MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Sekarang aku sudah jatuh cinta



Setelah


pernyataan cinta yang mendadak dari Nadin. Bohong jika Rendi tidak terpengaruh, entah pikirannya ataukah harinya terganggu.  Rendi masih belum bisa


memahami apa maunya Nadin. Kenapa seorang gadis kecil, yang jelas usia mereka bertaut terlalu jauh menyatakan cinta padanya.


“Bro ...,


kenapa nglamun aja sih dari tadi?” tanya dr. Frans yang sedari tadi


memperhatikannya. Dr. Frans memperhatikan sahabatnya itu dengan seksama, ada yang berbeda.


“nggak ada ...”


jawab Rendi dingin. Tapi tampak pikirannyua sedang tidak fokus. Berkali-kali ia meneguk minumannya, seperti sedang menghilangkan kegelisahan dalam hatinya.


“ya udah


terserah lo, jika tidak mau cerita...” dr. Frans pun memilih untuk sibuk dengan


gadgetnya. Ia memainkan game yang ada di dalam ponselnya, namun tetap saja sesekali memperhatikan wajah sahabatnya itu yang tampak begitu gelisah.


Hening


Hening


Hening


“Menurut lo,


jika seorang wanita menyatakan perasaannya padamu apa yang harus lo lakuin?”


tanya Rendi tiba-tiba. Dr. Frans di buat terkejut olehnya.


“Lo di tembak


wanita, wanita mana yang nembak lo?” tanya dr. Frans heboh. Ponsel yang berada di tanganya di geletaknan begitu saja di atas meja. Menurutnya ini hal langka, tidak biasanya sahabatnya itu menanyakan hal yang pribadi. Biasanya ia akan berbicara seputar pekerjaannya atau kehidupan bosnya, benar-benar langka.


“Ngak ..., gue


Cuma nanya...” jawab Rendi sambil mengalihkan pandangannya. Terlihat sekali ia begitu gelagapan menyahuti pertanyaan Dr. Frans.


“Ya ..., ya...,


tidak mungkin sih ada cewek yang nembak lo, kalau sampai ada cewek yang nenbak


lo, pasti tuh cewek sudah kehilangan akalnya.” Ledek dr. Frans


“Dasar ....”


timpal Rendi lalu dengan tanpa permisi meninggalkan dr. Frans yang masih belum


berhenti tertawa.


“Eeh ..., lo mau


kemana ...?” tanya dr. Frans yang sudah menyadari jika temannya itu hendak


meninggalkannya.


“Ada yang harus


gue lakuin.” Ucap Rendi tanpa menghentikan langkahnya. Ya ternyata Rendi


mendapat laporan jika Viona sedang merencanakan sesuatu lagi. Tapi kini dia


tidak sendiri. Ada orang yang kuat yang mendukungnya dari belakang.


Rendi terus


mencari informasi dari beberapa penyamaran dan penyeledikannya. Tapi ternyata


yang memback up Viona orang yang cukup kuat, sehingga membuat Rendi dan anak


buahnya kesulitan melacak keberadaan mereka.


***


Sore ini saat Nadin pulang dari kampus, ia di kejutkan oleh


seseorang yang sudah duduk di teras rumahnya bersama sang ayah.


Nadin pun buru-buru memarkirkan motornya. Ia segera menghampiri


ayahnya.


“Kak Dio ...?”


“Hai Nad ...” Sapa Dio.


“Kak Dio kenapa di sini?”


“Aku Cuma ingin ngobrol sama ayah kamu aja, ya udah sepertinya


obrolan kami sudah selesai. Saya pamit permisi dulu om ...” Roy pun hanya


mengangguk. Dio meraih punggung tangan Roy untuk menciumnya lalu berlalu


meninggalkan Roy dan Nadin.


Setelah Dio tak terlihat lagi. Nadin pun berpamitan pada ayahnya.


“Nadin masuk dulu ya yah ..., capek mau mandi.”


“Tunggu ....” langkahnya segera terhenti saat ayahnya


menghentikannya. Nadin pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah.


“Duduk ...”


“Ayah ..., kenapa serius sekali ...?” tanya Nadin sambil duduk di


samping ayahnya.


“Kata Dio ..., kamu jualan kue di kampus. Apa itu benar?” tanya


Roy.


Ah ....., sudah ku duga. Dasar tukang ngadu ..., Batin Nadin.


“Apa kurang uang yang ayah berikan padamu, sehingga kau berjualan


kue. Ayah nggak mau sampai kuliah kamu terganggu ...” Roy terlihat begitu


marah.


“maaf yah ...., ini sebenarnya merupakan salah satu materi kuliah.


Jadi gini yah ..., aku harus bisa memasarkan suatu produk, makanya aku jualan


kue.” Jelas Nadin.


“maafkan aku ayah ...,aku harus membohongimu...” Batin Nadin


Nadin tidak mau membuat kesalah pahaman antara kakaknya dengan


ayahnya akan bertambah besar. Jika sampai dia jujur pada ayahnya bahwa ia


membatu kakaknya, bukan tidak mungkin jika ayahnya itu akan bertambah murka


pada kakaknya.


“Oh ..., jadi begitu ...” untung saja Roy  percaya dengan Nadin.


“Iya yah ..., makanya ayah jangan marah dulu.”


“Maafkan ayah ...”


“Tidak apa .., ya udah Nadin masuk dulu ya ...”


Nadin pun segera masuk ke dalam kamarnya, ia melempar tasnya entah kemana lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan telentang menatap langit-langit.


"Aaah ...., aku harus lebih hati-hati, sekarang ayah bisa percaya, tapi besok-besok ...."


"Aaah ..., dasar kak Dio ....." ucap Nadin sambil memukuli bantal di sambil menumpahkan rasa kesalnya.


***


Siang ini Rendi berencana menemui Ara di kontrakannya. Karena


sangat tidak mungkin untuk menemui Agra. Melihat sikap Agra selama ini padanya.


Dia tidak akan pernah mempercayai ucapan Rendi.


Mobil hitam yang di tumpangi Rendi berhenti dan terparkir di gang


depan rumah kontrakan Ara. Memang  tak


ada halaman di rumah itu, sehingga jika memarkirkan mobil hanya di tepi jalan


saja. Jalanannya pun tak terlalu lebar. Mungkin hanya bisa di lalui dua mobil


bersamaan


Ara yang terlihat duduk di teras rumah pun segera beranjak dari


duduknya, ia menatap mobil yang telah mematikan mesinnya itu, ia melihat dua


orang kekar yang sudah turun terlebih dahulu dan di susul dengan keluarnya


orang yang begitu ia kenal


Pria dengan jas dan pakaian resmi yang selalu melekat di badannya


serta wajah dingin yang selalu menghiasi setiap langkahnya, berjalan mendekati


Ara yang belum beranjak dari tempatnya.


“selamat siang nona” Rendi menyapa Ara yang tetap berdiri dengan daster


biru muda motif bunga selutut itu. Rendi mendekat ke teras rumah Ara.


“pak Rendi?” Ara di buat terkejut dengan kedatangan Rendi di


tempatnya. Ya, hari ini Rendi datang berkunjung ke kontrakan Agra dan Ara tanpa


sepengetahuan Agra, Rendi memang selalu rutin menanyakan keadaan mereka


walaupun hanya melalui pesan singkat


“pak Rendi ..., kenapa ke sini?” tanya Ara lagi.


“Ada yang ingin saya bicarakan pada anda” Rendi menjelaskan maksud


kedatangannya.


 “Duduklah” Ara segera


menyuruhnya untuk duduk di teras rumahnya yang memang ada sepasang kursi dan


sebuah meja kecil berbahan plastik di sana.


“Terimakasih, nona” jawab Rendi dan segera duduk di tepat yang di


tunjuk oleh Ara, sedangkan dua orang tadi masih tetap berdiri di depan mobil


yang sedang terparkir.


“Biar aku ambilkan minum dulu ya” Ara pun hendak ke dalam untuk


mengambil minum tapi langkahnya sudah lebih dulu di tahan oleh rendi.


“Tidak perlu nona, saya Cuma sebentar” tolak Rendi. memang kedatangannya


tidak akan lama.


 “Apa yang membuatmu ke


sini?” Ara pun akhirnya mulai bertanya kepada Rendi. rendi cukup tahu jika Ara


merasa takut jika sewaktu-waktu suaminya akan pulang.


“Saya hanya memastikan keadaan nona dan pak Agra baik-baik saja”


jawab Rendi tetap dengan wajah dinginnya.


“kami baik-baik saja, jadi kamu atau siapa pun tak perlu pura-pura


khawatir terhadap kehidupan kami, kami sudah hidup bahagia, lebih bahagia dari


sebelumnya, dan lagi Agra tidak akan suka jika kau menemuiku, aku harap kau


mengerti hal itu” ucapan Ara membuat hati Rendi mencelus. Bagaimana bisa Ara


menganggap kekhawatirannya hanya sebuah kepura-puraan. Tidak taukah jika selama


ini ia terus mengawasi mereka. Memantau keselamatan mereka.


“Maaf jika kedatanganku begitu mengganggu anda, tapi saya benar-benar


ingin memastikan sesuatu saja” ucap Rendi setelah terjadi keheningan beberapa


saat. Rendi tak mau kekhawatirannya malah akan membuat Ara cemas atau terpirkan


masalah yang terjadi.


“kau sudah tahu keadaan kami, lalu apa lagi?” Ara benar-benar


merasa tidak nyaman jika berlama-lama berdua dengan Rendi, jika sampai Agra


melihatnya akan terjadi kesalah pahaman lagi.


“Apakah nona Viona atau siapapun  pernah datang ke sini, atau menemui pak Agra?”


Mendengar Rendi menyebutkan nama Viona membuat Ara begitu terkejut,


ia segera membulatkan matanya menatap Rendi


“kenapa kau bertanya seperti itu?”


“karena mungkin akan ada yang menemuimu dan Agra”


“Maksud kamu?” Ara benar-benar gagal mencerna ucapan Rendi


“Anda hanya harus berkata jujur agar kami bisa mengantisipasi


semuanya”


“Kau kan bisa langsung tanya pada mata-mata suruhanmu itu, bukankah


mereka selalu mengawasi kami dua puluh empat jam, kenapa kamu harus repot-repot


datang ke sini, kami bisa jaga diri kami sendiri, jadi jangan lagi mengusik


kami, aku mohon ....” ucap Ara sambil mengatupkan kedua tangannya, ada banyak


yang di pikirkan Ara, rasa cemasnya jika memikirkan kejamnya dunia suaminya


membuatnya sedikit egois, tapi tak bisa di pungkiri jika ia juga ingin melihat


suaminya kembali berbaikan dengan ibunya


Ucapan Ara membuat Rendi tak menemukan jawabannya, mereka kembali


dalam diam, dalam pikirannya masing-masing. Jadi selama ini Ara tahu jika


orang-orang suruhan Rendi sudah mengawasinya. Rendi terkejut kembali.


“apa ibu baik-baik saja?” ya sekeras-kerasnya


hati Ara tetap saja


tak bisa mengalahkan rasa bersalahnya pada ibu mertuanya. Rendi yang semula


menatap ke sembarang arah, kini berbalik menatap Ara.


“Nyonya baik-baik saja” ya Rendi cukup senang dengan sikap ara. Ia


masih menyayangi mertuanya apapun yang di lakuakan oleh ibu mertuanya.


“Baguslah ...” jawaban Ara sebenarnya terselip rasa kecewa, ia


ingin mendengar jika ibu mertuanya itu tidak baik-baik saja, ia merindukan


putranya, itulah sebenarnya yang ingin dia dengar.


“Memang ada apa dengan Viona atau orang lain?” tanya Ara lagi, ia


sedikit bingung dengan kata orang lain, orang lain siapa yang di maksud Rendi.


rendi pun mungkin belum punya jawaban atas pertanyaan Ara.


“Tidak ada nona, mungkin nanti anda akan menghadapi beberapa


masalah yang akan sedikit menguji rumah tangga kalian, aku harap kau akan tetap


berada di pihak Agra”


“Aku akan tetap berada di pihak suamiku tanpa kamu minta” jawab Ara


tegas.


“Saya lega, saya pegang ucapan anda”


Mereka kembali terdiam, tiba-tiba tak jauh dari tempat mobil Rendi


terparkir sebuah ojol dengan penumpangnya berhenti tepat di belakang mobil itu,


penumpang itu segera membuka helmnya dan melakukan pembayaran


Ia menapat ke arah Rendi dan Ara yang sedang duduk di teras,


Astaga ..., kenapa dia di sini, apa yang harus aku lakukan. Dia


sudah melihatku ..., Nadin ..., kau harus terlihat biasa aja, anggak tidak


pernah ada kata-kata itu keluar dari bibir kamu. Ok ...., Batin Nadin


menenangkan diri,  setelah itu


pandangannya beralih pada dua pria kekar yang sedang berdiri di samping mobil.


Nadin pun mencoba tersenyum senatural mungkin.


“siang om ...” sapa Nadin, ia menyapa kedua pria kekar itu sambil


menundukkan kepalanya.


Tapi sepertinya mereka tak terpengaruh dengan sapaan Nadin, kedua


pria kekar itu tetap menunjukkan wajah seramnya, membuat Nadin bergidik ngeri


dan segera berlari menghampiri Ara.


“siang kak ...” Nadin segera memeluk dan mencium pipi Ara, kemudian


pandangannya teralihkan kepada pria yang duduk di samping kakaknya. Mata mereka


bertemu.


Aku harus biasa aja ...., anggap tidak terjadi apa-apa....., Batin Nadin menenagkan jantungnya yang sudah berirama lebih cepat


dari pada pukulan dram band.


Ia pun segera melepas pelukannya kepada Ara, dan memberi salam pada


Rendi.


“Selamat siang pak ...., Rendi” sapa Nadin dengan sedikit ragu.


Rendi pun seperti biasa, ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa


berniat membalas sapaan Nadin.


“Baiklah nona, kalau begitu saya permisi nona” Rendi pun segera


berdiri dari duduknya, Ara pun hanya mengangguk


“Selamat siang nona” Rendi segera undur diri


Rendi segera berlalu meninggalkan mereka berdua, mata Ara dan Nadin


tetap tertuju pada punggung pria itu hingga pria itu memasuki mobilnya.


Sebegitu tidak ada artinya kah aku di matanya, menyebalkan. batinNadin.


Setelah mobil Rendi tak terlihat lagi, Nadin pun segera duduk di


tempat yang baru saja di tinggalkan oleh Rendi. wajahnya tampak kesal. Ara pun


hanya menatap adiknya herang dan ikut duduk di sampingnya.


“kak ....?”


“hemmmm?”  Ara balik


bertanya.


“kenapa pak es batu kesini?”


“siapa es batu?”


“ya itu tadi..., ganteng sih tapi sayang kayak es batu, nggak ada


senyum-senyumnya”


“bisa aja kamu tuh dek ...”


“abis dingin banget, yang di sampingnya aja ikutan beku”


“siapa dek emang yang di sampingnya?”


“tuh tadi dua orang yang berdiri jadi patung di samping mobil, apa


mungkin emang kalau kerja sama es batu juga harus jadi kulkas kali ya kak...”


“Jangan terlalu benci dek, ntar jatuh cinta lo ...”


Sekarang aja udah jatuh cinta, gimana entar ..., kenapa aku harus


jatuh cinta sama balok es ..., apa dia punya hati buat mencintai ...? batin Nadin


dalam diamnya.


***


**Katakanlah "Aku tidak perlu pernyataan cintamu, yang aku butuhkan adalah kamu mencintaiku" Cak Nun


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


kasih Vote juga ya


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘**