My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Penjara Untuk Bestari



Rainy berdiri di hadapan sebuah kandang dengan mulut terbuka.


“Ini… mengapa begitu besar?” Tanyanya dengan terpana. Saat itu ia sedang berdiri di hadapan sebuah kandang yang berukuran sangat besar. Kandang tersebut terbuat dari sekumpulan jeruji besi yang di cat warna hitam, dengan ukuran tinggi mencapai 2 meter dan lebar 2 meter, serta panjang yang juga mencapai 2 m.


“Apa kau yakin ini kandang, Nat?” Tanya Rainy lagi.


“Menurut pemiliknya ini benar merupakan kandang, Boss.” Sahut Natasha yang berdiri di sebelah kanan Rainy, mengagumi kandang yang telah disiapkannya sesuai perintah Raka.


“Apa kau yakin? Coba kau cek di kantor polisi terdekat. Siapa tahu ada ruang tahanan yang hilang dicuri maling.” Seloroh Rainy. Ia memandang skeptis pada tempat tidur besi lipat yang dengan cerdik ditambahkan oleh Natasha untuk melengkapi kandang besar tersebut. Ia tak menyangka orang masih membuat tempat tidur lipat jenis itu. Entah kenapa Rainy merasa bahwa ia sedang berada di ruang penyiksaan milik seorang psikopat yang tersimpan di lantai bawah tanah. Memberinya kesan menyeramkan.


Natasha menoleh pada atasannya dengan geli, namun ia hanya tersenyum, mengangguk dan berkata,


“Akan saya cari tahu setelah ini, Boss.”


“Darimana kau membeli ini? Bukankah Raka baru menyuruhmu membelinya sekitar 1 jam yang lalu? Bagaimana caranya kau bisa memperolehnya dengan begitu cepat?” Tanya Ivan yang berdiri tak jauh dari Natasha.


“Ini milik Ibu Meyliana.” Sahut Natasha. Rainy menoleh pada Natasha dan menaikkan sebelah alisnya.


“Eh? Apakah tante Meyliana memiliki kecenderungan Sado?” Tanya Rainy. Pertanyaannya mengakibatkan pipinya memperoleh cubitan kuat dari Raka yang berdiri tepat di sebelah kirinya.


“Otakmu kau bawa jalan-jalan kemana sih?” Tanya Raka dengan gemas, sementara di sekitar mereka, Bukan hanya Natasha, tapi Ace dan Ivan juga tersenyum geli. Hanya Arka yang menggelengkan kepalanya dengan maklum.


“Ah! Jangan mencubitku di depan pegawaiku!” Protes Rainy dengan gusar.


“Kalau begitu jangan asal membuka mulut dan mengeluarkan pertanyaan yang menggelikan.” Tegur Raka sambil melepaskan pipi Rainy. Rainy mengusap-usap pipinya sambil memelototi Raka dengan kesal. Akan kubalas! Janji Rainy dalam hati. Aku pasti membalas dendam. Tunggu saja!


“Kedua orangtua Ibu Meyliana memelihara seekor beruang madu yang ditinggalkan oleh orangtuanya di perkebunan sawit beberapa tahun yang lalu. Karena beruang tersebut mulai besar, Ibu Meyliana memesan kandang portable ini secara khusus untuknya. Namun karena belum sempat pulang ke rumah, kandang ini masih dititipkan di gudang. Karena pak Raka bilang memerlukan kerangkeng secepatnya, saya pikir akan lebih cepat untuk meminjamnya pada Bu Meyliana.” Ucap Natasha menjelaskan.


Ivan berjalan mendekati kandang dan mencoba menguji kekokohannya dengan mengguncangnya.


“Aku tak yakin ini cukup kuat untuk mengurung seekor beruang madu. Tapi mungkin mampu kalau hanya untuk menahan sebuah kepala.” Ucap Ivan.


“Mudah-mudahan begitu karena kita tidak punya waktu untuk mencari cadangannya.” Ucap Raka.


“Dalam 30 menit.” Sahut Natasha.


Suara langkah kaki mendekat yang datang dari belakang mereka, membuat Rainy dan timnya menoleh. Mr. Jack dan Bestari yang dituntun oleh Batari berjalan mendekat. Mata ketiganya langsung tertuju pada kandang besar di tengah ruangan tersebut dengan ekspresi yang sama terpananya dengan Rainy cs, beberapa menit sebelumnya. Ketika ketiganya sampai di sebelah mereka, Bestari berkata,


“Apakah ini kamarku?” Ucap wanita tua.


“Bagaimana menurut pendapat ibu?” Tanya Rainy.


“Mewah sekali.” Sahut Bestari tanpa ekspresi. “Aku tidak punya banyak waktu. Mari masukkan aku kesana.” Ucapnya lagi. Ia kemudian berjalan menuju pintu kandang dengan dituntun oleh Batari. Batari membuka pintu kandang lebar-lebar. Tanpa Ragu, Bestari memasuki kandang dan langsung menuju ke arah ranjang besi lipat. Ujung-ujung bibirnya naik dan membentuk seulas senyum. Ia duduk di atas ranjang lipat tersebut dengan mata berkilat riang.


“Ini adalah tempat tidur terbaik yang pernah aku duduki setelah bertahun-tahun dalam persembunyian.” Ucapnya dengan nada riang. Ia mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan Batari yang masih memegangi pintu kandang yang terbuka dengan ekspresi merana.


“Hei, mengapa kau bengong? Cepat tutup pintu kandangnya!” Perintah Bestari. Mendengar perintah ibunya, Batari tersadar dari kembara pikirannya. Dengan cepat ia menutup kembali pintu kandang dan memasang gemboknya. Setelah itu ia berjalan menuju ke tempat Mr. Jack berdiri dan turut berdiri di sampingnya. Hatinya memandang ke arah Bastari dengan sedih, sementara yang sedang dipandangi tampak puas dengan tempat tidur barunya dan memutuskan untuk merebahkan diri. Tingkah wanita tua itu membuat mereka mau tidak mau menjadi kagum padanya. Mentalnya sangat kuat sehingga ia tidak terlihat tertekan harus berdiam dalam kandang seperti itu.


“Sekarang apa yang akan kita lakukan?” Tanya Ivan.


“Observasi.” Sahut Rainy.


“Ini akan jadi malam yang sangat panjang.” Ucap Ivan lagi.


“Apakah saya perlu menyiapkan kantong tidur?” Tanya Natasha.


“Beberapa selimut saja sepertinya cukup, Nat.” Sahut Raka. “Apa kau lapar?” Tanyanya pada Rainy. Rainy menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak mau makanan besar. Cukup Pastries saja. Pergilah dan rampok kue-kue di Éclair untukku, Nat.” Perintah Rainy.


“Jangan lupa kopi.” Ivan menambahkan. Natasha mengangguk. Setelah memastikan bahwa tidak ada lagi pesanan tambahan, Natasha meninggalkan ruangan bawah tanah bersama dengan Ace yang berniat membantu Natasha membawa pesanan semua orang kembali ke Basement tersebut.


Raka menarik tangan Rainy dan mengajaknya untuk duduk di lantai dengan bersandar di dinding, tidak jauh dari kandang. Ia membawa Rainy masuk ke dalam pelukannya dan membujuk gadis itu untuk bersandar dan beristirahat dalam pelukannya sejenak, selama mereka menunggu. Mengikuti teladan Raka, Mr. Jack dan Batari juga duduk bersandar di dinding, tidak jauh dari tempat Rainy dan Raka duduk. Sementara itu Ivan menyibukkan diri memasang kamera video di berbagai tempat untuk bisa merekam Bestari dari berbagai perspektif. Setelah selesai, ia ikut duduk bersandar di dinding, di antara kedua pasangan tersebut, dengan sebuah laptop yang terhubung dengan semua kamera yang telah ia pasang, di pangkuannya. Mereka semua duduk diam dan menunggu.


15 menit kemudian, suara dengkuran keras terdengar dari dalam kandang. Bahkan Batari yang sejak tadi dilanda perasaan muram, langsung tersenyum geli mendengar suara dengkuran ibunya. Ketika semua orang sedang menunggu dengan perasaan campur aduk, wanita tua itu malah tertidur dengan sangat lelap. Perilaku Bestari hari ini menggambarkan dengan jelas kepribadiannya yang eksentrik dan lidahnya yang berduri. Bestari sungguh sangat penasaran bagaimana karakter ibunya yang sesungguhnya ketika semua tragedi dalam hidupnya belum terjadi. Apakah ia wanita yang ceria dan keras kepala seperti Batari? Atau ia wanita yang tenang dan anggun seperti Lara? Atau mungkin ia adalah wanita berlidah tajam dan dominan seperti Rainy? Batari merasa sangat penasaran. Batari juga merasa sangat penasaran terhadap ayah kandungnya. Bagaimana rupanya, seperti apa suaranya, Apakah Batari memiliki kemiripan dengannya? Walau berlagak tidak ingin tahu namun ternyata ia sangat penasaran. Namun sayangnya, mungkin keinginannya tentang ayahnya tidak akan pernah terwujud. Well, setidaknya Batari merasa bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Bastari.