MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Shopping dengan baby twins (4)



Rendi terus saja mengutuki dirinya sendiri.


"Rend ..., kamu kenapa?"


Tiba-tiba sebuah suara yang tak asing membuatnya secepat kilat membalik badannya memunggungi tembok yang menjadi pelampiasan kekesalannya.


"Gra ...., maksudku pak Agra." ucap Rendi yang masih terkejut karena tingkahnya terpergok oleh sahabatnya.


"Ini bukan hari kerja, biasa aja ..., kamu kenapa? Sakit? Wajahmu memerah gitu." tanya Agra.


"Ti-tidak ...., A-aku ...., Sa-saya ....!"


Astaga kenapa juga ini mulut ....., bicara aja susah banget ....


"Bicara kamu juga kenapa?" tanya Agra heran, pria yang biasanya tegas dengan segala ucapannya kenapa bisa jadi gaguk seperti itu.


"Saya hanya perlu minum ...!" ucap Rendi sambil meraih sebotol minuman yang ada di tangan Agra dan segera meneguknya hingga habis.


"Kau seperti orang kesambet ...!" ucap Agra lagi, ia begitu heran dengan tingkah Rendi. "Ayo kita bergabung dengan mereka."


Agra pun mengajak Rendi kembali ke tempat semula, tapi ternyata Nadin dan Ara sudah menunghu mereka di food stalls.


Tapi ada yang beda di antara mereka, ada orang lain di sana. Seseorang yang cukup ia kenal.


"Itu ...?" tanya Rendi sambil menunjuk seseorang yang sedang asik bercanda dengan baby twins.


"Itu Jerry, tadi tidak sengaja bertemu, jadi gabung sekalian." ucap Agra yang sedikit kesal, karena sebenarnya ia tidak rela melihat istrinya dekat dengan teman masa kecilnya itu. "Ayo ..., lebih cepat ..., jangan biarkan wanita kita dekat dengan pria-pria seperti itu ....!"


"Kita ...?" seketika ucapan Agra berhasil membuat langkah Rendi terhenti.


"Maksudku wanitaku ...., jangan harap ya kau bisa dekat lagi dengan istriku ...!" ucap Agra membeti peringatan.


Dasar pria bucin ...., siapa juga yang akan menggoda istri pria posesif sepertimu ....


"Jangan mengataiku ....! Aku tahu kamu pasti mengataiku pria bucin ...!" ucap Agra sambil terus berjalan.


Ya ... ya ...., percaya, apa sih yang tidak di ketahui tuan muda ini ....


Rendi hanya bisa memutar bola matanya kesal.


"Itu mereka sudah datang ....!" ucap Ara saat melihat Agra dan Rendi sudah berjalan mendekat pada mereka.


"Hai Rend ...., apa kabar ...!" sapa Jerry dengan ramah pada Rendi. Tapi tetap seperti biasa, Rendi tetaplah Rendi dengan sikap dinginnya.


Mereka bergabung dan memesan beberapa makanan. Rendi terus saja mengawasi Nadin, Nadin yang sedari tadi terus bercanda dengan Jerry membuatnya kesal. Beberapa kali Nadin mengambil foto dengan Jerry dan Sanaya. Terlihat sekali baby Sanaya sangat menyukai Jerry. Sedangkan baby Sagara kini sudah beralih ke pelukan Ara karena sudah mengantuk.



Tentu hal itu membuat Rendi tidak suka, ia ingin marah tapi pada siapa. Nadin yang sedari tadi ia tatap seperti tak melihatnya saat bersama Jerry.


Sttitttt ....


Tanpa sadar ia mengumpat sendiri, tangannya sudah sempurna mengepal di dalam saku celananya.


"Kamu kenapa? Nggak suka makanannya?" tanya Agra yang sedari tadi memperhatikan Rendi. Ara yang juga tak lepas dari memperhatikan pria dingin itu, rasanya ingin sekali menertawakannya, tapi takut dosa. Walau bagaimanapun pria dingin itu begitu berjasa dalam hidupnya dan keluarganya.


"Rend ...., kalau panas bisa minum es tuh ....!" ucap Ara sambil menunjuk segelas es di depannya. Rendi pun dengan cepat meneguk minuman itu hingga habis, kembuat semua yang ada di sana melongo padanya.


"Pak Rendi tidak pa pa?" tanya Nadin dengan polosnya.


"Biasa dek, kayaknya Rendi lagi panas dalam tuh ..., makanya suka banget sama air es ...!" ucap Ara dengan nada menggodanya. Agra yang sedari tadi hanya mengelayut manja pada istrinya hanya ikut tersenyum.


"Tapi itu tadi cuma air es doang, nggak ada apa-apanya!" ucap Jerry ikut menanggapi.


Rendi yang menjadi pusat perhatian hanya berekspresi datar. Ia lebih sibuk mengatasi hatinya yang terbakar.


"Ya udah lah mari mulai makan ...!" ucap Agra saat makanan sudah tersaji.


Di meja besar itu ada berbagai jenis makanan, ada Ayam lada hitam, gurami asam manis, Oseng cumi asin pedas, dan masih banyak lagi. Agra benar-benar memesan semua makanan kesukaannya.


"Biar Sagara sama Sanaya sama mbak saja ....!" ucap Ara sambil menyerahkan Sanaya dan Sagara pada baby sitter nya.


"Mari makan ...!" ucap Nadin.


"Kamu harus mencoba ini, ini enak banget loh ...!" ucap Jerry sambil menyuapkan udang saus pedas pada Nadin. Tapi belum sampai Nadin membuka mulutnya.


"Jangan ..., Nadin alergi seafood." ucap Rendi dengan santainya, membuat Jerry segera menarik sendoknya.


"Benarkah ...?" tanya Jerry pada Nadin, dan Nadin pun hanya mengangguk.


"Makan ini saja ...!" ucap Rendi lagi sambil meletakkan ayam lada hitam di piring Nadin. Nadin begitu senang mendapat perlakuan khusus dari pujaan hatinya.


Manisnya pak Rendi ....., aku padamu ....


Agra dan Ara yang sedari tadi hanya sebagai penonton, mereka hanya saling pandang.


"Aneh ...., Rendi kok bisa tahu sih, aku aja kakak iparnya nggak tahu kalau Nadin alergi seafood." ucap Agra tak percaya membuat Rendi beralih menatapnya, ia berusaha mencari alasan yang tepat.


"Apapun yang berhubungan dengan anda, saya harus tahu, termasuk Nadin." ucap Rendi memberi alasan.


Ahhh ...., kau membuatku terjatuh pak Rendi ...., kenapa karena kak Agra sih ....


Nadin yang sudah tersanjung kini harus menekan kembali perasaannya agar tidak terlalu berbunga. Ia pun segera memakan makanannya walaupun rasanya sudah tidak ingin memakannya.


Tiba-tiba ponsel Jerry berdering, membuat pembicaraan itu terputus.


"Sebentar saya terima telpon dulu." ucap Jerry dan semua pun mengangguk. Jerry pun berlalu menjauh, entah apa yang sedang di bicarakan dan dengan siapa. Tak berapa lama ia pun kembali.


"Maaf ya ...., aku nggak bisa barengan kalian lagu, soalnya ada klien yang mengajak bertemu sekarang." ucap Jerry.


"Di hari libur?" tanya Ara yang tidak terima.


"Yah ..., mau bagaimana lagi orang klien dari luar kota, hanya punya waktu sedikit di sini, jadi ya di ladeni aja." ucap Jerry. "Lain kali janji deh kita jalan bareng-bareng lagi ...!"


"Baiklah ...., hati-hati kak Jerry, sampai jumpa lagi ....!" ucap Nadin sambil melambaikan tangan, Jerry pum segera mendekati Nadin dan mengusap kepala Nadin dengan gemas.


"Sampai jumpa lagi ...!"


Jerry pun segera meninggalkan mereka. Ia tak meninggalkan gedung itu untuk menemui seseorang yang tafi telah menelponnya.


Jerry menuju ke kafe sebelah pusat perbelanjaan itu untuk menemui orang yang telah menelponnya.


"Hai bro ....!" ucap Jerry sambil melambaikan tangannya pada pria berkaca mata itu.


"Hai ....!"


Jerry pun segera menyatukan lengannya seperti bertemu dengan kawan lama.


"Bagaimana misi kita?" tanya pria berkaca mata itu.


"Yah mungkin sedikit berhasil, sahabatmu itu memang pria es, dia sungguh luar biasa." ucap Jerry.


"Kau tak tahu saja, dia kalau sama saya sudah kayak cacing kepanasan gara-gara nggak sadar kalau sedang jatuh cinta, tugas kita tinggal memanaskannya saja, biar gunung es itu meleleh ...!"


"Dr. Frans memang luar biasa ya ....! Aku salut sama dr, karena begitu pedulinya dengan sahabatmu itu, sampai masalah cinta saja dr juga mengurusnya." ucap Jerry memuji.



Ha ha ha ha


Mereka tertawa begitu akrab, ya ternyata Jerry pun memihak pada dr. Frans. Dr. Frans lah yang telah meminta tolong pada Jerry untuk membuat Rendi menyadari perasaannya, saat ia tahu jika Agra berencana mengajak Rendi dan Nadin berebelanja bersama.


"Ngomong-ngomong terimakasih ya atas bantuannya ....!" ucap dr. Frans lagi.


"Sama-sama ...., aku juga senang bisa membantu ....!"


"Setelah ini, biar si bodoh itu yang menyelesaikannya sendiri ...!"


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Happy Reading 😘😘😘😘**