MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bonschap 5 (Si kecil aja tahu)



Rendi tidak hentinya tersenyum sepanjang perjalanan pulang membuat Nadin begitu curiga, sejak kapan suami dinginnya itu menjadi banyak tersenyum seperti itu.


"Mas Rendi nggak lagi sakit kan?" Nadin terus saja memperhatikan wajah suaminya yang bak taman bunga yang sedang bermekaran.


"Nggak pa pa, cuma pengen senyum saja!" Rendi masih saja tersenyum tanpa menghiraukan kecurigaan istrinya.


Memang ada hal yang luar biasa yang bisa bikin mas Rendi sebahagia ini? Atau gara-gara kekonyolan istri dokter Frans tadi?


"Mas Rendi tadi ketawanya paling kenceng loh!" ucap Nadin sambil memperhatikan wajah Rendi, ia ingin tahu bagaimana perubahan ekspresinya.


"Masak sih?" Rendi menanggapinya dengan ekspresi datar membuat Nadin semakin gemas saja.


Kok gitu aja sih ekspresinya .....


Nadin mencoba mengorek informasi tapi sepertinya gagal juga.


"Mas!"


"Hemmm?"


"Kita mampir ke rumah ayah dulu ya!"


"Jangan!" kali ini Rendi menanggapinya dnegan sangat ekspresif, ia sampai sedikit berteriak bicaranya.


"Hah ...., kenapa?"


Bisa gagal nih buka puasanya ....., kalau sampek Nadin minta menginap di sana, ribet urusannya ....


"Ya jangan, kapan-kapan saja kita ke sananya, kasihan Elan kita tinggal sendiri!" Rendi berusaha keras memberi alasan yang di rasa cukup masuk akal.


"Mas ...., biasanya juga kalau kita ke rumah ayah, El di anter sama Ajun!" keluh Nadin yang di rasa alasan suaminya tidak masuk akal.


"Tapi kan kali ini kita ninggalin El sama Aisyah, aku nggak suka jika si manusia batu itu sampai nyamperin El!"


Perasaan yang manusia batu kamu mas ....., nggak nyadar banget ....


Nadin jadi kesal sendiri, walaupun Alex sudah menikah dengan Aisyah tetap saja suaminya itu tidak bisa menyukai Alex, mereka masih saja saling berseteru setiap kali bertemu.


(Yang pengen tahu kenapa Alex bisa sampai ke Jakarta, tunggu Episode Mr Arrogant vs mrs Salihah ya)


"Mas beneran nih nggak kemana dulu kita?" tanya Nadin memastikan kembali, rasanya ia ingin sesuatu tapi bingung sesuatunya itu apa hingga membuatnya resah sendiri.


"Kita langsung pulang saja ya!" kali ini Rendi berbicara sambil menatap istrinya itu, ia mengelus puncak kepala Nadin dan kemudian beralih pada perutnya yang belum benar-benar buncit.


Sentuhan itu walaupun sedikit tapi berhasil membuat perasaan Nadin sedikit tenang, kali ini Nadin menurut.


***


Sesampai di rumah langsung di sambut El bersama dengan Aisyah.


"Una .....!"


"El ...., ayah juga rindu, kenapa tidak peluk ayah, kenapa cuma bunda yang di peluk!" Rendi merasa iri pada Nadin karena selalu saja Nadin yang di peluk Elan setiap kali bertemu.


El berbeda sekali dengan ayahnya, Elan pemilik senyum lembut sedangkan ayahnya begitu dingin, Elan tersenyum menanggapi ucapan ayahnya.


Dengan langkah yabg semakin cepat Elan mendatangi ayahnya, bukannya memeluk Elan memilih untuk mengukir senyum pada bibir ayahnya.


"Elan aja tahu mas, kalau mas Rendi itu nggak bisa senyum, kalau mau di peluk sama Elan senyum dulu!" ucap Nadin sambil tersenyum.


"Jadi ayah harus tersenyum, baiklah ..... hiiii .....!" Rendi segera menarik bibirnya ke atas sehingga menampakkan gigi-giginya yang berjejer rapi, tanpa menunggu lama Elan pun langsung memeluk ayahnya itu.


Anak usia satu tahun aja tahu mas senyum itu menenangkan .....


Nadin ikut memeluk suaminya bersama Elan, Aisyah hanya bisa tersenyum dari kejauhan melihat kebahagiaan mereka.


Belum sampai mereka masuk ke dalam rumah, sebuah mobil masuk di halaman rumah besar itu membuat Rendi dan Nadin menoleh bersamaan.


"Mas Alex!" pekik Aisyah, ia tahu itu mobil suaminya. Ia khawatir karena tadi ia sengaja pergi dari rumah tanpa meminta ijin suaminya terlebih dulu.


"Lex ....!" sapa Nadin, membuat Rendi segera menajamkan matanya.


"Nadin, bawa Elan masuk. Istirahatlah ....!" melihat tatapan dingin dari suaminya, membuat Nadin tidak berani membantah, mau tak mau Nadin pun segera menuntun Elan masuk ke dalam rumah.


Aisyah segera menghampiri suaminya itu agar tidak ada keributan di rumah mereka.


"Mas!" Aisyah segera meraih tangan Alex dan mencium punggung tangannya. "Kita pulang mas!"


Rendi tidak beranjak dari tempatnya, ia tetap menatap dingin pada pria yang baru datang itu.


"Pak Rendi, Aisyah pulang dulu ya, salam buat kak Nadin, Assalamualaikum ....!"


Aisyah segera menarik tangan Alex untuk masuk kembali ke dalam mobil.


"Waalaikum salam!" jawab Rendi setelah mobil Alex menghilang dari halaman rumahnya. Rendi menghela nafas lega, ia masih saja tidak suka jika pria itu terus mendekati putranya, apalagi saat Elan memanggilnya daddy, rasanya tidak terima.


Setelah perasaannya sudah lebih baik, Rendi segera menemui Ajun. Ajun tahu kedatangan Alex tapi ia tidak mencegahnya karena ada Aisyah juga di sana.


"Apa yang terjadi selama aku pergi!"


"Tidak ada pak!"


Karen tidak ada yang penting, Rendi pun hendak menghampiri istrinya tapi Ajun kembali menghentikan langkahnya saat ia mengingat sesuatu.


"Oh iya pak!"


"Ada apa?"


"Tuan tadi menelpon, beliau akan berkunjung malam ini!"


Astaga ...., kenapa aku bisa lupa .....


"Oh iya makasih ya, sudah mengingatkan!"


***


Hari sudah semakin gelap, Ayah Salman benar-benar datang berkunjung. Nadin sudah menyiapkan makanan untuk menyambut ayah mertuanya itu. Walaupun tidak banyak tapi ia sudah bisa memasak makanan sederhana, karena pelariannya di Surabaya menjadikannya sedikit lebih mandiri.


"Bagaimana keadaan ayah? Sehat kan?" tanya Nadin di sela makan malam mereka.


"Ayah sehat, Ayah senang karena sebentar lagi ayah punya cucu lagi. Lalu kapan rencananya di adakan acara empat bulanan, bukankah sudah waktunya?"


Ayah Salman tidak begitu dingin jika berhadapan dengan Nadin, ia bisa menjadi ayah yang hangat untuk keluarga kecil putranya itu. Tapi jika menyangkut pekerjaan tidak ada kompensasi untuk Rendi, beliau masih sama tegasnya apalagi jika menyangkut keluarga nyonya Ratih.


Walaupun mereka sudah mendirikan perusahan sendiri tanpa embel-embel finityGroup tapi tetap saja dedikasinya untuk keluarga nyonya Ratih masih sangat besar. Bahkan Rendi maupun ayah Salman tidak pernah melepaskan pengawasan atas mereka.


"Nadin nunggu kapan mas Rendi sempatnya aja yah ....!"


"Tapi nyonya Ratih sudah berencana ingin mengadakan acara empat bulanan kehamilan mu bersamaan dengan acara pesta peresmian pembukaan Taman bermain anak yang kalian bangun!" ucap ayah Salman sambil menatap Rendi yang sibuk mengunyah makanannya, membuat Rendi menghentikan kunyahannya.


"Tapi Agra maupun Nyonya Ratih belum mengatakannya pada Rendi!" ucap Rendi yang ternyata belum tahu tentang rencana itu.


"Mungkin besok atau lusa Nyonya Ratih akan menemui mu sendiri!"


Setelah acara makan malam selesai mereka melanjutkan mengobrol di ruang keluarga, karena belum terlalu malam ayah Salman mengajak Elan untuk ke rumahnya. Besok hari libur, ia ingin menghabiskan hari liburnya besama cucu nya, Elan pun juga begitu senang setiap kali di ajak menginap oleh kakeknya itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘