
"Lepaskan aku!" pekik Lilian. Suaranya merupakan perpaduan antara kemarahan dan rasa takut. Belum pernah, selama ia berjalan di atas bumi ini, seorang manusia berhasil melukainya sedikitpun. Tapi wanita asing di depannya ini, tangannya bagaikan baja yang bukan hanya begitu kuat menekan tubuhnya ke tanah, tapi juga memiliki kemampuan untuk menghilangkan kekuatannya. Sehingga dibawah tangan wanita itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lilian merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia yang tidak berdaya.
"MAMUT!" panggil Lilian dengan panik. Sesosok mahluk berbulu langsung muncul dari rerimbunan pohon dan menerjang ke arah si wanita. Dengan sigap si wanita menghindar sehingga menyebabkan Lilian bebas dari kuncian tangannya. Begitu tangan si wanita terlepas dari tubuhnya, Lilian merasakan bahwa kekuatannya kembali kepadanya. Dengan segera ia menggunakannya untuk menghilang dari tempat itu begitu saja.
"Cih! Dasar mahluk rendah! Beraninya cuma kabur! Memalukan!" omel si wanita sambil mencibir dengan jijik. Ia menepuk-nepukan kedua tangannya untuk mengibaskan debu yang tertinggal saat menjepit Lilian ke tanah. Lalu seolah-olah baru teringat, ia menoleh pada Hanyi yang masih terkapar di tanah, tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia kemudian berjalan mendekat dan lalu berdiri di sisi tubuh pemuda itu. Dengan ujung sepatunya, wanita itu menyenggol pelan lengan Hanyi.
"Hei! Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya pelan.
Mendengar ini, Hanyi membuka matanya dan untuk sesaat ia terpana. Wanita itu bertubuh mungil dan berwajah sedikit kekanakan dan berkulit terang. Rambutnya berwarna merah seperti api yang menyala dan diikat sekenanya diatas kepalanya. matanya yang besar berwarna coklat terang. Pakaian yang dikenakannya menyerupai pakaian seorang pria, celana dan sebuah baju tangan panjang, yang cukup menonjolkan figur wanitanya. Sepatu yang membungkus kakinya terlihat sangat aneh dan sebuah bungkusan besar berwarna hitam menggantung di bahunya. Hanyi tidak pernah melihat wanita seperti ini sebelumnya. Baik penampilan maupun busananya tampak sangat asing dan berbeda.
Well, Hanyi mungkin tak pernah melihat, namun Rainy tahu dengan jelas bahwa wanita di depannya mengenakan kaus tangan panjang putih, celana training abu-abu dan sepatu tenis berwarna putih, sambil menyandang Ransel hitam besar. Warna rambutnya tentu saja hasil karya cat rambut walaupun harus Rainy akui, warna burgundinya terlihat begitu bagus dan cocok dengan wajahnya. Gadis itu terlihat seperti anak milenial yang tersasar di hutan saat sedang pergi hiking. Rainy menoleh pada Datuk Sanja untuk mencari penjelasan.
"Space jumper." Beritahu Datuk Sanja.
"Ah? Space jumper? Pelompat ruang? Apa maksud Datuk seperti cara Datuk memperpendek jarak tempuh yang jauh dengan melipat ruang?" tanya Rainy.
"Space Jumper bukan cuma bisa melakukan folding space saja. Mereka yang sangat berbakat bisa melompat untuk berpindah dari dimensi yang satu ke dimensi yang lain. Kau tidak lupa pengalamanmu melompat ke alam iblis kan? Nah, mirip seperti itu." ucap Datuk Sanja menjelaskan.
"Ah. Tapi mengapa pakaiannya terlihat seperti berasal dari jaman milenial?" tanya Rainy lagi.
"Dia memang datang dari jaman milenial." Sahut Datuk Sanja dengan ringan.
"Ah?" Mulut Rainy sampai terbuka lebar karena bingung, membuat Datuk Sanja tersenyum geli melihatnya.
"Space jumper tidak dibatasi oleh waktu dan lokasi. Waktu dapat dibengkokkan. Ruang dapat dilipat. Kalau harus menjelaskan dengan kemampuan otakmu yang rata-rata itu, aku takut kau akan menjadi gila sebelum aku selesai menjelaskannya." jelas Datuk Sanja.
"Datuuuuuuk! Bisa tidak kalau tidak mengejekku?" geram Rainy kesal, membuat Datuk Sanja tertawa terbahak-bahak.
"Tolong jelaskan tentang dia!" Rainy menunjuk ke arah si wanita yang kali ini sedang berada dalam adegan adu tatap dengan Hanyi.
"Dia? Hmmm." Datuk Sanja meletakkan kedua tangannya ke belakang punggungnya dan memandang ke arah 2 orang di hadapan mereka tersebut.
"Namanya Terry Luana. Lahir pada tahun 2050..."
"Hah? 2050? Tapi sekarang baru 2022. Apa dia seharusnya belum lahir?" tanya Rainy dengan bingung.
Mengabaikan pertanyaan Rainy, Datuk Sanja melanjutkan penjelasannya.
"Di Green Earth."
"Apa bedanya Green Earth dengan Earth?" dengan kening berkerut, Rainy tak bisa menahan mulutnya untuk langsung bertanya.
Mendengar ini Rainy menyipitkan matanya. Rainy mulai menyadari bahwa Datuk Sanja sangat suka menjahilinya.
"Tolong lanjutkan penjelasannya, Datuk." ucap Rainy kemudian sambil memasang wajah manyun.
"Dia lahir dengan kemampuan melompati ruang dan waktu, dan telah terseret ke berbagai petualangan berbahaya bahkan sebelum ia bisa membaca, karena kemampuannya tersebut. Awalnya dia menganggap kemampuannya sebagai kutukan. Namun di hari akhirnya dia berpikir bahwa itu adalah sebuah mukjizat baginya." Lanjut Datuk Sanja. Mendengar ini, bola mata Rainy langsung membesar.
"Hari akhir? Apakah dia sudah meninggal?" tanyanya, kembali memotong penjelasan Datuk Sanja.
"Aku yang cucunya saja sudah setua ini. Apakah kau berharap dia akan hidup abadi?" Ucap Datuk Sanja, bertanya balik pada Rainy.
"Tapi dia bahkan belum dilahirkan di tahun 2022!" bantah Rainy keras.
"Yang penting bukan kapan ia dilahirkan dan kapan dia dimakamkan. Tapi berapa lama dia telah hidup." Ucap Datuk Sanja, mencoba menjelaskan.
"Berapa lama ia hidup?" tanya Rainy lagi.
"1000 tahun." Sahut Datuk Sanja. Bola mata Rainy kembali membesar.
"Yang benar?" yang benar saja? Mengapa angkanya begitu berlebihan?
"Normalnya umur manusia bisa mencapai usia itu. Nabi Nuh, As berusia 950 tahun sebelum beliau mangkat. Sedangkan Nabi Adam, As mencapai usia 930 tahun." Beritahu Datuk Sanja.
"Tapi mereka adalah Nabi." bantah Rainy dengan keras kepala.
"Memangnya nabi bukan manusia?" tanya Datuk Sanja, membuat Rainy untuk sesaat hanya bisa terdiam. Namun kemudian ia menyikut lengan Datuk Sanja dan bertanya lagi, tak bisa memutuskan bahwa Datuk Sanja sedang memberitahunya yang sebenarnya, ataukah orangtua itu sedang menjahilinya.
"Datuk tidak sedang berbohong kan?"
"Apa kau pikir aku kurang kerjaan?" sahut Datuk Sanja sambil mengulurkan tangan dan memukul kepala Rainy.
"Dengan bantuan teknologi dan ilmu spiritual, manusia bisa melampaui usia 1000 tahun dengan cukup leluasa. Hanya saja, hal ini tidak terjadi di duniamu ini. Duniamu ini sangat lemah, tertinggal dan terbelakang. Sungguh sangat-sangat menyedihkan." ucap Datuk Sanja lagi.
Rainy mengerutkan keningnya. Selain komik, ia tidak suka membaca. namun ia sangat suka menonton film, terutama film-film science fiction seperti stars trek; dan film-film action-packed super heroes seperti superman, Iron Man, Dr. strange, Eternal dan pahlawan Marvel lainnya. Setelah menonton begitu banyak film, sedikit banyak ia memperoleh referensi dari film-film tersebut mengenai Multiverse, multi-dimension, teori folding-space, dan teori-teori fisika populer yang sisi masuk akalnya tidak sepenuhnya pernah ia pertanyakan. It's just movies! Come on! Jangan pikirkan soal kebenarannya, pikirkan saja aksi menariknya! Tapi saat ini, berdiri di hadapan pria berpenampilan setengah baya yang memanggil dirinya Datuk dan sedang memberitahunya bahwa teori-teori yang dianggapnya hanya sebagai sebuah khayalan dalam film itu adalah nyata adanya, sungguh membuat otak Rainy memanas dan dunia di sekitarnya berputar. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Ini seharusnya kan novel Horror. Horror! Mengapa sekarang berubah menjadi science fiction sih? Pikir Rainy dengan gemas.
"Mengapa diam saja? Apa otakmu korslet?" selidik Datuk Sanja.
"Hampir." sahut Rainy dengan jujur, membuat Datuk Sanja tersenyum geli.