My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kuasa Si Gadis Kecil



Kakak Zakaria membawa Rainy, Raka dan Deddy untuk pindah ke ruang makan. Ruang makan mungil tersebut masih di dominasi warna Beige, kali ini dengan sedikit sentuhan merah bata pada taplak meja dan gordennya. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah meja oval terbuat dari kayu jati yang nyaris memenuhi seluruh ruangan. Sebuah Kulkas 2 pintu dan sebuah bar kecil memenuhi salah satu dinding. Bar tersebut memiliki lubang terbuka di tengahnya dimana dari sana kita bisa melihat ke arah dapur yang berada di baliknya.


Kakak Zakaria mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi sementara ia menghidangkan Black Forest Cake untuk mereka.


"Rainy, apakah kau suka juice Mangga?" Tanyanya sambil tersenyum. Rainy balas tersenyum dan mengangguk.


"Bagaimana dengan mas ganteng ini?" tanya pada Raka. Mengikuti teladan Rainy, Raka tersenyum dan mengangguk. Ketika kemudian Kakak Zakaria menoleh pada Deddy, pria itu juga melakukan hal yang sama bahkan sebelum si ibu sempat bertanya. Melihatnya, Kakak Zakaria tersenyum dan kemudian menyibukkan diri membuat juice mangga segar untuk mereka.


Ketika akhirnya Zakaria keluar dari kamarnya, Rainy sudah menghabiskan sepotong Cakenya dan sedang berusaha menusukkan garpunya ke cake milik Raka, yang menyebabkan terjadinya perang antara garpu Rainy melawan garpu milik Raka. Di sebelah mereka, Kakak Zakaria dan Deddy memperhatikan dengan penuh senyum. Zakaria memandang kedua anak tersebut dengan takjub. Sikap kedua anak ini tidak menunjukan bahwa mereka sedang berada di tempat yang asing bersama orang yang baru dikenalnya. Tapi mereka bersikap seolah-olah mereka adalah penghuni rumah itu.


Ketika mendengar Zakaria keluar dari kamar, mereka semua langsung menoleh padanya. Rainy tersenyum padanya dengan riang. Melihat piring kuenya yang kosong memberikan rasa puas di hati Zakaria. Ia berjalan mendekat dan duduk di sebelah Rainy.


"Bagaimana? Apakah kau menyukai Cakenya?" Tanya Zakaria. Rainy mengangguk kuat-kuat.


"Syukurlah. Nah sekarang, bisakah kalian memberitahuku mengapa kalian kemari?" Tanya Zakaria. Dari Rainy, ia mengarahkan pandangannya pada Deddy yang merupakan satu-satunya orang dewasa yang datang bersama mereka, namun yang dipandangi hanya menggeleng dan mengarahkan pandangannya pada Raka. Mengikuti arah pandangan tersebut, Zakaria memandang ke arah Raka. Raka balas memandangnya. Ketenangan yang terpancar dimata remaja tersebut tak urung membuat hati Zakaria gentar. Remaja ini masih begitu muda namun tatapan matanya sama sekali tidak menggambarkan usianya. Tatapannya tenang dan penuh keyakinan diri, seolah ia telah sangat memahami mengenai dunia yang berputar di sekitarnya. Sungguh remaja yang mengagumkan.


"Kalau boleh tau, mas ini namanya siapa ya?" Tanya Zakaria pada Raka dengan sopan. Sikapnya yang tidak merendahkan usia Raka yang masih belia membuat Raka menyukainya.


"Nama saya Raka." Jawabnya sambil tersenyum tipis.


"Mas dan adik cantik ini datang kemari sebenarnya ada perlu apa ya?" tanya Zakaria lagi.


"Apakah benar pak Zakaria sudah mengundurkan diri dari Cafe Rich?" Tanya Raka.


"Benar. Dan tolong, panggil saya Jack. Begitulah teman-teman saya biasa memanggil saya." ucap Zakaria. Kata-katanya disambut lemparan segumpal tissue di wajahnya dan omelan dari kakaknya,


"Jack pala loe peyang! Apa gak takut bapak akan keluar dari kuburnya untuk memarahimu karena mengganti nama seenaknya?"


Terhadap omelan nya kakaknya, Zakaria hanya memberinya ekspresi mengejek sebelum ia kembali memfokuskan perhatiannya pada Raka.


"Bagaimana kalau Mr. Jack menarik kembali pengunduran diri tersebut?" tawar Raka.


"Hah? Menarik kembali?"


"Benar. Kami berharap Mr. Jack bisa kembali ke Cafe Rich dan menjadi Chef kami kembali."


"Kami? Apakah Mas ini pemilik Cafe Rich?"


"Hotel H dan Cafe Rich adalah milik kakek Rainy. Saat ini tanpa Mr. Jack, cake yang mereka hasilkan sangat tidak enak! Karena itu Rainy ingin Mr. Jack bisa kembali menjadi Chef di Cafe Rich." Jelas Rainy dengan suara belianya yang sungguh sangat tidak cocok dengan isi pembicaraan mereka.


Mendengar ini Mr. Jack tercenung sesaat. Ia mencoba menimbang-nimbang baik dan buruknya tawaran yang disodorkan oleh Rainy. Tapi tak lama kemudian ia menggeleng. Melihat ini wajah Rainy langsung berubah seolah ingin menangis, membuat jantung Mr. Jack terasa sakit seolah sedang diremas oleh sebuah tangan yang tidak terlihat. Ia buru-buru berkata,


"Bukannya saya tidak mau memenuhi harapan dik Rainy. Tapi kondisi Cafe Rich tidak lagi semenyenangkan dulu. Saya sudah tidak punya keinginan untuk menginjakkan kaki di tempat tersebut."


"Sebenarnya apa yang terjadi sampai Mr. Jack memutuskan untuk berhenti bekerja di Cafe Rich?" Tanya Raka. Awalnya Mr. Jack masih ragu-ragu untuk menjawab. Namun berkat dorongan Raka dan Rainy, ia kemudian menceritakan semuanya.


Ketidak pulasannya berasal dari perseteruannya dengan si Manajer. Dengan terang-terangan Mr. Jack mengakui bahwa sejak awal ia sudah tidak menyukai baik penampilan maupun tindak-tanduk si Manajer yang melambai. Si Manajer juga seringkali berusaha ikut campur dengan pemilihan bahan-bahan makanan yang Chef butuhkan dan seenaknya mengganti atau bahkan menghilangkan beberapa produk dari list belanjaan Mr. Jack dengan alasan penghematan. Sebagai seorang Chef profesional, Mr. Jack memiliki kebanggaan yang besar terhadap hasil karyanya dan tidak bersedia mengurangi sedikitpun kualitas produknya hanya agar bisa menghemat beberapa rupiah. Hal ini menyebabkan keduanya selalu terlibat pertengkaran. Puncaknya adalah ketika si Manajer tanpa persetujuannya, mengganti asisten Chefnya dan memberinya asisten baru yang bahkan tidak tahu caranya mencuci piring. Mr. Jack pun meledak dan dengan gelap mata memutuskan untuk mengundurkan diri.


Mr. Jack merasa depresi karena kehilangan pekerjaan yang dicintainya, namun untuk kembali ke Hotel H yang penuh kenangan buruk dan bertemu kembali dengan kru Cafe Rich adalah sesuatu yang tidak ia inginkan. Bahkan melihat bangunan Hotel H saja sudah membuatnya muak.


"Jangan khawatir tentang merak banci tersebut. Hari ini juga ia akan menerima panggilan dari HRD untuk pemeriksaan, dan paling lambat 2 hari lagi, ia akan kehilangan pekerjaan dengan tidak hormat." Hibur Raka, namun Mr. Jack tetap menggeleng.


"Ada atau tidak adanya dia sudah bukan masalah lagi untuk saya. Saya tidak ingin pekerjaan yang membuat saya harus menerima perintah orang lain."


"Kalau begitu, apa yang ingin Mr. Jack lakukan setelah ini?" tanya Raka lagi.


"Saya pikir mungkin saya bisa membuat Patisserie kecil milik saya sendiri." jawab Mr. Jack sambil tersenyum.


"Membuat Patisserie sendiri membutuhkan banyak modal. Apakah Mr. Jack punya uangnya?". Tanya Raka.


" Belum. Tapi saya bisa meminjam di bank dan membayarnya perlahan-lahan." Tegas Mr. Jack.


"Daripada meminjam di Bank, bagaimana kalau Rainy yang membuatkannya untuk Mr. Jack?" Ucap Rainy tiba-tiba. Mendengarnya membuat Mr. Jack terpana sesaat. Gadis kecil ini, bisa tidak kalau tidak terus menerus memberinya kejutan baik dengan identitasnya, maupun dengan isi pembicaraannya? Anak dari keluarga kaya raya memang berbeda, pikir Mr. Jack sambil menghela nafas panjang untuk menenangkannya diri.


"Eeem... Itu... " Mr. Jack merasa bingung. Ia sudah menjelaskan bahwa akibat kenangan buruknya di cafe Rich ia sudah tidak mau menginjakkan kakinya kesana kembali, bahkan walaupun si merak banci sudah tidak bekerja lagi Disana.


"Mr. Jack tidak mau kembali ke Cafe Rich, it's okay. Rainy bisa membuat Cafe baru lagi khusus untuk Mr. Jack." ucap Rainy serius. Ia mengulurkan tangannya untuk meminta Handphone Raka. Saat itu ia baru berusia 9 tahun dan orangtuanya berpikir bahwa radiasi handphone akan mengganggu pertumbuhannya, sehingga mereka tidak mengijinkan Rainy memiliki Handphone. Itulah sebabnya sewaktu-waktu ia akan menggunakan Handphone Raka atau Handphone Deddy saat ia memerlukannya. Raka menyerahkan handphonenya tanpa perlawanan. Matanya yang memandang lembut pada Rainy menyebarkan gelombang rasa sayang yang besar pada gadis kecil yang menggemaskan tersebut. Membuat yang melihatnya memahami seberapa besar kecintaan Raka pada gadis kecil yang biasanya diperkenalkannya sebagai adiknya tersebut.


Setelah menekan sebuah nomor, Rainy berbicara di telepon dengan suara belianya yang sangat manis. Gadis ini mengeluarkan jurus merayunya dengan kekuatan penuh.


"Kakek, tolong belikan Rainy Cafe!" Pintanya tanpa basa-basi pada orang yang berada di seberang sambungan teleponnya.


Copyright@FreyaCesare