
Setelah Nadin meletakkan ponselnya karena Rendi telah memutusnya secara sepihak, benar saja ayah Roy dan ibu Dewi datang. Mereka hanya berdua.
Tok tok tok tok
"Masuk!" perintah Nadin dari dalam. "Ayah, ibu kenapa harus ngetik pintu dulu, masuk aja!"
Ayah Roy dan ibu Dewi segera mendekati putrinya itu. "Nggak enak nak, sekarang kan kamu sudah jadi istri orang!" ucap ibu Dewi sambil mengusap pipi Nadin.
"Nak bagiamana, kata Rendi kamu sudah boleh pulang sekarang?" Tanya ayah Roy. Ayah Roy sudah duduk di kursi kecil yang ada di samping tempat tidur Nadin.
"Iya yah ...., Dr. Frans juga mengatakan seperti itu!"
"Baguslah kalau seperti itu, lalu dimana Rendi sekarang?" tanya ayah Roy sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Tadi katanya mengurus administrasi yah ...!"
Ibu Dewi yang sedari tadi diam ternyata mengawasi sebuah box yang berada di atas meja. Boks yang cukup besar.
"Nak itu apa?" Tanya ibu Dewi sambil menunjuk box besar itu.
"Eh ...., Itu ...., Itu bunga Bu!" dengan wajah tersipu malu Nadin mengatakannya.
"Bunga?" tanya ibu Dewi tak percaya. "Kenapa ada di boks?"
"Iya ...., mas Rendi yang memberikannya!" Mendengar ucapan putrinya, ibu dewi pun tertarik untuk melihatnya.
"Boleh ibu melihatnya?" Nadin pun mengangguk, sedikit malu sih tapi nggak pa-pa, mungkin itu cara suaminya mengungkapkan cinta.
Mata ibu Dewi seketika membelalak saat boks itu terbuka. "Ini banyak sekali, untuk apa? Memang Rendi mau buka toko bunga di rumahnya?"
Ha ha ha
Kedua wanita beda generasi itu segera menoleh ke sumber suara, ayah Roy tertawa terbahak-bahak di buatnya.
Nadin menatap ayahnya dengan tatapan tajam. "Kenapa ayah tertawa?"
"Ya lucu saja, begitu kali ya kalau orang sekeren Rendi, Sampek bingung cara ngungkapin ya, segala bunga di bawa sama boks-boksnya juga!"
"Ayah ...., jangan gitu ah ...., gitu-gitu Rendi sudah mau usaha, ibu jadi kebayang lucunya wajah Rendi pas ngasih ini!"
"Ibu ....., ibu juga menggodaku!"
"Ibu nggak nggoda nak, cuma penasaran, bagaimana tadi?"
"Nggak tahu Bu, tiba-tiba tadi mas Rendi membawakan itu untukku, langsung di kasih aja ....!" jawab Nadin dengan polosnya.
Ha ha ha
Jawaban Nadin membuat ayah Roy dan ibu Dewi tertawa bersama-sama.
"Ada apa yah, Bu, kenapa kalian malah tertawa?"
"Ternyata gitu ya kalau orang kayak Rendi romantisnya!" Ucap ayah Roy.
Romantis dari mana, mana ada orang ngasih bunga sama box-boxnya sekalian ....
Tak berapa lama Rendi pun kembali, ia sudah selesai dengan urusan administrasinya.
"Kok panggilnya masih paman sama bibi sih, ayah sama ibu dong!" protes ayah Roy.
"Iya ayah ..., ibu ...!"
"Bagaimana sudah boleh pulang kan sekarang?" Tanya ayah Roy.
Rendi pun mengangguk, "Sudah paman, sekarang juga sudah boleh pulang!"
"Kok panggil ayah, paman lagi sih ...., kau sekarang sudah menjadi menantuku, jadi panggilnya ayah ya!"
"Baik ayah! Maaf Rendi belum terbiasa"
"Mulai sekarang biasakan!" Rendi pun mengangguk hormat.
"Ya sudah ibu bantu beres-beres ya ....!" Ucap ibu Dewi sambil mencari tas Nadin tapi segera di cegah oleh Rendi.
"Nggak usah Bu, biar Rendi saja, ibu temani Nadin saja, biar Rendi yang melakukannya!"
"Baiklah ...!"
Rendi pun dengan cekatan memasuk-masukkan barang-barang Nadin ke dalam tas besar milik Nadin, ibu juga sengaja membawa baju ganti banyak dari rumah agar Nadin bisa memilih sendiri bajunya.
Setelah selesai membereskan barang-barangnya, kini Nadin pun berganti pakaian dan sedkit membersihkan diri di kamar mandi.
Mereka pun keluar dari kamar itu, tidak lupa Nadin membawa serta bunga pemberian rendi. ia tetap membawanya di tangannya sedangkan tasnya di bawa oleh Rendi.
Sesampai di halaman rumah sakit mereka berhenti. Sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka, dan seorang sopir keluar dari dalam mobil itu.
Rendi menyerahkan tas yang di bawanya pada sopir. Dan sopir itu memasukkan tas dan box yang di bawa Nadin ke dalam mobil.
"Ayah, ibu kami duluan ya!" Ucap Rendi.
"Kenapa ayah dan ibu tidak bareng sama kita aja?" Tanya Nadin.
"Ayah bawa mobil sendiri nak!" Ucap ayah Roy. "Ya sudah kalian hati-hati ya, nanti biar ayah nyuruh orang buat ngantar barang-barang kamu!"
Maksudnya ....., Barang-barang? Diantar ke mana?
Nadin semakin bingung di buatnya.
"Ayo masuklah ...!" Ucap Rendi sambil membukakan pintu untuk Nadin, Nadin pun akhirnya masuk ke dalam mobil, sedangkan Rendi terlihat sedang berbicara sebentar dengan ayah Roy dan ibu Dewi lalu ikut masuk dan duduk di samping Nadin.
"Menang kita mau ke mana? Kenapa nggak sama ayah juga?" tanya Nadin saat Rendi sudah duduk di sampingnya.
Rendi segera memiringkan badannya, menatap istri kecilnya itu. "Kamu istriku, jadi harus ikut aku!"
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘**