
"Maafkan aku ....!"
Kenapa dia polos sekali, bagaimana aku bisa marah padanya ....
Rendi yang tidak tega segera berdiri dan berjalan memutari meja, hingga berada di samping Nadin, ia kembali mengambil sebutir telur.
"Biar aku bantu!" ucap Rendi, ia mengambil mangkuk yang ada di depan Nadin dan segera memecahkan telur itu di atas mangkuk, membuat Nadin hanya bisa menatapnya takjub.
Dia bisa .....
"Selesai!" ucap Rendi. Nadin mengira jika Rendi akan melanjutkan pekerjaannya, tapi ternyata salah, pria itu segera melipat tangannya di atas perutnya.
"Nggak di lanjut?" tanya Nadin dengan polosnya.
"Sudah di bantu nggak terimakasih, malah nglunjak!" ucap Rendi dengan dinginnya.
Ceh ....., songong banget, pengen banget getok pala ya biar sedikit romantis, siapa tahu kalau amnesia bisa romantis .....
"Jangan mengatai suami yang tidak-tidak!"
Nadin hanya bisa nyengir bebek. "Terimakasih, suamiku ....!"
Nadin pun segera mengocok telur itu tanpa menambahkan sesuatu di dalamnya, ia malah menambahkan wortel yang telah ia cucu dan ia potong tadi. Untung potongannya kecil-kecil.
"Tambahkan garam!" ucap Rendi lagi, membuat Nadin mendongakkan kelapanya, mencoba menjangkau wajah Rendi.
"Bukan aku, tapi telurnya!" ucap Rendi ketus.
Cehhhh
"Garam?" tanya Nadin lagi, dan Rendi mengangguk.
Garam yang mana lagi?
"Garam di laci, yang tutupnya biru!" lagi-lagi Rendi memberikan intruksinya. Nadin pun segera mencari sesuatu di laci dan menemukan sebuah cup yang berderet dengan warna tutup yang berbeda-beda.
Biru .....
Nadin berusaha mengingat ucapan suaminya, dan akhirnya menemukan cup warna biru. Ia segera mengambilnya dan menuangkannya ke dalam kocokan telurnya.
Rendi yang tidak terlalu memperhatikan, ia tidak tahu sebanyak apa garam yang sudah di tuangkan oleh Nadin. Setelah selesai mengocoknya, Nadin segera memasang panci penggorengannya dan menyalakan kompor, untuk hal ini ia bisa melakukannya.
Setelah di rasa matang, Nadin segera mengangkat telurnya dan di masukkan ke dalam piring.
"Ahhhh ....., akhirnya aku bisa masak juga!" ucap Nadin bangga.
Cehhh ....., cuma gitu doang, Sagara saja bisa ...., Sanaya lebih jago .....
Rendi hanya menggelengkan kepalanya.
"Mas meledekku ya?"
"Iya!"
"Iiiihhhh ....., walaupun cuma kayak gini, tapi ini masakan pertama aku, kasih nilai dong!"
"Sudah ku duga!"
"Tuh kan, nggak hargai banget usaha orang, gini-gini aku sudah mau berusaha ya, nggak kayak kamu, cuma stack di tempat, nggak jalan-jalan...., cinta nggak benci juga enggak, bilangnya nggak suka, tapi nggak suka juga di tinggal pergi!"
Tuh kan ...., tuh kan ...., makanya jangan macam-macam sama yang namanya perempuan, kalau sudah ngerocos, Sampek tertigaan pun di terjang, tadinya yang di bahas apa yang di omongin Sampek perkara di kolong jembatan pun keluar.
"Sudah diam, kau benar-benar ingin membuatku gila ya, makan dan diam, aku akan membuat coklat hangat!" ucap rendi yang meneyerah mendengar Omelan istri kecilnya itu
Benar-benar wanita makluk paling aneh ...., segala macam di pikirkan ....
Rendi hanya bisa mendengus kesal sambil membuat coklat panasnya, sedangkan Nadin sudah duduk dengan makanan yang siap santap di meja, ia mengambil nasi dan menunggu Rendi menyusulnya.
Setelah selesai, Rendi pun segera ikut duduk di depan Nadin, sambil menunggu coklat panasnya sedikit hangat.
"Beneran nggak mau makan?" tanya Nadin, dan Rendi menggeleng. Ia tidak biasa makan di malam hari, walaupun seorang pria, Rendi termasuk orang yang paling menjaga kesehatan tubuhnya.
"Ya sudah ....!" Nadin segera melahap makanannya, hanya satu suapan pertama, tapi ia segera menghentikan kunyahannya. Tapi sayang untuk di buang, ia dengan susah payah menelannya, walaupun sebenarnya ingin sekali memuntahkannya. Wajahnya sudah seperti tomat busuk, merah merona menahan mual.
"Kamu kenapa?" tanya Rendi heran melihat wajah Nadin.
"Rasanya aneh ....!" ucap Nadin dengan air mata yang sudah ingin keluar di pelupuk matanya karena terlalu menahan rasa aneh di makanannya.
Rendi yang penasaran, segera mengambil sendok yang ada di tangan Nadin dan menyendokkannya ke makanan Nadin, ia segera menyuapkannya ke mulutnya sendiri. Rendi tampak mengunyah satu kali dan segera memuntahkan makanan itu ke tempat sampah.
"Tapi aku lapar!" ucap Nadin memelas, perutnya sudah sangat meronta-ronta, tak bisa di tunda lagi.
"Tunggu sebentar!" ucap Rendi, ia pun segera kembali ke dapur dan membuatkan Nadin telur dadar ala Rendi.
Hanya dalam hitungan menit, Rendi sudah kembali dengan membawa sepiring makanan, membuat mata Nadin kembali berbinar. Rendi menggeser piring Nadin tadi dan menggantinya dengan piring yang ia bawa.
"Makanlah ....!" perintah Rendi, dan dengan cepat Nadin melahap makanannya hingga habis.
"Ini enak ...., enak sekali!" ucap Nadin sambil memegangi perutnya yang sudah kenyang.
"Ya iya lah!" jawab Rendi dingin sambil meneguk coklat hangatnya.
"Dari mana mas Rendi bisa masak?" tanya Nadin penasaran, ia benar-benar kembali di buat kagum dengan pria di depannya itu, semua bisa di lakukan olehnya. Tanpa celah.
"Dari buku!"
"Buku?"
"Makanya kalau baca jangan cuma baca komik atau novel, baca juga buku-buku yang bermanfaat!"
Ternyata bukan cuma keren, tapi suamiku ini benar-benar smart ....
Nadin begitu mengagumi pria di depannya itu yang sekarang sudah menjadi suaminya, ia menyangga janggutnya dengan kedua tangannya, ingin terus menatap pria dingin itu.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Hah ....!" Nadin terkejut hingga tangannya terlepas dari dagunya, untuk tangan Rendi sigap menahan dagu Nadin hingga tidak melesat ke meja.
"Jangan terlalu mengagumi, jika ada yang kurang dariku , kau akan kecewa!" ucap Rendi yang masih memegang dagu Nadin.
"Dan mengagumi seseorang tidak membuatmu harus tahu apapun tentangmu, cukup diam dan nikmati. Aku bisa mencintai segala kelebihan mu, berarti aku akan mencintai kekuranganmu juga kan!"
"Kau akan kecewa!"
"Beberapa hal memang lebih baik tetap berada di tempatnya, untuk sekedar dikagumi. Aku harap kita dipertemukan bukan untuk mengagumi dalam diam, tapi untuk saling mengenal lebih dalam!"
"Dasar anak kecil, jangan terlalu dewasa!" ucap Rendi yang sudah memindahkan tangannya di atas kepala Nadin dan menguasapnya kasar hingga membuat rambut Nadin tambah berantakan.
Setelah acara makan malam yang penuh drama itu selesai, mereka pun segera kembali ke kamar, Nadin menggosok giginya dan segera berlari ke atas tempat tidur, persis seperti anak kecil yang mendapatkan tempat tidur baru.
Rendi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri kecilnya itu.
"Kamu benar-benar mau tidur di sini?" tanya Rendi memastikan lagi.
Cehhh ...., masih juga di tanyakan, jelas-jelas aku sudah di sini.
"Ya iya ...., kan aku sudah di sini, sudah tidur di tempatmu, memakai selimutmu, tapi sekarang ini semua milik kita ...., kita ....!" Nadin begitu gemas, ia menjalankan kata kita agar pria es itu mengerti.
Rendi pun menyerah, ia segera naik ke atas tempat tidur, ia merebahkan tubuhnya di samping Nadin.
"Baiklah ...., tapi awas aku tidak suka di ganggu kalau sedang tidur!"
"Memang aku mengganggu apa?"
"Siapa tahu kamu kalau tidur ngorok!"
"Aku tidurnya nggak ngorok ya!" ucap Nadin tak terima, membuatnya kembali bangun dan berkacak pinggang.
"Jangan keras-keras ngomongnya, gendang telingaku bisa rusak!" ucap Rendi sambil menutupi telinganya.
"Abis ngomongnya nggak di saring sih ....!"
"Sudah diam dan tidurlah, aku mengantuk!" Rendi pun menutup tubuhnya dengan selimut yang sama, ia memiringkan tubuhnya memunggungi Nadin yang masih bersungut kesal.
"Untung ganteng, awas saja kalau berani mengataiku lagi ...."
Nadin pun ikut merebahkan tubuhnya, menatap punggung suaminya yang cukup bidang. Hingga mereka terlelap bersama.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘**