
Hari sudah senja ketika rombongan Raka kembali dari desa Ampari. Karena hari sudah menjelang malam, semua orang langsung pulang ke kamar masing-masing, sementara Raka, setelah terlebih dahulu mandi dan berganti pakaian, langsung mengetuk pintu kamar Rainy. Saat melihat wajah Raka ketika ia membuka pintu kamar, Rainy langsung tersenyum lebar. Membuat Raka merasa tubuhnya meleleh oleh senyuman gadis itu. Rainy kemudian mengulurkan kedua tangannya dengan telapak tangan mengarah ke atas. Raka memandang ke arah tangan yang ramping itu sambil mengangkat kedua alisnya.
"Apa?" tanya Raka.
"Oleh-olehku." sahut Rainy.
"Eh? Kapan aku bilang aku akan membawakanmu oleh-oleh?" tanya Raka heran.
"Natasha yang bilang. Mana? Serahkan padaku!" kedua tangan Raka berada di belakang tubuhnya, Rainy menduga bahwa Raka pasti menyembunyikan bungkusan oleh-oleh itu di punggungnya. Karena itu Rainy memgulurkan tangan ke belakang punggung Raka, namun pria itu berkelit.
"Ish. Berikan tidak?" ancam Rainy. Ia mengangkat kedua tangannya dan memamerkan jari-jarinya yang dibentuk seperti cakar. Raka sangat mudah geli. Setiap kali Raka melakukan kenakalan, Rainy hanya perlu menggelitikinya habis-habisan. Setelah itu ia pasti akan menyerah!
"Kau ini perampok atau tunanganku?" protes Raka.
"Dua-duanya!" seloroh Rainy sambil tersenyum.
"Baiklah. Karena kau sudah menghadiahiku senyum, maka ini hadiah untukmu!" Raka mengeluarkan sebuah plastik berisi buah-buahan kepada Rainy. Melihat isinya, mata Rainy langsung berbinar-binar. Tanpa sungkan ia merampas bungkusan buah tersebut dan membawanya masuk ke dalam kamar. Rainy duduk di atas ranjang dan membuka bungkusan oleh-olehnya.
"Kapul!" ucap Rainy dengan bahagia. Kapul adalah buah khas pulau kalimantan yang sudah sangat sulit di temukan. Bahkan orang kalimantan sendiri belum tentu mengenal buah ini. Buah kapul berbentuk menyerupai manggis. Perbedaannya hanyalah bila manggis memiliki kulit berwarna ungu dan isinya berwarna putih, Kapul memiliki kulit dan isi yang sama-sama berwarna coklat, mirip warna kopi susu. Selain itu kapul tidak memiliki rasa asam seperti buah manggis.
Tanpa sungkan Rainy langsung memecahkan kulit kapul dengan remasan tangannya dan memasukkan isinya ke dalam mulutnya. Rasa manis buah tersebut memenuhi mulutnya dan membuatnya sangat senang. Setelah habis sebuah, Rainy kembali mengambil yang baru dan mengambil lagi. Tahu-tahu ia sudah menghabiskan 7 buah dalam sekali duduk.
Memandang buah-buahan dalam kantong plastik yang kini terkubur dalam kulit buah yang telah dimakan, Raka tersenyum geli.
"Enak?" tanya Raka.
"Emm. Manis sekali!" Rainy mengangguk dengan wajah puas. "Dimana kau memperolehnya?"
"Ini hadiah dari Kepala Desa Ampari sekaligus permohonan maaf dan ucapan terimakasih karena kita tidak menuntut penduduk desa yang menerobos masuk ke dalam resort semalam." Cerita Raka.
"Ah, apa yang kau temukan di desa?" tanya Rainy lagi.
"Tadinya aku berniat membawa Julian untuk berlatih disana, dan membawa Lara serta Natasha untuk berjaga-jaga bila ada hal yang perlu diketahui. Tapi karena semua anggota tim baladewa mau ikut, maka aku setuju untuk mengajak mereka serta." cerita Raka.
"Bagaimana dengan wanita yang baru melahirkan dan bayinya itu?" tanya Rainy.
"Ibu si bayi sempat di selamatkan walaupun telah kehilangan banyak darah. Namun sayangnya mereka tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan bayinya. Tubuh bayi itu pucat pasi seperti tidak memiliki darah lagi di sekujur tubuhnya. Dugaan Kepala Desa, bayi itu telah terlebih dahulu dihisap darahnya secara gaib saat masih dalam proses persalinan. Sepertinya ini bukanlah pertama kalinya serangan kuyang terjadi di desa Ampari. Tapi serangan-serangan sebelumnya tidak sampai menghilangkan nyawa. Baru tadi malam Kuyang ini bertindak begitu beringas dan mengambil nyawa bayi yang tidak berdosa" Papar Raka.
"Lalu apakah kau menemukan sesuatu?" Tanya Rainy lagi.
"Dari kantor kepala desa, kami berjalan menyusuri desa. Kami juga di antar ke rumah korban dan melihat ke tempat kejadian. Aku dan Julian mencoba mencari potongan kisah Kuyang dari tempat-tempat yang kami lalui. Tapi kami tidak menemukan sesuatu yang berarti. Sepertinya tempat tinggal kuyang tersebut tidak berada di kawasan desa yang ramai dan kuyang ini jarang bersosialisasi dengan penduduk desa atau jarang melewati jalan-jalan desa yang biasa. Itu menyebabkan dirinya sulit ditemukan." ucap Raka.
"Apa kata polisi?" Tanya Raimy.
"Polisi juga tidak tahu harus bagaimana. Tak ada bukti yang kuat yang bisa menyatakan bahwa si bayi meninggal karena dibunuh jadi mereka menutupnya sebagai kasus kematian normal." ucap Raka mengakhiri ceritanya.
"Kasihan sekali." renung Rainy.
"Benar." Sahut Raka.
"Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mereka?" tanya Rainy. Arka menggelengkan kepalanya.
"Untuk sementara kita hanya bisa menunggu kabar dari kepala desa dengan sabar, sambil terus melatih Baladewa." ucap Raka. Rainy mengangguk menyetujui.
"Sudah malam, kau beristirahatlah." suruh Rainy pada Raka. Raka mengangguk.
Raka lalu mengambil bungkusan buah dari atas pangkuan Rainy dan meletakkannya di atas bedside table. Setelah itu Raka memutari ranjang Rainy. Lalu ketika ia sampai di sisi sebelah kanan ranjang yang kosong, Raka mengangkat selimut, menyurukkan tubuhnya ke dalam selimut, menaruh kepalanya ke atas bantal, lalu memejamkan matanya. Semua ini Raka lakukan hanya dalam beberapa detik saja, sehingga Rainy yang terlalu tercengang kesulitan untuk merespon.
"Arka, mengapa kau tidur di atas ranjangku?" tanya Rainy heran beberapa saat kemudian.
"Bukankah kau menyuruhku untuk tidur?" sahut Raka, masih dengan mata tertutup.
"Benar. Tapi bukan di kamarku! Pulanglah ke kamarmu." suruh Rainy. Bukannya menjawab, suara mengorok malah terdengar nyaring dari atas ranjang. Membuat Rainy membuka mulutnya lebar-lebar. Rainy mengerutkan kening dan menyipitkan matanya pada Raka. Tak lama kemudian ia sudah menerjang Raka dan mengulurkan tangan untuk menggelitiki pinggangnya sekuat tenaga. Raka yang tak menyangka bakal diserang, tertawa tergelak-gelak. Ia mencoba melarikan diri dari tangan-tangan Rainy, namun gadis itu menduduki tubuhnya dengan jumawa.
Copyright @FreyaCesare