
Hari-hari mereka berlalu begitu dingin, Nadin belum mau memaafkan Rendi, Rendi si dingin itu terus saja mendekati Nadin dengan cara seorang Rendi. Bukan cara yang lazim di gunakan untuk meminta maaf pada seorang gadis.
Beberapa kali Rendi mencoba berbicara berdua dengan Nadin, tapi Nadin terus saja berusaha menghindar.
Sisa waktu magang Nadin di manfaatkan dengan sebaik-baiknya, ia tidak mau terus memikirkan Rendi, ia selalu menghindar setiap kali bertemu dengan Rendi, ia juga meminta Divta yang menjemputnya ke kantor membuat Rendi semakin marah dan kecewa.
Hingga tiba-tiba Agra meminta Nadin untuk datang ke ruangannya. Membuat Nadin bertanya-tanya.
"Ada apa ya kak Agra memanggilku?" gumam Nadin di sepanjang perjalanan.
Saat tiba di depan ruangan Agra, ternyata Rendi sudah menunggu di depan pintu, saat Nadin hendak mengetuk pintu, tangannya lebih dulu di tarik oleh Rendi. Akhir-akhir ini begitu sulit hanya untuk bicara dengan Nadin, Nadin bahkan tidak membaca pesannya atau pun mengangkat telpon dari Rendi, sepertinya wanita itu benar-benar marah padanya.
"Lepas pak!" ucap Nadin pelan sambil berusaha menarik tangannya, tapi Rendi semakin mempererat genggamannya, Rendi menarik tubuh Nadin hingga ia tak ada jarak di antara mereka. Rendi menatap Nadin begitu dalam.
"Dengarkan aku!" perintah Rendi dengan suara pelan tapi begitu dalam.
"Lepaskan aku dulu!" pinta Nadin dengan memelas.
"Aku tidak akan melepasmu sampai kau selesai mendengarkan penjelasan ku!" Ucap Rendi sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Nadin, hingga Nadin memundurkan kepalanya.
"Aku meninggalkanmu bersama Davina, karena aku tahu Davina memiliki perasaan khusus padaku, jadi aku memintanya untuk melupakan semua perasaannya padaku, karena ...!"
"Karena?" tanya Nadin saat ucapan Rendi terhenti.
"Karena ....!"
Saat hendak melanjutkan ucapannya, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam, membuat Rendi dengan cepat melepaskan Nadin, karena Nadin tidak siap, ia pun hampir saja terjatuh, tapi tangannya dengan cepat berhasil di tarik kembali oleh Rendi. Hingga mereka kini kembali berpelukan.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Agra. Ia harus saja ingin menanyakan keberadaan Nadin, karena Nadin tak juga segera menemuinya.
Rendi segera melepaskan Nadin kembali, Nadin pun demikian, mereka begitu bingung harus mengatakan apa.
"Kami ...., maksud saya, Nadin hampir terjatuh jadi saya membantunya!" ucap Rendi gugup.
"Iya kak, tadi pak Rendi membantuku!" ucap Nadin ikut meyakinkan kakak iparnya.
"Ada apa kak Agra memanggilku?" tanya Nadin.
"Ada yang ingin saya sampaikan padamu penting!"
"Aku?"
"Iya ...!"
Mereka pun segera masuk ke dalam ruangan, Rendi pun ikut masuk bersama mereka, karena selama ini tidak ada apapun yang di sembunyikan oleh Agra dari Rendi.
"Pak Divta?"
Nadin begitu terkejut saat melihat Divta juga ada di dalam ruangan.
"Ada apa ini?" Nadin begitu tak sabar ingin tahu apa yang akan di bicarakan kakak iparnya padanya.
"Duduklah, bang Divta ingin bicara denganmu!" ucap Agra.
"Aku?" tanya Nadin yang sudah duduk di sofa, Agra pun hanya mengangguk. Sekarang orang yang di bicarakan pun mendekat pada Nadin.
"Ada apa pak?" tanya Nadin.
"Nadin ....., aku ingin melamarmu!" ucap Divta to the point sambil memegang tangan Nadin, Nadin yang terkejut segera menarik tangannya.
"Pak Divta ngaco ya ...., atau ini hanya prank?" Ucap Nadin dan langsung berdiri dari duduknya. Ia terlihat begitu bingung.
Gila ....., ini benar-benar gila .....
Nadin memegangi kepalanya, kepalanya rasanya begitu sakit. Saat ia baru saja mendengarkan penjelasan dari orang yang sangat ia cintai tapi kini malah ada masalah lain yang siap menghadang hubungan mereka.
"Nad ....!" panggil Divta. "Aku benar-benar serius, aku ingin Agra menyaksikannya, aku ingin dia menyaksikan keseriusanku. Setelah ini aku akan meminta pada ayahmu!"
Kepala Nadin semakin pusing saja, ia tidak bisa mencerna dengan benar ucapan Divta, pandangannya kemudian beralih pada pria yang biasanya berperawakan dingin itu, ia melihat ada ekspresi yang berbeda dari pria itu, tapi sungguh sayang ia tidak pandai membaca ekspresi pria itu, atau memang pria itu yang terlalu pandai menyembunyikan perasaannya hingga tak tahu apa yang sedang pria dingin itu pikirkan.
Nadin beralih menatap kakak iparnya, wajah harap dari kakak iparnya membuatnya merasa bersalah.
Iya bingung harus berbuat apa. Yang ia tahu sekarang, ia harus bisa melepaskan diri dari situasi ini.
"Kak ...., aku tidak bisa, ini terlalu cepat!" ucap Nadin pada Agra.
"Kakak tidak memaksa, ini kamu sendiri yang memutuskan untuk menerima atau tidak!" ucap Agra dengan bijak.
Mata Nadin semakin berkunang-kunang, semakin lama, pandangannya semakin kabur, ia hanya bisa mendengar ketiga pria itu memanggil namanya, dan hilang entah kemana.
Kini Nadin tersadar sudah berada di klinik, dokter Frans sudah merawatnya.
"Kamu sudah sadar?" tanya dokter Frans saat melihat Nadin sudah membuka matanya.
"Dokter ...., aku dimana?" tanya Nadin.
"Kamu di klinik, sebenarnya ada apa sih? Kenapa kamu bisa pingsan?" tanya dr. Frans.
"Dok, apa mereka masih menungguku di luar?" tanya Nadin.
"Aku rasa iya! Kenapa mereka bisa bersamaan membawamu ke sini?"
"Ceritanya panjang dok, apa boleh aku minta bantuan dokter?"
"Katakan saja, nggak usah sungkan!"
"Aku mau ketemu sama pak Rendi saja, tidak dengan yang lain, tapi jangan sampai yang lain curiga ya dok!"
"Sebenarnya ada apa sih?"
"Nanti dokter juga akan tahu!"
"Baiklah, aku akan mencobanya! Tunggu sebentar!" ucap dr. Frans dan Nadin pun mengangguk. Dr. Frans pun meninggalkan Nadin seorang diri. Ia keluar untuk menemui ketiga pria itu.
Entah apa yang di katakan dokter Frans hingga membuat dua pria itu pergi dan menahan Rendi untuk tetap tinggal.
Setelah Agra dan Divta meninggalkan mereka, Dr. Frans pun segera mengajak Rendi untuk masuk ke dalam ruangan.
"Kalian bicaralah berdua, selesaikan semua masalah kalian! Aku tinggal dulu!" ucap Dr. Frans sambil menepuk punggung Rendi.
Setelah Dr. Frans pergi, kini tinggal mereka berdua, Rendi pun segera mengambil tempat duduk dan duduk di samping Nadin. Ia menggenggam tangan Nadin.
"Pak ...., aku nggak mau menikah dengan pak Divta!" ucap Nadin memelas, ia sudah duduk dengan air mata yang meleleh di pipinya.
"Kau tidak akan menikah dengannya!" ucap Rendi dingin.
"Bagaimana bisa pak, pak Rendi kan tau bagaimana kak Agra, apalagi pak Divta, dia tidak akan menyerah begitu saja. Kalau sampai pak Divta menemui ayah bagaimana?"
"Aku yang akan menikah denganmu!" ucap Rendi dingin.
"Apa pak Rendi sudah jatuh cinta denganku?" tanya Nadin.
"Sudah jangan banyak bicara, tidurlah lagi!" ucap Rendi.
"Tapi pak Rendi belum menjawab pertanyaanku!"
"Tidurlah ...., semua akan baik-baik saja!"
"Ah ....., menyebalkan, bilang kalau pak Rendi itu cinta sama aku!"
"Aku akan pergi jika kau terus bicara!" ancam Rendi.
"Baiklah ...., baiklah .....!" ucap Nadin dengan senyum khasnya, ia kembali tidur dengan tangan yang terus menggenggam tangan Rendi.
Ia tidak menyangka jika hubungannya dengan pria balok es itu akan membaik setelah beberapa hari ini, hubungan mereka memburuk karena kesalah pahaman.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak
Happy Reading 😘😘😘😘**