MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Pasal pemaksaan



Rendi dan Nadin segera menuju ke pintu lift. Entah sadar atau tidak tangan mereka masih saling bertaut, kalau Nadin sih sadar, karena kini tangannya menjadi dingin karena sentuhan si balok es. Sedangkan Rendi, entahlah? Dia sadar tapi pura-pura tidak sadar atau memang kehangatan tangan Nadin membuatnya nyaman.


Sampai di dalam lift pun Rendi tak melepaskan tangan Nadin. Nadin hanya bisa menatap tangannya, hatinya berbunga-bunga olehnya.


Setelah beberapa menit, akhirnya lift pun terbuka. Saat akan melangkah keluar lagi-lagi langkanhnya harus terhenti karena di depan sana ada Divta yang sedang berbincang dengan salah satu kru Finity Group.


Rendi yang melihat Divta hendak menuju ke arah mereka, ia pun segera melepaskan tangan Nadin dan kembali menyakukan tangannya ke saku celananya.


"Hai Rend ...., sudah mau pergi ya ...?" tanya Divta saat belum menyadari keberadaan Nadin di belakang Rendi.


Hgerm Hgerm ....


Rendi pun menghilangkan kegugupannya, ia sudah seperti pencuri yang sedang ketahuan.


"Sa-saya ..., i-iya ...!"


"Kenapa denganmu?" tanya Divta lagi yang merasa aneh dengan tingkah Rendi yang terlihat sekali sedang menyembunyikan sesuatu.


"Girl ....!" ucap Divta saat menyadari keberadaan Nadin.


"Hehe ..., Iya ....!" Nadin hanya bisa tersenyum yang tampak sekali di paksakan.


"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Divta. "Oh iya aku ingat ...., kamu pasti habis dari HRD kan ...?!" ucap Divta saat ingat dengan pembicaraan tentang rencana magang Nadin.


"Kamu sendiri ya?" tanya Divta lagi.


"Eh ...,em ..., saya. ....!" Nadin hendak menunjuk Rendi tapi lagi-lagi Divta memoyong ucapannya.


"Kamu pasti sendiri ...., bagaimana jika aku antar pulang?"


"Tidak ..., aku sama pak ...!" ucap Nadin hendak kelepasan, ia hanya bisa berharap Rendi akan membantunya bicara dengan Divta. Tapi pria itu tetap diam.


"Ayo ....!"


Divta segera menarik tangan Nadin tanpa permisi pada Rendi yang sudah menatap mereka dengan tatapan tajam, rahangnya mengeras, tangannya mengepal sempurna. Nadin hanya bisa menatap ke belakang berharap Rendi akan mengejarnya dan menaruknya kembali.


Setelah mereka keluar dari gedung itu, Nadin segera mengibaskan tangan Divta dari genggaman tangannya.


"Hentikan ....!" bentak Nadin, membuat Divta segera menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Nadin.


"Ada apa?" tanya Divta tanpa rasa bersalah.


"Kamu ya ...., kenapa suka sekali memaksaku?"


Hehhhh ....


Divta menghela nafasnya, ia hendak memegang tangan Nadin lagi, tapi Nadin segera mengibaskannya.


"Jangan pegang-pegang ...., aku nggak suka ...!"


"Baiklah ....!" ucap Divta sambil mengangkat kedua tangannya sejajar dengan telinganya.


"Sekarang katakan apa maumu?" tanya Nadin kemudian.


"Kita jalan-jalan ...., temani aku jalan-jalan ...!"


"Nggak mau ...!" ucap Nadin tegas.


"Aku akan memaksa ...!" ucap Divta tak kalah tegasnya.


"Hello ....., ini negara hukum ya ...., di sini orang tidak bisa memaksakan kehendaknya pada orang lain, jika itu terjadi maka aku akan melaporkanmu karena telah berusaha melanggar hak asasi manusia."


"Pasal apa itu?"


"Ada ...., nanti jika aku sudah tahu ..., aku akan memberitahumu."


Aku harus mencari cara supaya dapat terhindar dari si pria pemaksa ini ...., aku nggak mau kehilangan kesempatan pulang bareng sama pak Rendi ....


"Karena sekarang kamu belim tahu, maka kamu akan ikut denganku ...!"


"Kalau aku bilang nggak mau, ya nggak mau ...., jangan maksa dong ....!"


ting


Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan jika ada pesan masuk.


"Bentar ..., jangan bicara dulu, aku mau baca pesan ....!" ucap Nadin sambil mencari benda pipih itu di dalam tasnya. Dan tak berapa lama Nadun pun akhirnya menemukannya.


Divta hanya bisa menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menunggu Nadin selesai membaca pesannya.


*my block ice*


Nadin begitu senang melihat siapa yang mengiriminya pesan, itu pesan dari Rendi.


Ahhh ...., ini benar-benar bukan mimpi kan ...? Pak Rendi mengirimiku pesan, dia berarti menyimpan nomorku dong ...., ahhh .... senangnya ....!


"He ...., hey ...., kenapa cengar-cengir sendiri membaca pesan ...!"


Seketiak ucapan Divta membuyarkan lamunan Nadin, Nadin pun segera memberengut, ia begitu kesal pada Divta.


"Baiklah ...., aku akan diam ....!" ucap Divta, ia pun kembali diam dan membiarkan Nadin membaca pesannya dengan tenang.


Aku tunggu hingga lima menit, jika kau tak datang di halaman parkir, maka besok jangan temui aku ...


Membaca pesan dari Rendi membuat wajah Nadin berganti cemas.


"Kenapa?" tanya Divta lagi.


Aku harus segera mencari cara untuk kabur darinya ...., aha .... aku punya ide ...


"Tidak ...., aku tidak pa pa ...., baiklah aku akan ikut denganmu, tapi ada syaratnya ...!"


"Apa itu?"


"Tadi aku lupa meminta nomor telpon pihak HRD, jadi aku mohon sekarang mintakan aku nomornya ya ...., aku akan menunggu di sini."


"Baiklah ...., tapi jangan kabur ...., aku akan meminta dari pihak resepsionis sebentar, cuma lima menit, tunggu di sini ...!"


"Baiklah ...., aku menunggumu ...., hust ...hust ..., sana ...!"


Akhirnya Divta pun meninggalkan Nadin, setelah Divta tak terlihat lagi, Nadin pun dengan cepat berlari menuju ke parkiran. Ia mencari-cari mobil milik Rendi.


Setelah menyusuri lapangan parkir yang begitu luas akhirnya Nadin melihat mobil Rendi juga yang berada di jejeran paling ujung.


Nadin pun dengan cepat berlari menuju mobil itu, di dalam Rendi sudah menunggunya dengan terus melihat jam tangan yang melingkar dengan apik di pergelangan tangannya.


"Aku datang ....!" ucap Nadin setelah berhasil masuk ke dalam mobil itu dengan nafas yang masih tidak teratur karena berlari.


"Bagus ...., waktumu hanya tersisa satu detik saja ....!" ucap Rendi sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Hanya gitu doang ...? Nggak ada kata lain?" tanya Nadin masih dengan nafasnya yang ngos-ngosan, tenggorokannya kering.


"Sudah ku bilang, jangan biarkan orang lain menyentuhnya ....!" ucap Rendi sambil menatap tangan Nadin.


Astaga ...., orang ini ribet sekali ...., segala tangan di sentuh di urusin ....


"Baiklah ...., aku akan membersihkannya!"


Untung saja Nadin selalu membawa hands sanitizer yang di berikan oleh Rendi di dalam tasnya, ia menganggap barang pemberian Rendi itu adalah barang yang perlu di abadikan.


Seperti yang sebelumnya, Nadin pun mengusap tangannya yang sudah di pegang Divta dengan cairan hand sanitizer itu.


"Sudah bersih ...!" ucap Nadin sambil menunjukkan lengannya.


"Bagus ...., jangan mengulangi kesalahan yang sama ...!"


"Iya ...., aku mengerti ...! Tapi apakah tidak ada minum di sini?" tanya Nadin sambil mencari-cari di bangku belakang.


"Ini ...!" ucap Rendi sambil melemparkan sebotol air mineral. "Dan pakai seathbelt mu ...., aku tak mau terkena masalah karena mu."


"Baiklah ..,!" Nadin pun segera meminum minuman yang di berikan oleh Rendi, entah muncul dari mana botol itu, karena Nadin tidak melihatnya tadi. Setelah menghilangkan rasa hausnya Nadin pun segera mengenakan sabuk pengamannya.


Rendi segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir.


****


spesial Visual Divta



Divta yang sudah kembali dari meja resepsionis dengan membawa secarik kertas, ia pun segera keluar gedung di mana ia meninggalkan Nadin.


Ia tidak mendapati Nadin di sana lagi.


"Girl ...., girl ...., girl ....!" panggil Divta.


"Maaf pak anda mencari siapa?" tanya pria dengan tanda pengenal finityGroup itu.


"Apa kau melihat gadis yang bersamaku tadi?"


"Dia pergi ke lapangan parkir, setelah anda masuk kembali ke dalam gedung."


Astaga ..., aku telah di tipu olehnya ...., kau benar-benar kelinci kecilku ....


"Pak ...., apa perlu kami mencarinya?" tanya pria itu.


"Tidak perlu ....!"


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Happy Reading 😘😘😘😘😘