
"Kenapa anda bisa berpikir jika saya akan setuju?"
"Ini hanya perasaan seorang ayah, seorang ayah tidak akan bisa melihat putrinya menderita!"
Agra hanya tersenyum kecut, ia tidak menyangka jika lawan bisnisnya ini berpikir begitu picik. Rendi yang melihat Agra begitu tenang ia jadi berpikir jika sahabatnya itu sudah tahu solusinya.
"Saya rasa jika semua ayah di dunia ini seperti anda semua, anak perempuan di dunia ini akan mengatakan jika ayahku menjual ku!"
"Maksudmu apa ini?" pak Barata sudah mulai terpancing emosinya oleh ucapan Agra.
"Kepolosan putrimu kau manfaatkan juga! Untung saja dulu dia berurusan dengan ku yang jelas aku tidak akan memperpanjang urusannya!
Jangan di kira saya tidak tahu apa kebusukan anda!"
Brakkkkkk
Tiba-tiba pak Barata berdiri dari duduknya dan mengebrak meja di depannya. Ia terlihat begitu marah.
"Jaga bicara anda, atau saya akan benar-benar menghancurkan perusahaan anda!" ucap pak Barata dengan mata yang berapi-api.
"Lalukan saja apa yang ingin anda lakukan dan saya juga akan melakukan apa yang harus saya lakukan! Kami permisi!"
Agra dan Rendi pun berdiri dan meninggalkan ruangan pak Barata, meninggalkan pak Barata yang masih sangat kesal.
Mungkin setelah ini menjadi tugas Rendi, karena bagian pengamanan dan pembalasan adalah keahlian Rendi.
Mereka pun akhirnya sampai di dalam mobil, Rendi sudah duduk di balik kemudi. sedangkan agra berada di sampingnya.
"Apa rencana mu selanjutnya?" tanya Rendi sebelum menjalankan mobilnya.
"Selanjutnya tugasmu!"
"Maksudnya?"
"Nanti kamu juga tahu sendiri, sekarang kita ke tempat proyek pembangunan saja!"
"Untuk apa?"
"Sekarang aku rasa kamu jadi ketularan Nadin ya, jadi banyak tanya!"
Rendi menanggapi ucapan Agra hanya dengan memicingkan matanya, ia memilih menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan pelataran gedung group H.
"Kita harus memberi instruksi pada pekerja, jika pekerjaan mereka harus segera di lanjutkan!"
"Sudah benar-benar yakin?" tanya Rendi meyakinkan.
"Menurutmu? ya yakin lah, sudah tahu kan bagaimana lawan kita, dia hanya bersembunyi di balik lebel perusahaan besarnya. Dia bukan lawan yang harus di takuti kan!"
"Iya kau benar!"
Mereka pun menuju ke tempat pembangunan. Selain memberi instruksi, mereka juga harus memastikan jika semuanya baik-baik saja.
Setelah kembali dari tempat pembangunan, Agra dan Rendi segera kembali ke rumah.
"Apa yang harus aku lakukan untuk pak Barata?"
"Lakukan yang sama seperti yang pak Barata lakukan di Korea, dia punya cabang di sana yang ternyata seluruh pengelolaannya di atur oleh finity Group!"
Yang ke dua, buat putrinya kembali mendapatkan teman-teman yang dulu pernah meninggalkannya gara-gara kita!"
"Kau ini, selalu saja merepotkan ku!" keluh Rendi tapi tetap saja melakukan apa yang di minta oleh Agra.
"Siapa lagi yang aku andelin selain kamu! Jangan suka ngeluh, aku sudah berbaik hati ya jadi kakak ipar!"
"Hhhehhhhh .....!" Rendi mendengus sambil menyebirkan bibirnya.
"Ya udah selamat bekerja, aku mau mandi dulu. Surabaya sama panasnya dengan Jakarta!" ucap Agra sambil melenggang begitu saja meninggalkan Rendi.
Rendi pun menuju ke dapur, ia memilih mengambil air minum dan duduk di meja makan. Sambil minum ia mulai memainkan i-pad ya, menjalankan apa yang di perintahkan oleh Agra.
"Banyak juga ternyata teman Revita!" gumam Rendi setelah melihat banyaknya teman yang pernah dekat dengan Revita.
"Banyak yang sudah berada di luar kota juga ternyata!"
Setelah menghubungi semua teman yang pernah dekat dengan Revita, Rendi pun memilih menghentikan pekerjaannya karena ia sudah meminta anak buahnya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Rendi menuju ke kamarnya dan menyambar handuk yang menggantung. Saat hendak menuju ke kamar mandi, langkahnya kembali terhenti karena ponselnya berdering.
"Hai mas ....! Assalamualaikum!" Nadin melambaikan tangannya saat melihat gambar suaminya sudah memenuhi layar ponselnya, senyumnya meeka bahagian, rasanya begitu merindukan pria dingin itu hanya sehari saja tak bisa melihat wajahnya.
"Waalaikum salam, kenapa baru telpon?" protes Rendi, walaupun ia juga sangat senang tapi tetap saja ia tidak bisa menghilangkan sifat dinginnya itu.
"Maaf mas, tadi aku ke kafe nya kak Ara!"
"Sama siapa?" rasanya begitu kesal karena tidak bisa menemani istrinya.
"Sama Dini mas ..., cemburuan banget!" keluh Nadin, tapi tetap dengan senyum cerianya.
"Baguslah ...., bagaimana Elan, apa dia merindukanku? Lalu Debay, apa dia merepotkan mu? Perlihatkan padaku!" Rendi kembali membanjiri dengan banyak pertanyaan.
Nadin pun segera mengarahkan kamera ke perutnya, "Dia baik banget mas, kayaknya tahu deh kalau ayahnya jauh makanya nggak merepotkan buna nya!"
"Aku jadi pengen cepat pulang!" gumam Rendi tapi masih bisa di dengar oleh Nadin, Rendi segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Memang masih lama ya mas pulangnya?" tanya Nadin dengan sedikit kecewa, melihat ekspresi suaminya, membuatnya yakin jika suaminya tidak bisa pulang cepat.
"Mungkin dua hari lagi, tunggu aku sampai aku kembali ya!"
"Pasti lah ayah ....!"
Setelah menyelesaikan video call nya dengan Nadin, Rendi pun kembali melanjutkan kan ke kamar mandi, nanti malam menjadi malam yang sibuk untuknya.
***
Pagi ini Agra sudah bersiap untuk menuju perusahaan cabang, ia harus melakukan meeting lanjutan terkait pembangunan.
"Sudah beres Rend?" tanya Agra sambil menikmati sarapannya, mereka memang tidak menyewa orang untuk memasak karena memang mereka berdua sudah punya hobi memasak dari dulu, ia hanya menyewa tukang bersih-bersih dan akan datang setelah mereka berangkat dan pulang sebelum mereka kembali.
"Enak banget tinggal nyuruh, aku begadang kamu nya tidur nyenyak!"
"Nggak ikhlas banget bantunya!" ucap Agra sambil melempar selembar roti pada Rendi.
"Bagaimana? Acara pestanya kapan?"
"Kalau bisa secepatnya!"
"Besok malam dan paginya kita bisa langsung pulang!"
"Ok ...., aku yang akan mengatur pertemuan mereka!"
Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka segera berangkat karena meeting di jadwalkan pagi.
Mobil mereka sudah berhenti di depan gedung dan langsung di sambut oleh bellboy yang akan memarkirkan mobil mereka.
"Selamat datang pak!" sambut pria yangs ama yang menyambutnya di hari pertama mereka datang ke Surabaya.
"Terimakasih!"
"Ada yang sedang menunggu anda, Pak!"
"Siapa?"
"Presdir Group H!"
Mendengar hal itu, Agra tersenyum smirtt, ia seperti sudah tahu apa yang akan di bicarakan oleh pak presiden direktur group H.
"Mari kita temui dia!"
Mereka berjalan beriringan menuju ke pintu Lift. langkah meeka terhenti tepat di depan pintu lift menunggu hingga pintu itu terbuka. Rasanya tidak sabar ingin segera bertemu dengan pria itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘😘😘