
Dini setelah dari Villa segera kembali ke rumah sakit, ia tidak begitu tenang saat meninggalkan dua pria yang baru saja ia ketahui jika mereka sebenarnya bersaudara.
Juna sudah menjelaskan semuanya, pada Dini dan juga orang tua Dini. Sekarang semua keputusan di serahkan pada Dini, antara memilih Ajun atau memilih Juna. Dua duanya memiliki kompetensi yang bagus sebagai calon mantu.
Perawat masuk ke dalam kamar rawat mereka untuk mengantarkan makan malam.
"Selamat malam mas Ajun, kapten Juna!" sapa suster yang merawat mereka.
"Selamat malam sus!"
"Ini makanannya ya, saya letakkan di sini agar kalian bisa mudah mengambilnya!"
"Terimakasih sus!"
"Sama-sama!"
Setelah suster itu meninggalkan kamar mereka, Juna kembali melihat Ajun. Adik laki-lakinya masih saja diam dan menatap ponselnya beberapa kali.
"Makanlah ....!" ucap Juna sambil menyodorkan piring untuk Ajun.
"Aku nanti saja!" tolak Ajun.
"Dini juga tidak akan datang secepat ini, jadi makanlah ...!"
"Tanganku sakit!" ucap Ajun ketus.
Juna malah tersenyum melihat sikap dingin Ajun.
"Baiklah adikku, sebagai kakak yang baik, maka aku yang akan menyuapi mu!" ucap Juna dengan senyumnya dan segera turun dari tempat tidurnya.
"Tidak ....., aku bisa makan sendiri!" tolak Ajun dan menjauhkan mulutnya dari Juna.
"Jangan keras kepala adik, tanganmu kan sakit, biar kakakmu yang baik ini akan menyuapi mu!"
"Aku bisa sendiri!" Ajun segera mengambil piringnya dengan tangan kirinya yang tidak di gip,
"Baiklah ....!" tapi Juna tidak juga meninggalkan tempat tidur Ajun, ia terus menatap Ajun. Ajun begitu kesusahan untuk makan, ia tidak biasa makan dengan tangan kiri.
"Susah kan, makanya jangan keras kepala, sini ...!" Juna segera menarik piring Ajun dan menyuapkannya ke mulut Ajun dengan telaten, Ajun pun tidak lagi menolaknya.
Dini yang baru saja datang dan melihat pemandangan itu segera menjepret kan kameranya membuat dua pria itu menoleh pada Dini.
"Dini!"
"Kuda!"
Dini tersenyum dan menghampiri mereka, "Kalian benar-benar adik kakak yang serasih ....! Lanjutkan ...!" ucap Dini mempersilahkan Juna untuk menyuapi Ajun.
"Tunggu ....! Kamu juga tahu jika kita saudara?" tanya Ajun tidak percaya.
"Iya ...., mas Juna sudah mengatakan semuanya sama Dini, papa dan mama!"
Ajun menatap Juna tajam membuat Juna tersenyum.
"Ini curang!"
Ha ha ha .....
Dini dan Juna hanya tertawa melihat ekspresi Ajun yang tidak terima karena tahu belakangan.
"Juna .....!"
Seseorang muncul dari balik pintu, ternyata pak Tama dan Seno.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya pak Tama,
"Bapak begitu khawatir saat mendengar berita kamu tertembak makanya bapak nyuruh Seno buat ngantar bapak ke sini!" ucap pak Tama begitu khawatir.
"Juna tidak pa pa pak, nih Juna juga sudah sehat, peluru nggak akan membunuh Juna pak!"
"Syukurlah ....!" ucap pak Tama, kemudian ia beralih menatap Ajun, "Dia?"
"Dia Dewa, pak!" ucap Juna mengenalkan Ajun sebagai Sadewa.
"Ya Allah ...., tau kalau dia begitu dekat, bapak samperin dari dulu!" ucap pak Tama sambil memukul pundak Ajun yang cidera membuat Ajun meringis kesakitan.
"Padahal bapak benci banget dulu lihat wajahnya, sok cool sekali dia!" keluh pak Tama terhadap Ajun.
"Sekarang pun juga masih sama pak, lihat saja tuh senyumnya irit banget!" ucap Juna ikut menimpali.
Seno yang sedari tadi diam pun ikut mengamati wajah adik sahabatnya itu, "Dia mirip banget sama kamu, Jun!"
"Namanya juga saudara!"
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu di ketuk, semua menoleh ke arah pintu, di depan pintu menampakkan Rendi yang sedang berdiri di sana.
"Permisi!"
"Pak Rendi!" Ajun segera duduk tegak melihat atasannya itu. Rendi pun berjalan mendekat.
"Duduk saja!"
"Iya pak!"
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rendi setelah berada di samping tempat tidur Ajun, Dini sudah menyingkir di sebelah lainnya.
"Saya sudah lebih baik pak!" ucap Ajun, Juna hanya tersenyum melihat tingkah adiknya itu, baru saja begitu manja, makan saja di suapi, saat kedatangan atasannya tiba-tiba saja sembuh.
"Pak Tama, anda juga di sini? Dini juga?" tanya Rendi.
"Kenalkan, saya saudara Ajun, saya kakaknya, Juna!" ucap Juna memperkenalkan diri pada Rendi, Rendi pun menyambut tangan Juna sambil menatap Ajun dan tersenyum. Ia tahu bagaimana kehidupan Ajun yang memang tidak punya keluarga, ia ikut senang saat Ajun menemukan keluarganya.
"Dan Dini?" tanya Rendi sambil menatap Dini.
"Kalau boleh, saya mau menjadi pacarnya Ajun, pak Rendi!" ucap Dini dengan lugasnya membuat Juna dan Rendi menatapnya begitu pun dengan Ajun.
"Iya mas Juna ...., maaf saya memilih Ajun! Mas Juna nggak marah kan?" tanya Dini yang merasa bersalah dengan Juna.
"Tidak ...., aku pasti senang kalau kalian bisa bahagia, lagian aku mudah cari cewek berbeda dengan si dingin itu!" ucap Juna sambil tersenyum. Walaupun sebenarnya ia juga sakit tapi akan lebih sakit saat melihat adiknya terluka, Dini gadis yang terbaik untuk adiknya, Ajun.
"Tapi saya tidak setuju!" ucap Rendi membuat semuanya menoleh padanya termasuk Ajun.
"Saya tidak setuju kalau kalian hanya pacaran, setelah Ajun sembuh kalian harus segera menikah!" ucap Rendi dengan nada dinginnya itu.
Ajun tersenyum, "Baik pak!"
Juna pun segera turun dan memeluk saudaranya itu memberi selamat. Ia memang tidak mendapatkan cinta, tapi ia menemukan saudaranya. Itu lebih dari cukup untuk perjuangannya selama ini.
...*****...
Nadin adalah orang yang paling heboh di pernikahan sahabatnya itu. Dengan perutnya yang sudah besar itu, masih saja terlihat cantik dengan balutan kebaya gamisnya.
Ia sudah siap dengan Elan yang memakai kemeja dan jas yang senada dengan ayahnya. Elan selalu jadi pusat perhatian.
Dini begitu cantik dengan kebaya putih panjangnya dengan make up yang sedikit tebal ala pengantin sedang duduk bersanding di pelaminan bersama Ajun.
Juna juga tidak kalah kerennya, ia yang biasanya selalu memakai seragam lengkap, atau kaos dorengnya kini memakai kemeja dan jas nya, walaupun begitu lengannya yang berotot tetap saja tidak bisa di sembunyikan.
Papa dan mama Dini akhirnya bisa berbesanan dengan pak Tama, walaupun bukan Juna tapi Ajun kini juga sudah menjadi anak angkatnya sama seperti Juna.
Setelah acara pernikahan selesai, semua melakukan sesi foto, Nadin, Rendi, Elan, Dini, Ajun, Juna, papa dan mama Dini, pak Tama, Seno.
"Mas ....., mas ...., perutku!" pekik Nadin saat selesai foto membuat semua menoleh pada Nadin.
"Nad ...., kenapa?" tanya Rendi begitu khawatir.
"Mas ...., kayaknya aku mau melahirkan!" ucap Nadin sambil memegangi perutnya.
"Mobil ...., mobil ....!"
Semua orang di buat heboh, Juna segera mengambil mobilnya yang ada di parkiran hotel tempat resepsi pernikahan. Semua orang mengikuti Nadin ke rumah sakit. Rendi sepanjang jalan ke rumah sakit tidak pernah melepaskan tangan Nadin.
"Ughhh .....,ahhh .....,ughhh ...., mas, beritahu dokter Frans, biar dia siap-siap!" ucap Nadin di sela-sela menahan sakitnya.
"Iya kau benar!"
Rendi pun segera memberitahu dokter Frans jika Nadin akan melahirkan. Dini juga terus menyemangati Nadin.
"Tarik nafas Nad, sabar ...., tarik nafas ya ....!" ucap Dini, ia jadi ikut-ikutan gemetar gara-gara melihat Nadin yang kesakitan. Ini untuk kedua kalinya Dini menemani Nadin melahirkan.
Ajun dan Juna berada di kursi depan, hanya terus fokus dengan jalan, ternyata dua pria jagoan itu tidak kalah gemetarnya saat menyaksikan wanita yang akan melahirkan, terlihat dari beberapa kali mereka harus mengusap keringatnya.
Pak Tama, papa dan mama nya Dini menggunakan mobil lainnya bersama Elan.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit, dokter Frans dan tim dokternya sudah siap menyambut kedatangan mereka.
"Kamu mau ikut masuk?" tanya dokter Frans pada Rendi.
"Iya ...., aku ikut!"
"Tapi awas ya, di dalam jangan pingsan!"
"Iya ....!"
Rendi pun ikut masuk ke ruang bersalin, Ia terus memegangi tangan Nadin. Tapi ternyata apa yang di katakan dokter Frans benar-benar terjadi, Rendi benar-benar pingsan sebelum bayinya lahir, membuat tim dokter di bagi yang satu mengurusi Rendi dan lainnya mengurus Nadin.
"Ah ...., gayanya aja cool, liat istri melahirkan pingsan!"
Di luar ternyata Ajun tidak kalah cemasnya, Dini pun mendekati Ajun dan menyerahkan sebotol air mineral.
"Minumlah ...., wajahmu terlihat pucat sekali!" ucap Dini.
"Apa semua wanita kalai melahirkan seperti itu?" tanya Ajun.
"Ya iya lah, memang kenapa?"
"Apa sebaiknya nanti kamu tidak usah hamil dan melahirkan saja!" ucap Ajun sambil menatap Dini dengan begitu khawatir, ia membayangkan jika sampai nanti Dini juga melahirkan seperti itu.
"Mana bisa seperti itu, hamil dan melahirkan itu sudah menjadi kodrat wanita, jadi harus hamil dong!"
Dokter Frans pun keluar dari dalam ruang persalinan, membuat Dini segera menghampirinya.
"Bagaimana dok?" tanyanya.
"Sudah lahir, cewek!"
"Alhamdulillah ...., lalu pak Rendi nya mana?"
"Dia pingsan di dalam!"
...*****...
Akhirnya Nadin dan bayinya sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Semua senang menyambut ke datangan anggota baru di keluarga mereka.
Keluarga besar finityGroup juga sudah berkumpul semua di sana, Rendi akhirnya sadar jiga dari pingsannya.
Ia bahkan menjadi bahan becandaan sahabat-sahabatnya. Masih sekarang dalam sejarah keluarga mereka yang pingsan gara-gara menemani istrinya melahirkan.
"Dia begitu cantik .....!" ucap Ara sambil mengusap pipi putih bayi perempuan itu.
"Sanaya akan punya teman bermain sekarang!" ucap Sanaya yang tidak kalah senangnya.
"Hahhhh ....., sekarang tinggal menunggu istrinya Frans yang beberapa bulan lagi juga melahirkan!" ucap Agra.
"Yessss ...., Sanaya bakal punya teman banyak nanti!"
spesial visual
pernikahan Ajun dan Dini
Nadin dan baby cantik nya
Ayah Rendi
Elan
mas Juna
......**END......
Terimakasih atas dukungan kalian semua ya, tulisanku yang receh ini tidak akan ada apa-apanya dan tidak akan jadi apa-apa tanpa kalian semua, tetap setia menunggu coretan-coretan ku ya❤️❤️❤️❤️
Di tunggu secuel-secuelnya nanti ya**