MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Aturan baru



Setelah mengatakan hal itu, Rendi pun kembali menjauhkan tubuhnya. Nadin segera membuka matanya saat tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


"Cuma itu?" tanya Nadin setelah Rendi kembali duduk.


Padahal aku sudah berharap dia akan mencium ku .....


Mungkin wajah kecewa Nadin terlihat jelas. Membuat Rendi kembali mendekatkan dirinya ke wajah Nadin.


"Ha ha ha ...., aku tidak mengatakan apa pun!" ucap Nadin sedikit takut.


Rendi malah semakin mendekatkan wajahnya, membuat Nadin segera membungkam mulutnya sendiri agar tidak berkata apa-apa lagi.


"Kenapa?" tanya Rendi.


"Tidak ....!" ucap Nadin dengan ucapan yang tertahan di tenggorokan, ia menggelengkan kepalanya.


Sebenarnya apa yang dia lakukan, mau marah atau mau apa?


"Ada apa?" Tanya Nadin sambil mengangkat bahunya tak mengerti. Tapi lagi-lagi Rendi tak menjawabnya, ia terus mendekatkan tubuhnya ke Nadin, hingga tubuh Nadin berada dalam kungkungannya, membuat Nadin, jantungnya berdetak begitu kencang.


Nadin kembali memejamkan matanya, berharap yang sama, untuk kedua kalinya.


Dan ternyata, Rendi hanya ingin mengambil buket bunga yang di berikan oleh Divta tadi, yang berada di sisi lain tempat tidur, sehingga kesannya Rendi hendak memeluk Nadin.


Srekkkk


Nadin segera membuka matanya saat sadar Rendi sudah tak berada dekatnya lagi.


"Bunganya jelek, di buang saja!" Ucap Rendi singkat sambil melempar bunga itu ke tempat sampah yang berada di pojok ruangan.


"Kenapa di buang pak bunganya?, kan sayang!" ucap Nadin tak mengerti.


"Aku akan belikan yang lebih bagus!"


"Tapi itu juga bagus, bunganya terlihat mahal!"


"Aku tidak suka kamu menerima apapun lagi dari pria lain, mengerti!"


Aturan dari mana lagi itu ....


"Baik ...., mas!" ucap Nadin menekankan kata mas membuat Rendi megerutkan keningnya.


"Aku boleh kan panggil mas ....?" tanya Nadin sambil tersenyum.


"Terserah kau saja!"


"Yes ...., yes ....,yes ....!"


"Sudah tidurlah ...., aku juga mau tidur!" ucap Rendi sambil berjalan kembali ke sofa, ia segera merebahkan badannya yang masih terasa sakit.


***


Ayah Roy dan ibu Dewi sudah kembali ke rumah, mereka cukup lega dengan keputusan yang mereka ambil, setidaknya putrinya akan hidup dengan pria yang baik dan bertanggung jawab.


Ayah Roy sebenarnya juga sangat menyukai Rendi, ia tidak menyangka jika dengan jalan seperti ini putrinya akan menikah.


"Terimakasih ya pak, mampir dulu!" ucap ayah Roy menawari anak buah Rendi untuk singgah sebentar.


"Sama-sama pak, Terimakasih tapi saya langsung pulang saja, takut pak Rendi menunggu!"


"Ya sudah hati-hati ya pak!" ucap ayah Roy sambil melambaikan tangannya.


Davina yang melihat ayah dan ibunya pulang segera menghampiri mereka.


"Ayah ...., Ibu ....., Kalian sudah pulang!" Sapa Davina sambil menyambut kedatangan mereka.


"Iya nak!" ucap ayah Roy sambil mengusap kepala putri sambungnya itu.


"Maaf ya yah, Bu ...., Davina tidak bisa ikut jenguk Nadin, Davina soalnya banyak banget pekerjaan tadi! Bagaimana keadaannya Nadin?" tanya Davina berbasa-basi.


"Iya nggak pa pa nak, lagian besok Nadin juga sudah diperbolehkan pulang!" Ucap ayah Roy sambil mengusap kepala Davina dengan lembut.


"Syukurlah ...., Kalau begitu besok aku ikut jemput ya!" ucap Nadin, ia tidak mau terlihat begitu jelek dengan tidak mempedulikan keadaan Nadin.


"Nggak usah sayang, Nadin sudah ada yang jemput sendiri!" ucap ibu Dewi yang ikut bicara.


"Yang jemput, siapa?" tanya Davina penasaran.


"Suaminya!" ucap ayah Roy.


"Hah ...., suaminya? Nadin menikah, dengan siapa? Kapan?" tanya Davina yang begitu terkejut sekaligus penasaran.


"Baiklah ...., Davina ke kamar dulu ya, besok janji ya sama Davina, ayah cerita!"


"Iya sayang, maaf ya ...., soalnya ayah capek banget hari ini!"


"Iya yah nggak pa pa, Davina ngerti kok!"


"Iya sayang ....., Selamat malam!"


"Selamat malam ayah ...., Ibu ....!"


"Malam sayang ....!"


Davina segera masuk kembali ke kamar, ia merebahkan tubuhnya. Rasa penasarannya begitu besar hingga membuatnya tak bisa tidur. Ia benar-benar ingin tahu siapa yang sudah menikah dengan Nadin.


"Siapa yang menikah dengan Nadin, apa pak Rendi?"


"Ahhhh ...., nggak mungkin ...., jangan dong ....!"


"Lalu siapa, apa pak Divta?"


"Tapi kan Nadin benci banget sama pak Divta, apa pria yang sering mengajak Nadin keluar itu, siapa ya namanya? aku lupa ....!"


"Apa aku telpon pak Rendi aja ya?"


"Tapi apa dia mau mengangkat telponku, apa aku telpon Nadin ya, ya sepertinya aku telpon Nadin saja dan menanyakan langsung padanya."


Davina pun segera mencari keberadaan ponselnya, ia mencari-cari kontak Nadin di ponselnya.


***


Di rumah sakit itu, Nadin sudah mulai memejamkan matanya, ia sudah tertidur pulas. Saat ponselnya berdering. Sepertinya Nadin begitu capek hingga membuatnya tak mendengar deringan ponselnya.


Rendi yang masih tak bisa tidur begitu terganggu dengan suara dering ponsel Nadin, ia pun dengan pelan berjalan menghampiri ponsel Nadin.


#Davina#


Ya ada nama Davina dalam panggilan itu, Rendi enggan untuk mengangkatnya hingga penggilan itu berhenti, tapi saat hendak di letakkan kembali, ponsel itu kembali berdering.


"Apa dia ini tidak tahu waktu, hingga malam-malam begini menelpon!" gerutu Rendi. Ia pun menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.


"Nadiiin ......!" teriak seseorang dari sebrang sana.


Apa-apaan sih dia seperti orang gila saja berteriak-teriak di telpon


Rendi pun dengan reflek menjauhkan ponsel Nadin dari daun telinganya.


"Nadin, kau dengar aku, kata ayah hari ini kau sudah menikah, dengan siapa? apa dengan cowok yang sering ke rumah dan ngajak kamu jalan itu? Kalau sama dia selamat deh aku seneng, jadi aku nggak ada saingan buat ngedapetin pak Rendi, dan ingat aku nggak suka kamu dekat-dekat dengan dia!"


Apa gadis ini mengancam Nadin, beraninya dia


"Nadin ...., kau masih di sana kan, ayo jawab aku!"


Saat Rendi hendak menjawabnya, tiba-tiba ponsel Nadin mati, baterainya habis.


"Aghh ...., dia ceroboh sekali, kenapa ponsel sampai kehabisan baterai seperti ini!" gumam Rendi sambil mencari-cari charger. Setelah menemukannya Rendi pun menghubungkan charger ke stok kontak.


Saat ingin kembali ke tempatnya, langkahnya terhenti. ia teringat pada perkataan Davina tadi.


Rendi berbalik menatap wajah yang tenang itu, walaupun dalam gelap tapi ia masih bisa melihat wajah itu.


"Siapa pria itu? Kenapa Davina tidak mengenalnya? Bukan aku ataupun Divta, lalu siapa?"


Rendi pun mendekat pada wajah itu, tangannya tertarik untuk sekedar menyentuhnya, tangannya dengan pelan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Nadin.


"Kenapa sulit sekali memahami mu, mungkin setelah ini akan berat, tapi bersamamu akan menjadi lebih mudah, tetaplah bersabar di sampingku."


Rendi pun mengecup kening Nadin pelan, setelah itu ia segera kembali lagi ke tempatnya, ia tidak mau membuat Nadin terbangun karena ulahnya.


BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘