MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Masih lama .,...



     Mereka menuju ke mobil. Ya mobil dr.


Frans dan Rendi sudah berjejer. Nenek Nani pak Roy, Dewi sudah bersiap-siap


masuk mobil dr. frans. Sedangkan Nadin, Davina dan Salman bersama mobil Rendi.


Mobil dr. Frans sudah melaju lebih dulu. Sekarang giliran mobil


Rendi, saat Nadin hendak masuk mobil Rendi di samping kemudi. Langkahnya


terhenti karena seseorang memegang tangannya. Seketika Nadin menghentikan langkahnya, ia menoleh dan ternyata seseorang itu adalah Davina.


“Nadin ...” ucap Davina dengan wajah memelasnya. Tangannya memegang lengan kiri Nadin.


“Iya kak?” tanya Nadin.


“Bolehkah aku di depan, soalnya aku tidak terbiasa naik mobil, jika


di belakan aku bisa mabuk perjalanan.” Ucap Davina memelas.


aaahhh ...., kenapa terjadi lagi ...., eunghuh sulit sekali hanya untuk bisa berdekatang dengannya saja.


“Baiklah ..., kak Vina di depan saja, biar aku di belakang.”


Akhirnya Nadin mengurungkan niatnya untuk duduk di depan, ia kembali turun dan


membuka pintu belakang. Ia duduk berdampingan dengan Salman, sedangkan Davina


duduk dengan Rendi di samping Rendi.


Rendi menoleh ke belakang, entah kenapa ia tidak suka dengan apa yang di lakukan Nadin.


Bisa-bisa nya kau melakukan ini .....


Setelah semuanya masuk, Rendi pun menyalakan mesin mobilnya, dengan


perlahan mobil mulai melaju meninggalkan bandara. Wlau dengan kesal, ia terus menatap Nadin yang duduk di belakang.


"Kak Rendi ....?"


"Iya ...."


"Kak Rendi kata ayah sangat keren lo ..."


"Biasa aja ..."


"Nggak ..., ayah bilang kak Rendi yang selalu berada di belakang kak Agra dan kak Ara, menjadi tameng bagi mereka, aku salut buat kak Rendi."


"Kamu terlalu memuji ..." ucap Rendi dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Nggak kok, itu kenyataannya. ya saat aku melihat kak Rendi pertama kali, aku langsung bisa mengenalimu ...., kakak berbeda."


Nadin sesekali hanya menatap ke depan. Davina tak hentinya mengajak


Rendi berbicara, kadang melontarkan candaan, tak jarang Rendi mengeluarkan


senyumnya. Senyum yang sangat jarang ia dapat dari pria di depannya itu.


Kenapa dia bisa tersenyum saat dengan kak Davina?


Nadin terus menatap ke depan ...., ia meremas tali tasnya, jika tali itu bisa protes pasti akan protes.


Hati Nadin sakit mengetahui kenyataan bahwa Rendi lebih suka mengobrol dengan Davina di banding dengannya.


Sepertinya Salman yang


berada di sampingnya menyadari hal itu. Salman sesekali mengajak Nadin


berbicara agar mengalihkan perhatiannya.


“Bagaimana dengan kuliahmu nak, lancar ...?”


“Ehm ...” Nadin perlu menetralkan suaranya hanya untuk bisa


menjawab peetanyaan Salman. “Alhamdulillah paman ..., semuanya lancar. Bulan


depan kami juga akan segera di tugaskan untuk magang.”


“Berarti sebentar lagi lulus ya ...?” tanya Salman.


“Masih satu setengah tahun lagi paman ...” ucap Nadin dengan senyum yang tampak sekali di paksakan. Ya ...., Nadin bukan orang yang pandai menyimpan perasaannya. Ia lebih suka langsung menyampaikan di banding memendamnya, berbeda 180° di bandingkan kakaknya, Ara.


“Kok lama ya ...?"


"Nggak juga paman ...., memang ukurannya segitu, otak ku nggak cerdas jadi nggak bisa ikut akselerasi. Kalau kak Ara emang cerdas, beda banget sama aku." ucap Nadin di selingi tawa di setiap katanya, seperti menertawakan kebodohannya sendiri.


"Nggak pa pa nak, semua orang punya kelebihannya masing-masing." ucap Salman menghibur ketidak pe de an Nadin. "Tapi nggak masalah ...., semuanya bisa di atur.”


“Maksud paman?” Nadin gagal mencerna ucapan Salman. Apa yang bisa di atur?


“Ya ..., walaupun masih satu setengah tahun lagi, tapi kan bisa


dengan melakukan banyak hal..."


"Contohnya?"


"Ya ....., contohnya seperti membentu mengawasi kafe


tuan Agra ....” Salman terluhat gelagapan menanggapi pertanyaan Nadin.


“Iya ..., paman benar ...., setidaknya aku tidak akan pasif ... dan


diam di tempat.” ucap Nadin, tapi tatapannya mengarah ke depan menatap punggung Rendi. Ia berharap kata-kata nya bisa di dengar oleh Rendi.


“Ya ..., kamu harus bekerja ekstra untuknya ...”


"Terimakasih semangatnya paman, paman memang yang terbaik.”


Walaupun mereka mengobor dengan nyambung tapi maksud dari


pembicaraan mereka berdua berbeda. Tapi tetap saja mereka dua manusia di dua jaman yang berbeda yang kompak.


Salman dan Rendi ikut turun.


“Selamat datang di rumah ayah sayang ...” ucap Roy menyambut


kedatangan Davina sambil memeluknya, dan segera meraih tas yang di pegang Davina dan menggandenganya masuk ke dalam rumah, seakan ia lupa jika di sampingnya juga ada


Nadin.


Baiklah ..., Nadin nggak boleh iri ..., ayah hanya berusaha untuk


tidak membeda-bedakan putrinya ..., kamu harus siap untuk berbagi. Anggap saja


kak Davina adalah kak Ara ..., semangat .....


“Ayo nak ..., kenapa masih bengong ...?” seseorang merangkul Nadin


dari belakang, dia adalah Salman. Nadin yang sempat kehilangan senyumnya


seketika tersenyum lebar.


“Ayo paman ..., tadi aku sudah masak banyak buat menyambut kalian


semua ...” ucap Nadin.


Masak air ..., bisanya Cuma masak telur rebus, bergaya masak banyak


....


Rendi yang sedari tadi mengikuti mereka di belakang hanya bisa


menanggapi ucapan Nadin dengan senyum sarkas.


Aku tahu wahai makluk di belakangku ...., kau pasti sedang mengataiku ....., memang itu tujuanku .....


“Benarkah ...? paman jadi nggak sabar pengen makian ...”


“Jangan sepenuhnya percaya paman ..., paman gampang percaya ...,


aku Cuma nyiapin piringnya ... heheheh ...”


“Ya ..., setidaknya itu sudah usaha ...” ucapan Salman seketika menenangkan hati Nadin. Ia menatap Salman dengan sendu, ingin rasanya memeluknya.


Paman is the best deh pokoknya .... , aku lov lov padamu paman ..,, andaikan putramu bisa semanis paman .....


“jadi senang deh berlama-lama dengan dengan paman ...”


“Makanya sering-sering datang ke rumah paman ....”


Mereka terus mengobrol tanpa mengiraukan orang yans sedang berjalan


di belakangnya.


“Aduuuh ..., kasian..., kayaknya sekarang sudah mulai di cuekin nih


ya ...” bisik dr. Frans pada Rendi. dan seperti biasa Rendi hanya akan


melayangkan tatapan tajamnya.


“Kayaknya pesona paman Salman lebih menggoda di banding manusia


kulkas ini ...”


“Diam atau aku akan ...” ucap Rendi geram dengan keusilan


sahabatnya itu.


“Sabar tuan muda ..., jangan emosi ... kalem ..., hati boleh panas,


tapi pikiran harus jernih. Ingat kita bertamu.” Ucap dr. Frans dengan senyum


usilnya. Sungguh menyenangkan baginya bisa mengusili temannya itu.


Mereka ikut makan siang di rumah Roy, begitupun dengan dr. Frans.


Dr. Frans lah yang membuat suasana semakin ramai. Dengan candaan-candaan


ringannya yang bbebpadu dengan kecerewetan Nadin, menjadikan suasana rumah


menjadi lebih hidup.


***


Setelah acara makan siang itu, dr. Frans , Salman dan Rendi pun


berpamitan untuk pulang. Keluar Roy mengantar mereka sampai di teras rumah. Kini


tinggalah Roy dan keluarga barunya dan juga Nadin. Tapi mata Roy menatap hal


yang janggal di terasnya, ia tak menemukan sesuatu yang biasanya selalu ada di


sana.


“Nadin ....”


“Iya ayah?”


“Dimana si cerry?”


Mendengar pertanyaan ayahnya. Seketika Nadin menepuk kepalanya.


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘😘