My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Dunia Datuk sanja



Rainy nyaris terjatuh. Perjalanan yang sekejap mata itu membuat matanya berkunang-kunang. Untungnya sesuatu yang keras menahan tubuhnya.


“Hati-hati, gadis kecil. Traveling dengan Datuk terkadang memang tidak nyaman.” Sebuah suara baritone seorang pria terdengar lembut di kupingnya. Rupanya ia bersandar di dada seorang pria asing. Dengan terkejut Rainy langsung menegakkan tubuhnya dan menoleh ke belakang. Di belakangnya berdiri seorang pria muda berkulit terang, bertubuh tinggi dan tampan yang tersenyum ramah padanya. Auranya pria itu sangat menyenangkan dan membuat Rainy merasa nyaman. Rainy menganggukkan kepalanya dengan sopan.


“Terimakasih telah menolong saya.” Ucapnya dengan nada datar. Ketika mendengar nada suara Rainy, pria itu menaikkan sebelah alisnya, namun ia memilih untuk tidak berkomentar. Ia berjalan ke arah kursi malas di mana Arka masih terbaring tak bergerak.


“Apakah ini Arka, Datuk?” Tanyanya.


Datuk Sanja mengangguk.


“Bukankah ia tampan?” Tanya Datuk Sanja.


“Sejauh yang saya tahu, tidak pernah ada satupun keturunan Lauri yang berparas tidak menarik.” Sahut pria itu. Ia membungkuk dan mengulurkan kedua tangannya ke arah Arka, lalu dengan mudah mengangkat Arka dan memindahkannya ke atas salah satu tempat tidur pasien yang ada di ruangan itu. Mereka saat itu berada di sebuah ruangan besar yang mirip dengan ruangan klinik di sebuah rumah sakit kecil. Terdapat 4 buah tempat tidur yang ditata berjajar dengan alat monitor jantung dan alat-alat lain yang diperlukan untuk merawat pasien.


“Rainy, ini Arai. Ia adalah salah satu dokter dari 2 dokter yang kita miliki disini.” Ucap Datuk Sanja memperkenalkan. Arai menoleh dan tersenyum padanya.


“Aku sudah banyak mendengar tentangmu. Senang bahwa akhirnya aku bisa bertemu denganmu, sepupu kecil.” Ucapnya. Begitu mendengar kata sepupu, mata Rainy langsung membesar.


“Sepupu? Apakah kita memiliki hubungan darah?” Tanya Rainy.


“Tentu saja.” Arai mengangguk sambil tersenyum.


“Sepupu?” Suara seorang wanita yang bernada mengejek terdengar dari belakang punggung Rainy. “Yang benar saja!”


Rainy menoleh dan menemukan seorang wanita muda yang cantik melangkah memasuki ruangan. Tubuh wanita itu tinggi semampai layaknya seorang model. Kulitnya yang bening tidak dilapisi oleh kosmetik, namun terlihat cerah dan berseri. Rambutnya yang hitam diikat menjadi ekor kuda yang tinggi di puncak kepalanya, dengan ujung yang mencapai pinggangnya. Wanita itu menatap balik kepada Rainy dan memberinya sebuah kedipan mata dan senyum menggoda.


“Hallo, cantik!” sapanya sambil mengulurkan tangannya. Rainy menyambut uluran tangannya dengan sopan. “Aku Nuri. Dan aku adalah salah satu leluhurmu.” Ucapnya. Kalimatnya membuat alis Rainy langsung naik. Leluhur? Rainy menoleh pada Datuk Sanja.


“Datuk, dia bercanda kan?” Tanya Rainy.


“Tentu saja aku tidak bercanda!” Ucap Nuri. “Bukan hanya aku,” Nuri menunjuk ke arah Arai. “Dia juga.”


Rainy hanya bisa terdiam. Ia mengedip-ngedipkan matanya dengan bingung. Melihat ekspresinya, senyum Nuri bertambah lebar.


“Mengapa kau begitu menggemaskan?” Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya pada Rainy, memaksa Rainy untuk mundur selangkah.


“Nuri, jangan agresif begitu. Kau akan membuatnya ketakutan.” Suara seorang pria yang sangat dikenal Rainy terdengar dari belakang mereka. Rainy menoleh dan menemukan Guru Gilang sedang memasuki ruangan. Melihat wajah bijaksananya membuat Rainy merasa begitu lega. Semenjak tadi ia sudah hampir mencapai limit karena terus-menerus berada di antara orang asing.


“Guru…” Sapa Rainy. Walau ekspresi gadis itu terlihat datar, dari suaranya, Guru Gilang bisa mendengar kepanikannya. Guru Gilang berjalan mendekat.


“Apa kau tidak apa-apa?” Tanyanya dengan penuh perhatian. “Apa kau tidak bertemu dengan masalah saat berada di istana Lilith?” Rainy hanya menggelengkan kepalanya.


“Setiap kali iblis mendekat, aku berlari dan bersembunyi secepat-cepatnya. Mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa aku berada disana.” Ucap Rainy. Namun sesaat kemudian ia tampak tersadar dan berkata pelan. “Kecuali bila mereka memiliki CCTV…”


“Hah?” Rainy memandang Nuri dengan terkejut.


“Dia cuma bercanda.” Bantah Guru Gilang. “Tak ada satupun yang pernah memasuki tempat itu kecuali Datuk. Dan Datuk pasti akan memperingatimu bila kau harus menghindari CCTV.”


“Tidak ada CCTV saat aku kesana terakhir kali.” Ucap Datuk Sanja.


“Aku tidak bercanda. Mereka memang punya CCTV. Namun tidak di tempat itu.” Sahut Nuri yang saat itu sedang berjalan ke sisi Arai. “Mereka memasang sejumlah CCTV di tempat mereka menyimpan para roh manusia yang mereka tawan.” Lanjutnya. Saat itu Arai sedang memeriksa nadi Arka dengan menggunakan ujung-ujung jarinya. Nuri berdiri di samping kepala Arka dan membuka sebelah mata Arka dengan jari-jarinya.


“Arai dan Nuri adalah dokter yang bertanggung jawab atas klinik ini.” Beritahu Guru Gilang ketika melihat Rainy sedang memandang ke arah Nuri dan Arai dengan waspada. Mendengar ini Rainy mengangguk.


“Guru, sebenarnya kita sedang berada dimana?” Tanya Rainy.


“Apakah Datuk tidak memberitahumu?” Tanya Guru Gilang.


“Aku belum memberitahunya apapun karena situasinya saat itu sangat mendesak. Gilang, kau saja yang memberitahukan semuanya padanya.” Ucap Datuk Sanja. Saat itu Arai telah selesai memeriksa nadi Arka.


“Arai, bagaimana keadaannya?” Tanya Datuk Sanja pada Arai.


“Berapa lama ia berada dalam tawanan Lilith?” Tanya Arai.


“Satu hari.” Ucap Rainy. Namun setelah mendengar jawaban Rainy, Guru Gilang meralat ucapan Rainy.


“Sekitar 2 jam.”


Kata-katanya membuat Rainy mengangkat alisnya dengan heran karena ia sangat tahu bahwa Arka diculik semalam dan itu berarti ia sudah menghilang sekitar 18 atau 19 jam. Mengapa Guru Gilang mengatakan bahwa Arka diculik selama 2 jam saja? Melihat ekspresi Rainy, Guru Gilang tersenyum.


“1 jam di dunia iblis, sama dengan 5 hari di dunia manusia.” Beritahu Guru Gilang.


“Ah?” Mulut Rainy langsung terbuka lebar. 1 jam di dunia iblis sama dengan 5 hari di dunia manusia? Bukankah itu berarti Arka sudah menghilang selama 10 hari dan Rainy sendiri sudah menghilang selama 5 hari? Tapi itu tidak benar. Saat Datuk Sanja mengambil Rainy dari kamar Rumah Sakit tempat Ardi dirawat, Arka baru hilang selama 16 jam. Bukankah itu berarti Arka baru berada di dunia Iblis selama beberapa menit saja? Mengapa Guru Gilang mengatakan bahwa Arka telah berada di dunia selama 2 jam dan bukan 1 jam lebih beberapa menit?


“Apakah kau ingat hari ketika kau mencoba membangun koneksi dengan roh Arka yang ada dalam tubuhmu?” Tanya Datuk Sanja. Rainy mengangguk.


“Kau menghabiskan waktu 4 hari sebelum kau berhasil melakukan kontak dengannya.” Beritahu Datuk Sanja.


“Ah? Masa sih, Datuk? Mengapa rasanya waktu hanya berlalu sebentar saja?” Tanya Rainy tak percaya.


“Itu karena 1 jam disini juga sama dengan 5 hari di duniamu.” Ucap Datuk Sanja dengan serius.


“Du… duniaku? 1 jam disini sama dengan 5 hari di duniaku?” Tanya Rainy terbata. Namun ada hal lain yang lebih mengejutkan Rainy yaitu ketika Datuk Sanja membedakan antara disini dengan dunia tempat Rainy berasal. “Kalau… kalau begitu… ini dimana?”