MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Tiga bulan



Dengan tanpa memberi perlawanan Nadin pun segera mengambil botol itu, dan mengusap pergelangan tangannya dengan hand sanitizer.


Setelah selesai mencuci tangannya dengan hand sanitizer, ia pun menyerahkan kembali botol itu pada Rendi.


"Simpan saja ...., dan jangan sampai siapapun melakukan hal itu ..!" ucap Rendi, ia pun segera memggandeng tangan Nadin.


"Apa itu artinya kita berpacaran?" tanya Nadin, entah dari mana ia dapat ide menanyakan pertanyaan bodoh itu.


Pertanyaan Nadin membuat Rendi kembali menghentikan langkahnya. Ia terdiam pikirannya melayang pada perkataan dr. Frans dan psikiater itu.


Aku rasa ini kesempatan yang tepat untuk membuktikan omongan mereka ....., aku akan mengirim Frans ke bulan kalau ucapannya tidak terbukti ....


"Maaf pak ...., anggap saja aku tidak bicara apa-apa ya ....!" ucap Nadin, ia takut jika sampai membuat Rendi kembali marah.


Rendi menatap Nadin, entah kenapa saat menatap mata Nadin, hatinya kembali menghangat, tapi saat menyadari itu, ia segera mengalihkan pandangannya.


"Aku menganggap kau mengatakannya ...., baiklah ..., aku beri waktu tiga bulan untukmu membuat aku jatuh cinta." ucap Rendi, ia melepaskan tangan Nadin dan kembali menyakukan kedua tangannya, menatap ke sembarang arah.


Mendengar perkataan Rendi, tentu membuat hati Nadin berbunga-bunga, ia tidak menyangka perkataan bodohnya berbuah manis.


Benarkah ini ...., aku tidak salah dengar? Pak Rendi menerima cintaku? Bisa nggak sih kata-kata nya nggak usah ambigu pak ....?


Tapi kemudian dia teringat pada kata tiga bulan, apa maksud memberi waktu tiga bulan?


Apa yang di maksud pak Rendi dengan tiga bulan, apa setelah itu kita tidak lagi berhubungan?


"Tiga bulan?" tanya Nadin, ia begitu penasaran dengan kata tiga bulan yang menjadi persyaratan Rendi.


Bukankah tiga bulan itu waktu yang singkat?


Rendi kembali menatap Nadin, dan memastikan sesuatu dari mata Nadin, ia mencoba mencari keraguan di sana, tapi tak menemukannya.


"Iya kenapa? nggak sanggup?" tanya Rendi kembali meyakinkan Nadin.


"Sanggup ..., sanggup ....!" ucap Nadin mantap. Menurutnya ini adalah kesempatan bagus walau hanya dalam waktu tiga bulan, setidaknya hari demi hari hubungan mereka semakin meningkat. Untuk tiga bulan ke depan ia akan memikirkannya nanti, yang paling penting adalah saat ini.


"Ok ...., anggap kita berpacaran."


Yes ...., yes ....., akhirnya kita berpacaran ...., pak Rendi mai berpacaran denganku.


Batin Nadin kegirangan mendengar kata anggap kita berpacaran ...., tentu saja.


"Hingga tiga bulan ke depan." ucap Rendi lagi, ia menyadari saat ini Nadin sedang tersenyum kegirangan.


Seketika ucapan tiga bulan mampu membuat senyum Nadin meredup.


"Setelah itu?" tanya Nadin.


"Setelah itu, jika kamu berhasil membuat saya jatuh cinta, maka kita akan menikah."


Apa ....? Apa aku tidak salah dengar ...., kita akan menikah ...., saya akan jadi nyonya Rendi.


"Menikah?" tanya Nadin memastikan, ia tak percaya Rendi mengatakan hal itu. Bahkan selama mengejar cinta Rendi sudah lebih dari satu tahun ini, tak terpikirkan olehnya tentang pernikahan.


"Iya ...., kenapa? Aku bukan lagi anak ABG yang hanya melakukan hubungan tanpa ikatan yang tidak jelas."


"Baik ....., aku sanggup." jawab Nadin dengan sangat mantap, ia benar-benar tidak meragukan jawabannya.


"Tapi jika tidak?" tanya Nadin penasaran.


"Jauh-jauh dari kebidupanku, jangan menggangguku lagi ....!"


"Memang aku pengganggu apa?" gumam Nadin.


"Bagaimana? Apa masih sanggup?"


"Baiklah ....., aku setuju ...!"


"Tapi ada syarat satu lagi." ucap Rendi lagi.


Hah ...., masih ada syarat lagi .....


"Apa itu?" tanya Nadin dengan wajah kecewanya. Ia sudah berharap banyak tana banyak syarat. Tapi yang namanya Rendi si balok es tetaplah sedingin kulkas.


"Jangan sampai ada yang tahu tentang kesepakatan kita ini." ucap Rendi dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Nadin dengan suara yang sedikit berbisik.


Hah ....., yang mana maksudnya ...., tentang tiga bulan atau menikah atau pacaran?


"Yang mana yang harus Nadin sembunyikan?" tanya Nadin.


"Semuanya ...!"


"Ya ...., aku tidak mau ada yang tahu kecuali kita berdua."


Hahhh ...., padahal aku sudah ingin memamerkan pada semua orang jika sekarang aku pacar pak Rendi, manusia super dingin ini ....., ahhhh ....., ternyata gagal.


"Kenapa?" tanya Nadin memelas, ia tak begitu terima dengan persyaratan yang terakhir.


"Terserah ......, kalau kau sanggup kita lanjutkan kesepakatan kita, jika tidak maka lupakan dan jauh-jauh dari saya ...!"


"Baiklah ...., aku sanggup. Hanya kita berdua ...!"


"Pacaran kok kesepakatan sih ...., dasar balok es ...., bisa nggak sih iklas dari hati, satu kali saja nggak usah ada kesepakatan ....!" gerutu Nadin sambil masuk kembali ke dalam mobil bersama Rendi.


"Kita kemana pak?" tanya pria berjas hitam itu.


"Kembali ke rumah tuan Agra."


"Baik pak!"


Rendi pun mengantar Nadin kembali ke rumah Agra. Di sana semua orang sudah menanti.


***


POV Nadin


Aku senang saat pak Rendi bilang jika kita pacaran, sebenarnya pertanyaanku bukan sesuatu yang aku harapkan terlalu banyak jawabannya.


Tapi aku tahu pak Rendi tetaplah pak Rendi, dia bukan orang yang dengan mudah mengatakan jika aku cinta, atau aku sayang.


Pak Rendi menggandeng tanganku kembali masuk ke dalam mobil, dia mengantarku kembali ke rumah kakak.


Aku hanya bisa diam, pria itu sibuk dengan layar ponselnya, sebenarnya ingin sekali bicara banyak, tapi bagaimana caraku bicara, jika dia tidak melihatku. Mungkin inilah yang di manakan pacaran rasa es batu, dingin dan hambar, tapi jangan khawatir, semua itu butuh pelengkap, aku akan jadi sirupnya supaya rasanya menjadi manis.


Kami sampai di rumah kak Ara, pria berjas hitam di depan sudah menghentikan mobilnya. Aku bingung harus memulai dari mana, apakah aku turun dulu? Atau aku menunggunya turun? Kenapa dia tetap sibuk dengan layar ponselnya?


"Apa kau tidak ingin turun?"


Tentu pertanyaan itu membuatku kembali geram, tapi apa yang aku lakukan, aku malah tersenyum padanya. Jika itu orang lain mungkin aku akan memakinya ....


"Iya aku akan turun." ucapku sambil tanganku hendak meraih handle pintu mobil. Saat aku bersamanya aku benar-benar seperti kerbau yang di cocol hidungnya. Aku begitu lemah.


"Tunggu ....!"


Ada apa ini apa dia akan membukakan pintu untukku, seperyi di drama-drama romantis. Pak Rendi turun, aku menunggunya ...., aku benar-benar menunggunya ya ....


Tok tok tok


Ada yang mengetuk kaca sebelahku, saat aku menoleh, ternyata pangeranku. Aku pun menurunkan kaca mobil di sebelahku. Dahiku mengerut, aku bingung, apa begini cara yang benar? Sebelum membukakan pintu, si pria akan meminta si cewek membuka kaca dulu?


Cletuk


"Augh ....!" aku memegangi keningku yang nyeri karena sentilan dari jarinya yang keras, sungguh jarinya begitu keras.


"Apa kau akan terus di situ? keluar!"


Astaga ...., aku salah lagi, aku lupa jika kini pacarku balok es, hah ...., pacar .... kata itu masih begitu asing buatku.


"Apa pak Rendi tidak ingin membukakannya untukku?" tanyaku sambil mengarahkan mataku ke pintu mobil, dia menautkan alisnya..., ah aku pasti salah bicara lagi.



"Apa tanganmu tidak berfungsi dengan baik, hingga membutuhkan bantuan ....?"


Tuh iya kan ...., aku salah lagi, aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal, bagaimana caraku menjelaskan pada balok es ini, dia sungguh menggelikan.


"Baiklah ...., aku turun sendiri ...!"


Aku begitu kesal, aku pun membuka pintu mobil dengan keras hingga daun pintu membentur tubuh kekarnya. Dia sudah melotot padaku, aki tidak peduli. Aku segera berlalu meninggalkannya, aku berjalan terlebih dulu, saat aku sampai di depan pintu, ku lihat pak Rendi sedang memegangi kakinya, dia pasti kesakitan. Biarlah itu sedikit balasan dariku karena telah membuatku kesal.


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


jangan lupa kasih vote juga ya ....


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘😘