My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Keputusan Batari



“Apakah ada cara… untuk menghindar dari memperoleh warisan terkutuk ini?” Tanya Batari. Suaranya bergetar, dan matanya menatap Rainy dengan nanar.


“Ada.” Jawab Rainy sambil mengangguk. Rainy kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Batari dan berkata dengan lebih lambat, mencoba untuk tidak mengejutkan Batari. “Secara teori kami berpikir bahwa Hellfire bisa membakar ilmu Kuyang tanpa membunuh orang yang menjadi Kuyang. Hanya saja, Kuyang yang kita temui kemarin sudah tua dan ilmu yang dimilikinya pasti sudah berakar begitu dalam. Aku takut... bahwa Ia tidak akan bisa bertahan dalam menghadapi proses pembakaran, sehingga sangat mungkin… akan mengambil nyawanya.” Untuk sesaat Rainy berhenti berbicara. Ia menatap Batari dengan seksama sebelum kembali berkata,


“Mempertimbangkan bahwa proses ini bisa membunuhnya, sebelum kita melakukannya, apakah kak Tari tidak ingin berbicara dengannya terlebih dahulu?”


“Ber…berbicara?” Ulang Batari dengan terbata. Kepalan tangan kirinya yang berada di dalam genggaman lemah tangan kanan Mr. Jack bergerak membuka dan sekarang ganti mencengkeram telapak tangan Mr. Jack. Mr. Jack membiarkan dirinya dicengkeram. Ia malah mengulurkan sebelah tangannya yang bebas dan menepuk-nepuk punggung tangan Batari, berharap keberadaannya dapat memberikan ketenangan pada wanita itu.


“Ehm.” Rainy mengangguk. “Kami akan berusaha untuk menemukannya, lalu kami akan memberikan kesempatan pada Kak Tari untuk berbicara dengannya. Setelah kalian selesai bicara, aku akan membakarnya dengan hellfire. Bila ia beruntung, ia akan tetap hidup setelah pembakaran selesai.” Beritahu Rainy.


“Dan bila tidak beruntung…. Dia akan mati?” Tanya Batari dengan lirih. Nafasnya tercekat di tenggorokan dan tubuhnya mulai gemetar perlahan. Batari sudah mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut, namun tetap saja ia ingin memastikan. Mungkin… mungkin jawabannya akan berbeda dengan dugaannya. Mungkin… Mr. Jack yang bisa merasakan getaran di tubuh Batari lewat tangan yang masih berada dalam genggamannya, memperkuat genggamannya pada tangan Batari.


“Emm.”  Rainy mengatupkan bibirnya dan mengangguk pelan sebelum melanjutkan, “Itu benar. Bila ia tidak beruntung, tubuhnya mungkin tidak akan mampu menahan kerusakan yang disebabkan oleh ilmu Kuyang tersebut, sehingga ia akan kehilangan nyawanya.”


“Bisakah… bisakah kita tidak usah membakarnya?” Tanya Batari. Mendengar ini, Rainy dan Raka saling berpandangan. Raka menarik nafas panjang sebelum berkata,


“Kak Tari, kakak juga tahu keadaannya saat ini. Penduduk Desa Ampari bersikeras untuk menangkap dan membunuh Kuyang tersebut. Apabila Kuyang tersebut keluar kembali untuk mencari mangsa, bukan tidak mungkin, penduduk Desa Ampari akan menemukannya dan menangkapnya.” Ucap Raka mengingatkan. “Tertangkap oleh kami masih akan lebih baik daripada bila ia tertangkap oleh penduduk Desa Ampari. Karena bila mereka yang menangkapnya, ia tidak akan punya kesempatan sama sekali untuk tetap hidup.”


“Selain itu, selama kita membiarkan ilmu Kuyang tersebut terus berada di tubuhnya, ia akan terus didera adiksi terhadap darah dan akan terus membunuh.” Tambah Rainy. Rainy ingin memberikan penghiburan, namun Rainy tahu bahwa tidak ada penghiburan yang dapat melemahkan guncangan yang saat ini Batari rasakan. Ia hanya bisa menarik nafas panjang dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat di sela-sela percakapan dengan frustasi.


“Kuyang tak perlu selalu berdekatan dengan korbannya untuk bisa menghirup darahnya. Asalkan ia tahu pasti siapa korbannya, ia cukup mengunjunginya sekali dan menggigitnya tanpa menghisap darahnya tanpa sepengetahuan si korban. Kalau sudah begitu, kapanpun ia lapar, ia hanya perlu berada di dekat korban, entah bersembunyi di kolong rumah panggung, atau bersembunyi di atap, dan mengisap darahnya dari kejauhan. Jadi mengurungnya bukanlah sebuah solusi yang bijaksana.” Ucap Raka, memotong harapan Batari dengan dingin.


“Kalau benar seperti itu, kalau ia bisa membunuh tanpa terlihat, mengapa saat ia sedang membunuh korbannya yang kedua, ia menampakkan diri sehingga tertangkap basah??” sanggah Mr. Jack, masih dengan suara keras dan kening berkerut.


“Mungkin dia benar-benar sudah kehilangan akal, layaknya seorang pecandu yang kehilangan kemampuan berpikir ketika sedang sakaw. Kau harus bertanya padanya bila kau bertemu dengannya nanti, Mr. Jack. Aku juga juga tidak tahu jawaban pastinya.” Ucap Raka dengan tenang.


Rainy memandang pada wanita bertubuh mungil yang biasanya selalu memiliki kepercayaan diri yang tinggi dihadapannya tersebut dengan kening berkerut. Hilang sudah wajah penuh senyumnya, berganti dengan kening yang berkerut dan mata yang memandang ke suatu arah tapi tak benar-benar melihat. Sebelah tangannya masih berada dalam genggaman Mr. Jack. Oh, tidak! Tepatnya, sebelah tangan Batari sedang mencengkeram telapak tangan Mr. Jack, sementara tangannya yang lain berpegangan dengan kuat pada Lengan sofa, seolah-olah lengan sofa itu adalah sebuah pelampung yang dapat menyelamatkan dirinya dari terbenam dalam banjir terror yang terasa mengaliri tubuhnya dengan hawa dingin. Saat melihat ini, Rainy kembali menarik nafas panjang.


“Kak Tari, saya dan Raka sudah menyampaikan pada Kak Tari apa yang kami pikir kak Tari perlu tahu. Kalau kak Tari setuju, kami akan segera mengerahkan tenaga untuk melakukan pencarian. Namun bila Kak Tari tidak setuju, kita akan menyerahkannya pada nasib. Hanya saja bila ia kembali ke Resort ini, sebelum kak Tari membuat keputusan, saya tidak akan lagi minta ijin pada Kak Tari untuk membakarnya. Saya harap kak Tari bisa memahami ini.” Ucap Rainy dengan nada dingin. Percakapan ini sudah berjalan berlarut-larut dan Rainy merasa lelah. Ia ingin menyudahinya secepat mungkin dan segera melakukan sesuatu. Rainy sangat menyukai Batari dan Mr. Jack, tapi bukan berarti itu akan membuatnya bersedia memanjakan penyangkalan yang mereka rasakan.


“Sekarang keputusannya saya serahkan kepada Kak Tari. Tolong segera beritahu saya apa yang ingin kak Tari lakukan. Bila Kuyang tersebut datang sebelum kak Tari selesai membuat keputusan, demi keselamatan semua orang di Resort ini, maka saya akan perlakukan seolah-olah kak Tari memilih untuk menyerahkan semuanya pada nasib.” ucap Rainy, menegaskan pemikirannya.


Batari memandang ke arah Rainy dengan tatapan nanar. Ia tahu bahwa Raka dan Rainy tidak berniat buruk. Semua yang Raka dan Rainy sampaikan sangatlah masuk akal. Kuyang tersebut sangat berbahaya dan tidak ada alasan untuk tidak melumpuhkannya bila mereka memiliki kesempatan untuk melakukannya. Membicarakan ini semua pada Batari sebelum melakukan sesuatu justru merupakan bentuk kebaikan mereka pada dirinya. Karena itu Batari tidak akan mempersulit mereka. Namun itu bukan berarti ia tidak akan merasa sedih. Sekarang, saat Batari memiliki keinginan yang kuat untuk mengenal orangtua kandungnya, mengapa tidak ada waktu baginya untuk melakukannya?


“Tolong… tolong temukan dia. Saya ingin punya kesempatan untuk berbicara padanya.” Ucap Batari akhirnya. Mendengar ini, Raka dan Rainy mengangguk.