My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Pertanyaan Lara II



“Apakah kau diganggu oleh mimpi buruk?” Tanya Lara. Untuk sesaat Rainy terpana. Mimpi buruknya, mengapa Lara bisa menebaknya? Melihat ekspresi terkejut Rainy, Lara tersenyum.


“Apakah dugaanku benar?” Tanya Lara sambil tersenyum.


“Dugaan?” Tanya Rainy dengan curiga. Anak ini, mengapa sejak tadi bertingkah layaknya seseorang yang lebih senior daripada aku? Lalu sejak kapan ia menggunakan kata ‘Aku’ ketika bicara denganku? Pikir Rainy dalam hati.


“Boss, kau tidak lupa mengenai apa yang bisa saya lakukan kan?” Tanya Lara dengan sedikit nada manja. Dalam sekejap hilang sudah aura dominan yang tadi tanpa sengaja merembes keluar. Ia kembali menjadi Lara yang biasanya. Membuat Rainy berpikir bahwa ia telah salah mendengar dan terlalu banyak berpikir.


“Kaum meramalkan mimpiku?” Tanya Rainy. Keningnya berkerut dengan penuh tanda tanya. Tapi Lara malah menggelengkan kepalanya.


“Saya bukan meramalkan isi mimpi Boss. Tapi saya melihat boss begitu gelisah dalam tidurmu, lalu kemudian terbangun sambil berteriak keras. Setelah itu boss menangis begitu sedih, membuat saya berpikir bahwa mimpi itu pasti sangat menyakitkan. Dan saya juga melihat bahwa di saat yang sama, ayah boss mengalami kegelisahan yang serupa dalam tidurnya. Lalu begitu beliau terbangun, beliau terkena serangan jantung.” Cerita Lara. Tak jauh di belakangnya, Raka yang memang sengaja menguping, bibirnya langsung berkedut saat mendengarkan kata-kata Laura. Oh, betapa mulusnya perempuan ini berbohong? Jelas-jelas Raka yang telah menceritakan hal ini pada Guru Gilang saat ia menelponnya semalam. Namun Raka tahu Lara melakukan hal tersebut hanya dengan tujuan baik sehingga ia tidak mengekspos kebohongannya. Sementara itu Rainy mengangguk mengerti.


“Ah. Begitu rupanya.” Ucap Rainy. “Selain itu, apakah kau melihat hal lainnya?” Tanya Rainy. Ia ingin tahu apakah Lara melihat ramalan lain tentang dirinya atau ayahnya. Namun Lara hanya menggeleng.


“Alhamdulillah tidak, boss!” Sahutnya. Kata-katanya membuat Rainy mengangguk.


“Benar, tidak ada penglihatan dari masa depan sama artinya dengan tidak ada masalah. Itu berarti semuanya akan baik-baik saja. Sungguh sesuatu yang patut diberi ucapan Alhamdulillah.” Ucap Rainy dengan nada pahit. Dalam hati berpikir bahwa setidaknya ke depannya ia jadi bisa melonggarkan sedikit kewaspadaannya dan mengistirahatkan hatinya yang tegang.


Sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di kepalanya dan membuat mata Rainy berkilat oleh antisipasi yang dibawa oleh pemikiran tersebut.


“Seperti yang kau lihat, aku bermimpi sangat buruk dan iblis membuat Papaku juga melihat mimpi tersebut untuk menyiksa beliau. Namun mimpi itu begitu mengerikannya, membuat jantung Papa tidak mampu menahannya sehingga terkena serangan jantung.” Cerita Rainy. “Lara, adalah cara untuk membuat koneksi yang menghubungkan mimpiku dengan mimpi ayahku terputus? Atau akan lebih baik bila ia tidak pernah bermimpi buruk lagi selama sisa hidupnya!” Tanya Rainy sambil menatap Lara dengan penuh harap.


Terhadap pertanyaan ini, Lara sesaat terpana.


“Dari semua permintaan, mengapa boss meminta untuk memutuskan koneksi antara mimpi boss dengan mimpi Papamu?” Tanya Lara ingin tahu. Mendengar ini, Rainy memasang ekspresi heran, seolah-olah ia tidak mengerti mengapa Lara menanyakan pertanyaan yang menurutnya, jawabannya telah sangat jelas.


“Tentu saja agar beliau tidak melihat isi mimpiku lagi! Belakangan ini iblis terus menghantui mimpiku. Aku tidak mau Papa melihatnya dan mengalami serangan jantung lagi!” Sahut Rainy cepat. Kata-katanya membuat Lara tersenyum manis. Ia kemudian meraih tangan Rainy dengan penuh rasa sayang dan bertanya,


“Jadi Boss tidak mau tidur karena takut Boss akan bermimpi buruk dan mengagetkan Papamu lagi?”


Rainy menganggukkan kepalanya. Di belakangnya, Raka menarik nafas panjang. Berat sekali untuk jadi Rainy. Andai bisa, Raka ingin menggantikan posisinya dan memberikan Rainy kebebasan yang diimpikannya. Lara terdiam sesaat sambil menimbang-nimbang sebelum kemudian berkata,


“Saya tidak bisa memutuskan koneksi yang terjalin antara boss dengan Papa boss. Tapi saya memiliki dua solusi, pertama, saya bisa meletakkan shield pada otak Boss dan Papa Boss agar terlindung dari serangan Iblis. Namun ini hanya akan bisa bertahan sebentar saja. Atau, saya bisa memasang shield pada otak satu orang saja dan itu akan bertahan lebih lama.”


“Untuk dua orang, akan hilang dalam satu minggu. Namun bilang digunakan oleh satu orang saja, akan bertahan sampai dua bulan.” Beritahu Lara dengan wajah serius. Kening Rainy langsung berkerut mendengarnya.


“Hm? Mengapa perbedaan waktunya jauh sekali?” Tanya Rainy kemudian.


“Memasuki pikiran seseorang tanpa melukai itu sangat sulit untuk dilakukan dan cukup berbahaya bagi saya. Lalu tindakan ini juga membutuhkan banyak sekali energi spiritual. Memasuki pikiran dua orang sekaligus akan membuat tingkat kesulitannya bertambah jadi empat kali lipat, karena ketika mencoba memasuki pikiran orang yang kedua, energi saya sudah berkurang dengan sangat banyak yang mengakibatkan tingkat kesulitannya melonjak.” Ucap Lara


“Apakah tidak bisa dilakukan pada satu orang dulu, lalu kemudian besoknya dilakukan pada orang yang kedua?” Tanya Rainy lagi. Lara menggeleng.


“Tidak bisa, Boss. Tidak bisa karena terdapat koneksi antara Boss dan Papa. Jadi kalau ingin dilakukan kepada keduanya, maka harus dilakukan secara bersamaan.” Ucap Lara menjelaskan. Rainy menyipitkan matanya dan memandang ke mata Lara dengan curiga. Entah mengapa kata-kata gadis itu terdengar agak meragukan. Namun ekspresi tidak berdosa yang ditampilkan oleh Laura membuatnya menarik kembali keraguannya.


“Aku mengerti.” Ucap Rainy akhirnya. Ia mengalihkan tatapannya dan menoleh ke arah ruangan ICCU, sama sekali tidak menyadari bahwa di belakangnya, Lara menarik nafas panjang dan mengusap dadanya dengan ekspresi lega, membuat bibir Raka berkedut dan Guru Gilang menggelengkan kepalanya.


Rainy menatap ruang ICCU seolah ia bisa melihat melampaui tembok ke arah ayahnya yang sedang terbaring di salah satu ranjang di sana.


“Lara…” Ucap Rainy pelan. Mendengar namanya dipanggil, Lara segera memulihkan ekspresi wajahnya dan bertanya,


“Iya, Boss?”


“Tolong lindungi Papaku agar iblis tidak bisa menyentuh otaknya.” Ucap Rainy kembali.


“Papa? Mengapa Papa? Mengapa bukan melindungi diri boss sendiri?” Pancing Lara, ingin mengetahui pemikiran Rainy yang sesungguhnya. Rainy menoleh kembali ke arah Lara dengan kening berkerut.


“Beliau sudah tua. Jantung beliau mungkin tidak akan tahan bila harus menghadapi tekanan lagi. Aku ingin beliau bisa beristirahat dengan tenang sampai beliau benar-benar sehat.” Ucap Rainy, menjelaskan dengan sabar sambil memberi Lara tatapan yang seolah-olah bertanya mengapa untuk logika sesederhana itu, Laura tidak bisa menduganya. Mengulum senyumnya yang nyaris muncul tanpa bisa ia tahan saat melihat pertanyaan di mata Rainy, Lara mengangguk, tapi kemudian bertanya kembali.


“Tapi bagaimana dengan boss sendiri?”


“Aku tidak apa-apa. Kalau hanya mimpi buruk seperti itu tidak akan bisa menakutiku. Jadi tolong curahkan tenagamu untuk membantu Papaku saja.” Sahut Rainy dengan tenang. Lara tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


“Saya mengerti. Akan saya lakukan sesuai dengan keinginan boss.” Sahutnya dengan serius.