MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Jangan takut



"Baiklah ..., aku ke kamar mandi dulu ...!" ucap Rendi sambil berlalu meninggalkan mereka.


"Biar Nadin membantumu ....!" ucap dr. Frans tiba-tiba, tentu hal itu membuat Divta dan Rendi menoleh padanya begitupun dengan Nadin. Dr. Frans pun mengedipkan matanya pada Nadin, kini Nadin baru mengerti kalau ini semua rencana Dr. Frans. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Lo kan nggak bawa baju ganti, Rend ...!" ucap dr. Frans lagi. "Nggak pa pa kan bang pinjem Nadinnya sebentar?"


"Iya nggak pa pa, sudah sana ...!" ucap Divta.


Rendi tak menanggapi, ia segera berlalu meninggalkan mereka. Sedangkan Nadin dengan cepat mengikuti Rendi dari belakang.


Mereka sampai juga di depan toilet.


"Aku akan bersihin sendiri." ucap Rendi tanpa menoleh pada Nadin.


"Lepas ...!" bukannya tersenyum seperti biasanya, kini Nadin malah berbicara dengan tegas tentu hal itu membuat Rendi tercengang.


Tanpa meminta persetujuan Rendi, Nadin meraih kemeja Rendi, dan tanpa perlawanan Rendi di bantu Nadin segera melepas kemejanya.


"Hust ....hust ... hust ...., sudah sana masuk!" ucap Nadin sambil mengibaskan tangannya dan mendorong tubuh Rendi, meminta Rendi untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.


Rendi pun lagi-lagi tanpa perlawanan. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Aneh ..., kenapa aku menurut pada gadis kecil itu ...!" gumam Rendi sambil mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Sedangkan Nadin sibuk membersihkan kemeja Rendi.


***


Di meja itu, Dr. Frans kembali memikirkan sesuatu untuk membuat Divta meninggalkan mereka berdua.


Apa yang harus aku lakukan ya ....


Dr. Frans mengetuk-ngetuk an jari telunjuknya pada meja di depannya.


"Kamu ada apa Frans?" tanya Divta yang melihat kecemasan pada wajah Dr. Frans.


"Emmm ...." (baiklah ...., lanjutkan Frans ...) "Jadi begini bang, sebenarnya aku punya janji dengan pasien, tapi aku nggak bawa mobil, bisakah bang Divta mengatarku sekarang, kalau nunggu Rendi kayaknya kelamaan dech, bang." ucap dr. Frans , untung saja ia ingat dengan janjinya dengan salah satu pasiennya, walaupun masih satu jam lagi. Divta tampak berpikir.


"Bagaimana bang, bisa ya?" tanya dr. Frans lagi.


"Tapi Nadin?"


"Kan ada Rendi, lagian kan Agra sudah menugaskan Rendi buat antar jemput Nadin, jadi nggak ada masalah kan!"


"Baiklah ..., ayo. Pasienmu lebih penting ...!" ucap Divta sambil meraih kunci mobil dan ponselnya yang masih berada di atas meja.


Yes yes ..., berhasil ..., maafkan aku bang, tapi si kulkas itu bisa membunuhku jika kau dekat-dekat dengan Nadin.


Akhirnya mereka berlalu meninggalkan kafe tanpa menunggu Rendi dan Nadin kembali.


Rendi keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada. Nadin yang selesai membersihkan dan mengeringkan kemeja Rendi begitu terkesiap. Jantungnya seperti mau loncat dari tempatnya.



matamu Nad ...., matamu ....! Astaga dia sungguh balok es yang mempesona ....


"Hei ..., kenapa dengan wajahmu?" tanya Rendi sambil mengibas-ibaskan telapak tangannya di depan wajah Nadin yang sudah memerah.


Nadin yang tersadar segera memegang kedua pipinya yang terasa panas.


"Ada apa dengan wajahku?" tanya Nadin dengan gaya imutnya.


Kenapa juga dengan jantungku, apa benar aku sudah jatuh cinta dengan gadis kecil ini ...., ih menyebalkan sekali.


Tanpa sadar Rendi sudah menarik garis bibirnya membentuk kemngkungan tipis, begitu samar, dia tersenyum.


Rendi menatik tangan Nadin, membuat Nadin membeku di tempatnya, ia menempelkan tangan Nadin di dadanya, hingga Nadin mampu merasakan detak jantung Rendi.


Saat melakukan itu, Rendi merasa tubuhnya menghangat, ada getaran yang tak biasa. Indah dan membuatnya terlepas dari kesadarannya. Ya tanpa sadar, Rendi mendekatkan dirinya pada Nadin. Nadin hanya bisa membeku, ia menerka-nerka apa yang akan di lakukan oleh manusia batu di depannya itu.


Kini tak ada sekat lagi di antara mereka, tubuh Rendi melekat sempurna pada tubuh Nadin, Rendi sudah menggungkung tubuh Nadin, antara tubuhnya dan juga dinding di belakang Nadin. Nadin menutup matanya, bersiap dengan apa yang akan di lakukan oleh manusia es itu.


Aku tidak tahu, ini rasa nyaman atau rasa cinta ..., tapi aku benci melihatmu dekat dengan pria lain. Apa aku yang gila ...., apakah seperti itu cinta ...?


Pikiran Rendi sedang berkecamuk, ia semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Nadin yang sudah berada begitu dekat dengannya.


Tanpa terasa tangan Nadin sudah mengalung di leher Rendi. Bersiap dengan apa yang akan di lakukan Rendi, wajah nya menengadah bersiap menerima segala perlakuan dari Rendi.


Braakkk


Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar mandi.


"Apa yang kalian lakukan ...!" teriak orang yang membuka pintu itu. Seketika Nadin mendorong rubuh Rendi agar menjauh, mereka terlihat sekali gelagapan.


Wajah Nadin memerah menahan malu, sedangkan Rendi tetap biasa dengan wajah dinginnya.


Rendi hanya mendengus kesal. Nadin dengan cepat memberikan kemeja yang belum sempat di berikan kepada Rendi tadi.


"Dasar anak muda jaman sekarang, nggak punya adap, kalau mau mesum seharusnya sana di hotel ...!" gerutu orang itu sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Jangankan menyewa ..., membeli hotel pun saya bisa ...!


Gerutu Rendi, sedangkan Nadin hanya bisa menyembunyikan rasa malunya. Setelah selesai mengenakan kemejanya, ia segera menarik tangan Nadin keluar dari kamar mandi.


"Kemana mereka?" tanya Rendi lirih saat melihat meja mereka kosong.


"Mau pulang atau masih tetap di sini?" tanya Rendi pada Nadin.


"Kita pulang ...!" ucap Nadin yang masih terus tertunduk.


"Jangan sembunyikan wajahmu seperti itu, aku jadi tampak seperti orang yang sangat jahat saja ...!"


"Aku malu ....!" ucap Nadin sambil masih menundukkan kepalanya.


Rendi mendekat ke wajah Nadin. Ia memiringkan wajahnya hingga mampju menjangkau wajah Nadin.



"Jangan takut ...., ada aku di sini." ucap Rendi. Ia tak peduli dengan orang yang melihatnya, ia kembali meraih tubuh Nadin dan memeluknya.


Mereka bwtpelukan tanpa mempedulikan orang di sekitar, cukup lama mereka berpelukan.


"Kita pulang?" tanya Rendi setelah melepaskan pelukannya, dan Nadin pun hanya mengangguk.


****


Di tempat lain, Ara yang sedang bersantai bersama suaminya. Ia begitu terlihat bosan.


"Bby ...., besok akhir pekan." ucap Ara sambil masih menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya.


"Hemmm ...!"


"Bukankah sudah lama sekali kita tidak jalan-jalan?!"


"Hemmmm ...!"


Lagi-lagi hanya itu yang keluar dari bibir Agra, sambil sibuk menciumi puncak kepala Ara.


"Bby ..., kau mendengarkanku tidak?" tanya Ara lagi.


"Iya sayang ....!" ucap Agra tapi ia masih sibuk dengan kegiatannya sendiri.


"Besok jalan-jalan ya ...., kita ke mall, mengajak baby twins juga. Dan Nadin, aku merindukan anak itu."


"Hemmm ...!"


Seketika Ara menjauhkan tubuhnya dari suaminya, ia duduk dengan wajah yang di tekuk.


"Sayang ...., jangan marah ....!" ucap Agra mencoba memenangkan istrinya.


"Besok kita ke mall, aku mau jalan-jalan ...!"


Astaga ini pilihan yang sulit ..., aku ingin menghabiskan akhir pekanku denganmu saja sayang ....., ah ..., aku harus apa?


"Nggak mau ya udah ...., aku mau tidur di kamar baby twins ..., jangan mencariku ...!" ancam Ara, ia tahu ancaman itu yang paling mujarab untuk mengancam suaminya.


"Baiklah ..., baiklah ...., besok kita pergi ...!"


Akhirnya Agra menyerah juga, dari pada malam ini tidur sendiri, lebih baik mengalah untuk satu hari yang pasti akan sangat melelahkan. Menemani wanita berbelanja.


"Hubungi Rendi ...!" perintah Ara.


"Hah ...., untuk apa?" tanya Agra dengan penuh tanya, pria itu masih saja cemburu pada makluk yang namanya Rendi. Mana mungkin istrinya malah memintanya menghubungi pria yang menjadi rivalnya.


"Aku akan mengajak Nadin juga ......, kamu nanti bisa mengobrol dengannya...!"


Jadi kau tidak akan menggangguku mengobrol dan berbelanja dengan Nadin .....


"Baiklah ......!"


**BERSAMBUNG


jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Happy Reading 😘😘😘😘😘**