My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Bercintalah Denganku



Arif Januar melemparkan tubuhnya ke atas ranjang hotel yang empuk. Kasur tersebut menyangga tubuh Arif dengan nyaman, membuatnya mendesah puas. Arif meletakkan kedua telapak tangannya untuk menyangga belakang kepalanya dan menyilangkan kakinya dengan santai. Matanya memandang berkeliling ke seluruh ruangan dan berdecak kagum. Penginapan mahal memang berbeda. Ia harus berterimakasih pada wanita tua bangka itu. Kalau bukan karena keinginan konyolnya untuk staycation di resort mahal, Arif tidak akan memiliki kesempatan untuk menikmati kamar resort ini dengan gratis.


Bila mengingat ibunya, Arif kembali dipenuhi rasa marah. Berani sekali wanita itu menjual seluruh asetnya dan tidak meninggalkan warisan sedikitpun untuk anak tunggalnya. Padahal wanita tua itu tahu bagaimana ia tidak memiliki pekerjaan yang bisa menopang hidupnya dan tidak memiliki rumah untuk menaunginya. Wanita tua itu memang meninggalkan polis asuransi jiwa untuknya. Namun jumlahnya bahkan tidak cukup untuk menghidupinya selama setahun. Seandainya wanita tua itu tidak menjual rumahnya, Arif tidak perlu repot-repot membayar sewa setiap bulannya.


Untungnya Arif teringat pada resort ini. Melihat bagaimana kisah tentang kematian ibunya di Cattleya Resort tidak muncul dalam pemberitaan, Arif menyadari bahwa pemilik Cattleya Resort pasti berpikir bahwa mengabarkan hal itu bisa membahayakan reputasi resortnya, yang secara otomatis akan menurunkan jumlah tamu yang check-in di Resort tersebut.


Arif lalu menyadari bahwa ia memiliki kesempatan yang besar untuk memperoleh pemasukan secara terus-menerus dari Cattleya Resort, dengan cara mengancam akan merusak reputasi mereka bila mereka tidak memenuhi semua permintaannya. Arif tertawa puas. Dia yakin sebentar lagi pemilik Cattleya Resort ini akan tunduk pada keinginannya. Lalu sekali pemilik Cattleya Resort bersedia memberikan uang, saat Arif datang kembali untuk meminta uang di masa yang akan datang, ia akan memberikan uang dengan lebih mudah.


Arif teringat pada Direktur Cattleya Resort yang cantik dan seksi. Ia teringat bagaimana darahnya terasa berdesir ketika kaki panjang wanita itu tersingkap dari antara belahan rok formalnya. Arif adalah pria yang memiliki fetish pada kaki. Ia seringkali tak mampu menahan untuk tidak menyentuhnya, ketika melihat sepasang kaki yang indah. Gara-gara hal ini Arif jadi sering melecehkan wanita di pinggir jalan. Siapa suruh mereka memamerkan kakinya kemana-mana. Kalau tidak ingin di bagian tertentu dari tubuhmu disentuh orang yang tidak dikenal, jangan memamerkan bagian tersebut pada orang lain! Dasar perempuan-perempuan tolol!


Tak lama kemudian, Arif jatuh tertidur. Suara ngoroknya yang keras menggema ke seluruh ruangan. Tanpa sepengetahuannya, sesosok tubuh seorang wanita muncul di samping tempat tidurnya. Wanita tersebut memiliki rambut hitam yang acak-acakan, dengan panjang yang mencapai lantai. Ia mengenakan gaun panjang berwarna putih yang tampak kotor. Wajahnya yang menunduk memandang ke arah Arif, terlihat pucat pasi. Bola matanya yang seharusnya berwarna putih, berwarna semerah darah. Di salah satu sudut bibirnya yang kehitaman, dinodai jejak aliran darah. Wanita tersebut hanya berdiri diam di samping tempat tidur tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Lama wanita itu berdiri disana. Layaknya sebuah patung, tak bergerak sesentipun. Pada suatu waktu, Arif tampak mulai terbangun. Ia merenggangkan kedua tangannya ke atas kepala. Tak lama kemudian ia membuka matanya. Saat itulah ia bertatapan dengan wanita yang berdiri di sampingnya tersebut. Arif langsung terduduk dan bergerak menjauh dari si wanita. Namun saat ia menoleh kembali, wanita tersebut telah menghilang dari tempatnya berdiri.


Arif memandang berkeliling dengan panik. Itu tadi siapa? Apakah ia sedang bermimpi? Atau ia sedang berhalusinasi? Arif mencoba mengendalikan dirinya dengan menepuk-nepuk dadanya pelan. Jantungnya berdetak sangat kencang. Arif meyakinkan diri bahwa ia tadi hanya sedang bermimpi saja. Ia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah keluar dari kamar mandi, ia naik ke atas ranjang, siap untuk menutup matanya kembali. Tak lama kemudian suara mendengkur kembali bergema ke seluruh ruangan.


Saat itu Arif sedang bermimpi. Ia bermimpi sedang berkencan dengan Direktur Cattleya Resort. Mereka sedang duduk di sebuah sofa, di ruang kerja Si Direktur. Pakaian sang Direktur telah tersingkap lebar, memamerkan kedua kakinya yang mulus dan panjang, serta bahunya yang ramping dan buah dadanya yang penuh. Wanita itu memandangnya dengan tatapan menggoda.


"Bercintalah denganku." ucapnya dengan nada merayu. Wanita itu sedang menggerayangi seluruh tubuh Arif dengan penuh nafsu. Tangan-tangannya terasa berada di semua bagian tubuh Arif, membuat Arif mendesah dengan keras. Tangan-tangan wanita itu mengelus perutnya, menggelitiki dadanya dan membelai kedua pahanya. Tubuh Arif terasa panas membara. Mengapa tangan wanita ini terasa berada dimana-mana? Membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya.


"Ariiiiif...." samar-samar Arif mendengar sebuah suara memanggil namanya dengan lembut, menembus kesadaran Arif yang hanyut dalam rasa yang diberikan oleh tangan-tangam wanita dalam pelukannya tersebut. Arif mengerutkan keningnya dengan kesal. Ia tidak rela melepaskan rasa tangan-tangan sang Direktur pada tubuhnya untuk menjawab panggilan tersebut.


"Ariiiiiif..... Ariiiiiif......." panggil suara itu lagi, terdengar begitu lirih dan mendayu-dayu, semakin dekat dan semakin nyaring. Arif merasakan sepasang tangan membelai pahanya. Membuatnya mendesah.


"Ariiiiif....... Ariiiiiif......" suara itu kembali terdengar. Semakin dekat, semakin nyaring. Kening Arif berkerut karena kesal. Ia memandang wajah cantik sang Direktur yang tersenyum menggoda, terbuai oleh rasa tangan wanita tersebut di tubuhnya. Sang Direktur mengangkat kedua tangannya untuk mengusap wajah Arif. Membuat Arif bertanya dalam hati dengan heran, bila tangan wanita ini mengusap wajahnya, lalu tangan siapa yang sedang membelai tubuhnya?


Arif menunduk dan melihat banyak tangan sedang mengerayangi seluruh tubuhnya. Mata Arif langsung terbelalak lebar namun belum sempat ia berteriak, kedua tangan sang Direktur telah mencekik lehernya dengan kuat. Membuatnya tak mampu mengeluarkan suara. Arif mencoba menarik lepas tangan-tangan sang direktur dengan panik. Namun tangan-tangan itu bagaikan besi yang mengunci lehernya. Arif menjerit sekuatnya, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ia meronta sekuat-kuatnya. Arif menyadari bahwa ia sedang bermimpi. Ia lalu memerintahkan dirinya untuk bangun. Bangun! Bangun! BANGUN!!!


Copyright @FreyaCesare