MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Seikat Bayam



Ceklek


Agra membuka pintu apartemen Rendi, dan pria dingin itu


sudah duduk di depan dua pria kekar yang berpenampilan serba hitam sedang


berdiri di depannya.


Rendi menoleh pada Agra, Agra pun segera mendekat. Ia ikut


duduk di sofa yang berbeda dengan sofa yang di duduki Rendi, sofa yang lebih


pendek, kedua pria itu memberi salam hormat pada Agra dan sedikit menyingkir


agra tidak menghalangi pandangan mereka.


“Bagiamana?”


“Saya menemukannya!”


“Apa rencanamu selanjutnya?”


“Kita tidak boleh gegabah, jika salah satu langkah saja


taruhannya Nadin!”


“Ya kau benar!”


Dari balik pintu, Divta bisa samar-samar mendengarkan


pembicaraan mereka, karena merasa penasaran, ia pun tanpa permisi segera masuk


ke dalam ruangan itu, Agra mungkin lupa menutup pintunya sehingga Divta dengan


mudah masuk ke dalam apartemen Rendi.


Melihat kedatangan Divta, Agra dan Rendi dengan reflek


menoleh ke arahnya begitu juga dengan dua pria asing yang ternyata adalah anak


buah Rendi yang telah bertugas menyelidiki keberadaan Nadin, dan mereka mendapatkan


informasi penting tentang keberadaan Nadin.


“Bang Divta!”


“Divta!”


Agra dan Rendi berdiri secara bersamaan, mereka benar-benar


tak menyangka jika Divta akan datang dan mendengar semuanya.


“Hei …, ada apa dengan kalian, kenapa wajah kalian serius


sekali…!” Divta dengan gaya khasnya. Ia berjalan mendekat ke arah Agra dan


Rendi.


“Bang …, apa abang mendengarkan pembicaraan kami?” Tanya


Agra saat Divta sudah berada di dekat mereka, sedangkan Rendi masih terdiam


mengamati situasi, walaupun saat ini dia dalam keadaan tak terlalu fokus tapi


dengan mengatakan semuanya pada Divta, bukan pilihan terbaik.


“Ya …, ada apa, apa yang kalian sembunyikan, ada apa dengan


Nadin?” sekarang pertanyaan itu sudah terdengar lebih serius, Divta


mengetahuinya, Rendi tak mampu mengelak lagi, mau tak mau ia harus memberi


tahukan semuanya pada Divta.


Divta beralih menatap Rendi, menatap dengan tatapan tajam.


Seolah-oleh ingin mengintrogasi pria dingin itu.


“Dimana Nadin?” Tanya Divta lagi pada Rendi.


Kenapa aku harus


memberitahunya ….


Rendi benar-benar tidak ikhlas memberitahu semuanya pada


Divta, ia tidak mau Divta menjadi orang yang berjasa untuk Nadin, tapi rasa


cemburu itu tidak boleh mengabaikan keselamatan Nadin, heh …, kali ini Rendi


harus mengalahkan egonya.


“Apa penting memberitahumu?” bau permusuhan dan persaingan


masih sangat terlihat, entah rasa cemburu atau rasa kehilangan Nadin membuat


otak jenius Rendi sedikit berkurang.


“Kenapa kalian malah bertengkar, ayolah …, ada yang lebih


penting dari pada persaingan kalian!” ucap Agra melerai, ia faham dengan


keadaan ini karena ia juga pernah berada di situasi yang seperti ini bahkan


mungkin lebih parah dari ini.


Kedua pria dewasa yang saling berebut itu pun segera kembali


sadar pada tujuan mereka, Rendi meminta kedua pria yang menjadi anak buahnya


itu untuk meninggalkan mereka.


Sekarang mereka sudah duduk bertiga, membicarakan apa yang


terjadi dengan Nadin, karena mereka sudah tahu keberadaan Nadin. Mereka pun


memulai membuat rencana. Awalnya Divta begitu menyalahkan Rendi tapi berkat


penjelasan Agra akhirnya Divta mengerti.


Saat itu juga Rendi berangkat ke tempat Nadin di sekap,


karena ia sudah mengundurkan diri dari finityGroup jadi hal itu tidak akan


membuat anak buah Alex curiga. Ia tidak akan mengira jika Rendi pergi untuk


menemukan keberadaan Nadin.


Sedangkan Agra dan Divta tetap berjaga-jaga di Jakarta


🌺🌺🌺


Suasana sore hari di pedesaan sangatlah cocok untuk


jalan-jalan. Ini hari ke sepuluh dia berada di tempat asing. Nadin tak ingin


terpuruk dalam kesedihan terlalu lama, bayang-bayang kebebasan membuatnya


kembali bersemangat.


“Apa ada yang nona butuhkan?” Tanya Merry saat tiba-tiba


langkah Nadin terhenti. Nadin melihat sosok pria yang ia kenal di tempat asing.


Apa aku salah lihat …


Nadin melihat pria dengan kaos oblong lusuh khas orang desa


dengan caping di kepalanya, pria itu semakin dekan dengan tempatnya berdiri


saat ini, nadin tak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu karena pria itu


menutupi wajahnya dengan karung yang ia panggul.


“Ah …, tidak Merry. Aku hanya melihat pria dengan karung


itu, sepertinya ia baru saja selesai memanen kebunnya.”


“Iya nona …, sebagian besar petani di sini adalah petani


sayur, mungkin ia salah satu dari mereka.”


“Apa boleh aku menghampirinya, Merry?”


“Biar saya antar Nona!”


“Baiklah …, ayo …!”


Nadin yang penasaran dengan pria itu, ia pun mulai


mendekatinya, pria itu sepertinya sadar jika Nadin akan menghampirinya, ia


memilih untuk menghentikan langkahnya dan menunggu Nadin sampai di hadapannya.


Merry masih saja setia di belakang Nadin, ia benar-benar


tidak membiarkan Nadin pergi tanpa dirinya.


“Apakah dua pria seram itu juga harus ikut dengan kita?”


Tanya Nadin saat melihat pria yang berada di belakang Merry.


“Mereka bagian dari pengamanan Nona!”


“Baiklah terserah kalian saja!” Nadin pun menyerah, ia


memilih diam dan tetap berjalan menghampiri pria itu.


Nadin memperlambat langkahnya saat jarak mereka tinggal dua


tiga meter lagi, ia mengamati wajah itu, wajah yang begitu ia kenal, tapi


terlihat kotor dan tidak sebersih biasanya.


“Mas …, mas penduduk asli sini ya?” Tanya Nadin, tapi


matanya tak pernah lepas mengamati wajah itu.


“Iya mbak, saya asli sini …!” jawab pria itu dengan suara


medoknya. “Oh iya mbak cantik, saya punya sesuatu untuk mbak cantik!”


Pria itu mengambil sesuatu di dalam karungnya, seikat bayam


.


“Hah …, tidak perlu mas, aku nggak suka bayam …” Nadin


berusaha menolaknya, tapi pria itu tetap memaksa Nadin untuk menerimanya.


“Mbak harus menerimanya, bayam ini bukan sembarang bayam


mbak, jika mbak tidak mau , nanti mbaknya akan menyesal, mbak harus menerimanya, dan harus


memasaknya sendiri!”


“Tapi nggak usah mas, aku nggak bisa masak, jadi mas bawa


aja kembali ya!”


Mereka seperti sedang bermain tarik-tarikan, membuat dua


pria bertubuh kekar yang berada tak jauh dari mereka berlari mendekat.


“Ada apa ini?” Tanya salah satu dari mereka, dan pria itu


segera menutupi wajahnya kembali dengan capingnya, tak mempedulikan lagi bayam


itu, ia pun segera berlalu meninggalkan Nadin bersama penjaga-penjaganya.


“Tidak ada apa-apa!” ucap Nadin , sedangkan matanya tak


beralih tari pria yang semakin menjauh darinya, sesekali pria itu menoleh


padanya sebelum menghilang termakan oleh jarak.


Setelah pria itu menghilang, ia menatap bayam yang ada di


tangannya, bayam yang terikat oleh ikatan bamboo itu. “Dasar pria yang aneh …!


Aku jadi merindukan dia …” ucap Nadin sambil mendesah.


Tapi saat merabanya lagi, ia merasakan ada sesuatu yang


mengganjal dalam ikatan itu, ia sedikit mengangkat bayam itu agar bisa dengan


mudah melihatnya, ada sebuah kertas yang tergulung bersama ikatan bayam itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘