MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 21 (Dini)



"Demi mas Juna, Dini pasti berani, pantang mundur deh pokoknya!" ucap Dini begitu yakin tapi saat bersamaan Ajun mendekati mereka dan menatap Dini tidak percaya.


Dasar cewek plin plan ...., kemarin-kemarin aja ngejar-ngejar saya ...., sekarang ada yang lain berubah haluan .....


"Ya udah aku ke dalma dulu ngambil tas!" ucap Nadin dan segera berlalu meninggalkan Dini dengan Ajun.


Dini yang merasa di perhatikan oleh Ajun sedati tadi segera mendekati Ajun.


"Kenapa menatapku seperti itu? Nggak suka banget kayaknya aku suka sama cowok yang lebih dari kamu! Makanya jangan buat cewek ngejar terus, lama-lama cewek akan bosan dan berubah haluan!" ucap Dini pada pria dingin di depannya itu.


"Kalau cinta nggak ada yang namanya berubah haluan, dasar cewek labil!" ucap Ajun lalu meninggalkan Dini yang sedang kesal begitu saja.


"Ihhhhhhhh ......, kesel banget gue! pengen tak jambak-jambak tuh rambut klimisnya!"


Nadin yang barus saja dari dalam hanya bisa mengurutkan keningnya karena melihat Dini yang uring-uringan.


"Ada apa lagi sih Din?"


"Lagi kesel sama kloningan suami lo!"


"Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Ajun!"


"Ye ...., yang mentang-mentang udah dapat gebetan baru, yang lama jadi di benci!" ledek Nadin.


Memang benar, selama ini Dini sudah mengejar cinta Ajun tapi sikap Ajun yang begitu dingin membuat Dini menyerah. Ia tidak se-tegar Nadin mengejar cinta dari suami dinginnya.


Mereka pun akhirnya bisa keluar rumah juga, Dini sudah menggendong Elan dan Nadin , mereka masuk ke dalam mobil. Dini duduk di depan dengan Ajun sedangkan Nadin di belakang dengan Elan.


Mobil pun melaju menuju ke kafe A&A, kafe yang sudah di bangun sendiri oleh Agra dan Ara.


Sepanjang perjalanan Dini sibuk menceritakan Arjuna, pria yang sudah membuatnya beralih dari mengagumi Ajun.


Ajun yang mendengarkannya sama sekali tidak merespon, berbeda dengan Nadin yang terus menanyakan banyak hal.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam akhirnya mobil pun berhenti di depan kafe. Kafe itu sekarang sudah punya lapangan parkir sendiri yang cukup luas. Sebagian besar ruko di situ sudah menjadi milik Agra dan Ara khusus mereka beli dari hasil kafe dan kantor periklanannya.


Ajun pun membukakan pintu untuk Nadin dan Elan. Dini masih setia di dalam mobil, Nadin dan Elan segera masuk ke dalam kafe. Tapi Ajun tidak juga membukakan pintu mobilnya.


"Ajun ....!" teriak Dini saat Ajun hendak meninggalkan mobil membuat Ajun menoleh padanya.


"Kamu nggak adil banget sih!" keluh Dini.


"Kenapa?" tanya Ajun dingin.


"Nadin aja kamu bukain, kenapa pintu aku nggak di bukain?"


"Punya tangan kan?"


"Ya punya lah!"


"Kalau punya, berarti bisa buka sendiri!"


"Kamu tidak tau apa? Tanganku baru saja keseleo!"


"Tapi sudah di urutkan, urutnya plus-plus juga kan! Pasti langsung sembuh!"


Dini benar-benar kesal kali ini dengan ucapan Ajun, ia begitu keras membuka pintu mobil saat Ajun masih di depannya hingga pintu itu mengenai lututnya begitu keras.


"Aughhhh ......, aughhhh ......!" keluh Ajun sambil melompat beberapa kali gara-gara tulang lututnya terbentur pintu mobil.


"Rasain tuh ......!" ucap Dini sambil menjulurkan lidahnya meledek Ajun, "Sakit kan? Nangis ....., nangis deh lo .....!"


Dini pun meninggalkan Ajun yang masih kesakitan begitu saja menghampiri Nadin dan Elan.


Ternyata di dalam sudah ada Ara, kakak perempuan Nadin. Elan juga sudah bermain dengan mbak Rini dan juga karyawan-karyawan yang lain.


"Kenapa lama sekali sih Din?" tanya Nadin saat melihat Dini baru masuk setelah sepuluh menit ia berada di dalam kafe.


"Lagi ngerjain orang yang jantungnya di titipin sama pohon pisang!"


"Siapa?" tanya Ara yang penasaran.


Ha ha ha .....


Ara tertawa terpingkal-pingkal mendengar julukan Dini untuk Ajun. Memang Ajun sebelas dua belas dengan Rendi. Cocok banget kalau jadi adek.


Dini pun akhirnya ikut memilih kue yang pas untuk acara.


***


Surabaya


Rendi mengajak Agra ke kantor pak Barata pemilik perusahaan group H.


Agra sudah lebih dulu duduk di sana, sepertinya Agra sedang mempelajari latar belakang group H dari website yang di miliki perusahaannya, jika dulu perusahan mereka pernah berhubungan baik itu berarti ada riwayat hubungan mereka di dalam website perusahaan.


"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Rendi yang mengerti dengan apa yang di lakukan sahabatnya.


"Ya ...., aku baru tahu sekarang!" Agra tersenyum puas, ia sepertinya menemukan senjata untuk menekan lawannya.


Setelah lima menit barulah resepsionis itu memanggil mereka kembali dan mengajaknya ke sebuah ruangan yang menjadi ruangan presiden direktur perusahaan itu.


"Silahkan masuk, pak Barata sudah menunggu anda berdua di dalam!"


"Terimakasih!"


Agra dan Rendi pun segera masuk ke dalam ruangan. Ia melihat pria yang seumuran dengan ayah Salman sedang berdiri menyambutnya.


"Selamat datang .....! Senangnya orang besar seperti pak Agra ini datang sendiri ke tempat saya!" ucap pak Barata menyambut mereka dengan begitu hangat.


"Terimakasih!"


"Silahkan duduk, silahkan duduk!"


Akhirnya Agra dan Rendi pun duduk di sofa yang terlihat mewah itu, pak Barata pun ikut duduk berhadapan dengan mereka.


Tak berapa malam, seseorang yang sepertinya sekertaris pak Barata masuk dengan membawa nampan berisi tiga cangkir kopi.


Sepertinya kedatangan mereka memang sudah di duga.


"Silahkan di minum kopinya, biar pembicaraan kita lebih santai!"


"Terimakasih pak Barata, senang anda menyambut kami begitu hangat!"


"Tidak masalah! Sebenarnya angin apa yang sudah membawa Presdir group F datang ke mari?"


"Saya rasa anda sudah tahu kenapa saya sampai datang ke mari!"


"Ya ...., ya ...., ya ....., anda benar pak Agra! Tapi saya rasa ini hanya masalah kecil saja, tidak usah di besar-besar kan!"


"Tapi jika hal kecil itu tidak di berantas maka akan menimbulkan hal besar di kemudian hari!"


"Lalu bagaimana solusinya?"


"Apa yang anda tawarkan untuk saya, agar masalah ini selesai!"


"Bagaimana kalau anda menikahi putri saya, tidak perlu di umumkan ke publik, biar putri saya menjadi istri ke dua anda!"


"Kenapa anda bisa berpikir jika saya akan setuju?"


"Ini hanya perasaan seorang ayah, seorang ayah tidak akan bisa melihat putrinya menderita!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘❤️❤️