MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
kamu bukan daddynya



Surabaya


Nadin sudah kembali dengan aktifitasnya bekerja,


perutnya juga semakin besar. Tapi perut besarnya tidak menjadi halangan baginya


untuk tetap bekerja, walaupun uang yang ia ambil dari tabungan Rendi masih


cukup untuknya sampai anaknya dewasa tapi nadin tidak mau hanya mengandalkan


uang itu.


 Alex sangat


siaga menjaga Nadin, dia bahkan rela tengah malam untuk datang Cuma untuk


menuruti nyidamnya Nadin, nadin benar-benar tidak tahu waktu kalau sedang


nyidam, ia sering meminta yang aneh-aneh, bahkan ia meminta durian saat bukan


musim durian.


Kadang Nadin meminta Alex untuk memakan makanan yang


sangat tidak di sukai oleh Alex, tapi demi anak dalam kandungan Nadin Alex


memakannya juga.


“Baik-baik ya nak di dalam, kalau sudah keluar awas


saja kalau masih mengerjai daddy!”


“Enak aja, Deddy deddy, kamu itu bukan deddynya!”


“aku memang bukan yang membuatnya, tapi akau yang


selalu ada saat dia butuh apa bedanya coba!”


Alex sekarang sudah benar-benar menjadi pria


dewasa, ia sudah benar-benar berubah menjadi pria baik yang penuh tanggung


jawab.


Nadin merenggangkan otot-ototnya setelah seharian


menyelesaikan pekerjaannya. Pekerjaannya begitu banyak hari ini.


“Uhhhh …, akhirnya selesai juga, nak baik-baik ya di dalam!” Nadin mengelus perut buncitnya, ia dapat merasakan tendangan dari


perutnya, Nadin kembali tersenyum.


“Senang ya …, di ajak kerja sama bunda?”


Alex yang sedari tadi memperhatikan karyawan


istimewanya itu segera mendekat.


“Sudah selesai?” Tanya Alex, ia menyandarkan dagunya


di pembatas ruang milik Nadin.


“Iya!”


“Ya sudah ayo aku antar kalian pulang!”


“Kalian?”


“Ya …, kamu sama si bandel itu!” ucap Alex sambil


menunjuk perut buncit Nadin.


Mereka pun akhirnya pulang bersama, sudah menjadi


kebiasaan Alex mengantar dan menjeput Nadin setiap berangkat dan pulang kerja.


“Mau makan apa sekarang?” Tanya Alex saat mobilnya


melintas di depan rumah makan, ia tahu jika saat ini pasti Nadin sedang lapar.


Wanita itu jadi susah untuk menahan lapar, nafsu makannya meningkat dua kali


lipat semenjak hamil.


“Kenapa setiap kali ketemu sama aku bawaannya cuma


nawarin makanan!” protes Nadin


“Abis kau setiap kali makan seperti sedang


kerasukan! Ayo kita makan dulu!” Alex menghentikan mobilnya di salah satu


kedai makanan dengan berbagai varian, Alex tidak pernah mengajak Nadin untuk


makan di restauran seafood walaupun dia sangat suka dengan seafood, karena dia


tahu jika Nadin alergi seafood.


“Aku mau makan urap-urap, sayur lodeh telur balado sama ayam bumbu kecap!’


“Semuanya?” tanya Alex tak percaya.


“Iya …., aku lapar sekali!”


Kini usia kandungan Nadin sudah menginjak tujuh


bulan tinggal nunggu dua bulan lagi Nadin akan melahirkan.


“Kamu kapan rencananya akan cuti?”


“Kenapa nggak boleh ya kerja di perusahaan kamu?”


“Bukan begitu, aku tuh kasihan liat kamu dengan


perut besar mu itu!”


“Gini-gini aku masih kaut tahu …!”


“kapan waktu kontrol kehamilannya, biar aku antar ya!”


“besok sih, tapi kan besok ada meeting penting, jadi nggak usahlah aku sama Aisyah aja!”


“Jangan khawatir, semua bisa di atur!”


Setelah makan, Alex mengantar Nadin pulang, rasanya


tidak tega membiarkan Nadin sendiri.


“Sudah aku masuk, jangan sering-sering ke sini,


nanti di kira kamu suami aku!” Nadin memberi peringatan pada Alex, selalu


setiap hari setiap kali mereka BERTEMU, TAPI SEPERTINYA PERINGATAN Nadin Tidak


berpengaruh pada pria arogan itu.


pemeriksaan kehamilan. Kini ia harus memeriksakan kehamilannya setiap dua


moinggu sekali karena sudah trimester ke tiga, menjelang melahirkan.


“kak …, Aisyah temenin ya!” gadis berhijab itu kini


sudah lulus sma, dia sudah mulai kuliah semester satu, dia juga bekerja partime


di sebuah minimarket selain membantu ibunya, keluarganya bukan keluarga yang


berkecukupan, masih ada adik laki-lakinya yang harus sekolah.


Adik laki-lakinya


masih menginjak baku smp, masih butuh biaya banyak untuk sekolahnya, sebenarnya


ia tidak memaksakan untuk kuliah, tapi karena mendapat biasiswa, ibunya memaksa


untuk melanjutkan kuliah.


“kamu nggak kuliah, Ais?”


Ais adalah panggilan akrab untuk gadis itu, ia lebih


suka di panggil Ais dari pada Syah atau lainnya. Gadis itu begitu imut untuk


gadis seusianya, dia lebih terlihat seperti gadis smp. Tidak ada yang menyangka


kalau dia sudah kuliah.


“Nggak kak, hari ini Ais libur, jadi Ais bisa temeni kakak buat periksa kehamilan!”


“baiklah …., tapi nunggu Alex dulu ya!’


Mendengar nama Alex, entah kenapa Nadin merasa, wajah Aisyah berubah menjadi cemas.


“Sama dia juga kak?”


“Nggak pa pa kan? Dia maksa soalnya!’


“Nggak, nggak pa pa kok kak! Sini aku bawakan


tasnya, kita tunggu di luar saja kak!”


Mereka pun menunggu di luar rumah, Nadin sudah


terbatas dalam geraknya, ia tidak lagi selincah dulu. Bahkan untuk duduk pun


dia harus hati-hati sambil memegangi perutnya yang besar serta pinggangnya.


“Hati-hati kak!” aisyah membatu Nadin untuk duduk.


Tak berapa lama mereka menunggu, sebuah mobil


berwarna hitam berhenti tepat di depan rumahnya. Itu mobil milik Alex situan


arogan. Pria itu keluar dari mobil dan sedikit berlari menghampiri Nadin dan


Aisyah.


“Hai …, sudah siap untuk berangkat?”


“Tentu!”


Pria itu membatu Nadin untuk berdiri, begitu pun


dengan Aisyah. Mereka membawa Nadin ke mobil. Nadin memilih untuk duduk di


belakang, dan meminta Aisyah untuk duduk di depan dengan Alex, awalnya ia


menolak tapi sepertinya pria itu tidak suka.


“Duduk di depan!” perintah Alex pada Aisyah.


“Tidak tuan, saya di belakang saja dengan kak


Nadin!” tolak Aisyah.


“Kamu piker saya sopir!” ucap Alex dengan nada


tajamnya. Membuat Aisyah terpaksa duduk di samping pria arogan itu. Sepanjang


perjalanan hanya Nadin yang terus bicara, tapi dua orang di depannya hanya


setia menjadi pendengar dan sesekali menimpali.


Akhirnya mereka pun sampai juga di sebuah rumah


sakit tempat Nadin biasa melakukan pemeriksaan, ia tidak harus antri terlalu


lama karena sebelumnya nadin telah membuat janji.


“Kak …, apa aku boleh ikut masuk?” Tanya aisyah


sebelum nama Nadin di panggil.


“Tidak, biar aku saja yang masuk!” Alex segera


menyambar ucapan Aisyah, membuat aisyah seketika membungkam.


Nadin menatap mereka berdua,


“kenapa jadi kalian yang ribut, yang mau periksa kehamilan aku!”


“Ya udah kak, biar tuan Alex saja yang masuk!”


Aisyah lebih memilih untuk mengalah.


“Nggak …, itu namanya tidak adil!”


“Lalu …?” Tanya Alex dan Aisyah bersamaan.


“Kalian berdua tunggu di sini, biaraku yang masuk!”


“mana bisa seperti itu?’ protes Alex.


“Bisa …, aku yang hamil, jadi jangan protes, tetap


di sini bersama Aisyah!”


Nadin pun akhirnya masuk seorang diri dan membiarkan


dua orang itu menunggunya di luar.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘