
Agra dan Jerry membicarakan perihal bisnis, tapi entah kenapa
sedari tadi Nadin yang tak henti memperhatikan mereka tampak ada pembicaraan
yang ganjil.
Dan benar saja, sepeninggal Jerry. Agra terlihat marah pada Ara.
Agra menarik Ara naik ke lantai dua yang kini sudah di rubah
menjadi rumah pribadi, tak sembarangan karyawan masuk ke lantai atas, Ara pun
hanya bisa pasrah, ia sudah tahu apa yang akan di tanyakan suaminya
Nadin yang melihat kedua kakaknya naik dengan wajah yang berbeda,
membuatnya bertanya-tanya.
“ada apa dengan mereka?” ucapnya seperti sebuah gumaman tapi masih
bisa di dengar orang di sampingnya
“iya ya mbak, nggak biasanya, apa mereka sedang bertengkar ...”
ucap mbak Rini yang kebetulan berdiri di samping Nadin.
“Aduh mbak ...., mengagetkanku saja ...” ucap Nadin sambil mengelus
dadanya karena kehadiran mbak Rini yang tak di sangka-sangka.
Dan tak berapa lama Agra kembali turun denga bekas air mata.
Hah ...., kak Agra menangis....
Agra segera di hampiri oleh Nadin yang sedari tadi memang sengaja
menunggu kakaknya turun, tapi langkahnya terhenti tepat di depan Agra.
Nadin menjadi tak memiliki keberanian untuk bertanya setelah
melihat wajah kusut kakak iparnya, bibirnya seakan kelu sendiri.
“kamu jaga kakakmu dulu, aku keluar sebentar ...” ucap Agra datar,
tanpa menunggu jawaban dari Nadin, Agra pun langsung berlari meninggalkan Nadin
Agra keluar Ruko dan menuju ke motor yang sudah terparkir di sana,
ia segera menaiki motor itu dan meninggalkan pelataran parkir Ruko
Setelah Agra tak terlihat lagi, Nadin segera berlari menaiki
tangga, ia membuka pintu dan mendapati kakaknya sedang menangis tersedu di
depan sofa.
“kakak ...” Nadin segera berlari menghampiri kakaknya dan
memapahnya memdudukkannya di atas sofa.
“kakak kenapa? Kakak bertengkar ya dengan kak Agra?” Nadin mengelus
punggung Ara
Ara segera berhambur memeluk adiknya. Ara menceritakan kepada adik
perempuannya itu jika ia telah hamil dan menyembunyikan pada suaminya. Mendengar
ucapan Ara, Nadin benar-benar syok, ia segera menutup mulutnya yang terbuka.
“lalu , apa kak Agra nggak menginginkannya, hingga ia meninggalkan
kakak? Seharusnya ini berita bahagia kan kak....? kak Agra nggak benar-benar
cinta sama kakak? Jahat banget kak Agra, kelamaan gaul sama balok es buat
hatinya ikut beku, jadi gemes aku kak pengen nimpul pakek vase bunga”
Ara memang membenarkan ucapan adiknya, tek seharusnya ia
menyembunyikan hal besar ini pada suaminya. Tapi tuduhan terhadap suaminya itu
salah. Ara pun kembali menjelaskan kenapa Agra bisa sampai marah.
“uuuhhhh ...” Nadin pun segera memeluk kakaknya kembali sambil
mengerucutkan bibirnya
“kakak yang sabar ya, aku yakin kak Agra nggak akan lama marah sama
kakak, dia Cuma butuh sendiri buat nenangin diri”
“mudah-mudahan dek ...”
“tapi kakak benar-benar tak berperasaan sih, aku kasihan sama kak
Agra, coba deh kakak pikir, kalau kakak di posisi kak Agra, pasti kakak bakalan
marah kan sama kak Agra”
Ucapan Nadin membuat tangis Ara kembali pecah
“kamu benar dek...., hiks hiks hiks ...”
“yah ...., kenapa jadi nangis lagi ...” Nadin menggaruk kepalanya
yang sebenarnya tak gatal. Ia bingung harus berbuat apa.
“Kak ..., boleh minta nomornya kak Rendi?” tanya Nadin.
“Buat apa?”
“Ada deh ...” Nadin mengerlingkan matanya jail.
“tuh di ponsel kakak.”
Nadin Pun segera mengambil ponsel kakak, ia tahu jika kakaknya tak
pernah mengunci layar ponselnya, jadi dengan mudah Nadin menemukan nomor kontak
Rendi. Nadin pun segera mengirim nomor Rendi ke ponselnya sendiri.
Setelah itu ia taruh kembali
ponsel kakaknya, dan mengetikkan sebuah pesan pada Rendi.
***Pak saat ini kak Agra sedang sangat terpuruk, dia butuh banget
dukungan pak Rendi, tolong susul dia ya ....
Yang selalu mencintaimu (Nadin)
Di save ya*** !!!!!
Nadin cengar-cengir sendiri setelah mengirimkan pesannya pada
Rendi.
***
Rendi yang hendak merebahkan tubuhnya karena terlalu capek seharian
ini, segera di urungkan saat ponselnya berdering. Menunjukkan notifikasi pesan
masuk.
Rendi pun kembali duduk dan mencari benda pipihnya yang sempat ia
lempar begitu saja. Ia membuka layar pesan. Dari nomor tak di kenal.
Pak saat ini kak Agra sedang sangat terpuruk, ***dia butuh banget
dukungan pak Rendi, tolong susul dia ya ....
Yang selalu mencintaimu (Nadin)
Rendi membaca*** pesan itu, tanpa terasa ia menyunggingkan senyum
tipisnya. Ia tidak memperhatikan inti dari pesan itu, tapi perhatiannya malah
tertuju pada kalimat di akhir pesan itu.
“Dasar bocah ...., kenapa dia selalu menggodaku.”
“Apa yang aku pikirkan, Gila ...” Rendi berusaha mengalihkan
pikirannya. Kemudian ia membaca ulang pesan itu. Ia memperhatikan inti dari
pesan itu.
Rendi pun segera menghubungi anak buahnya dan mencari tahu
keberadaan Agra. Setelah mendapat informasi dari anak buahnya, Rendi pun
kembali mengambil jaket dan kunci mobilnya, ia bergegas keluar dari
apartemennya.
Rendi melajukan mobilnya dengan cepat, ia tidak tahu apa yang akan
di lakukan oleh sahabatnya itu.
Rendi sampai di pinggir danau, ia segera memarkirkan mobilnya dan
menyusuri tepi danau. Langkahnya terhenti saat ia sudah bisa melihat orang yang
sedang ia cari saat ini.
“lo di sini?” ucap Rendi
sambil mendekati sahabatnya itu, Agra tampak terkejut.
Seolah merasa malas menanggapi orang yang berda di sampingnya,Agra
pun tetap fokus pada pikirannya.
Agra merasa orang di
sampingnya lah yang telah menciptakan kerumitan dalam rumah tangganya.
Karena tak mendapat jawaban dari Agra, Rendi pun berdiri mendekati
bibir danau dan mengambil sebutir kerikil dan melemparkannya ke tengah danau
“lo liat batu itu ..., lo akan seperti batu itu jika terlalu
percaya diri bisa menyelesaikan semuanya, jika lo pengen sampai di tengah danau tapi tidak tenggelam, taruh batu
itu di atas daun, daun itu yang akan membawanya ke tengah danau, jika tetap
takut tenggelam maka cari daun yang lebih lebar”
“gue nggak ngerti dengan apa yang lo omongin” ucap Agra tetap
dengan tatapannya yang tak menentu.
“gue sahabat lo ..., gue akan selalu ada setiap lo butuh gue, gue
akan jadi daun yang siap menopang lo sampai ke tengah sana”
Agra mengungkapkan semua isi hatinya, tentang ketidak nyamannya
jika Rendi selalu mencampuri urusan rumah tangganya. Ia tidak suka Rendi
terlalu dekat dengan ibunya. Agra sambil berdiri mendekati Rendi dengan wajah
yang menyorotkan kemarahan yang begitu dalam. Ada rasa kecewa yang besar di
sana.
Rendi berusaha menjelaskan, tapi ucapannya selalu saja di potong
oleh Agra, Agra sudah di butakan dengan kemarahannya, dengan pemikirannya
sendiri.
“berhenti berbuat bodoh” bentak Rendi sambil mengibaskan tangan
Agra hingga Agra terjatuh karena kehingan keseimbangannya, ia terduduk di
tanah, Rendi pun menunduk dan balik menarik kerah baju Agra
“Gue nggak tau lo itu pura-pura bodoh atau kah memang kau bodoh,
seharusnya lo bisa bedain mana orang yang benar-benar tulus sama lo, mungkin
ada orang di luar sana bertepuk tangan liat kita kayak gini, mereka senang
liat kita bertengkar, lo udah ngasih angin segar pada mereka”
Agra diam membenarkan ucapan sahabatnya, Rendi melepas tangannya
dari kerah Agra saat melihat Agra tak semarah tadi,
Rendi pun berdiri, dan membiarkan Agra bangun sendiri, setelah
bangun Agra pun kembali duduk di bangku yang tadi di duduki nya. Agra meminta
maaf pada Rendi, ia hanya terlalu emosi.
Rendi pun lalu menjelaskan bahwa semua kerumitan ini terjadi
karena perintah ibu Agra. Ia menceritakan jika ibunya sangat ingin melindungi
Agra dan istrinya, menanti kelahiran cucu-cucunya.
Agra mencerna dengan baik ucapan Rendi, ia masih harus menemukan
bukti sendiri apa yang di katakan Rendi, ia tidak mau terlalu berharap pada
Rendi, ibunya atau siapapun.
Di tengah keheningan itu, mereka di kejutkan dengan kedatangan
dokter Frans yang ngos-ngosan seperti habis lari maraton
“ah ...., untunglah kalian tidak pa pa ...” ucap dokter Frans
sambil memegangi dadanya, ia terengah-engah seperti baru saja berlari. Ia
mengira jika kedua sahabatnya itu sudah bertengkar.
“Gue kira kalian lagi gencatan senjata, tuh ajudan lo udah
calling-calling gue katanya kalian lagi berantem, mereka bingung harus mihak
siapa, kalau kalian beneran berantem gue bakalan suruh ajudan lo buat jeburin
kalian ke danau biar nggak ada yang menang”
“dasar lo ....” Agra dan Rendi segera menghampiri dokter Frans dan
segera menindih dokter Frans, mereka tertawa bersama seolah kembali ke masa di
mana mereka tak terlalu memikirkan masalah yang begitu rumit.
Mereka menikmati senja di pinggir danau dengan memakan beberapa camilan yang sengaja di bawa oleh
Frans sebelum sampai ke tempat itu, mereka tertawa , saling ledek, saling
timpuk, layaknya persahabatan pada umumnya.
Spesial visual dr. Frans