
Pada akhirnya, akibat gangguan dari para preman, kotak makanan dari Éclair terabaikan di bagasi belakang. Rainy yang telah kehilangan minat untuk mengunyah, membiarkan Ace melaju kencang tanpa berhenti. Sebagai gantinya, ia kembali menyandarkan tubuh ke dalam pelukan Raka dan memejamkan matanya. Sebentar saja Rainy sudah kembali tertidur nyenyak dan ia baru membuka matanya ketika mobil berhenti di halaman rumah Ardi. Melihat ibunya membukakan pintu, Rainy langsung melompat keluar dari mobil dan berlari ke dalam pelukan Ratna dengan girang.
“Mama!” Sapa Rainy sambil memeluk erat Ibunya. Ia membungkukkan tubuhnya dan mengusap-usapkan wajahnya di dada ibunya. Tingkahnya yang manja membuat Ratna tertawa geli.
“Coba lihat dirimu! Sudah begini dewasa, mengapa masih bertingkah seperti anak kecil?” Tanya Ratna sambil mengulurkan tangan dan mencubit ujung hidung Rainy.
“Apabila sedang berada di hadapan Mama, selamanya aku adalah anak kecil!” Ucap Rainy mengumumkan dengan keras.
“Ih, apa sih? Nggak malu ya, bertingkah begitu di hadapan cowok-cowok ganteng ini?” Tanya Ratna lagi. Rainy menoleh pada Raka cs dan mengulurkan tangan untuk menunjuk. Pertama-tama, ia menunjuk ke arah Raka.
“Dia adalah tunangan Rainy. Tapi tak perlu malu padanya karena ia sudah melihat Rainy bertingkah begini sejak masih bayi.” Raka hanya tersenyum dam mengangguk mengiyakan. Lalu ujung jarinya berpindah arah kepada Arka.
“Yang itu, walaupun kami baru bertemu saat sudah dewasa, sebagai sepupu yang lebih muda, di dalam hatinya pasti selamanya Rainy adalah sepupu kecil yang paling disayanginya.” Lebih tua? Yang benar saja! Arka hanya lebih tua beberapa bulan darinya. Dan kapan Arka pernah bilang bahwa ia menganggap Rainy sebagai sepupu yang paling disayanginya? Itu hanya pendapatmu sendiri! Pikir Ratna.
Sekali lagi ujung jari Rainy berpindah pada Ace.
“Yang itu, dia punya gadis kecilnya sendiri untuk dipikirkan jadi ia tidak akan perduli pada
perilaku Rainy!” Beritahu Rainy dengan penuh percaya diri. Tingkahnya ini membuat Ratna menggelengkan kepalanya.
“Dasar kau! Mengapa selalu semaumu sendiri sih?” Tanya Ratna lagi.
“Itu salah Raka, Ma! Kan dia yang membesarkanku.” Sahut Rainy dengan luwes, membuat Ratna tertawa geli. Si tertuduh hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menerima nasibnya. Karena sesungguhnya Rainy tidak salah. Walau saat belia, hampir semua orang, termasuk saudara-saudara ayahnya, sangat memanjakan Rainy. Namun yang paling memanjakannya adalah Raka. Saat ia masih belia, Rini memberitahu Raka, bahwa karena Rainy adalah pengantin kecilnya, maka tugas Raka adalah menjaga, mencintai dan memanjakan Rainy untuk seumur hidupnya. Siapa sangka bahwa kata-kata Rini itu bukan hanya sekedar dipatuhi, namun juga dilakukan dengan penuh dedikasi oleh Raka.
Suara klakson berbunyi dan sebuah mobil memasuki pintu gerbang dengan perlahan. Tak lama kemudian, Ardi berjalan keluar dari mobil sambil membawa tas tangannya.
“Kalian datang? Syukurlah. Aku baru mau menelpon untuk meminta kalian pulang.” Sapa Ardi sambil menepuk bahu Raka dan mengangguk pada Arka dan Ace. Rainy segera mengulurkan tangan dan memeluk ayahnya.
“Kenapa? Apakah Papa merindukan Rainy?” Tanya Rainy sambil mengedip-ngedipkan matanya. Melihat ini, Ardi tertawa.
“Tentu saja Papa merindukanmu! Kau kan putriku satu-satunya.” Sahut Ardi.
“Eh? Apa papa tidak puas karena hanya punya satu putri? Bagaimana kalau papa dan mama melahirkan saudara lagi untukku? Aku juga mau kalau diberi seorang adik.” Seloroh Rainy.
“Eh, kok ngaco sih?” Protes Ratna dengan wajah memerah. Bagaimana bisa Rainy mengatakan hal itu di hadapan orang lain tanpa filter sama sekali? Sungguh memalukan. Pikir Ratna. Namun Ardi yang sudah mengenal watak putrinya hanya tertawa.
“Kami sudah tua, nak! Organ dalam kami sudah karatan. Di usia ini tak mampu bila harus memberimu seorang adik. Bagaimana kalau yang lahir sama bandelnya dengan dirimu? Bukankah itu namanya Papa dan Mamamu ini mengundang malaikat maut untuk datang lebih cepat karena entah berapa kali jantung kami mau lepas saat membesarkanmu?" Selorohnya. Mengundang gelak tawa semua orang.
***
Mereka kemudian makan malam di rumah itu. Setelah makan malam, Ace dan Raka kembali ke rumah masing-masing, setelah terlebih dahulu membuat janji untuk melakukan dinner keesokan harinya bersama kedua orangtua Raka dan tak lupa mengeluarkan kotak makanan Éclair dari bagasi mobil. Sementara itu, Arka ditinggalkan untuk menginap di rumah Ardi. Mereka dengan sengaja tidak memberitahukan kepada orangtua Rainy mengenai apa yang baru mereka alami di rest area beberapa jam yang lalu. Namun Raka langsung memerintahkan Natasha untuk mengatur bodyguard bagi Ardi dan Ratna, yang akan mengikuti kedua orangtua Rainy tersebut tanpa sepengetahuan mereka. Raka tidak mau memberikan kesempatan pada Hendrik untuk menggunakan orangtua Rainy guna mengancam putri mereka.
Setelah Raka dan Ace pulang, Ardi mengajak Arka untuk bermain catur dengannya. Mendengar ini, Rainy menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tidak setuju. Ayahnya memang jago bermain catur. Namun bila dibandingkan dengan permainan catur Arka, permainan catur Ardi harusnya cuma bisa dikategorikan biasa-biasa saja. Namun melihat gelengan kepala putrinya malah membuat Ardi merasa tertantang. Jadilah Ardi dan Arka bermain catur di ruang keluarga, sementara Ratna dan Rainy menjadi penggembira. Benar saja: setelah 5 kali bertanding ulang, Ardi kalah telak tanpa bisa banyak berkutik. Membuat Rainy tertawa terbahak-bahak. Hal ini tentu saja membuat Arka yang tidak pernah melihat Rainy tertawa sebelumnya, merasa takjub. Tapi karena ini adalah Arka, ia hanya memandang sambil tersenyum dan tidak berkomentar sama sekali.
“Arka, setelah beberapa bulan ini bekerja dengan Rainy, bagaimana perasaanmu?” Tanya Ratna ingin tahu. Arka yang tidak bisa memahami apa yang sebenarnya ingin Ratna tanyakan, hanya menatap Ratna dalam diam dan dengan mata berkedip-kedip. Ekspresinya mirip dengan ekspresi Rainy saat sedang merasa bingung. Membuat Ratna tersenyum geli. Pemuda yang imut, pikir Ratna. Dalam hal ini Ratna merasa bahwa Rainy dan Arka memiliki banyak kebersamaan.
“Maksud tante, tante ingin tahu apakah kau suka bekerja bersama Rainy?” Ulang Ratna. Arka mengangguk.
Rainy langsung mengerutkan bibirnya mendengar ejekan ayahnya.
“Papa, Rainy adalah putrimu sendiri. Bisa-bisanya papa mengatai putri papa begitu!” Protes Rainy, tidak terima.
“Eh, Papa kan cuma mengatakan yang sebenarnya.” Sahut Ardi dengan bibir tersenyum manis.
“Bukankah orangtua itu harusnya menjaga harkat dan martabat anak? Mengapa Papa malah mengata-ngataiku?” kejar Rainy, tak terima. Ardi dan Ratna langsung tertawa berderai-derai mendengarnya.
“Bukannya itu terbalik, Rain?” protes Ardi di antara tawanya. “Bukankah harusnya anak
yang menjaga harkat dan martabat orang tua?”
“Harus timbal balik donk! Sebagai orangtua yang baik, tidak boleh mengata-ngatai anaknya di depan orang lain!” Tolak Rainy keras.
“Kalau begitu, apakah boleh melakukannya kalau di depan keluarga sendiri?” Tanya Ardi, masih sambil tertawa.
“Tetap tidak boleh! Katanya kata-kata orangtua adalah doa. Bila Papa mengatakan hal-hal yang buruk mengenai perangaiku, bukankah itu berarti Papa mendoakan aku untuk jadi seperti itu?!” Protes Rainy dengan wajah berkerut karena kesal, yang malam membuat ayahnya tertawa makin keras.
Kedua orang ini lagi-lagi beradu mulut sehingga tidak melihat perubahan yang tampak pada wajah Arka, sehingga hanya Ratnalah yang beruntung melihat senyum di bibir Arka untuk pertama kali setelah 5 tahun ia mengenal pemuda ini. Arka tersenyum melihat Rainy dan Ardi bercanda. Ratna menduga pemandangan ini pasti membuat Arka mengingat kedua orangtua dan adik perempuannya, sehingga ia merasa tersentuh.
“Rainy memberi saya perasaan yang sama seperti perasaan yang ditimbulkan oleh adik saya yang sudah tiada dalam diri saya, setiap kali saya bersama Rainy.” Ucap Arka dengan jujur. Ratna dan Ardi saling berpandangan. Mereka mengetahui dengan jelas mengenai
kemalangan yang menimpa keluarga Arka dan apa akibatnya bagi Arka, karena sebelum membawa Arka pulang, Marleena sudah menceritakan kisah hidup Arka pada anak-anaknya. Karena label yang disematkan kepada Arka sebagai psikopat oleh Psikolog kepolisian yang waktu itu mendiagnosanya, walaupun merasa iba, namun Ardi dan Ratna, seperti juga orang lain pada umumnya, merasa terintimidasi oleh label tersebut. Tak pernah terpikirkan oleh mereka kemudian bahwa mereka berdua tidak pernah berhenti merasa bersalah karena telah membiarkan salah satu anggota keluarga besar mereka yang masih belia, hidup layaknya anak yatim piatu yang tidak memiliki keluarga.
Ketika waktu berlalu dan mereka melihat Arka tubuh dewasa dan bergabung dengan Divisi VII, Ardi dan Ratna berpikir bahwa mungkin mereka sudah tidak lagi perlu untuk khawatir. Bahwa Arka sudah baik-baik saja. Namun melihat interaksinya dengan Rainy yang sangat akrab membuat Ardi dan Ratna tiba-tiba kembali dipenuhi keinginan yang waktu itu ragu-ragu untuk mereka wujudkan. Gadis biasa. Daripada pikiran, gadis kecil mereka itu lebih suka mengandalkan intuisinya dalam melakukan Rainy bukanlah sesuatu dan intuisi itu tidak pernah salah. Semenjak kecil Rainy bisa membedakan mana orang jahat dan mana yang sangat baik. Melihat ia begitu akrab dengan Arka, pasti itu karena Arka adalah orang yang sangat baik. Dan karena Arka adalah orang yang baik, maka Ratna ingin mewujudkan harapannya terhadap Arka.
“Arka, apa kau suka tinggal disini?” Tanya Ratna, membuat Rainy memutar bola matanya.
“Ma, Arka baru berada di sini selama beberapa jam dan belum melakukan apapun selain makan malam dan main catur. Bagaimana ia bisa langsung memutuskan apakah ia suka tinggal disini atau tidak.” Protes Rainy dengan mata mengantuk.
“Saya suka.” Sahut Arka tenang. “Rasanya seperti pulang ke rumah.” Mendengar ini, Rainy baru tersadar.
“Ah, biasanya kau tinggal sendiri di pavilion pegawai, di rumah kakek ya.”
Arka mengangguk.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kau pindah kemari saja?” Tanya Ratna lagi.
“Ma, Arka tidak bisa pindah kemari, karena kami tinggal di Cattleya Resort.” Bantah Rainy.
“Mama tahu, tapi bukan itu maksud mama.” Sahut Ratna.
“Maksud mamamu adalah ingin bertanya pada Arka, maukah ia menjadi anak Mama dan Papa yang sesungguhnya sehingga rumah ini menjadi rumahnya dan kau bukan lagi hanya sepupunya, tapi juga menjadi adiknya.”