
Akhirnya Nadin sampai juga di rumah sakit bersama ibu Santi dan Aisyah. Ibu santi yang baru pulang dari berjualan setelah tahu
bahwa Nadin di bawa ke rumah sakit pun segera menyusul. Aisyah juga tak lupa
menghubungi Dini bahwa Nadin akan melahirkan. Dini segera memesan tiket untuk
keberangkatan ke Surabaya.
Nadin terus memegangi perutnya yang semakin sering kontraksinya, kini lima menit sekali terjadi kontraksi. Ia sudah tidak bisa
berjalan-jalan. Dokter sudah memintanya tetap di atas tempat tidurnya. Dokter
sudah memeriksa keadaan Nadin, dan Nadin sudah mengalami pembukaan delapan
tinggal dua lagi dan bayinya akan lahir.
Berkali-kali ia meremas tangan bu Santi berharap rasa sakitnya sedikit berkurang.
“Sabar ya nak, sebentar lagi lahir!” bus anti terus mengusap punggung Nadin agar sedikit memberi rasa nyaman.
“Bu …, ini sakit sekali …!”
Di luar ruangan, aisyah menunggu seorang diri, tapi tak lama seorang berjalan begitu cepat menghampirinya, hingga sepatu yang
saling bergesekan dengan lantai bisa terdengar dengan nyaring, pria itu sedikit
berlari.
“bagaimana keadaannya?” Tanya Alex saat sudah berada di depan Aisyah, Aisyah pun juga sudah berdiri menyambut kedatangan Alex.
“Assalamu'alaikum, tuan Alex!”
“Iya …!” bukan itu jawaban yang di harapkan oleh gadis lembut itu.
“kak Nadin masih di tangani dokter, di dalam sudah ada ibu yang menemani!”
“Syukurlah …!”
Belum sampai Alex duduk, seseorang juga sudah berlari menghampiri mereka.
“Assalamu'alaikum, Aisyah …!”
“Waalaikum salam kak Dini!”
Dua gadis itu saling berpelukan, sudah sangat lama mereka tidak saling bertemu, sudah hampir 3 tahun, kira-kira semenjak Aisyah berada di bangku SMA kelas satu.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Dini.
“Baik kak!” jawab Aisyah dengan senyum lembutnya.
“Budhe?” tanya Dini lagi.
“Ibu juga baik, adek juga baik!”
“Syukurlah …, bagaimana Nadin?” Dini teringat dengan tujuannya datang ke tempat itu, Demi sahabatnya.
“Kak Nadin masih di tangani dokter!”
Ternyata sedari tadi Dini belum menyadari keberadaan Alex di sana, saat hendak duduk barulah ia menyadari. Sebelumnya mereka belum
pernah bertemu, tapi Nadin sudahg banyak bercerita tentang pria itu kepadanmya.
“Alex …! Maksudku Kevin Alexander?”
“Iya!”
“terimakasih karena sudah merawat sahabatku!”
“Tidak perlu melakukan itu!”
“Ini bukan hal yang mahal hanya untuk mengiucapkan terimakasih, bahkan jika aku bisa seumur hidupku aku akan terus
mengucapkannya!”
“Ternyata kau juga sekonyol Nadin, dua sahabat yang klop!”
Mendengarkan ucapan Alex, Dini hanya tersenyum, cukup malas untuk menanggapi lagi.
Di dalam ruangan itu Nadin sedang berjuang, ia
memilih melakukan proses persalinan normal. Air ketuban Nadin sudah pecah,
sudah waktunya, dan kini sudah mengalami pembukaan sempurna, semua dokter sudah
bersiap membatyu proses melahirkan.
Setelah menunggu selama hampir sepuluh jam, akhirnya kini saatnya. Kini kontraksi terasa cukup intens, muncul setiap tiga puluh detik sekali berlangsung selama 60-90 detk.
“Sudah waktunya bu Nadin, bersiaplah!” kata salah satu dokter yangt menangani persalinan Nadin. Dokter sudah meminta Nadin dengan
posisinya.
“Tarik nafas yang kuat ya …!” ucap dokter memberi aba-aba pada Nadin.
‘Ueghhh ….!” Beberapa kali Nadin mengeluarkan
nafasnya. dan kembali mengejang.
“lagi lebih kuat lagi …!”
“Ueghhhh ….!” keringat Nadin sudah membasahi rambut dan pelipisnya, tangannya terus mencengkeram.
“Ayo bu …., lebih kuat lagi, kepalanya sudah
kelihatan!”
Mendengarkan kata-kata dokter itu, membuat kekuatan Nadin kembali tumbuh, ia menggengam erat tangan bu Santi, menyiapkan Nafasnya. Sesekali Bu Santi mengelap keringat Nadin, Nadin beberapa kali menarik nafas untuk bersiap mengejang.
“Euhhggggg ….!” Nadin mengejang hingga otot-otot pelipisnya saling berlomba untuk menonjolkan diri.
‘Sedikit lagi …!” dokter terus memberikan dorongan, sesekali tangan dokter mendorong perut Nadin.
"Sekali lagi Bu ....!"
Nadin dengan sisa kekuatannya kembali mengejang.
“Euggghhhh …!”
Dan untuk pertama kalinya ia bisa mendengar tangis bayinya.
“ouek …, oekkkk …, oekkk ….!”
Mendengar tangis bayi, rasa lega dan bahagia segera muncul, rasa sakit yang tadi seakan hilang semua, berubah menjadi sebuah
kebahagiaan. Dokter menarik bayi itu, tapi dokter meminta Nadin utnuk mengejang
sekali lagi untuk menbgeluarkan plasentanmya.
keluar!”
Ternyata perjuangannya belum berakhir, masih sekali lagi.
Nadin mulai bersiap lagi, dan hanya dengan dua kali mengejang plasenta itu berhasil keluar.
“Dia seorang putra nak!” bisik bu Santi pada Nadin.
Sebelum membersihkan tubuh bayi itu, dokter terlebih dulu menemp[elkan bayi itu pada dada Nadin, untuk mencari air susunya.
Nadin menyusuinya sebentar lalu dokter kembali mengambilnya untuk di bersihkan begitu juga dengan Nadin. Proses melahirtkan normal ini banyak menyita tenaganya.
❤️❤️❤️❤️
Kini Nadin dan bayinya sudah di pindahkan ke ruang perawatan, Alex benar-benar tak sabar ingi segera menggendong bayoi laki-laki
itu, begitu tampan dan persis ayahnya.
“Jagoan kecil deddy! Halo selamat datang sayang …!’
Nadin masih terbaring di tempatnya dengan senyum
yang tak henti mengembang setari tadi, rasa lelahnya seakan sudah terbayarkan
denga n hadirnya malaikat kecil di sampingnya, kini ia tidak akan sendiri lagi.
“Nad …!” sapa Dini yang sedari tadi sepertiya
Nadin belum menyadari keberadaannya.
“Dini ….! Aku merindukanmu!” Dini segera memeluk
sahabatnya itu.
“Aku juga Nad, selamat ya …, bayimu begitu tampan!”
“Terimakasih ….!”
“Siapa namanya?”
“Aku belum punya nama untuknya, tapi aku akan memanggilnya tokki!”
“Tokki!”
“Iya!’
“Kenapa?”
“Karena dia menyukai panggilan itu!”
Dini menatap sahabatnya itu, ada luka di balik
ucapannya itu, walau selalu Nadin tutupi dengan senyum,nya,m masih ada harapan
di dalam ucapannya. Harapan yang mungkin akan datang atau malah tidak sama
sekali.
“Bagiamana kalau namanya Cardwell?” Dini memebrikan pendapatnya.
“Maksudnya?”
“Ya sesuai dengan namanya, dia akan menjadi semi di musim dingin.”
“Tidak buruk, tapi aku ingin putraku menjadi anak yang baik, ramah dan menyenangkan!”
“kalau seperti itu, bagaimana kalau Elan saja!”
“Baiklah aku lebih setuju yang kedua!”
“Elan Narendra!”
“Aku akan memanggilnya El saja kalau gitu!” ucap Aisyah yang juga tidak mau kalah.
Karena Nadin melahirkan dengan normal, tak perlu lama berada di rumah sakit, hanya dalam waktu 24 jam saja Nadin sudah di
perbolehykan untuk pulang,s etelag memastikan bayi dan ibunya dalam keadaan
baik.
Kini dini ikut bersama nadin,ia akan tinggal
sementara bersama sahabatnya itu selama satu minggu ke depan, sampai Nadin bias
melakukan semuanya sendiri.
“Selamat datang sayang!” Nadin menggendomng putranya
memasuki rumah yang sudah 7 bulan ini ia tinggali. Dan sekarang ia timnggal
bersama putranya.
“Ini rumah bunda, tidak besar, tapi cinta bunda
besar sekali untukmu sayang!”
“dari unty juga …!” Dini mkenyahut drai belakang
Nadin.
“Iya …, aunty Dini nggak mau kalah nih!”
Sebenarnya Alex mengatar merekja, tapi karena ada pekerjaan membuat Alex tidak bisa ikut mampir ke rumah Nadin, sedangklan bu
Santi dan Aisyah juga sudah berpamitan untuk pulang, karena senenjak kemarin
mereka sama sekali tidak pulang.
Nadin menidurkan bayi kecilnya itu di atas tempat tidurnya, menatap wajah kecil itu, wajahnya begitu mengingatkan pada pria
dingin itu, matanya, hindungnya bahkan bibirnya begitu sama.
“Tokki …., I love you my babby!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘