MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bonschap 51 (Juna)



Pak Tama dengan kaos dan celana olah raganya. Walaupun sudah tua, pak Tama masih begitu menjaga tubuhnya.


Ia sedang olah raga di depan rumahnya, tiba-tiba sebuah motor yang tidak asing berhenti di sana.


Pak Tama segera menghentikan olah raganya dan memastikan siapa yang datang.


“Pagi om …!” sapa pria berseragam itu dengan tangan yang masih memegang helmnya, dia adalah Seno sahabat Juna.


“Pagi ….!" jawab pak Tama sambil meletakkan barbel kecilnya di atas lantai dan menghampiri Seno.


"Seno kan?"


“Iya om …!”


Pak Tama segera mengubah wajahnya, yang mulanya geram kini sedikit lebih bersahaja.


“Duduklah …, sambil nunggu Juna keluar saya mau bicara sebentar sama kamu!” ucap pak Seno


pak Tama meminta Seno untuk duduk di bangku teras rumahnya.


“baik om!”


Pak Tama dan Seno pun akhirnya duduk di teras rumah.


“Ada apa ya om?” tanya Seno yang penasaran.


“Juna pernah cerita sama kamu tentang Dini tidak?”


Pertanyaan pak Tama berhasil membuat seno terbengong, ia tidak menyangka jika pak Tama akan menanyakan hal itu, ia


sendiri masih bingung dengan apa yang di pikirkan oleh sahabatnya.


“Kenapa kamu malah diam? Kamu pasti tahu sesuatukan? Menurutmu Juna suka apa tidak sama Dini?” tanya pak Tama lagi.


“Ya kelihatannya suka om, bahkan sudah berkali-kali Juna juga mengantar Dini pulang ke rumahnya, tapi …!”


“Tapi apa?”


“Ada yang juga menyukai Dini, om …!” ucap Seno ragu untuk bercerita.


“juna juga mengatakan hal itu, lalu apa masalahnya, selama janur kuning belum melengkung kan sah-sah saja mengejar cinta seorang gadis!”


“tidak semudah itu om!”


“Maksudnya?”


“Yang juga suka sama gadis itu adalah ....!" Seno menghentikan ucapannya.


"Siapa?"


"Orang yang selama ini di cari sama Juna!"


"Maksudnya?"


"Iya om ..., Juna sudah menemukannya!"


"Jadi anak itu, pria angkuh itu ...!"


Belum sampai mereka selesai mengobrol, tiba-tiba Juna datang dari dalam.


"Sen ....!"


"Jun ...!"


Seno pun segera berdiri, pak Tama pun ikut berdiri.


"Kenapa nggak masuk?" tanya Juna.


"Nggak ..., ngobrol-ngobrol dulu sama bapak mu!"


"Kalian ngobrolin apa?" tanya Juna penasaran.


"Nggak bukan apa-apa, cuma skor permainan sepak bola semalam, ya kan Sen?"


"Iya Jun, pilih Liverpool atau Inggris gitu!"


"Oh ....!"


"Ya udah sana kalian berangkat! Sudah siang kan!" ucap pak Tama.


"Baiklah om, kami berangkat dulu ...!" ucap Seno sambil mencium tangan pak Tama.


"Kamu berangkat dulu ya pak, bapak hati-hati di rumah!" ucap Juna dan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Seno.


Motor mereka pun akhirnya meninggalkan halaman rumah pak Tama.


"Apa yang kamu bicarakan sama bapak tadi?" tanya Juna setelah sampai di tempat dinasnya. Mereka mendapat jatah jaga lagi dan melatih beberapa juniornya.


"Om Tama tanya, apa kamu suka sama gadis yang mau di jodohin sama kamu!"


"Trus kamu ngomong gimana?"


"Ya aku bilang suka dong!"


"Hehhhh ....!"


"Kenapa dengan mu?"


"Hari ini aku ijin ya, aku mau ketemu saat dia!"


"Selalu gitu ya ..., ya udah tapi jangan lupa pulangnya bawa martabak!"


"Siap!"


Juna pun kembali menuju ke motornya, ia segera meluncur dengan motornya menuju ke kafe Dini.


Sesampai di kafe ia segera menemui Dini.


"Eh mas ganteng, cari mbak Dini ya?" tanya Mei saat Juna sudah duduk di salah satu kursi yang berada di kafe itu.


"Apa dia ada?" tanya Juna.


"Ada mas, bentar ya aku panggilkan!"


"Mbak Dini ...., mbak Dini ...!"


"Kenapa sih heboh banget, Mei?" tanya Dini tanpa beralih dari mencuci piringnya.


"Ada mas ganteng di depan!"


"Siapa, Ajun?"


"Yang pakek seragam!"


"Mas Juna?"


"Nggak tahu mbak, yang penting pakek seragam!"


Dini pun segera mencuci tangannya dan mengelapnya. Ia melepas afronnya dan bergegas menemui Juna.


"Mas Juna!"


"Din ...., duduklah aku mau bicara sama kamu!"


Dini pun segera duduk di depan Juna. Hanya berbatas meja di depan mereka.


"Ada apa mas?"


"Bagaimana perasaanmu pada Ajun?" tanya Juna.


"Kenapa mas Juna tanya kayak gitu?"


"Bukan apa-apa, hanya ingin memastikan saja!"


***


Malam ini seperti biasanya, Dini datang ke apartemen Ajun.


Beberapa hari ini terlihat aman-aman saja, bahkan ia tidak mendapatkan teror dari orang-orang yang mengejar Ajun.


Dini segera membuka pintu, tapi dari dalam ternyata penghuninya juga ingin membuka pintu,


"Astaga Ajun ...., kau ini mengagetkanku saja, kalau mai keluar itu bilang-bilang, jangan tiba-tiba buka pintu!" omel Dini membuat Ajun hanya bisa menggaruk kepalanya bingung.


"Perasaan ini rumahku, kenapa jadi dia yang sewot ...!" gumam Ajun sambil kembali menutup pintunya, ia sampai lupa jika ia mau keluar.


Dini sudah sibuk membersihkan rumah Ajun, Dini benar-benar mirip seperti mesin yang tidak lelah ke sana kemari, dalam waktu singkat saja, apartemen Ajun sudah kembali bersih.


Dini kembali berkutat di dapur untuk membuat makan malam, Ajun memilih mengikutinya dan memperhatikan bagaimana Dini bekerja di sana. Ia mengagumi pemilik tubuh mungil itu, walaupun tubuhnya mungil gadis itu cukup kuat dan lincah. Ajun bahkan pernah melihat bagaimana Dini menghajar preman-preman itu.


Selain berpendidikan tinggi ternyata Dini juga pandai bela diri.


"Kenapa menatapku seperti itu? Suka ya?" tanya Dini sambil sibuk dengan penggorengannya.


"Istttt .....!"


"Aku tahu kamu suka, cuma bingung aja mau ngomongnya gimana, iya kan? Nggak usah sungkan!" ucap Dini dengan begitu pe de nya.


Ajun memilih diam dan memainkan ponselnya. hal itu cukup membuat Dini kesal karena merasa di abaikan.


"Tadi Mas Juna ke kafe!" ucap Dini. Kali ini ucapannya berhasil menarik perhatian Ajun, ia mendongakkan kepalanya menatap Dini.


"Ngapain?" tanya Ajun.


"Dia nanya, gimana perasaanku padanya!"


"Lalu?"


"Lalu apanya?"


"Kamu jawabnya gimana?"


"Nggak tahu, ya aku jawab aja kalau aku mengaguminya!"


"Kagum itu sama atau tidak sama suka?" tanya Ajun yang terlihat bingung.


"Bisa mendekati suka sih ....!" jawab Dini dengan sengaja.


Bagaimana kalau dia mengatakan cinta sama Dini, trus Dini menjawab cinta ...., batin Ajun cukup khawatir.


"Kalau dia mau ngomong cinta, bisa jadi aku akan menjawabnya!" ucap Dini lagi.


"Jangan ....!" ucap Ajun cepat.


"Ya terserah aku dong ...., aku yang mau jawab!" ucap Dini sambil meletakkan makanan Ajun di depannya, "Makanlah ....!"


"Awas ya, kalau kamu berani mengatakan hal itu sama pria itu!"


"Isssttttt ...., apa hak mu! Oh iya ...., aku punya rencana buat ngajak karyawan untuk menginap di fila selama tiga hari, jadi lusa mungkin. aku nggak ke sini, jangan khawatir, aku akan menggantinya untuk hari berikutnya!"


"Dalam rangka apa?"


"Ini acara setiap akhir tahun, jadi selalu kayak gini acaranya!"


"Kenapa harus tiga hari, kenapa tidak sehari saja?"


"Emang aku hanya berencana buat jalan-jalan di bus ....! Aneh banget kamu nya!" ucap Dini yang ikut menyantap makanannya,


"Ehhhh kenapa kamu jadi banyak tanya?" tanya Dini heran.


"Biasa aja!" ucap Ajun dengan nada dinginnya.


"Eh jangan-jangan kamu cemburu ya? Iya nih kamu cemburu, kalau aku tinggal lama-lama takut kangen ya!?" Dini terus saja menggoda Ajun selama makan.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰