MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Kotak makan siang



Nadin merasa beruntung karena mendapatkan teman-teman baru yang baik. Nadin mencoba mencari keberadaan Davina, ternyata mereka tidak berada dalam devisi yang sama. Mereka berada di ruang yang terpisah, entah itu sebuah keberuntungan atau malah akan menjadi masalah di kemudian hari.


***


"Nadin ...., hentikan pekerjaanmu, kita lanjutkan nanti, sudah waktunya makan siang!" ajak Indah sambil merapikan meja kerjanya.


"Ayo .....!" ajaknya lagi sambil menghampiri Nadin.


"Maaf kak Indah, aku sudah membawa bekal dari rumah." ucap Nadin sambil menunjukkan kotak bekalnya pada Indah.


"Ok ...., baiklah kau tidak boleh menyia-nyiakan apa yang di siapkan oleh orang tuamu."


"Iya ...., ibuku sangat baik ...!"


"Kau tidak pa pa jika kami tinggal kan?" tanya Indah lagi memastikan dan Nadin pun mengangguk.


Semua teman satu ruangannya Nadin sudah meninggalkannya, Nadin sengaja tidak ikut ke kantin, bukan cuma untuk makan sendiri, tapi ia berencana untuk menemui Rendi.


Nadin segera beranjak dari duduknya, ia menuju ke lantai dua puluh satu. Tak masalah jika singa itu masih marah padanya.


"Ahh ...., Bu Vina tidak di tempatnya, aku rasa dia sedang makan siang." gumam Nadin saat mendapati meja sekertaris Rendi kosong, menjadi kesempatan baginya untuk maauk ke dalam ruangan itu.


Nadin pun segera masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata zonk, tak ada siapapun di ruangan ini.


"Kemana ya pak Rendi?" ucap Nadin sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Baiklah aku taruh di sini saja ....!" ucap Nadin sambil mencari sesuatu di meja kerja Rendi. Setelah beberapa detik akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah bolpoin dan secarik kertas. Nadin menuliskan sesuatu di atas kertas dan meletakkannya di atas kotak bekalnya.


Nadin tak mau berlama-lama berada di ruangan itu, ia tidak mau membuat semua orang curiga. Nadin keluar dari ruangan itu dengan cepat.


"Nadin ...!"


Suara seseorang mengagetkannya, membuatnya dengan cepat menoleh ke sumber suara.


"Kak Divta ....!"


"Hai girl ...., kita bertemu lagi, habis dari mana?" tanya Divta saat melihat Nadin berada di sebuah lift.


"Aku ..., aku dari ...!"


"Jangan takut girl, aku tidak akan memakanmu ...!" ucap Divta sambil berdiri berjejer dengan Nadin di dalam lift.


"Apa kau sudah makan?" tanya Divta.


"Sudah ....!" jawab Nadin singkat.


"Seharusnya belum, kita bisa makan bersama ....!"


"Nggak mau ...!"


"Jangan terlalu galak girl, kau tambah menggemaskan ....!"


Untung saja lift segera berhenti lantai ruangannya. pintu.lift terbuka, Nadin segera berlari keluar.


"Baiklah girl ....., sampai jumpa lagi."


***


Rendi yang baru saja ke luar dari ruang meeting di ikuti Vina sekertarisnya segera berjalan menuju ke ruangannya.


"Istirahatlah makan siang ....!" ucap Rendi pada Vina sebelum masuk ke dalam ruangannya.


"Baik pak, apa perlu saya pesankan makanan untu bapak?" tanya Vina.


"Tidak perlu ...., aku akan menghubungimu jika sudah membutuhkannya."


"Baik pak ....!"


Rendi pun segera masuk ke dalam ruangannya. Ia melepas jasnya dan meletakkan di sandaran kursi. Rendi meregangkan dasinya supaya lebih nyaman dan duduk di kursinya.


Matanya tertuju pada satu titik yang janggal di mejanya. Ia melihat ada sebuah kotak bekal warna pink dan di atasnya terdapat secarik kertas.


"Kotak makan?" ucap Rendi dengan penuh tanya, dahinya mengerut. Ia pun segera menganbil secarik kertas itu.


Dear my pacar


Aku bawakan makan siang ya my pacar ...., jangan lupa makan yang banyak. Cepat tersenyum ya my pacar. Maaf karena telah membuatmu marah ....❤️


Rendi tersenyum menatap kertas itu,


ting


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, menandakan ada pesan masuk ke ponselnya. Rendi pun segera mengambil ponsel yang sempat ia letakkan di atas meja.


*Anak kecil*


My pacar ...., jangan lupa makan ya ...., ingak aku saat kau memakannya ...., tersenyumlah ...., aku menunggu senyummu .... 😘😘😘😘💓


"Kelinci kecil itu telah membuatku seperti orang lain ...., dasar ....!" gerutu Rendi.


Kemudian matanya kembali pada kotak makan berwarna pink itu.


"Ini benar-benar memalukan ....!" ucap nya sambil mengambil kotak makan itu. Warna itu bukan dirinya, ia begitu membenci warna itu, tapi entah kenapa saat ini ia enggan menyingkirkannya dari hadapannya.


"Biar aku lihat isinya ....!" ucap Rendi sambil membuka tutupnya. Di dalamnya ada oseng wortel dengan sosis dan beberapa sayur yang lain dan nasi yang di bentuk hati. Rendi kembali tersenyum.


"Biar aku coba ...!" ucapnya sambil menyendok beberapa sayur dengan nasi, ia mengunyah perlahan.


"Enak .....!" ucapnya lagi. "Tapi sayang bukan masakannya."


Walaupun tetap dengan gerutunya, tapi kotak makan itu kini sudah kosong.


Tok tok tok


Rendi pun segera tergopoh membereskan mejanya. Tapi belum sempat ia menyembunyikan kotak makan itu, pintu sudah lebih dulu terbuka, pasti bukan Vina atau orang yang tidak berpengaruh karena belum Rendi mempersilahkan masuk, orang itu sudah masuk terlebih dulu. Kemungkinan salah satu dari mereka adalah Agra, nyonya Ratih, ayah Salman, dr. Frans atau Divta.


Dan benar saja salah satu dari mereka itu adalah ayah Salman. Rendi pun segera bangun dari duduknya. Ia menundukkan kepalanya memberi hormat.



"Selamat siang ayah, apa yang begitu penting hingga membuat ayah datang ke sini?" tanya Rendi.


"Apa kau tidak mempersilahkan aku duduk dulu?"


"Maaf ayah ...., silagkan duduk ....!"


Salman pun segera duduk tepat di hadapan Rendi.


"Ayah dengar Nadin magang di sini?"


"Iya ayah ...., hari ini hari pertamanya magang." ucap Rendi yang masih berdiri.


"Jangan terlalu kersa dengannya ...!"


"Maksud ayah?" tanya Rendi yang mencoba mencerna ucapan ayahnya.


"Ayah masih berharap banyak pada gadis itu."


"Maksud ayah, tentang rencana perjodohan itu?"


"Bukan perjodohan ...., tapi ayah mencoba mendekatkan kalian, kalian terlihat cocok."


Kenapa semua orang seakan memintaku menikahinya ....., pintar sekali ia menarik hati orang ....


"Jadi ayah ke sini hanya untuk membicarakan itu?"


"Ya ...., kebetulan nyonya besar sedang berkunjung ke sini ...., ya sudah ayah akan pergi tapi ingat ucapan ayah. Sangat sulit mencari yang terbaik, tapi yang baik untuk diri kita hanya kita yang tahu ....!"


Salman pun segera beranjak dari tempatnya, tapi saat hendak melangkahkan kakinya, lagi-lagi langkahnya terhenti karena melihat sesuatu yang aneh di meja kerja putranya.


"Kotak makan? Pink? Sejak kapan kau menyukai warna itu?" tanya Salman pada putranya.


"I-itu tadi ...., anu ...., itu ....!" Rendi begitu bingun untuk menjelaskan hal sederhana itu pada ayahnya.


"Baiklah ...., ayah tahu ...., selamat menikmati makan siangmu ....!" ucap Salman sambil senyum yang mengembang di bibirnya hingga menampakkan lesung pipi di kedua pipinya.


"Dasar anak bodoh ....!" gumam Salman sambil meninggalkan Rendi.


Setelah ayahnya keluar dari ruangan, barulah Rendi bisa bernafas lega.


***


Sore ini Rendi sudah berjalan beriringan dengan Agra, hendak menuju ke mobilnya.


"Aku akan pulang sendiri besama sopir dan beberapa bodyguard ..., sekarang kau bisa menghubungi Nadin." ucap Agra saat seorang berjas hitam itu sudah membukakan pintu untuknya.


"Baik pak. Hati-hati di jalan ....!"


Mobil yang di tumpangi Agra sudah melaju meninggalkan halaman kantor. Kini giliran Rendi menghubungi seseorang.


Dalam hitungan detik panggilannya sudah tersambung.


"Cepat aku tunggu di parkiran!" ucapnya singkat, mungkin jika bicara itu harus bayar, Rendi lah orang yang biaya bayar bicaranya paling sedikit.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Happy Reading 😘😘😘**