sana sebelumnya.


Rainy berjalan mendekati Datuk Sanja dan bertanya,


"Apakah kita masih harus melihat lagi?" tanya Rainy dengan wajah yang masih basah oleh air mata. Datuk Sanja mengangguk dengan mata yang menyiratkan rasa iba.


"Seperti yang kau lihat, ini baru awal cerita. Lauri bahkan masih menentang iblis dengan sepenuh hatinya, sehingga kisah ini masih jauh dari selesai." sahut Datuk Sanja. Mendengar ini, Rainy menarik nafas panjang dan mengangguk dengan ekspresi lelah yang tergambar jelas di wajahnya.


"Datuk, istri Datuk Rumbun ada dimana?" tanya Rainy lagi.


"Istri Datuk Rumbun meninggal dunia ketika Mamut melakukan serangan pertamanya. Pada saat itu, Mamut berhasil menangkap Maharati dan berusaha memperkosanya. Namun istri Datuk Rumbun menemukan mereka dan menolong Maharati sebelum sesuatu sempat terjadi. Karena marah, Mamut menebas tubuh istri Datuk Rumbun sehingga terluka parah. Saat Datuk Rumbun tiba di tempat kejadian, istri Datuk Rumbun telah berada di saat terakhirnya dan segera meninggal setelah dituntun oleh suaminya untuk mengucapkan syahadat. Para prajurit pengawal Datuk Rumbun langsung mengejar Mamut, namun orang itu berhasil melarikan diri setelah pasukannya berhasil dikalahkan." cerita Datuk Sanja. Rainy teringat pada apa yang dikatakan Datuk Sanja sebelumnya, bahwa penyerangan kali ini adalah upaya pembunuhan terhadap Datuk Rumbun untuk yang ke 7 kalinya.


"Mengapa Datuk Rumbun tidak membalas dendam?" tanya Rainy sambil mengerutkan keningnya.


"Mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu. Desa Suku Iban tempat Mamut tinggal bukanlah desa kecil seperti desa yang mereka huni. Walaupun Datuk Rumbun sangat sakti, namun bila ingin balas menyerang, ia membutuhkan prajurit yang sangat banyak atau itu namanya bunuh diri. Sayangnya mayoritas pria kuat di desa telah pergi jauh untuk berdagang dan belum juga kembali. Itu sebabnya walaupun telah diserang sebanyak 6 kali, Datuk Rumbun tetap menpertahankan strategi defensif." ucap Datuk Sanja, menceritakan kisah selengkapnya pada Rainy.


Mendengar ini, Rainy menganggukan kepalanya. Di masa lalu, ketika suku dayak lainnya masih bertahan dengan gaya hidup penduduk asli yang berladang berpindah-pindah, suku Bakumpai adalah suku pertama yang dengan berani menjelajah keluar dari kampung-kampung terpencilnya untuk berdagang dengan menggunakan kapal-kapal sederhana. Itu sebabnya mereka menjadi suku pertama yang menjalin kontak dengan bangsa melayu dan kemudian belajar mengenai Islam dari mereka. Bahkan konon kabarnya, Suku Bekumpai lebih dahulu menganut agama Islam daripada suku Banjar.


Saat Rainy berbalik kembali, ia menemukan pemandangan desa telah berubah menjadi pemandangan di pinggir sungai. Saat itu ia melihat Lauri sedang menyangga tubuh seorang wanita muda yang terkapar di tanah dengan tubuh penuh luka akibat tebasan Mandau.


"Anjang! Anjang! Bangunlah, Anjang!" panggil Lauri keras sambil menepuk-nepuk pipi wanita tersebut. Wanita itu membuka matanya dengan susah payah dan ketika ia melihat bahwa orang yang sedang memeluknya adalah Lauri, wanita itu tersenyum.


"Lauri... Syukurlah kau selamat..." ucap wanita itu, tampak sangat lega.


"Anjang, apa yang terjadi? Mengapa kau jadi begini?" tanya Lauri.


"Mereka... memukuli Maharati... Karena ia mencoba... Menyerang orang yang... Membawa kepala... Sanja..." beritahu wanita itu dengan susah payah. Ceritanya membuat Lauri menjadi bertambah pucat pasi.


"Aku mencoba... Melindungi Maharati... Lalu mereka... Menyerangku..." lanjut wanita itu. Lauri terpaku dengan tubuh yang melemas.


"Kakak ipar juga dibunuh?" gumannya pelan, terlihat sangat terpukul mendengar berita tersebut.


."Lauri..." panggil wanita itu. Tersadar dari keterkejutannya, Lauri langsung merespon panggilan tersebut.


"Pergilah... Jangan cari kakakmu... Selamatkan dirimu... Apa... Kau mengerti?" suruh wanita itu.


"Anjang, jangan bicara lagi! Kita harus mengobati luka-lukamu!" menolak menjawab pertanyaan Anjangnya, Lauri bersiap untuk mengangkat tubuh wanita tersebut dari tanah yang basah. Namun wanita itu menahannya. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk membelai wajah Lauri.


"Jangan... Aku tidak... Akan bisa... Bertahan... Lauri... Kau harus... Terus hidup. Hiduplah... Dengan... Bebas..." ucap wanita itu, meninggalkan pesan terakhirnya bagi Lauri. "La... Illa... Ha illaullah..." belum selesai wanita tersebut mengucapkan syahadat terakhirnya, matanya telah terpejam dan tubuhnya telah kehilangan kekuatan terakhirnya.


"Anjang?" Lauri mencoba mengguncang tubuh si wanita dan memangginya dengan suara lirih. Meskipun begitu, Lauri telah mengerti bahwa maut telah menjemput Anjangnya tanpa bisa ditunda lagi. Lauri kemudian meletakkan tubuh wanita itu kembali ke tanah basah dan tanpa ragu sedikitpun, berlari ke arah sejumlah jukung yang tertambat di tepi sungai.


Glossary


Anjang : panggilan untuk saudara Ayah atau Ibu yang terlahir sebagai anak nomor 4.