
Lauri menarik Jukungnya ke daratan sebelum berlari sekencang yang mampu dilakukannya, melintasi bukit tempat Rainy dan Datuk Sanja berada, untuk menuju desa tempat tinggal salah satu saudarinya. Desa Isui adalah desa tempat suami Mawinei; Daka, berasal. Lokasinya berjarak sekitar 100 km dari tempat dimana Lauri membantu para wanita sedesanya yang diculik melakukan perlawanan terhadap penculik mereka. Di dunia modern, jarak 100 meter dapat ditempuh dengan mengendarai mobil selama 1 jam saja. Namun 100 km itu, bila ditempuh dengan jukung bertenaga 1 orang manusia yang hanya mampu menempuh jarak 3 sampai 4,5 km/jam bila tidak melawan arus, akan membutuhkan waktu tempuh 1 hari 1 malam. Antara dirinya dan Mamut terbentang jarak selama 24 jam dan sebagaimana kata-kata Lilith, apa saja mungkin terjadi dalam 24 jam tersebut. Itu sebabnya saat itu satu-satunya yang memenuhi pikiran Lauri adalah rasa takut yang sangat besar. Ia telah kehilangan ayahnya. Ia tidak mau bila harus kehilangan kedua kakak perempuannya juga.
Ketika Akhirnya Lauri tiba di desa tersebut, matahari baru saja naik dari ufuk timur. Dan persis seperti apa yang dilihat Rainy beberapa hari sebelumnya saat matahari terbit menerangi desa tempat asal Lauri, hal pertama yang dilihat Lauri adalah mayat-mayat tanpa kepala yang bergelimpangan di mana-mana, membuat langkah Lauri terhenti di depan pintu gerbang Desa. Lauri mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di atas kepalanya, mengacak-acak rambutnya sendiri dengan penuh kepanikan. Lutut Lauri melemah sehingga ia jatuh berlutut di atas tanah berumput. Wajahnya basah oleh keringat dan air mata. Matanya bergetar dengan panik dan jantungnya berdetak terlalu kencang hingga terasa sangat menyakitkan.
'Tidak! Mereka pasti masih disini karena kalau mereka sudah kembali, aku pasti berpapasan dengan mereka!' pikir Lauri.
Berpikir begini, dengan segera Lauri bangkit berdiri dan berlari ke Betang tempat Mawinei dan suaminya tinggal. Desa Isui sedikit lebih besar dari desa tempat Lauri berasal, sehingga untuk mencapai Betang Mawinei, ia harus melewati beberapa betang terlebih dahulu. Benar saja, ketika ia hampir mendekati Betang Mawinei, Lauri mendengar suara orang-orang yang berjalan mendekat. Dengan sigap Lauri langsung menyembunyikan diri di balik sebuah pohon besar. Dari kejauhan ia melihat rombongan Mamut dan anak buahnya yang berjumlah sekitar 50 orang, sedang menggiring para wanita dan anak-anak dalam sebuah iring-iringan panjang. Berada paling depan adalah Mamud yang sedang merangkul paksa tubuh Maharati hingga menempel pada tubuhnya. Sementara itu, Mawinei yang sedang hamil besar berjalan di belakang mereka, dengan 2 orang pria yang memegang mandau mengawal di sisi kiri dan kanannya. Di tangan salah satu pria itu, kepala Daka menggantung dengan bersimbah darah. Tampaknya kematiannya telah terjadi beberapa jam sebelumnya karena darah tak lagi menetes dari luka potongan pada lehernya. Mawinei nampak sangat terguncang. Matanya bengkak dan memerah. Ia tampak tak memiliki kemampuan untuk berjalan lebih jauh. namun salah satu pria yang mengawalnya terus menjambak rambutnya dan menariknya untuk terus berjalan. mengundang caci maki dari mulut Maharati yang berkali-kali berusaha untuk melepaskan diri dari Mamut agar bisa melindungi adiknya. namun Mamut terlalu kuat untuk dilawan.
Di belakang Mawinei, sejumlah wanita dan anak-anak berjalan dalam diam dengan wajah penuh air mata dan rasa takut. Di sekitar orang-orang ini, anak buah Mamut yang mengawal mereka tidak segan untuk memukul, menendang atau menjambak rambut mereka untuk membuat mereka berjalan dengan patuh menuju ke tujuan yang telah ditetapkan oleh para perampok kebebasan mereka tersebut. Anak-anak buah Mamut ini juga membawa banyak sekali kepala hasil mengayau sehingga menimbulkan pemandangan yang membuat yang melihatnya bergidik ngeri.
Lauri berpikir dengan keras. Ia hanya seorang remaja yang tidak bersenjata dan juga tidak memiliki kemampuan ayahnya yang luar biasa. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang bisa ia lakukan untuk bisa mengalihkan perhatian para pembunuh tersebut dari kedua kakaknya untuk memberi mereka kesempatan melarikan diri? Maharati dan Mawinei bukanlah wanita-wanita biasa. Mereka sangat cerdas dan memiliki kemampuan untuk berkelahi. Kondisi Mawinei yang hamil besar mungkin akan memberikan kesulitan, namun bukan tidak mungkin sama sekali untuk mereka bisa melawan. Tapi apa yang bisa Lauri lakukan untuk memunculkan kesempatan tersebut?
Begitu sibuknya Lauri berpikir sampai ia tidak menyadari bahwa seseorang pria bertubuh tinggi besar telah berdiri di belakangnya sampai ketika tangan pria tersebut telah berada tepat di atas bahunya. Dengan refleks Lauri bergerak dan menangkis tangan tersebut, yang kemudian memaksa ia keluar dari persembunyiannya. Pria di belakangnya itu hanya memandang ke arahnya dengan ekspresi mengejek. Melihat kemunculan Lauri yang tiba-tiba, Maharati dan Mawinei tanpa sadar langsung menjerit memanggil namanya,
"Lauri!"
"Lepaskan kakak-kakakku!" hardiknya nyaring.
Bukannya merasa terancam, Mamut dan anak buahnya kembali tergelak dengan sangat nyaring. Membuat Maharati merasa sangat jijik karena ia yang dipaksa untuk menempelkan sisi tubuhnya dengan tubuh pria liar itu. Melihat bahwa adik mereka masih hidup tampaknya memberikan suntikan semangat pada Maharati yang kemudian meronta-ronta untuk melepaskan diri dari tangan-tangan Mamut. Namun, bahkan ketika tinggi tubuhnya tidak mencapai tinggi tubuh Maharati yang ramping semampai, Mamut adalah seorang pria yang hidup dengan cara membunuh. Kekuatan fisiknya sangat luar biasa. Apapun cara yang dilakukan Maharati untuk melepaskan diri, gadis itu tetap tidak bisa melakukannya.
"Hei! Hei! Hei! Mau kemana sih? Apa kau jadi begitu bergairah ketika melihat bahwa adikmu masih hidup sehingga tak sabar ingin melayaniku? Hmm?" Goda Mamut sambil mengulurkan sebelah tangannya yang bebas untuk mengusap wajah Maharati.
Maharati menepis tangan Mamut dan meludahi wajahnya sambil memasang ekspresi jijik. Aksinya ini memperoleh tepukan tangan tunggal yang nyaris dan penuh penghargaan dari Rainy yang berdiri menonton tidak jauh dari tempat Maharati berada. Rainy memandangi Maharati dengan kagum. Gadis rimba ini sangat layak sebagai leluhurnya! Pikir Rainy bangga. Namun Mamut tentu saja tidak menyukai perlakuan Maharati itu. Mamut mengusap ludah Maharati yang jatuh tepat di ujung hidungnya. Ia menatap gadis itu dengan mata bersinar keji. Ia adalah pria pilihan dewa. Tidak seorangpun boleh memperlakukannya dengan cara seperti itu. Tidak juga wanita yang sangat digilainya ini. Ia mungkin tidak mampu melakukan apapun pada Maharati, namun bukan berarti ia tidak bisa melakukan apapun pada mereka yang Maharati cintai.
"Penggal kepalanya!" dengan mata yang masih menatap Maharati dengan penuh kemarahan, Mamut memberikan perintah pada anak buahnya sambil menunjukkan jarinya pada Lauri. Hal ini membuat mata Maharati membesar dan ia langsung menoleh pada Lauri sambil berteriak keras,
"Jangan!"
Namun 6 orang pria bertubuh tinggi besar telah mengepung Lauri dan mulai menyerangnya dari segala arah. Lauri bukan seorang remaja lemah karena ia adalah anak rimba yang dibesarkan oleh para prajurit terbaik di sukunya. Namun sehebat apapun ia, ia hanya seorang diri dan dikeroyok oleh 6 pria yang ukuran nyaris 2x lipat ukuran tubuh Lauri sendiri. Tak berapa lama kemudian tubuhnya telah terkapar di tanah dalam keadaan babak belur dan nyaris tidak sadarkan diri.