
Bukan hal yang aneh jika istri yang melahirkan, tapi suami ikut merasakan sakitnya, memang tidak selalu tapi sebagian kecil hal itu bisa terjadi.
Sepertinya itu yang juga terjadi pada Rendi saat ini, saat Nadin istrinya akan melahirkan, Rendi lah yang ikut merasakan
sakitnya.
Ajun membawa Rendi ke tempat praktek dr. Frans.
“Ada apa Jun?” Tanya dr. Frans saat melihat Ajun memapah Rendi, Rendi terlihat begitu kesakitan.
“Tidak tahu dok, tapi tiba-tiba pak Rendi merasakan kesakitan!”
“Tidurkan dia di sana, biar aku periksa!”
Dr. Frans mengambil alatnya dan mendekat pada Rendi.
“Baik dok!”
Ajun membawa Rendi ke atas tempat pemeriksaan, Dr. Frans pun memeriksa keadaan Rendi dengan sangat teliti, tapi tidak ada yang terjadi, bahkan dr. Frans melakukan pemeriksaan menggunakan sinar x dan pengambilan sampel darah
Rendi, siapa tahu ada masalah pada kesehatan bagian dalam tubuh Randi, tapi juga tidak ada keganjalan.
“Kenapa bisa seperti ini ya!” dr. Frans terlihat
begitu bingung.
“Lo ini gimana, lo yang dokter tapi malah bertanya sama pasien mu!” ucap Rendi dengan kesal.
“Ya sudah sekarang lo jelasin sama gue, apa yang lo rasain!”
“Rasanya …, pinggangku mau putus, perutku sakit lalu rasanya pengen buang air besar setiap saat …!”
“sejak kapan?”
“Maksudnya?” Rendi mengerutkan keningnya.
“Sejak kapan hal itu terjadi?”
“Sejak tadi pagi, tapi tadi pagi rasanya tidak
separah ini!”
“Apa mungkin!” dr. Frans sedang menduga-duga.
“Mungkin apa?”
“Apa kau menghitung jadwal melahirkan Nadin?”
“Iya! tentu ....!" jawab Rendi dengan mantap.
“Kapan?”
“Sekarang masih tanggal 13 Februari, tapi
berdasarkan perkiraan dokter masih satu minggu lagi!”
“Kalau jadwal melahirkan itu biasanya sering terjadi kelahiran lebih cepat ataupun lebih lambat, dan sepertinya …!”
“Jadi maksudnya, Nadin melahirkan sekarang dan aku yang merasakannya?’ Tanya Rendi dengan mata yang sudah berkaca-kaca, entah kenapa pria dingin itu sekarang jadi
sensitive, sering mengeluarkan air matanya jika berhubungan dengan istri
kecilnya.
“Iya!”
“Aku rela kesakitan bahkan lebih dari ini jika itu
benar, aku rela …! Seandainya saja bisa biarkan aku yang menanggung sakit ini!”
“Bersabarlah…! Jika bukan sekarang mungkin nanti tuhan
akan mempertemukan mu kembali dengan Istri dan anakmu!” Dr. Frans berusaha
menghibur sahabatnya itu, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.
Surabaya
Saat hendak mencuci piring, tiba-tiba ia merasakan kontraksi yang lebih besar, hingga tanpa sengaja ia menjatuhkan piringnya.
“Augh …., sakit sekali …!” Nadin kembali
menyandarkan punggungnya pada meja dapur, memegangi perutnya yang semakin terasa
sakit. Ia juga merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman pada ****** ********.
“Ada apa ini? Apa aku sudah akan melahirkan? Tapi menurut perkiraan dokter masih satu minggu lagi!”
Nadin segera masuk kembali ke dalam kamar mandi, dan
memeriksanya dan benar saja ada noda darah di ****** ********.
“Astaga ….., sepertinya aku benar-benar akan
melahirkan, bagaimana ini, aku panik…, aku harus apa!” Nadin mengibas-kibaskan
tangannya mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Nadin pun segera keluar dari kamar mandi, mengambil tas dan memperiapkan barang-barang yang harus di bawa.
Setelah semuanya masuk,
nadin segera membawa ta situ menuju ke depan rumahnya. Kini jalan sudah ramai
orang lalu lalang dan sesekali mobil juga ikut melintas, motor yang silih
berganti dengan kecepatan sedang karena banyak polisi tidur di sepanjang gang
sehingga membuatr pengendara motor harus beberapa kali menarik remnya.
“Kenapa sudah ramai sekali, aku harus bagaimana?”
Nadin malah semakin panik, ia tidak tahu harus menghubungi siapa.
“Sabar ya nak, bunda akan cari pertolongan dulu!”
Nadin beberapa kali harus mengelus perutnya sambil
menggigit bibir bawahnya agar rasa sakitnya sedikit berkurang. Hingga siang
hari Nadin masih setia di depan rumahnya tanpa berani melangkah keluar, kini
wajahnya semakin pucat karena terlalu lama menahan sakit, harapannya hanya satu
ia berharap Aisyah atau bu Santi melewati depan rumahnya.
“Assalamualaikum kak!” akhirnya yang di tunggu
datang juga, memang sudah menjadi kebiasaan gadis itu di jam seperti ini akan
datang ke rumah Nadin hanya sekedar menyapa atau membawakan sesuatu.
“Waalaikum salam, Ais!” dengan sisa kekuatannya,
Nadin menjawaqb salam Aisyah. Gadis itu selalu cemberut saat salamnya tidak di
jawab.
“kenapa kakak di luar? Kakak tidak pa pa kan? Tapi wajah kakak pucat sekali, dan berkeringat!” Aisyah segera memberondongi Nadin
Astaga anak ini …., aku sudah hamper kehabisan
tenaga dia malah banyak bertanya ….
“Sepertinya aku mau melahirkan!”
“Apa?”
“Iya, Ais. Aku akan melahirkan!”
“Sekarang aku harus apa kak, astagfirullah ….,
kenapa aku malah ikut bingung kak!” Aisyah malah mondar-mandir tak karuan,
sepertinya gadis itu juga bingung harus melakukan apa.
“Aku harus apa kak?” setelah berhenti dari
kebingungannya, ia kembali menghampiri Nadin dan bertanya.
“Hubungi seseorang, Ais!” perintah Nadin.
“Siapa?”
“Siapa saja, terserah kamu!”
“Tuan Alex!”
“Iya!”
“Aku tidak punya nomornya!”
“pakek ponsel aku!”
Nadin menyerahkan ponselnya pada Aisyah, beberapa
kali Aisyah melakukan panggilan tapi tidak bisa.
“Kak …, kayaknya paketan kakak habis deh!”
“Ahhh iya aku lupa belum sempat isi, ya udah kamu
telpon Alex pakek ponselmu aja!” nadin baru ingat jika paketannya habis sejak
kemarin dan belum sempat untuk mengisi ulang.
“Baik kak!”
Aisyah mengetikkan beberapa nomor di ponsel;nya dari
ponsel Nadin, dengan cepat ia melakukan panggilan, cukup lama dan akhirnya di
angkat juga.
“Hallo …!” suara barite itu sedikit membuat Aisyah
terkejut dengan reflex ia mengjauhkan ponselnya dari daun telinganya. Nadin
yang melihat hal itu ikut heran.
“Kenapa?” Tanya Nadin dengan tanpa mengeluarkan
suara. Aisyah hanya menggelengkan kepalanya.
“Assalamualaikum, tuan Alex!” walaupun tak mungkin
mendapat jawaban tapi Aisyah lebih suka dengan sapaan itu sebagai pembuka kata,
salam adalah sapaan terbaik sepanjang masa, selain untuk menyapa seseorang
salam juga bertujuan untuk mendoakan orang yang sedang di sapa, dua hal
kebaikan dalam satu kali ucapan dan beruntungnya jika salam itu di jawab,
berarti keberuntungan ke tiga, ia juga akan mendapatkan doa dari orang yang
kita sapa.
“Iya ada apa?” benar seperti dugaan Aisyah, pria
tidak akan pernah menjawab salamnya.
“Maaf tuan Alex saya sudah mengganggu, tapi ini
penting!”
“Ada apa cepat katakan!”
“Kak Nadin!”
Alex tak menjawab lagi, membuat Aisyah penasaran. Ia
melihat layar ponselnya dan ternyatra masih tersambung, tapiu kenapa tidak ada
suara yang keluar dari seberang sana, cukup lama.
“Hallo …!” karena tak segera mendapatkan jawaban,
membuat Aisyah kembali memastikan kalau Alex masih di tempatnya.
“Iya, ada apa dengannya?”
“kak Nadin sepertinya mau melahirkan!”
“melahirkan?” pria arogan itu juga terkejut.
“Iya, kak Nadin kesakitan!”
“Baiklah …, jangan panik …, segera bawa ke rumah sakit terdekat dan aku akan segera datang dalam waktu satu jam!”
Kalau menggunakan pesawat dari Jakarta ke Surabaya hanya butuh satu jam.
Sambungan telpon itu terputus, sepertinya pria itu juga sedang panic seperti dirinya.
“kenapa aku tidak kepikiran dari tadi!” gumam
Aisyah.
“bagaimana?’ Tanya Nadin.
“Kita ke rumah sakit kak, aku akan memesan Drive online!”
“Iya …, cepetan. Aku sudah nggak tahan!”
“tahan sebentar lagi kak!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘