MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Kemarahan Rendi



Divta dan Davina yang masih terkejut melihat reaksi Rendi, membuat mereka hanya terdiam.


"Apa yang Rendi lakukan?" gumam Divta.


Aku tahu Nadin alergi seafood, tapi bukan ini yang aku mau. Aku ingin membuat Nadin dan pak Divta dekat, Tapi kenapa kini malah sebaliknya, kenapa pak Rendi datang ....


Davina begitu kesal ingin sekali marah, tapi pada siapa. Recananya untuk menjauhkan Nadin dengan Rendi lagi-lagi harus gagal.


"Aku akan ke rumah sakit!" ucap Divta, ia segera meraih jasnya yang tadi sempat di lepas.


"Aku ikut pak!" teriak Davina saat Divta sudah mulai menjauh, Divta pun menganggukkan kepalanya.


Mereka segera menuju ke rumah sakit, sesampai di rumah sakit. Mereka langsung di sambut dengan wajah marah Rendi, Rendi segera menghampiri Davina yang berada di samping Divta.



Wajah marah Rendi


"Kau pasti sengaja melakukan ini kan!" teriak Rendi pada Davina. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada Nadin, kau orang pertama yang akan aku salahkan!"


Kemarahan Rendi membuat Davina begitu ketakutan, ia baru kali ini melihat wajah garang seorang Rendi yang biasanya berperawakan tenang dan dingin, tapi sekarang terlihat begitu panas dan menakutkan.


"Rend ....., tahan amarahmu ....!" ucap Divta menenangkan Rendi, tapi Rendi malah menarik kerah kemeja Divta.


"Aku juga akan memberi perhitungan padamu, camkan itu!" ucap Rendi sambil hendak memukul Divta, tapi segera di cegah oleh dr. Frans yang kebetulan sudah keluar dari ruang UGD.


"Hentikan ....!" teriak Dr. Frans sambil menahan tangan Rendi yang sudah mengambang di udara. "Apa-apaan ini ....? Berhenti bersikap kekanak-kanakan ...!" ucap dr. Frans sambil mendorong tubuh Rendi, Rendi pun limbung hingga tubuhnya terjatuh dan membentur kursi besi yang berada di depan ruang UGD.


Rendi tampak begitu kacau, ia benar-benar tak terkendali, wajah tenangnya kini sudah menguap.


"Bagaimana keadaan Nadin?" tanya Divta sambil membetulkan kerah kemejanya yang sempat berantakan karena ulah Rendi.


"Nadin sekarang sedang tidur karena di beri obat penenang, dia akan di pindahkan ke ruang perawatan setelah keadaannya stabil." ucap dr. Frans.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Divta yang tidak begitu tahu tentang gejala alergi yang di alami Nadin.


"Nadin mengalami alergi, dia alergi dalam golongan berat terhadap seafood. Pada kondisi tertentu, reaksi alergi bisa menjadi sangat serius dan membahayakan nyawa penderitanya. Kondisi ini disebut juga syok anafilaktik dan tergolong darurat sehingga memerlukan penanganan medis sesegera mungkin." dr. Frans menjelaskan.


"Lalu gejala apa saja yang di timbulkan akibat alergi ini?" tanya Divta lagi.


"Pada gejala awal biasanya benderita akan merasakan bengkak pada tenggorokannya sehingga menyebabkannya sulit untuk bernapas,Tekanan darah menurun drastis, Sakit kepala, kehilang kesadarannya. Untung saja ia segera mendapatkan pertolongan, jika tidak maka akibatnya akan sangat fatal."


Mendengar penjelasan dari dr. Frans, Divta pun hanya bisa terpaku. Ia tidak menyangka kecerobohannya akan membahayakan nyawa Nadin.


Dr. Frans segera mendekati Rendi yang masih terduduk lemas.


"Tenanglah ....., dia akan baik-baik saja!" ucap dr. Frans sambil menepuk pundak Rendi dan membantu Rendi untuk berdiri.


Divta segera mendekati Rendi yang sudah sedikit tenang, ia ingin sekali menanyakan sesuatu yang begitu mengganjal.


"Rend!" ucap Divta sambil duduk di sebelah Rendi.


"hemmm?" Rendi enggan menanggapi ucapan Divta, ia masih begitu kesal pada kakak sahabatnya itu.


"Apa hubunganmu dengan Nadin?" tanya Divta. Rendi pun segera menatap Divta. Tapi saat hendak menjawab pertanyaan Divta, tiba-tiba dari arah luar datang bersamaan Agra dengan Ara, ayah Roy dengan ibu Dewi.


"Kalian ....!" ucap Divta yang segera berdiri melihat kedatangan mereka.


"Apa yang terjadi dengan Nadin, dimana dia?" tanya ayah Roy begitu khawatir.


"Ayah tenang ya!" ucap Davina segera menghampiri ayah dan ibunya. "Alergi Nadin kambuh!"


"Kok bisa ...., bagaimana bisa kambuh?" tanya ayah Roy begitu marah.


"Tadi Nadin makan seafood!" ucap Davina.


"Ayah ....., ayah yang sabar ya, Nadin pasti bisa melawan alerginya!" ucap Ara sambil memeluk ayahnya. Membuat Davina mudur, ia sedikit kesal, karena terabaikan. Ayah Roy membalas pelukan putrinya.


Agra sudah mendekat pada Divta dan Rendi. Ia menatap dua pria itu bergantian.


"Kalian berdua?" tanya Agra.


"Tadi Rendi datang tepat waktu, ia menghentikan Nadin memakan seafood!" ucap Divta sedikit tidak rela, ia ingin sekali dia lah yang paling berguna untuk Nadin, tapi selalu kedahuluan Rendi.


Dr. Frans yang sedari tadi memperhatikan Davina, segera menarik tangan Davina menjauh dari mereka.


"Dokter apa-apaan sih ...., lepasin!" ucap Davina sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman dr. Frans.


"Tunggu dulu, pokoknya kamu karya ikut aku!" ucap dr. Frans memaksa.


"Nggak mau .....!"


"Sudah ...., sekarang sudah aman!" ucap dr. Frans sambil melepaskan tangan Davina saat sampai di lorong yang sepi.


"Sekarang jujur padaku, kamu kan yang sudah merencanakan semua ini?" tanya dr. Frans.


"Nggak .....! Siapa juga yang merencanakan!" jawab Davina mengelak.


"Jangan mengelak!"


"Aku tidak mengelak!"


"Terserah, tapi jangan harap setelah ini kamu bisa lolos dariku!" ancam dr Fans sambil berlalu meninggalkan Davina yang masih bersungut marah.


Dia benar-benar membuatku marah, kenapa harus ada dia yang membela Nadin, dia benar-benar mempersulitku.


***


Setelah keadaan Nadin stabil, Nadin pun di pindahkan ke ruang perawatan. Semua keluarga bergantian menjenguknya. Rendi begitu ingin menemui Nadin, tapi di ruang perawatan Nadin masih saja selalu ada orang yang bergantian masuk, membuatnya begitu sulit. Ia bingung harus melakukan apa, hatinya ingin sekali memeluk tapi otaknya melarangnya.


"Aku akan menjagamu di sini!" ucap ayah Roy pada Nadin.


"Nggak usah ayah, sebaiknya ayah pulang. Nadin sudah nggak pa pa, Nadin sudah besar. Nadin berani di sini sendiri!" ucap Nadin menolak.


"Sayang ...., ayah khawatir!"


"Jangan kkhawatir ayah, di sini ada dr. Frans, dia akan menjagaku!"


"Baiklah ...., tapi jika ada apa-apa, segera hubungi Ayah!"


"Siap ayah ....!"


Ayah Roy berpamitan pada Nadin, ia sebenarnya begitu berat meninggalkan putrinya, tapi putri cerewetnya itu sudah memaksanya. Ibu Dewi sudah sejak sore meninggalkan rumah sakit, begitupun dengan Agra dan Ara, karena tidak mungkin meninggalkan baby twins terlalu lama.


Rendi yang sudah menunggu kesempatan ini, segera memanfaatkannya. Setelah ayah Roy keluar dari kamar Nadin, Rendi bergegas menuju ke kamar Nadin.


"aah ...., dia mematikan lampu kamarnya, apa dia sudah mau tidur?" gumam Rendi saat melihat kamar perawatan Nadin menjadi gelap sepeninggal ayah Roy.


Rendi berhenti di depan pintu kamar Nadin, ia mencoba mengintip dari kaca kecil di pintu, tapi tetap saja tidak kelihatan. Membuat Rendi mendengus kesal.


"Apa aku harus menunggu besok pagi?" tanyanya pada diri sendiri.


"Tapi kalau besok pagi ...., Aaaah ...., nggak mungkin!" gumamnya lagi. "Dia benar-benar sudah membuatku gila!"


**BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 😘😘😘😘**