MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bonschap 56 (penyelamatan)



beberapa kali Ajun terdengar mengumpat kesal karena Dini tidak bisa dihubungi.


"Apa gunanya punya ponsel kalau tidak di gunakan!"


"Memang ponsel cuma buat pajangan saja, sadar!"


Beberapa kali Ajun memukul stang stirnya, ia juga menghembuskan nafas beratnya itu agar mengurangi rasa cemasnya.


Sambil mengendarai mobilnya ya terus menghubungi Dini, tapi ponselnya tidak juga aktif.


***


21.00


Dini bersama teman-temannya melakukan acara barbeque di halaman belakang villa, sesekali Dini membidikkan kamera ponselnya untuk mengabadikan moment itu.


21.30


"Yahhhh ...., baterai ponselku lowbat, aku ke kamar dulu ya Mei!" ucap Dini yang kebetulan duduk bersebelahan dengan Mei.


"Mau aku temenin nggak mbak?" tanya Mei.


"Nggak usah lah, cuma ke kamar aja, kamu lanjutkan aja sama teman-teman aku sekalian mau ke kamar mandi!"


Dini pun segera berdiri dan meninggalkan tempat itu, ia menuju ke kamarnya, melewati beberapa lorong yang cukup jauh.


"Kenapa suasananya jadi sedikit mencekam seperti ini ....!" gumam Dini sambil mengusap leher belakangnya, ia tiba-tiba merasakan bulu kuduknya berdiri semua.


Beberapa kali terlihat Dini menghentikan langkahnya karena ia merasa ada yang mengikutinya.


Dini berhenti dan berbalik dengan cepat.


"Mei ....., jangan menggodaku ya ...., kau kan yang mengikuti ku ...., iya kan ..., keluarlah Mei ....!"


Tapi Dini tidak menemukan apapun di sana, tidak ada siapapun di belakangnya.


"Hahhhh ....., tidak ada ya!" gumamnya lagi, ia segera mempercepat langkahnya agar segera sampai di kamarnya.


Dengan cepat ia memasuki kamarnya, ia mencari cargernya yang entah ia letakkan di mana,


"Di mana ya ....!"


Ia menumpahkan tas kecilnya mencari bersama alat make up nya tapi juga tidak ada kemudian ia mengambil kopernya, ia baru teringat jika selama di villa beluk mengecas ponselnya sama sekali.


"Ahhhh ini .....!"


Dini mencari letak colokan, yang ternyata berada di samping meja rias, ia pun segera menyambungkan charger dengan stok kontak dan juga ponselnya.


Dini pun kembali beranjak untuk ke kamar mandi, ia ingin buang air sambil menunggu ponselnya terisi.


Cukup lama ia di kamar mandi, hingga ia tidak menyadari apa yang terjadi dengan teman-teman nya.


Dini kembali keluar dari kamar mandi dan sedikit merapikan penampilannya. Ia kembali duduk di lantai, ia ingin mengecek ponselnya.


23.00


Setelah terisi tujuh puluh persen, Dini segera menghidupkan ponselnya, ingin melihat kembali hasil jepretannya yang masih amatir dan mengunggahnya di sosial media pribadinya.


"Ajun .....!" ia begitu terkejut saat melihat begitu banyak panggilan dari Ajun. Selain itu juga dari Juna.


"Kenapa Ajun menghubungiku hingga puluhan kali, apa ada masalah? tidak biasanya!" gumamnya.


Saat ia ingin menghubungi Ajun kembali, Ajun sudah lebih dulu menghubunginya.


"Hallo ....!"


"Ahhhh syukurlah kamu mengangkatnya!" ucap Ajun dari seberang sana.


"Kenapa suaramu begitu cemas?" tanya Dini.


"Kamu sekarang di mana?" tanya Ajun.


"Di Villa!"


"Aku tahu, maksudku posisinya di mana?"


"Di kamar!"


"Teman-teman kamu?"


"Yakin?"


"Maksudnya?"


"Semua baik-baik saja?"


Dini pun jadi penasaran dengan apa yang di tanyakan oleh Ajun. Ia pun segera berdiri dan melepas charger dari ponselnya. Ia menuju ke jendela kamarnya yang langsung terhubung ke halaman belakang.


"Kemana semuanya? masak sudah selesai sih? Kan masih jam sebelas?" gumam Dini tapi masih bisa di dengarkan oleh Ajun.


"Sekarang semuanya tidak baik-baik saja, jadi dengarkan aku!" ucap Ajun hal itu membuat Dini semakin khawatir.


"Maksudnya? Tapi kamu kan tahu aku bisa bela diri!"


"Ini bukan masalah bisa bela diri atau tidak, aku tidak punya banyak waktu diam dan dengarkan aku!"


"Iya ....!"


"Tetaplah bersikap sewajarnya, anggap jika tidak ada yang tahu soal ini, hitung berapa orang meraka dan posisinya, dalam satu jam lagi aku akan sampai! Jangan bertindak gegabah mereka bukan orang biasa, kalau bisa cari bantuan!"


"Iya mengerti!"


"Jaga dirimu!" ucap Ajun, "Dan jangan mematikan sambungan telponnya, mengerti!"


"Mengerti!"


Hehhhhhhh .....


Dini menghembuskan nafas beratnya, ia mengganti dress nya dengan celana panjang, ponsel yang masih dalam sambungan telpon itu segera ia sakukan di saku jaketnya.


Kemudian Dini mulai keluar dari kamar, dan benar saja di depan kamarnya sudah ada yang menunggunya dengan menodongnya dengan senjata.


"Jangan bergerak!" Dua orang pria yang ia tahu itu penjaga villa. Hal itu seketikan membuat Dini terdiam di tempatnya, mau tidak mau ia harus mengangkat kedua tangannya.


"Kalian?" tanya Dini saat mengenali wajah mereka.


"Ikut dengan kami!"


Dini hanya bisa pasrah, ia mengikuti kemana dua pria itu mengajak mereka, ternyata mereka di bawa ke ruang bawah tanah Villa.


"Kenapa saya di bawa ke ruang bawah tanah?" ucap Dini dengan sedikit keras agar bisa di dengar oleh Ajun.


"Diam dan ikut saja!"


Ternyata teman-teman Dini juga sudah di sekap di sana dengan tangan yang terikat di belakang dengan mulut di tutup lakban.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Dini. tapi bukannya menjawab, ternyata para penjahat itu tahu apa yang di lakukan oleh Dini, ia segera mengambil ponsel Dini dan tersenyum.


"Ini .....!" ucap pria yang sepertinya ketua mafia. Pria dengan jas hitam dan cerutu yang masih melekat di bibirnya. itu mendekat dan mengambil ponsel Dini.


"Ini trik lama anak kecil ....!"


...***...


Ajun begitu terkejut saat tiba-tiba seorang pria berbicara di ponsel Dini.


"Jika kau ingin kekasihmu ini selamat, segeralah ke sini dan akan aku tukar dengan nyawaku!" ucap di seberang sana. kemudian ponsel itu mati.


"Sial ....!" umpat Ajun sambil melepaskan aero phone yang sedari tadi melekat di telinganya.


"Dia benar-benar cari gara-gara dengan saya ....!"


Ajun semakin mempercepat saja laju mobilnya, ia belum terlalu mengerti apa sebenarnya yang mereka incar darinya, tapi dengan melibatkan Dini, adalah kesalahan besar.


12.15


Mobil Ajun sampai di depan Villa, ia sengaja tidak membawa masuk mobilnya, jika ia langsung masuk, sudah otomatis ia akan tertangkap., ia harus menunggu teman-temannya juga. Ia belum tahu berapa banyak mereka, jika sepuluh orang saja bisa di sekap berarti mereka lebih dari itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰