MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Rumah bercat biru



Sebenarnya masih betah


duduk di situ, tapi pembeli mulai berdatangan rasanya tidak enak jika menggangu


orang yang sedang berjualan.


Nadin memutuskan untuk melanjutkan langkahnya. Ia menunggu taksi di pinggir jalan.


Hingga matahari mulai tinggi, jalanan mulai


ramai. Banyak pejalan kaki yang lalu lalang, mobil saling mendahului untuk


berada di jejeran paling depan, pengendara motor pun tak mau kalah, menyelip


nyelip di sela-sela mobil, hanya butuh setengah meter untuk bisa melakukan


atraksinya.


Anak-anak dengan seragam sekolah duduk berjajar di halte atau di trotoar demi menunggu angkot yang akan mengangkut mereka ke sekolah, hanya dengan uang dua ribu saja


mereka sudah bisa sampai di sekolah jika menggunakan kendaraan yang merakyat


itu, cukup untuk menghemat uang jajan.


Setelah menunggu cukup


lama, akhirnya si biru yang di tunggu sedari tadi menghampirinya, masih dari


kejauhan Nadin segera berdiri dari duduknya dan melambaikan tangan agar si biru


berhenti.


Akhirnya si biru berhenti juga tepat di depannya, Nadin segera masuk ke dalam


taksi itu.


“Pak antar saya ke alamat ini ya!” ucap Nadin sambil menunjukkan secarik kertas pada sopir taksi.


“Baik mbak!”


Taksi itu pun kembali


berjalan, argometer mulai menghitung jarak dan berapa rupiah dia harus


membayarnya.


Masih sepuluh menit, taksi itu berjalan tapi sudah berhenti, baru saja nadin mau memejamkan matanya, seketika ia membukanya kembali.


“Pak kenapa berhenti? Apa ada masalah?” tanya Nadin heran.


“Kita sudah sampai mbak!" jawab sopir taksi dengan santainya.


“Sudah sampai?” tanya Nadin lagi memastikan.


“Iya, itu kan rumahnya?”


Pak sopir taksi itu menunjuk pada sebuah rumah dengan warna cat biru


muda, kecil tapi asri, rumah itu tampak terawat.


Nadin mulai mencocokkan


alamat yang ada di kertas yang di berikan oleh Dini dengan nomor yang tertera


di pagar rumah itu.


“Iya pak ini benar rumahnya!”


Nadin pun menyerahkan


uang sesuai dengan tarif yang di minta pak supir taksi itu.


Ia pun segera turun. Taksi pun sudah berlalu dari belakangnya, tapi ia masih berdiri mematung di tempatnya.


Bukan karena rumah itu kecil tapi ia sedang berfikir, apakah bisa tinggal di tempat itu tanpa pria yang di cintainya, tinggal jauh dari pria yang sangat ia cintai begitu berat, apa akan sanggup ia lalui setelah ini, bagaimana


kalau pria dingin itu tidak akan mencarinya? Bagaimana kalau sampai kapanpun


pria itu tidak akan menemukannya? Atau bagaimana jika pria dingin itu bahagia


dengan orang lain tanpa dia?


Lagi-lagi Nadin hanya


bisa menghela nafas, memasrahkan semuanya. Dia sudah mengambil keputusan untuk pergi, jadi harus bisa menanggung segala akibatnya, walaupun berat tapi harus


tetap bisa bertahan.


“Jika nanti Allah menakdirkan kita bertemu lagi, Dia akan mempertemukan kita di waktu yang tepat, tapi bukan sekarang!”


Nadin mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah pagar itu, tidak di kunci juga tidak di


tutup.


Nadin tidak perlu memukul-mukul pagar itu agra pemiliknya membukakan, ia


pun segera memasuki halaman rumah, bukan paving yang menjadi penutup tanah


halaman itu, tapi rumput hijau penuh di halaman, berbagai bunga tumbuh di sana,


sepertinya pemilik rumah ini adalah wanita, terlihat dari begitu banyak bunga


yang tumbuh di sana.


Akhirnya nadin berhenti


di depan pintu, rumah itu tampak sepi, tapi kenap pintu pagarnya tidak di


tutup? Nadin mulai mengetuk pintu tapi tak juga ada sahutan, tapi tiba-tiba


dari samping rumah itu muncul seorang ibu-ibu, entah dari mana datangnya, tapi


sepertinya pemilik rumah di sebelah.


“Cari siapa mbak?”


Tanya wanita dengan dasternya itu, ia masih memegangi sapu sepertinya baru saja


“Apa benar ini rumahnya bu Santi?”


“Iya mbak, tapi orangnya masih jualan, kalau anaknya sekolah. Ada anaknya yang kecil,


sepertinya sedang pergi main, mbak ini siapa ya?”


“Saya saudaranya dari Jakarta!”


“Mbak tunggu aja sebentar lagi, bu Santi sebentar lagi juga pulang, biasanya jam dua siang dagangannya sudah habis! Tunggu saja di rumah saya mbak, dari pada munggu di


luar!”


“Nggak pa pa bu terimakasih,


saya nunggu di sini saja!”


“Ya sudah kalau gitu


saya tinggal ke dalam ya mbak, kalau butuh sesuatu ke sini saja!”


“Iya, terimakasih!”


Ibu itu meninggalkan


Nadin lagi, Nadin meletakkan tasnya di bangku kecil di teras.


"Tetangga yang ramah ....!" gumam Nadin.


Ia memilih duduk di lantai, menselonjorkan kakinya yang terasa begitu pegal, ia menyadarkan


kepalanya di atas tasnya, matanya mulai terpejam, entah kenap ia merasa begitu


mengantuk.


“Mbak …., mbak …, mbak ….!” Samar-samar seseorang memanggilnya, tapi matanya enggan untuk terbuka. Ia begitu mengantuk.


“Mbak …, mbak …, mbak …!” tapi suara itu semakin nyata, bahkan sekarang ia bisa merasakan juka pindaknya di tepuk beretapa kali, perlahan Nadin membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya, ia melihat di hadapannya ibu penjual rujak cingur tadi.


“kenapa ibu ini mengikutiku sampai ke sini, bukankah tadi aku sidah membayarnya?


“Mbak …, mbak …, bangun …, ayo masuk!”


“Hah …, kenapa dia memintaku untuk masuk?”


Nadin kembali mengerjapkan matanya, ia mengucek matanya berulang-ulang memastikan jika dia


sudah keluar dari alam mimpi, ia melihat sekelilingnya, ada gadis yang tadi


juga tapi sekarang tambah akan kecil laki-laki.


“Buk …, kenapa di sini? Saya tadi sudah membayar rujak cingurnya kan?” Tanya Nadin dengan polosnya,


tapi wanita penjual rujak cingur itu malah tersenyum.


“Sudah, kamu temannya Dini ya?”


“Kok ibu bisa tahu nama teman saya?”


“Saya budhenya!”


“Jadi ibu, bu Santi?”


Tanya Nadin lagi dan ibu penjual rujak cingur itu mengangguk.


“Kenapa nggak bilang


dari tadi bu, kalau tahu gini aku nggak perlu cari-cari rumah ibu kan!”


“kan tadi nak Nadin


nggak Tanya, ya sudah ayo masuk nggak enak kalau dilihat orang kita ngobrolnya


di luar!”


Mereka pun akhirnya


masuk,tidak terasa ternyata Nadin sudah tertidur sangat lama. mereka pun mengobrol,


Nadin mulai meminta ijin untuk menginap sementara di rumah itu sampai ia


mendapatkan tempat tinggal.


“Kak Nadin nggak pa pa


tinggal di sini saja, semau kakak!” gadis yang ternyata bernama Aisyah itu


begitu senang mendengar nadin hendak tinggal di tempat itu.


“Maaf aku tidak bisa


tinggal lama, tapi aku akan sangat senang jika ibu mau mencarikan aku tempat


tinggal yang dekat dari sini!”


“Ya sudah kalau itu


maunya nak Nadin ibu akan usahakan, kemarin ibu denger-denger rumah pak Rahman


mau di sewakan, jika cocok dengan harganya, nanti biar ibu tanyakan!”


“terimakash banyak bu,


nadin nggak tahu harus membalas dengan apa semua kebaikan ibu ini!”


“Nggak usah sungkan begitu, ibu ikhlas!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘