My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Sangkala



Selama mengenal Arka, ini adalah pertama kalinya Rainy melihatnya menunjukan ekspresi seperti itu. Arka biasanya selalu tampak tanpa emosi. Apabila Rainy sehari-harinya hanya memasang topeng dingin pada wajahnya, maka wajah tanpa emosi yang ditunjukan Arka justru datang dari dalam dirinya. Auranya yang tidak berwarna menggambarkan ruang hampa dalam dirinya yang terbentuk akibat minimnya fluktuasi emosi yang Arka rasakan. Sebelum bertemu Rainy, emosi Arka adalah sebuah garis lurus. Setelah bertemu Rainy, pelan-pelan terjadi pergerakan naik dan turun pada emosi Arka, yang semakin lama semakin kuat dan semakin terlihat. Lalu hari ini, untuk pertamakalinya Rainy melihat Arka meledak dalam keterkejutan.


“Aaargh!!!” Pekik Arka dengan terkejut begitu ia bertatap-tatapan dengan mahluk tak kasat mata yang menyerupai Orang Utan tersebut. Well, sebenarnya wajar saja apabila Arka


terkejut. Orang Utan tersebut sangatlah besar. Tingginya mungkin sekitar 2,5 m. Bulu di tubuhnya berwarna hitam pekat dan kupingnya terlihat besar dan aneh. Untungnya sebagai Orang Utan, ia tergolong tampan. Ukurannya saja sudah bisa mengintimidasi siapa saja yang melihatnya, apalagi Arka yang melihatnya dalam jarak yang terlalu dekat. Berteriak adalah respon yang sangat masuk akal. Orang lain mungkin sudah berlari tunggang-langgang untuk menyelamatkan diri.


“Arka, kenalkan; ini Sangkala.” Ucap Rainy. “Sangkala adalah penunggu di gedung utama. Jangan khawatir,walaupun tubuhnya besar, Sangkala adalah Orang Utan yang ramah.” Rainy melangkah maju dan mendekati Sangkala. Dengan takjub Arka melihat bagaimana Orang Utan tersebut membungkukkan tubuhnya agar wajahnya dapat sejajar dengan wajah Rainy.


“Setiap hari ketika kita sedang berlatih, Sangkala akan berdiri di sekitar ring untuk menonton. Dia bisa berseru-seru dengan ribut untuk memberi semangat saat kita sedang beradu di ring. Sayangnya tidak semuanya bisa mendengarnya. Diantara kita berenam, Sangkala sangat mengagumimu, karena kau sangat jago berkelahi dan sangat can… tampan!” Ucap Rainy. Hampir saja ia terselip lidah dan menyebut Arka cantik. Untung belum sempat kelepasan. Rainy mengulurkan tangan dan mengusap kepala Sangkala dengan penuh kasih sayang.


“Sangkala, bukankah kau sangat menyukai dia? Lihat, sekarang dia sudah bisa melihatmu. Apakah kau senang?” Mendengar kata-kata ini


kening Arka langsung berkerut. Rain, kau terdengar seperti berniat menjodohkanku dengan Jin berwujud Orang Utan. Mendengar kata-kata Rainy, Sangkala mengangguk-angguk. Mahluk itu lalu memandangi Arka dengan tatapan yang sangat intens. Membuat Arka bergidik ngeri.


Tiba-tiba sesuatu melintas di antara kaki Arka. Arka menoleh ke bawah dan bertatapan dengan seekor anak harimau berwarna putih. Ha... Harimau? Darimana hewan ini datang? Anak harimau mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, memamerkan wajahnya yang menggemaskan. Matanya yang bulat dan besar memandang Arka dengan penuh rasa ingin tahu. Bulunya yang tebal berwarna seputih salju dengan belang-belang berwarna campuran antara emas dan coklat muda, mengundang tangan untuk membelainya. Begitu melihatnya, Rainy langsung membungkuk untuk menggendongnya.


"Dehen, apa kau merindukanku?" tanya Rainy. Ia mencium wajah harimau tersebut dengan gemas. Harimau mungil itu mendengkur manja dan menyurukkan kepalanya ke leher Rainy. Tingkahnya mirip seekor kucing. Arka memandang mereka dengan terpana; baik pada Si orang utan, pada si anak harimau, maupun pada gadis yang sedang memeluknya. Apakah ia sedang berada di petting zoo?


"Rain, harimau ini..."


"Ah, Dehen, ini adalah Arka. Sepupuku. Arka ini Dehen. Dehen adalah jin penjaga yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam keluarga tante Meyliana. Jangan lihat ukurannya yang kecil. Dehen bisa berubah ukuran sesuka hatinya. Bersama Meyliana biasanya ia suka tampil dalam ukuran besar sehingga terlihat gagah dan perkasa. Namun bila bersamaku, ia memilih tampil dalam ukuran ini karena aku lebih suka melihatnya begini." ucap Rainy sambil mengelus-elus kepala Dehen.


Melihat Rainy bermain gembira dengan 2 mahluk jelmaan jin tersebut membuat Arka tersenyum.


"Rain, mengapa sebelumnya aku tidak pernah melihat kau bertingkah seperti ini? Walaupun sebelumnya aku tidak bisa melihat dengan siapa kau bermain, namun aku tidak pernah melihat kau menunjukan tanda-tanda sedang bermain dengan mahluk yang tidak kasat mata." tanya Arka.


"Ah, itu karena biasanya aku tidak pernah bermain dengan mereka di hadapan orang lain. Aku hanya melakukannya saat sedang sendiri, atau saat sedang bersama mereka yang bisa melihat juga. Aku masih belum mau dikasihani karena dikira gila, itu sebabnya aku menyembunyikan keberadaan mereka. Tapi berhubung sekarang kau sudah bisa melihat, aku tidak perlu menutupi keberadaan mereka di hadapanmu lagi."


Rainy mendekati Arka dan menepuk bahunya dengan wajah serius.


“Arka, mulai sekarang kau akan melihat berbagai bentuk mahluk yang tidak pernah kau lihat sebelumnya. Ada yang bentuknya normal, seperti Sangkala dan Dehen, tapi ada juga yang bentuknya menyeramkan, lebih menyeramkan daripada Kuyang yang kita lihat semalam. Apapun itu, kau tidak perlu menunjukan perasaanmu pada mereka. Pura-puralah seolah-olah kau masih tidak bisa melihat mereka, jadi mereka tidak akan mengganggumu.” Ucap Rainy. Arka mengangguk. Rainy kemudian menoleh kembali pada Sangkala dan berkata,


“Oh ya Sangkala, tadi malam ada kuyang yang memasuki paviliunku. Apakah kau tahu?” Tanya Rainy pada si Orang Utan jejadian. Sangkala mengangguk.


“Apakah kuyang tersebut memang biasa kemari?” Tanya Rainy lagi. Kali ini Sangkala menggeleng.


“Kalau begitu, bisakah kau membantu untuk berjaga-jaga dan memberitahuku bila Kuyang tersebut memasuki area Resort ini lagi?” Sangkala mengangguk kembali.


“Baiklah. Terimakasih, Sangkala.” Jin dengan level terendah seperti Sangkala tidak akan mampu menghadapi Kuyang. Namun setidaknya ia dapat menjadi mata dan telinga tambahan bagi Rainy.


“Arka, mengapa hari ini tidak ada satu orangpun yang datang ke Gym?” Tanya Rainy.


“Akan kutanyakan.” Arka mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Natasha. Setelah ia berbicara dengan Natasha selama beberapa menit, Arka menutup teleponnya. Tepat pada saat itu, telepon Rainy berdering. Setelah melirik ke layar telepon genggam, Rainy


langsung mengangkatnya.


“Hallo, Raka?”


“Apa kau sudah selesai?” Tanya Raka.


“Emm.”


“Apa ia sudah tidak marah lagi?”


“Emm.”


“Syukurlah."


"Mengapa tidak ada satupun yang datang untuk latihan hari ini?" tanya Rainy.


"Aku menghubungi mereka dan menyuruh mereka untuk tidak datang latihan hari ini, supaya tidak mengganggu pembicaraanmu dengan Arka."


"Ah. Kau memang paling bisa diandalkan!" puji Rainy.


"Rain, Aku akan membawa Baladewa dan Natasha ke Desa Ampari untuk mempelajari tentang kasus kuyang kemarin. Tadinya aku hanya mau membawa Julian, Natasha dan Lara saja, tapi semua anggota tim Baladewa ingin ikut, jadi aku akan kesana bersama mereka semua." ucap Raka, memberitahu. Desa Ampari adalah desa terdekat dengan Cattleya Resort. Penduduk yang masuk properti resort semalam  bisa dipastikan adalah berasal dari desa tersebut.


"Baiklah. Hati-hatilah."


"Emm. Aku tahu. Bye."


"Bye."


Rainy dan Arka kemudian berjalan meninggalkan pantai untuk kembali ke pavilion dengan diikuti oleh Sangkala dibelakang mereka. Sementara Dehen masih bersandar malas dalam pelukan Rainy.


Copyright @FreyaCesare