
Begitu tubuhnya masuk ke dalam api yang membara, satu-satunya yang Rainy rasakan adalah jilatan api yang begitu panas. Begitu panasnya sampai Rainy tak bisa menahan diri untuk tidak membuka mulutnya untuk menjerit. Namun belum sempat suara keluar dari tenggorokannya, begitu mulutnya terbuka, api langsung menyelinap masuk dan membakar seluruh rongga mulutnya, tenggorokannya, pita suaranya, dan terus masuk sampai ke dalam setiap bagian tubuhnya yang memiliki koneksi langsung dengan mulut. Rainy tidak dapat berpikir, tidak dapat melakukan apapun, kecuali meringkuk seperti udang yang terpanggang di atas api. Api tersebut sungguh aneh. Itu adalah kobaran api membara, namun memiliki sifat yang menyerupai air, membuatnya melayang di dalamnya, tidak mengambang namun tidak tenggelam juga. Rainy menutup matanya rapat-rapat. Namun walaupun tidak melihat, ia bisa merasakan api mengerosi tubuhnya layaknya asam. Membuat tubuhnya yang terpanggang, bukannya menghitam akibat gosong, namun justru mencair sesenti demi sesenti, seolah tersiram air asam.
Rasa sakit yang dirasakannya begitu mengerikan dan membuat Rainy nyaris kehilangan akal. Dia hanya berharap bahwa rasa sakit yang begitu hebat akan membuatnya kehilangan kesadaran. Namun sayangnya itu hanya sebuah harapan kosong karena tentu saja Lilian tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Lalu tepat ketika Rainy mulai merasa mati rasa akibat shock yang disebabkan sensasi rasa sakit yang terlalu berlebihan, Lilian menariknya kembali ke atas rakit dalam keadaan utuh sempurna. Rainy tergeletak di atas rakit dengan dengan tubuh gemetar hebat dan mata tertutup. Air matanya menetes deras sementara keringat dingin membasahi piyamanya. Lilian yang kembali duduk di atas chaise loungenya, memiringkan kepalanya dan menatap Rainy dengan penuh minat.
“Bagaimana?” Tanyanya. “Apa kau puas dengan pelayananku?”
Mendengar suara Lilian, Rainy membuka matanya yang langsung menyorot dingin. Rainy bangkit dengan perlahan karena setiap gerakan yang dilakukannya terasa sangat menyakitkan. Namun tidak ada suara yang keluar sedikitpun dari mulutnya. Ketika akhirnya ia berhasil duduk dengan tegak, Rainy menatap tajam pada Lilian. Melihat sikap membangkangnya, alis Lilian langsung terangkat naik.
“Apa tidak puas? Apakah kamu masokis?” Tanya Lilian lagi. Iblis itu kemudian menarik nafas panjang dan menggelengkan kepalanya dan berlagak layaknya ia sangat keheranan pada perilaku Rainy. “Well, kalau kau masih ingin menikmati rasanya berenang di sungai neraka, bilang saja. Aku pasti akan mengabulkan keinginanmu!” Ucap Lilian Riang. Mendengar kata-katanya, hati Rainy menciut ketakutan. Tangannya langsung terkepal kencang dan bila Lilian melihatnya dengan seksama, iblis itu akan bisa melihat bahwa tangan Rainy sedikit gemetar. Namun berbeda dengan reaksi internal yang dirasakannya, wajah Rainy masih membeku tanpa ekspresi. Hanya matanya yang menyorot tajam dan dagunya terangkat tinggi, mengibarkan bendera perang pada Lilian, membuat iblis tersebut menyipitkan matanya.
“As you wish, little sister.” Ucap Lilian dalam nada lembut yang mengesankan bahwa pemilik suaranya mengalah dan menurut pada lawan bicaranya. Namun bertentangan dengan itu, Lilian mengibaskan tangannya ke arah Rainy. Kibasan tangannya tersebut menghasilkan angin yang sangat kencang, yang kemudian mendorong tubuh Rainy hingga terlempar dan masuk kembali ke dalam sungai api di belakangnya. Lalu siksaan neraka tersebut dimulai kembali.
Saat ia menyadari bahwa tubuhnya kembali melayang menuju ke dalam sungai api, hal pertama yang terpikir oleh Rainy adalah apakah ayahnya saat ini juga sedang melihat mimpinya kali ini? Rainy tidak bisa membayangkan apa yang akan dirasakan oleh ayahnya bila melihat putrinya lagi-lagi dijadikan mainan oleh Lilian. Rainy hanya berharap bahwa jantung Ardi cukup kuat untuk menahan rasa sakit hati yang pasti akan memenuhi hatinya. Begitu tubuhnya memasuki sungai api, Rainy melepaskan semua pikiran dan emosinya, lalu memasrahkan dirinya sepenuhnya untuk menerima semua penderitaan ini. Ini hanya mimpi. Segera, semua ini akan berakhir dan ia akan baik-baik saja. Ia tidak boleh tegang atau sangat ketakutan, atau ia bisa berakhir dengan mengalami serangan jantung karena rasa takut yang berlebihan. Berpikir seperti ini, Rainy melepaskan dirinya sepenuhnya dan berusaha untuk berteriak sekuat-kuatnya. Seperti biasanya, tidak ada suara yang keluar karena mulut Rainy langsung dipenuhi oleh api yang mengalir memasuki tubuh Rainy dan mencairkan semua yang dilewati olehnya. Rainy menutup matanya dan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada api yang membakar dan mencairkan tubuhnya. Kalau Tuhan pikir hukuman seperti ini adalah hukuman yang layak bagi anak-anak keturunan pemuja setan, maka Rainy akan menerimanya dengan rela, karena biar bagaimanapun ia tak akan bersedia menyerahkan dirinya pada iblis. Begitu hal terakhir yang terlintas di dalam kepalanya sebelum rasa sakit mulai menguasainya kembali dan merebut semua kemampuannya untuk berpikir.
“Adik kecil, mengapa kau begitu keras kepala? Apakah kau tidak menyadari apa yang sedang aku lakukan? Aku hanya memberimu kesempatan untuk merasakan bagaiman rasanya disiksa di dalam neraka yang pasti akan kau alami bila kau bersikeras mengikuti Allah. Namun bila kau mengikuti kami, aku akan menjamin kebebasanmu dari siksa api neraka. Apakah tawaranku sama sekali tidak menarik?” Protes Lilian dengan suara manja yang terdengar menjijikan di telinga Rainy. Yang benar saja! Memangnya siapa yang mau kau tipu, iblis! Maki Rainy dalam hati sementara mulutnya tak lagi sanggup mengeluarkan suara.
Sementara itu, Raka yang tertidur di samping Rainy, terbangun oleh suara igauan yang Rainy keluarkan. Saat membuka mata, ia melihat Rainy bergerak-gerak dengan gelisah. Wajah gadis itu pucat pasi dan berkerut-kerut seolah-olah ia sedang kesakitan. Sementara itu keringat membasahi wajah dan pakaiannya. Ingat bahwa Rainy baru saja diserang oleh Lilian dalam mimpi beberapa jam sebelumnya, Raka langsung bangkit dan mencoba membangunkan gadis itu.
“Baby, bangunlah!” panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi Rainy perlahan. Namun Rainy masih sepenuhnya terkurung dalam mimpi buruknya dan tidak bisa membuka mata, membuat kening Raka berkerut dengan khawatir. Rasa takut menguasai hatinya dan membuatnya mengambil tindakan lebih keras. Raka mengguncang-guncang bahu Rainy kuat-kuat dan memanggilnya dengan keras.
“Rainy, bangun! Dengar aku, bangun Rain!”
Namun tak perduli bagaimanapun ia mencoba membangunkan Rainy, gadis itu tidak juga terbangun. Raka kemudian menyentuh ujung jempol kaki Rainy dan memijatnya sekuat-kuatnya untuk mengaktifkan kelenjar pituaitarynya. Namun usaha ini tidak juga berhasil. Rainy tetap saja meronta-ronta sambil merintih yang membuat hati Raka merasa tersayat-sayat. Kehabisan akal, Raka menoleh ke segala arah. Matanya kemudian tertumbuk pada segelas air putih yang ia letakkan di atas meja kecil di samping tempat tidur untuk berjaga-jaga apabila Rainy terbangun di tengah malam dan kehausan. Tanpa pikir panjang Raka langsung mengambilnya dan menyiramkan sebagian airnya ke wajah Rainy. Ini merupakan upaya putus asa Raka yang terakhir. Ia sama sekali tidak yakin ini akan berhasil karena jelas-jelas Rainy sedang berada di bawah kendali Lilian. Itu sebabnya Raka sangat terkejut ketika setelah air tersebut menguyur wajahnya, Rainy langsung tersentak bangun.
“Oh! Oh, baby, maafkan aku! Maafkan aku!” Ucap Raka diantara rasa terkejut sekaligus rasa bersalahnya karena telah menyiram wajah gadis itu. Ia mengusap wajah Rainy yang basah dengan selimut. Setelah terdiam sesaat, Rainy akhirnya mengarahkan tatapan matanya pada Raka. Melihat wajah cemas tunangannya itu, seluruh emosi negatif langsung memenuhi dada Rainy. Semua kemarahan, perasaan tidak terima, ketakutan dan rasa takut yang ditekannya di hadapan Lilian, langsung melimpah ruah begitu matanya bertatapan dengan mata pria yang sangat dicintainya itu. Mungkin karena Raka mampu memberinya perasaan aman dan dicintai, sehingga tanpa sadar, begitu melihat Raka, ia tak lagi merasa perlu melindungi diri. Rainy langsung melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan Raka dan menangis sekeras-kerasnya.