MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Hatiku panas



Davina begitu kesal mendengar kata-kata Nadin yang begitu berani, ingin rasanya menarik selimut Nadin dan menyeretnya keluar rumah, tapi apa dayanya ia tidak boleh melakukan hal itu jika tidak ingin ayah barunya melihat kejelekannya.


Kali ini aku berpikir untuk mengalah, tapi tidak untuk lain kali ...,, aku akan membalas keberanianmu ini dengan sesuatu yang lebih menyakitkan Nadin ......


****


Saat yang di tunggu-tunggu telah tiba, hari ini Nadin dan Davina pulang cepat dari kampus.


Nadin sudah bersiap di ruang keluarga bersama nenek Nani dan Dewi, mereka tinggal menunggu Davina yang belum selesai berdandan.


Tak berapa lama, tepat pukul dua siang, mobil jemputan mereka telah datang.


Davina segera menyusul semuanya yang sudah siap di teras rumah.


Waaah ....., mobinya bagus sekali ...., ini lebih bagus dari pada mobil kak Rendi ....


Davina begitu terkagum dengan mobil yang menjemput mereka. Davina lebih terkejut lagi saat melihat siapa yang turun dari dalam mobil itu.


Hahhh ...., bukankah itu cowok yang ketemu di kafe itu ....


Davuna mencoba mengingat siapa nama pria yang turun dari mobil itu.


Pak Divta ....., kenapa yang jemput dia ....?


Nadin tak kalah terkejutnya, ia sudah terbiasa yang selalu ia temui adalah pak Mun, tapi kali ini beda.


Nadine hanya menajamkan matanya ketika Iya melihat Divta turun dari mobil ia begitu terkejut Kenapa yang datang malah difta bukankah Agra memiliki sopir pribadi yang bernama Pak Munir.


"Selamat siang pak Roy ....!" sepatu Divta pada pak Roy.


"Selamat siang nak Divta ...., Kenapa yang menjemput anda, bukan yang lain ....!"


"Ini semua memang permintaan saya, Pak ...., kebetulan saya sedang tidak ada pekerjaan sehingga saya bisa menjemput keluarga anda" ucap Divta.


"saya jadi merasa tidak enak sama nak Divta, bagaimanapun nak Divta adalah tuan rumah di rumah besar itu." ucap pak Roy.


Waaah ..... sepertinya suami Ara itu orang yang sangat kaya dilihat dari mobilnya saja begitu bagus ....


"Jangan sungkan ....., bagaimana ...., kita bisa berangkat sekarang?" tanya Divta.


Mereka semua masuk ke dalam mobil MPV dengan kapasitas lebih dari tujuh orang itu di rancang begitu apik, mobil dengan warna hitam mengkilat, yang harganya di taksir lebih dari 500 juta.


Divta menatap Nadin dengan tatapan yang berbeda. Nadin yang mendapat tatapan itu hanya bisa tersenyum kikuk.


"Bisa duduk di depan bersamaku?" tanya Divta pada Nadin. Nadin pun hanya bisa menatap ayahnya, ayahnya memberi anggukan tanda mengijinkan.


"Tapi bukankah kak Davina nggak terbiasa ya duduk di belakang, jadi lebih baik kak Davina saja yang di depan!" ucap Nadin memberi alasan.


Apa-apa sih Nadin ini ....., aku nggak suka deh dia ngatur-ngatur aku .....


"Hari ini kayaknya aku lagi pengen duduk sama nenek deh ......, iya kan Nek?" ucap Davina sambil meraih tangan neneknya.


Davina pun segera masuk ke dalam mobil, dan duduk bersama neneknya di kursi yang bagian tengah, sedangkan ayah Roy duduk bersama Ibu Dewi di kursi bagian belakang sendiri.


I**ni adalah kesempatan bagus buat aku mengerjai anak itu lagi ......!


Davina tersenyum licik menatap Nadin, Nadin pun mau tak mau menuruti permintaan Divta, sebenarnya Nadine sangat malas untuk duduk bersanding dengan Divta tapi mau bagaimana lagi tak ada tempat lagi untuknya selain duduk di samping Divta.


Lagi-lagi masalah Nadin tetaplah sama iya kesulitan memakai sethbeltnya, Divta yang menyadarinya segera mencondongkan tubuhnya hingga menepis jarak diantara divta dan Nadin.


"Hah ...., apa yang pak Divta mau lakukin ....?" tanya Nadin yang terkejut dan segera memundurkan tubuhnya.


Ini kesempatan bagus buat aku racunin pikirannya Kak Rendi ....., untung saja waktu itu aku sempat menyimpan nomornya Kak Rendi .


Aku akan mengirimkan Foto ini pada Kak Rendi .....


Davina segera mengarahkan kamera ponselnya pada Divta dan Nadin dan mengambil gambarnya, tampak dari belakang mereka seperti sedang berpelukan.


Setelah mendapatkan enggel yang pas Davina pun segera mengirimkan foto hasil jepretannya itu pada kontak Rendi.


"Aku hanya ingin membantumu memasangkannya ....!" ucap Divta santai. Divta suka melihat wajah panik Nadin.


"Nggak perlu ..,., aku bisa sendiri ....!" ucap Nadin sambil mendorong tubuh Divta hingga menciptakan jarak di antara mereka.


"Baguslah ...., pakai yang benar .....!" ucap Divta lalu segera menyalakan mesin mobilnya. Ia hanya terus tersenyum karena telah berhasil mengerjai Nadin.


Dia lucu sekali kalau sedang panik ....


****


Siang itu Rendi baru saja menyelesaikan meetingnya, ia bersama Vina baru saja keluar dari ruang meeting.


"Istirahatlah makan siang .....!" ucap Rendi pada Vina asistennya.


"Baik pak ...!" ucap Vina sambik menundukkan kepalanya.


Rendi pun segera kembali memasuki ruangannya, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti karena benda pipi yang berada di saku jasnya tiba-tiba berbunyi, menandakan bahwa ada notifikasi pesan masuk dari ponselnya.


Rendy pun segera menaruh laptop dan bekasnya di meja kerjanya setelah itu ia mengambil benda pipi itu dari dalam saku jasnya, ia melihat ada nomor baru dalam notifikasi pesannya.


"Ini nomor siapa?" gumam Rendi, akhirnya ia mengabaikan pesan itu. Awalnya ia enggan untuk membukanya tapi setelah melihat ada foto yang dikirim dari nomor baru itu rasa penasarannya mengalahkan sikap dinginnya.


Ia memilih duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya, ia mulai membuka pesan itu dan betapa terkejutnya saat melihat gambar dalam foto itu.


Gadis itu ...., bisa-bisa nya dia melakukan itu ...., Divta?


Entah kenapa saat melihat gambar itu rasa kesalnya kembali datang ia tidak rela jika gadis itu berdekatan dengan pria lain, tapi dia juga tidak mau berurusan dengan gadis kecil itu. Rasanya perasaannya begitu membingungkan.


Rendy pun berusaha mengabaikan pesan itu Iya mengalihkan pikirannya dengan mengerjakan berbagai hal termasuk mengikuti berbagai meeting tapi nyatanya pikirannya tetap tertuju pada foto itu, entah kenapa ia tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Foto itu seakan-akan melayang di udara.


"Gila ...., apa aku sudah gila. .... ,apa ini gara-gara semalam aku terlalu banyak minum ....?" ucap Rendi sambil mengacak-acak rambut nya yang tak pernah berantakan. Ia terlihat begitu kacau.


"Mungkin aku butuh istirahat ...., aku harus pulang ....!"


Rendi pun segera mengenakan kembali jasnya, tak lupa ia juga menghubungi sekertarisnya, ia menyuruh sekertaris nya untuk menjadwal ulang meeting yang belum terlaksana.


Ia pun segera menuju ke mobilnya, wajahnya tampak sekali jika ia sedang bqnyak masalah.


"Selamat sore pak .....!" sapa anak buahnya sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Ambilkan mobilku ...!" perintah Rendi sambil menyerahkan kunci mobilnya. Anak buah dengan tanda pengenal Finity Group lengan kirinya pun segera mengambilnya dan mengambil mobil Rendi yang masih berada di parkiran. Rendi kembali sibuk dengan i-pad nya, ia mengecek semua pekerjaannya kembali. Tak berapa lama Mobil sudah berada di hadapannya.


"Silahkan pak ....!" Anak buahnya itu segera membukakan pintu untuk Rendi.


"Antar aku pulang ....!" ucap Rendi memberi perintah.


"Baik pak ....!" akhirnya anak buahnya ikut masuk kembali ke dalam mobil,


Awalnya ia akan langsung kembali ke apartemen nya, tapi lagi-lagi foto itu berhasil menguasai pikirannya. Setiap kali melihat benda pipih itu, ia merasakan hatinya terbakar.


"Putar balik ....., kita ke rumah pak Agra ....!" ucap Rendi tiba-tiba.


"Baik pak ....!"


Setelah sampai di tengah perjalan Rendi meminta memutar balik mobilnya, dengan cepat anak buahnya memutar arah. Ia tak ingin kena marah oleh Rendi yang terlihat kacau.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Happy Reading 😘😘😘😘**