MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Di Save ya!!!



Agra dan Jerry membicarakan perihal bisnis, tapi entah kenapa


sedari tadi Nadin yang tak henti memperhatikan mereka tampak ada pembicaraan


yang ganjil.


Dan benar saja, sepeninggal Jerry. Agra terlihat marah pada Ara.


Agra menarik Ara naik ke lantai dua yang kini sudah di rubah


menjadi rumah pribadi, tak sembarangan karyawan masuk ke lantai atas, Ara pun


hanya bisa pasrah, ia sudah tahu apa yang akan di tanyakan suaminya


Nadin yang melihat kedua kakaknya naik dengan wajah yang berbeda,


membuatnya bertanya-tanya.


“ada apa dengan mereka?” ucapnya seperti sebuah gumaman tapi masih


bisa di dengar orang di sampingnya


“iya ya mbak, nggak biasanya, apa mereka sedang bertengkar ...”


ucap mbak Rini yang kebetulan berdiri di samping Nadin.


“Aduh mbak ...., mengagetkanku saja ...” ucap Nadin sambil mengelus


dadanya karena kehadiran mbak Rini yang tak di sangka-sangka.


Dan tak berapa lama Agra kembali turun denga bekas air mata.


Hah ...., kak Agra menangis....


Agra segera di hampiri oleh Nadin yang sedari tadi memang sengaja


menunggu kakaknya turun, tapi langkahnya terhenti tepat di depan Agra.


Nadin menjadi tak memiliki keberanian untuk bertanya setelah


melihat wajah kusut kakak iparnya, bibirnya seakan kelu sendiri.


“kamu jaga kakakmu dulu, aku keluar sebentar ...” ucap Agra datar,


tanpa menunggu jawaban dari Nadin, Agra pun langsung berlari meninggalkan Nadin


Agra keluar Ruko dan menuju ke motor yang sudah terparkir di sana,


ia segera menaiki motor itu dan meninggalkan pelataran parkir Ruko


Setelah Agra tak terlihat lagi, Nadin segera berlari menaiki


tangga, ia membuka pintu dan mendapati kakaknya sedang menangis tersedu di


depan sofa.


“kakak ...” Nadin segera berlari menghampiri kakaknya dan


memapahnya memdudukkannya di atas sofa.


“kakak kenapa? Kakak bertengkar ya dengan kak Agra?” Nadin mengelus


punggung Ara


Ara segera berhambur memeluk adiknya. Ara menceritakan kepada adik


perempuannya itu jika ia telah hamil dan menyembunyikan pada suaminya. Mendengar


ucapan Ara, Nadin benar-benar syok, ia segera menutup mulutnya yang terbuka.


“lalu , apa kak Agra nggak menginginkannya, hingga ia meninggalkan


kakak? Seharusnya ini berita bahagia kan kak....? kak Agra nggak benar-benar


cinta sama kakak? Jahat banget kak Agra, kelamaan gaul sama balok es buat


hatinya ikut beku, jadi gemes aku kak pengen nimpul pakek vase bunga”


Ara memang membenarkan ucapan adiknya, tek seharusnya ia


menyembunyikan hal besar ini pada suaminya. Tapi tuduhan terhadap suaminya itu


salah. Ara pun kembali menjelaskan kenapa Agra bisa sampai marah.


“uuuhhhh ...” Nadin pun segera memeluk kakaknya kembali sambil


mengerucutkan bibirnya


“kakak yang sabar ya, aku yakin kak Agra nggak akan lama marah sama


kakak, dia Cuma butuh sendiri buat nenangin diri”


“mudah-mudahan dek ...”


“tapi kakak benar-benar tak berperasaan sih, aku kasihan sama kak


Agra, coba deh kakak pikir, kalau kakak di posisi kak Agra, pasti kakak bakalan


marah kan sama kak Agra”


Ucapan Nadin membuat tangis Ara kembali pecah


“kamu benar dek...., hiks hiks hiks ...”


“yah ...., kenapa jadi nangis lagi ...” Nadin menggaruk kepalanya


yang sebenarnya tak gatal. Ia bingung harus berbuat apa.


“Kak ..., boleh minta nomornya kak Rendi?” tanya Nadin.


“Buat apa?”


“Ada deh ...” Nadin mengerlingkan matanya jail.


“tuh di ponsel kakak.”


Nadin Pun segera mengambil ponsel kakak, ia tahu jika kakaknya tak


pernah mengunci layar ponselnya, jadi dengan mudah Nadin menemukan nomor kontak


Rendi. Nadin pun segera mengirim nomor Rendi ke ponselnya sendiri.


 Setelah itu ia taruh kembali


ponsel kakaknya, dan mengetikkan sebuah pesan pada Rendi.


***Pak saat ini kak Agra sedang sangat terpuruk, dia butuh banget


dukungan pak Rendi, tolong susul dia ya ....


Yang selalu mencintaimu (Nadin)


Di save ya*** !!!!!


Nadin cengar-cengir sendiri setelah mengirimkan pesannya pada


Rendi.


***


Rendi yang hendak merebahkan tubuhnya karena terlalu capek seharian


ini, segera di urungkan saat ponselnya berdering. Menunjukkan notifikasi pesan


masuk.


Rendi pun kembali duduk dan mencari benda pipihnya yang sempat ia


lempar begitu saja. Ia membuka layar pesan. Dari nomor tak di kenal.


Pak saat ini kak Agra sedang sangat terpuruk, ***dia butuh banget


dukungan pak Rendi, tolong susul dia ya ....


Yang selalu mencintaimu (Nadin)


Rendi membaca*** pesan itu, tanpa terasa ia menyunggingkan senyum


tipisnya. Ia tidak memperhatikan inti dari pesan itu, tapi perhatiannya malah


tertuju pada kalimat di akhir pesan itu.


“Dasar bocah ...., kenapa dia selalu menggodaku.”


“Apa yang aku pikirkan, Gila ...” Rendi berusaha mengalihkan


pikirannya. Kemudian ia membaca ulang pesan itu. Ia memperhatikan inti dari


pesan itu.


Rendi pun segera menghubungi anak buahnya dan mencari tahu


keberadaan Agra. Setelah mendapat informasi dari anak buahnya, Rendi pun


kembali mengambil jaket dan kunci mobilnya, ia bergegas keluar dari


apartemennya.


Rendi melajukan mobilnya dengan cepat, ia tidak tahu apa yang akan


di lakukan oleh sahabatnya itu.


Rendi sampai di pinggir danau, ia segera memarkirkan mobilnya dan


menyusuri tepi danau. Langkahnya terhenti saat ia sudah bisa melihat orang yang


sedang ia cari saat ini.


 “lo di sini?” ucap Rendi


sambil mendekati sahabatnya itu, Agra tampak terkejut.


Seolah merasa malas menanggapi orang yang berda di sampingnya,Agra


pun tetap fokus pada pikirannya.


 Agra merasa orang di


sampingnya lah yang telah menciptakan kerumitan dalam rumah tangganya.


Karena tak mendapat jawaban dari Agra, Rendi pun berdiri mendekati


bibir danau dan mengambil sebutir kerikil dan melemparkannya ke tengah danau


“lo liat batu itu ..., lo akan seperti batu itu jika terlalu


percaya diri bisa menyelesaikan semuanya,  jika lo pengen sampai di tengah danau tapi tidak tenggelam, taruh batu


itu di atas daun, daun itu yang akan membawanya ke tengah danau, jika tetap


takut tenggelam maka cari daun yang lebih lebar”


“gue nggak ngerti dengan apa yang lo omongin” ucap Agra tetap


dengan tatapannya yang tak menentu.


“gue sahabat lo ..., gue akan selalu ada setiap lo butuh gue, gue


akan jadi daun yang siap menopang lo sampai ke tengah sana”


Agra mengungkapkan semua isi hatinya, tentang ketidak nyamannya


jika Rendi selalu mencampuri urusan rumah tangganya. Ia tidak suka Rendi


terlalu dekat dengan ibunya. Agra sambil berdiri mendekati Rendi dengan wajah


yang menyorotkan kemarahan yang begitu dalam. Ada rasa kecewa yang besar di


sana.


Rendi berusaha menjelaskan, tapi ucapannya selalu saja di potong


oleh Agra, Agra sudah di butakan dengan kemarahannya, dengan pemikirannya


sendiri.


“berhenti berbuat bodoh” bentak Rendi sambil mengibaskan tangan


Agra hingga Agra terjatuh karena kehingan keseimbangannya, ia terduduk di


tanah, Rendi pun menunduk dan balik menarik kerah baju Agra


“Gue nggak tau lo itu pura-pura bodoh atau kah memang kau bodoh,


seharusnya lo bisa bedain mana orang yang benar-benar tulus sama lo, mungkin


ada orang di luar sana bertepuk tangan liat kita kayak gini, mereka senang


liat kita bertengkar, lo udah ngasih  angin segar pada mereka”


Agra diam membenarkan ucapan sahabatnya, Rendi melepas tangannya


dari kerah Agra saat melihat Agra tak semarah tadi,


Rendi pun berdiri, dan membiarkan Agra bangun sendiri, setelah


bangun Agra pun kembali duduk di bangku yang tadi di duduki nya. Agra meminta


maaf pada Rendi, ia hanya terlalu emosi.


Rendi pun lalu menjelaskan bahwa semua kerumitan ini terjadi


karena perintah ibu Agra. Ia menceritakan jika ibunya sangat ingin melindungi


Agra dan istrinya, menanti kelahiran cucu-cucunya.


Agra mencerna dengan baik ucapan Rendi, ia masih harus menemukan


bukti sendiri apa yang di katakan Rendi, ia tidak mau terlalu berharap pada


Rendi, ibunya atau siapapun.


Di tengah keheningan itu, mereka di kejutkan dengan kedatangan


dokter Frans yang ngos-ngosan seperti habis lari maraton


“ah ...., untunglah kalian tidak pa pa ...” ucap dokter Frans


sambil memegangi dadanya, ia terengah-engah seperti baru saja berlari. Ia


mengira jika kedua sahabatnya itu sudah bertengkar.


“Gue kira kalian lagi gencatan senjata, tuh ajudan lo udah


calling-calling gue katanya kalian lagi berantem, mereka bingung harus mihak


siapa, kalau kalian beneran berantem gue bakalan suruh ajudan lo buat jeburin


kalian ke danau biar nggak ada yang menang”


“dasar lo ....” Agra dan Rendi segera menghampiri dokter Frans dan


segera menindih dokter Frans, mereka tertawa bersama seolah kembali ke masa di


mana mereka tak terlalu memikirkan masalah yang begitu rumit.


Mereka menikmati senja di pinggir danau dengan memakan  beberapa camilan yang sengaja di bawa oleh


Frans sebelum sampai ke tempat itu, mereka tertawa , saling ledek, saling


timpuk, layaknya persahabatan pada umumnya.


Spesial visual dr. Frans