
"Aku harus apa? Aku bagaimana?" ucap Rendi antusias, tapi saat mengingat wajah marah Nadin senyumnya kembali hilang.
"Tapi dia marah padaku, apa dia akan menyapaku besok? Apa dia akan diam saja dan tidak mau bicara padaku?"
Rendi benar-benar tidak tenang, ia segera mandi dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia sampai lupa tidak mengecek pekerjaannya untuk besok pagi.
Pagi ini sungguh hal yang langka, Rendi bangun kesiangan, biasanya ia bangun lebih cepat dari pada matahari, tapi kali ini ia bangun setelah matahari menampakkan sinarnya.
Ia begitu terburu-buru, bahkan untuk memakai sepatunya pun ia tidak bisa dengan tenang, pria yang biasanya berpembawaan tenang itu sekarang terlihat begitu gegabah.
"Kita jemput Nadin!" ucapnya pada sopir yang ada di depannya.
"Baik pak!"
Mobil pun segera melaju, saat mobil sampai di depan rumah Nadin. Rrndi segera turun, tapi terlambat. Nadin sudah pergi sepuluh menit yang lalu.
Rendi mendengus kesal, tapi segera ia kendalikan.
"Lebih cepat, kita langsung ke kantor!" ucap Rendi kembali memberi intruksi pada sopir di depannya.
Tak butuh waktu lama, Rendi sudah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi itu. Sudah banyak sekali pegawai yang datang, mereka menunduk hormat saat Rendi lewat di depannya.
Kerena ketampanan dan wajah dinginnya, Rendi seperti bisa menyihir siapapun yang melihatnya.
Asisten Vina sudah menyambutnya di depan. Mereka segera masuk ke dalam lift.
"Selamat pagi pak!"
"Selamat pagi Vina, apa pak Agra sudah datang!"
"Belum pak!"
Bagus ...., berarti aku punya waktu untuk bertemu dengan gadis itu.
"Aku pergi dulu, jika pak Agra datang segera hubungi aku!" ucap Rendi.
"Baik pak!"
Rendi pun segera menekan nomor 6, itu cukup jauh dari ruangannya. Ia membiarkan Vina naik sendiri ke lantai 21.
Rendi membenarkan jasnya yang sebenarnya tidak berantakan, ia hanya berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
Semua karyawan yang melihat pemandangan yang tak biasa membuat para karyawan begitu tegang, mereka bertanya-tanya, tidak biasanya orang nomor dua di perusahaan itu datang ke ruangan karyawan biasa.
"Pak Rendi!" Tami yang melihatnya segera menghampirinya.
"Hemmmm ...., Bisa tunjukkan dimana ruang mahasiswa magang!" ucap Rendi pada Tami.
"Di lantai ini ada dua pak mahasiswa magangnya!"
"Nadin!" ucap Rendi dingin.
"Biar saya panggilkan dia untuk bapak!"
"Tidak perlu, tunjukkan saja di mana ruangannya!"
"Biar saya antar pak!" ucap Tami, Rendi pun mengganggu, ia pun segera berjalan mengikuti Tami.
Semua teman satu tim Nadin terkejut saat melihat Tami masuk ke ruangannya, semua segera berdiri.
"Selamat pagi mbak Tami!" sapa teman Nadin.
"Pagi ...., ada yang ingin bertemu dengan Nadin, apa Nadin sudah datang?" tanya Tami pada teman-teman tim Nadin.
"Saya bu ....!" ucap Nadin yang barus saja muncul dari pantry. Nadin membawa sebuah gelas di tangannya, sepertinya gadis itu baru saja membuat kopi tercium dari baunya yang keluar dari asap yang masih mengepul.
Rendi segera muncul dari balik pintu saat mendengar suara Nadin, membuat Nadin begitu terkejut, hingga tanpa sadar gelas yang ada di tangannya terlepas dari tangannya hingga air panas itu mengenai kakinya.
"Aughhhh ......, panas ..., panas ....!" keluh Nadin yang sudah jongkok sambil memegangi kakinya yang memerah karena tersirang air yang masih panas.
"Nadin ...!" semuanya terkejut. Semuanya menoleh pada Nadin.
Rendi yang melihat hal itu dengan reflek berjalan menghampiri Nadin. Nadin sudah menutup kakinya dengan tangannya, air mata sudah meleleh di pipinya karena rasa sakit.
Rendi segera mengangkat tubuh Nadin hingga berada dalam gendongan nya membuat semau yang ada di ruangan itu begitu tercengang. Mereka tak menyangka dengan apa yang di lakukan Rendi pada Nadin.
Rendi segera membawa Nadin keluar dari ruangan itu. Tami mengikutinya di belakang.
"Apa aku tidak salah lihat, apa aku masih mimpi ya?" tanya Indah yang masih syok dengan apa yang ia lihat.
"Iya ...., ini benar-benar kejadian yang luar biasa, apa ya hubungan mereka sebenarnya!"
Di ruangan Nadin itu sekarang menjadi begitu ramai.
Rendi segera berdiri di depan pintu lift, Nadin masih tak hentinya menangis karena rasa perih di kakinya.
"Tami ....!"
"Iya pak!"
"Tolong katakan pada teman Nadin agar tidak menyebarkan semua yang ia lihat pada oranga lain!"
"Baik pak!"
"Tolong jangan sebarkan isu apapun ke luar dari ruangan ini!" ucap Tami.
"Baik bu!"
****
Rendi segera membawa Nadin ke klinik kantor.
"Frans ...., Frans ....!" teriak Rendi.
"Maaf pak, doker Frans belum datang!" ucap seorang dokter yang menggantikan dr. Frans saat dr. Frans tidak ada.
"Dia terkena air panas, cepat sembuhkan dia!"
"Baik pak!"
Dokter pun segera mengoleskan salep ke kaki Nadin, selama Nadin di rawat dokter, Rendi tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Nadin, ia sesekali juga mengusap kepala Nadin membuat Nadin begitu tercengang.
Kenapa pak Rendi jadi begitu baik padaku, apa ada yang salah?
"Sudah selesai pak, oleskan salep ini setiap pagi dan sore, supaya kulitnya tidak melepuh."
"Baik dok, tinggalkan kami berdua!" ucap Rendi.
"Baik pak!"
Setelah dokter keluar dari ruangan itu, kini tinggal mereka berdua. Suasana kembali hening.
"Hemmmm!" Rendi berdehem memcoba memulai pembicaraan. "Apa sudah lebih baik?" tanya Rendi dan Nadin hanya mengangguk.
"Maafkan aku!" ucap Rendi lagi.
"Untuk apa?" tanya Nadin dingin, ia sama sekali tak menampakkan senyumnya.
Rendi bingung harus bicara apa, ia juga harus bergelut dengan rasa groginya.
Astaga kenapa begitu susah sekali, berjadapan dengan gadis ini lebih sulit dari menghadapi klien killer ....
Suara ponsel Rendi kembali memecah keheningan di antara mereka.
"Pak ...., Ada telpon!" ucap Nadin karena Rendi masih terdiam di tempatnya.
"Ahh ..., iya ....!" ucap Rendi dan segera meroboh saku jasnya, dan mengambil benda pipih itu.
"Ada apa Vin?" tanya Rendi saat mengetahui yang menghubunginya adalah sekretaris nya.
"Pak Agra sudah datang pak, anda di minta ke ruangannya!"
"Baik!"
Rendi segera mematikan telponnya, ia bingung, ia tidak mungkin meninggalkan Nadin sendiri, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan Agra. Melihat Rendi yang tampak bingung Nadin tahu jika itu pasti panggilan penting.
"Pergilah pak, aku tidak pa pa!" ucap Nadin.
"Jangan kemana-mana, aku akan meminta Vina menemanimu, setelah pekerjaanku selesai aku akan kembali ke sini!"
"Itu tidak perlu pak!" ucap Nadin dingin, ia masih belum bisa melupakan kejadian kemarin.
"Jangan membuatku sulit ....!" ucap Rendi lalu berlalu meninggalkan Nadin sendiri.
Ia segera menuju ke ruangannya, seperti yang ia katakan. Ia menyuruh Vina untuk menemani Nadin dan dia segera menuju ke ruangan Agra.
"Pagi pak!" sapa Rendi.
"Pagi .... darimana saja kamu?" tanya Agra.
"Maaf pak tadi ada urusan sebentar!"
"Apa jadwalku hari ini?"
Rendi pun segera membacakan jadwal untuk Agra satu hari ke depan.
"Ok ...., berarti pagi ini kita meeting dengan PT RajaGrafindo, apa klien kita sudah datang?"
"Mereka meminta kita datang pak!" ucap Rendi.
"Baiklah ...., kita berangkat ke sana, biarkan bang Divta yang mengurusi urusan kedatangan barang, dan beritahu padanya untuk tidak meninggalkan perusahaan sehatian ini soalnya akan ada tamu dari luar negri!"
"Baik pak!"
Mereka pun segera keluar dari ruangan, Rendi sudah mengetikkan beberapa pesan untuk Divta dan lagi pesan untuk Vina, ia membali meminta Vina untuk menjaga Nadin selama ia pergi dan memberinya kabar secara berkala.
BERSAMBUNG DULU YA ....😂😂😂
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya yang banyak
Kasih Vote juga ya yang banyak juga
Happy Reading 😘😘😘😘
Salam sayang dari babang Rendi dan dedek Nadin ,💓💓💓